![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Uhmm, permisi … Aku datang sebagai utusan dari guild untuk menyampaikan perintah pemanggilan pada anggota kami yang terdaftar, Noelle Lynneheim dan rekan-rekannya."
Keesokan paginya, seorang pria datang ke penginapan tempat kelompok Noelle tinggal sementara dan mengaku sebagai utusan guild.
Dia menghampiri meja konter dan berbicara pada resepsionis di sana.
Resepsionis itu berkedip beberapa kali sejenak, lalu langsung sadar begitu ia melihat lambang guild yang ada di seragam pria itu.
"Tunggu di sana sebentar, kami akan memanggil mereka," kata resepsionis itu sambil menunjuk pintu yang bertuliskan 'ruang pertemuan'.
"Baik, tapi tolong cepat. Ketua dan yang lain sudah menunggu."
Utusan itu pun mengangguk dan pergi menuju ruangan yang ditunjuk resepsionis.
Begitu pula dengan resepsionis. Setelah ia melihat utusan itu masuk ke ruangan yang dia tunjuk, dia langsung berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju tangga.
Setelah mencapai kamar yang Noelle dan Olivia sewa, ia segera mengetuk pintunya dan memanggil Noelle.
"Permisi Tuan, apa Anda sudah bangun? Utusan dari guild telah memanggil Anda."
………
Tidak ada jawaban.
Resepsionis itu terlihat kebingungan sejenak, namun kembali mengetuk pintu.
"Tuan, apa Anda sudah bangun? "
Dia sudah mengetahui identitas Noelle dan yang lain sebagai seorang petualang peringkat atas, karena itulah ia sedikit ragu ketika Noelle tidak menjawab panggilannya dari luar.
Jika Noelle benar-benar peringkat atas, seharusnya ia sudah menyadari keberadaan resepsionis itu bahkan sebelum ia mengetuk pintu.
Dan jika Noelle masih belum membukakan pintunya, maka resepsionis itu terpaksa memaksa masuk menggunakan master key yang dimiliki oleh semua staff yang bertanggung jawab akan hal penting di penginapan.
Tepat saat resepsionis itu akan mengeluarkan kunci dari sakunya, pintu terbuka dan menampilkan sosok Noelle dengan rambut putihnya yang berantakan dan tidak mengenakan sehelai pun kain untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
" ……… "
" … Hey, apa kau baik-baik saja? "
"Eh? Ahh! Sa-saya baik-baik saja, maaf karena mengganggu."
Tanpa sadar ia sudah menatap tubuh Noelle untuk beberapa waktu sampai akhirnya Noelle membuatnya sadar dan kembali ke kenyataan. Ia dengan panik segera membungkuk untuk meminta maaf.
Tapi, tetap saja … Ia tidak bisa benar-benar diam ketika melihat sosok Noelle yang berdiri di hadapannya.
Ia terus menatap tubuh Noelle dengan pipi yang sedikit memerah. Ia kemudian menatap Noelle dari dekat dan bertanya.
"Mau ke kamarku? "
"Gak."
Noelle tanpa memakan banyak waktu seketika menjawab dan menutup pintu itu dengan suara bantingan yang keras.
" ……… Eh–"
Beberapa saat diam, wanita resepsionis itu kemudian dengan panik melihat sekelilingnya dan kemudian mengetuk pintu kamar Noelle dengan sangat keras.
"Tu-tunggu Tuan! I-itu salah paham! Tolong keluar sekarang karena utusan dari guild sedang menunggumu! Kumohon maafkan aku! Tolong keluar sekarang agar aku tidak dipecat! "
Wanita resepsionis itu dengan raut wajah pucat pasi mencoba membujuk Noelle dengan mengetuk pintunya terus menerus.
Setelah beberapa saat merengek di depan pintu kamar Noelle dan menjadi pusat perhatian beberapa tamu yang lewat, pintu akhirnya terbuka dan Noelle keluar.
"Ada apa? "
Tidak seperti sebelumnya, kini ia mengenakan pakaiannya dengan benar. Meskipun itu hanya kemeja putih panjang yang longgar.
"I-itu, utusan dari guild datang untuk menemui Anda dan teman-teman Anda."
