[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 111: Nix Regina (6)



...****************...


“Jika kalian tidak mau menyerang, maka ini akan menjadi giliranku.”


Mengatakan itu, sebuah lingkaran sihir besar yang terdiri dari susunan puluhan lingkaran sihir yang berbeda-beda tiba-tiba muncul di belakang sayap Nix yang terbentang dengan bebas.


Colyn bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi lonjakan energi yang tiba-tiba ia rasakan tepat dari belakangnya membuatnya terkejut dan secara refleks memandang ke sana.


Itu adalah sosok Tania yang penampilannya perlahan berubah. Sabit putih yang tadinya bersinar secara samar kini telah berubah sepenuhnya menjadi sebuah sabit dengan tiga bilah besar nan tajam berwarna putih kebiruan yang mengeluarkan aura mengerikan.


Matanya perlahan terbuka, menunjukkan matanya yang sepenuhnya menjadi merah, bersama dengan munculnya sebuah kristal biru tua yang melayang tepat di sampingnya.


“Hmm … Ini pertama kalinya Zephiroth begitu terisi sehingga aku bahkan kesulitan mengendalikannya, tapi … Itu tidak masalah sekarang! “


Dengan itu, sosok Tania tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang dan kembali muncul di hadapan Nix.


“Kau–! “


Nix berteriak dengan panik dan mengarahkan senapan musket di tangan kirinya ke kepala Tania, tapi Tania justru tak terlihat panik dan mengeluarkan senyum sengit di wajahnya. Dia bahkan menempelkan dahinya sendiri ke moncong senapan itu, dan memberikan kalimat provokasi pada Nix.


“Tembak saja aku jika kau memang bisa, dasar burung pecundang! “


Sosok itu jelas berbeda dari Tania yang sebelumnya. Hampir tak ada perubahan pada penampilannya, tapi kepribadiannya jelas bukanlah Tania yang sebelumnya.


“Ahahaha! Sudah lama aku tidak menunjukkan diriku seperti ini! Tubuhmu memang yang terbaik, Tania! “


Tania(?) mengayunkan sabitnya yang bersinar dengan aura mengerikan itu ke arah Nix yang pada akhirnya Nix hindari dengan menggerakkan tubuhnya sedikit ke belakang. Namun, Tania dengan mudah memanfaatkan celah itu dengan melemparkan sabitnya ke arah Nix, sementara sebuah rantai kecil menghubungkan antara gagang sabitnya dengan gelang di pergelangan tangannya.


Bagian atas sabit itu menggores perut Nix yang masih dalam keadaan terkejut. Tetesan darah mulai mengalir secara perlahan dari sisa tebasan yang ada di perut Nix. Meskipun begitu, Nix sama sekali tak tampak merasa kesakitan. Ia justru menampilkan ekspresi bingung di wajahnya, lalu menjadi marah hampir dalam seketika.


“Huh? Kau benar-benar banyak menampilkan ekspresi untuk menggunakan wajah polos gadis itu. Benar-benar tidak cocok untukmu,” ucap Tania dengan senyum mengejek.


Nix terlihat menggertakkan giginya dengan kesal begitu Tania mengatakan itu. Genggamannya pada senapan di kedua tangannya semakin kuat, bersamaan dengan lingkaran sihir di belakang punggungnya yang semakin memperbesar ukurannya.


“Bukan keinginanku … Untuk memiliki wujud ini!! “


Dengan teriakan emosional itu, Nix segera menembak Tania menggunakan pistolnya, membuat Tania secara refleks langsung menggunakan sabitnya untuk menahan serangan itu.


“Huh? Itu serangan sihir, ya? Terima kasih untuk makanannya! “


Tania langsung menebas ke udara kosong dengan sabitnya, dan menciptakan sebuah bilah tajam hampir transparan yang terbang mengarah langsung menuju Nix.


Lingkaran sihir di belakang sayap Nix semakin memperkuat cahayanya guna menyuplai energi sihir untuk serangan senapan yang akan diluncurkan Nix selanjutnya. Meskipun begitu, semua itu akan sia-sia di hadapan kemampuan khusus sabit Zephiroth yang cukup merepotkan.


Tania tanpa henti menebas ke udara dan menciptakan banyak bilah transparan yang dapat dengan mudah memotong tubuh manusia. Namun, Nix menahan semua itu dengan tembakan fisik dari senapan musket di tangan kirinya.


“Sampai kapan kau berniat menahan diri?! Bisakah kau lebih serius?! “ bentak Tania pada Nix.


Untuk sesosok yang menyebut dirinya sebagai ‘senjata pembunuh dewa’, kekuatan yang dikeluarkan Nix masih terlalu kecil. Jelas Tania akan merasakan keanehan dengan itu. Jadi, ia menyimpulkan kalau Nix selama ini masih menahan diri.


“Tch.”


Menyadari kalau semua serangannya hanya akan ditahan dengan serangan lainnya, Tania mendecakkan lidahnya dan melompat mundur dengan gerakan akrobatik yang lincah.


“Kenapa kau tidak menggunakan sayapmu seperti sebelumnya? “


“ ……… “


“Tidak mau menjawab, ya … Apa itu karena kau memang tidak bisa mengeluarkan kekuatan sejatimu di sini? Jadi, kau tidak bisa mengeluarkan serangan dengan sayapmu ketika kau sedang memberikan penguatan pada senjatamu itu, ya? “


“Aku benar, ya? “


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Nix segera menarik pelatuk kedua senapannya dan menembakkan peluru yang diselimuti oleh cahaya biru aneh.


Kecepatan peluru itu jelas dapat melebihi kecepatan suara, tapi Tania dengan mudah menangkis semuanya dan menyerap sihir yang menyelimuti peluru itu ke dalam sabitnya.


“Hehe … Kurasa ini sudah cukup.”


Mengatakan itu, ia segera mengganti posisinya menjadi sedikit membungkukkan tubuhnya, dan memegang sabitnya ke belakang.


Bentuk kuda-kudanya cukup mirip dengan para pengguna pedang, dengan satu kaki setengah melangkah ke belakang, lalu tangan kiri yang berjaga di depan memiliki postur yang sejajar dengan tengkuk, sementara matanya menatap tajam pada targetnya.


Sabit dengan tiga bilah itu semakin mengeluarkan aura yang mengerikan seolah merespon kuda-kuda yang dilakukan Tania, dan mulai memancarkan gelombang energi sihir yang tak terkendali.


Begitu selesai dengan perisapannya, Tania segera mengayunkan sabit itu dengan sekuat tenaga dan berteriak, “《Release!》”


Gelombang energi sihir yang jauh lebih mengerikan dari yang dikeluarkan Nix sebelumnya menyapu udara dan melenyapkan semua awan yang sebelumnya menghiasi langit.


Suhu udara dengan cepat turun secara drastis bersamaan dengan lonjakan energi sihir yang terus keluar tanpa henti dari bilah sabit yang perlahan merubah warnanya menjadi putih murni seperti sebelumnya.


Tania, atau siapa pun yang mengendalikan tubuhnya sekarang, yang menjadi dalang di balik ini justru tersenyum senang saat ia melihat sosok Nix yang perlahan ditutupi oleh lonjakan energi sihir yang dikeluarkan sabitnya.


Nix berusaha menahan itu entah bagaimana menggunakan senapan dan serangan dari sayapnya, tapi itu semua tampak sia-sia.


Bahkan semua orang di bawah dapat mengetahuinya hanya dengan sekali lihat.


Jumlah energi sihir yang dikeluarkan sabit Zephiroth jauh lebih besar dibandingkan yang Nix gunakan untuk menahannya.


Itu adalah energi dengan ciri partikel yang identik dengan yang dilepaskan Nix sebelumnya. Menggunakan kemampuan Zephiroth yang dapat ‘melepaskan’ kekuatan yang telah ia ‘serap’, Tania dapat menggunakan jenis serangan yang sama dengan Nix.


Singkatnya, Nix saat ini sedang melawan semua serangan yang telah ia keluarkan sebelumnya.


Nix perlahan terdorong ke belakang. Namun, entah bagaimana ia bisa bertahan dengan memberikan tembakan pada Tania menggunakan senapannya.


“Ahh, bertahanlah~ Burung kecil~ Ini adalah semua serangan yang kau luncurkan tadi, aku hanya meningkatkan kekuatannya sedikit~ Kau seharusnya bisa menahannya, ‘kan? “


Wajah Nix mengeluarkan ekspresi tidak nyaman saat lonjakan energi yang semakin kuat datang dari sabit itu, tapi ia tak memiliki pilihan lain selain bertahan.


Ia bisa saja menghindar, atau bahkan menggunakan kemampuan lingkaran halo miliknya untuk memindahkan serangan Tania, tapi itu terlalu beresiko.


Energi sihir yang dikeluarkan dalam jumlah besar di waktu yang bersamaan sedikit terlalu beresiko untuk Nix tahan, jadi ia segera menolak ide itu.


Di saat Nix sedang memikirkan solusi untuk lari dari situasi ini, sebuah tombak es tiba-tiba saja muncul dan mengiris kulit pipinya, sebelum akhirnya lenyap ditelan oleh dua gelombang cahaya yang saling bertabrakan.


Nix secara alami tahu siapa orang di balik tombak itu. Ia segera melirik ke arah Olivia dan memberinya tatapan yang penuh dengan niat membunuh, sementara sayapnya mati-matian menyeimbangi pengeluaran kekuatan sihir yang berlebihan dengan kecepatan pemulihan sihirnya.


“Oi, oi! Kenapa kau memalingkan pandanganmu! “


Tania berteriak dan semakin memperkuat tekanan yang dihasilkan oleh sabitnya. Dua gelombang energi yang berbeda itu saling bertabrakan. Namun, jelas Tania memiliki keunggulan.


Nix dengan gerakan tangan yang terlalu cepat untuk diikuti mata langsung memutar senapannya dan menembak ke arah Olivia, sementara pikirannya juga fokus untuk menghadapi Tania.


Puluhan peluru dengan cepat menghujani lokasi Olivia berdiri saat ini. Namun, semua peluru itu kemudian menghilang tepat sebelum menyentuh tubuhnya.


“Ya ampun, kau terlalu nekat! Apa yang akan terjadi jika aku tidak melindungimu barusan! “


...****************...