Dia dengan latah mencoba menjelaskan, hasilnya, Noelle dengan ringan mengangguk dan kembali menutup pintu.
"Eh– Tu-tunggu, Tuan!! Tolong buka pintunya! Ahh, kurasa aku akan dipecat hari ini … Aku sudah bisa merasakan coretan merah di surat kontrakku … "
...****************...
"Nn? Noelle … Ada apa? "
Begitu Noelle menutup pintu dan kembali memasuki area kamarnya, Olivia yang tertidur di ranjang kemudian perlahan membuka matanya dan menatap Noelle dengan bingung.
Noelle tersenyum ketika melihat Olivia yang masih dalam keadaan setengah sadar, kemudian ia duduk di sampingnya di ranjang.
"Tidak ada sesuatu yang khusus, kita hanya mendapat panggilan untuk bertemu dengan ketua guild sekarang."
Noelle mengacak-acak rambut perak Olivia yang halus, kemudian tersenyum hangat.
"Begitu, ya … Hari ini kita akan pergi, ya … "
Olivia masih dengan kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya mencoba bangun dan menggosok matanya.
"Mmm, ya … Kita harus pergi secepat mungkin agar tidak membuat orang-orang menunggu. Aku yakin resepsionis tadi sedang membangunkan Cryll dan yang lainnya sekarang."
"Nn … "
Olivia dengan mata setengah terbuka terus menatap Noelle, lalu bibirnya secara alami membentuk senyum manis yang mungkin tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapapun.
"Kita akhirnya akan meninggalkan kota ini juga, ya … "
"Begitulah, apa kamu menyukai tempat ini? "
Noelle bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Begitulah, kota ini sangat indah, dan ada banyak hal yang tidak membuatku bosan … Noelle sendiri bagaimana? "
Olivia balik bertanya padanya. Noelle, bagaimanapun ia hanya diam sejenak, kemudian menjawab sambil tersenyum dan menepuk kepala Olivia.
"Aku suka di mana pun asalkan bersamamu~"
" ……… "
Olivia terdiam sejenak, dan saat ia sadar, wajahnya langsung menjadi sedikit memerah.
"Itu tidak adil … "
Olivia bergumam sambil mengerucutkan bibirnya, namun Noelle hanya tertawa kecil sambil terus menatapnya. Kemudian, senyum jahil terbentuk di bibir Noelle.
"Nah, lupakan tentang itu sejenak. Lebih baik kamu memakai pakaianmu sekarang karena kita akan segera pergi ke luar."
" ……… "
Olivia mengedipkan matanya beberapa kali karena tidak mengerti dengan apa yang Noelle katakan. Namun, wajahnya langsung berubah menjadi merah padam lebih dari sebelumnya saat ia menyadarinya.
Ia tanpa mengatakan apa pun lagi langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang terekspos sepenuhnya tanpa sehelai pun kain yang menutupinya.
Selimut itu tidak begitu tebal dan lebih seperti seprai, jadi itu tidak menutupi tubuhnya dengan baik, melainkan justru semakin menekankan lekuk tubuhnya yang indah.
"Uuuu … Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang … "
Olivia menutupi wajahnya dengan selimut itu, namun Noelle dapat dengan jelas melihat ujung telinganya yang memerah.
Noelle kemudian tersenyum masam dan melihat lekat lekat ke wajah Olivia yang ditutupi selimut.
"Maaf, maaf … Kamu terlihat sangat imut tadi, jadi aku ingin menikmatinya lebih dulu."
" … Mengatakannya seperti itu … "
"Sebenarnya aku ingin melihatnya lagi, jadi … bisakah kamu menunjukkannya padaku untuk beberapa saat sebelum kita pergi? "
" ……… Tidak … "
Bahkan saat Olivia mengatakan itu, ekspresi hangat tidak menghilang dari wajah Noelle, justru, keinginannya untuk menjahili Olivia menjadi semakin liar dan tak terkendali.
"Kenapa kamu begitu malu? Meskipun kamu sudah menunjukkan banyak hal dengan ekspresi yang sangat menakjubkan semalam? "
Noelle semakin memperdalam senyumnya dan perlahan mendekatkan bibirnya ke telinga Olivia yang semakin memerah karena ingatannya tentang 'malam mereka' telah dibawa kembali ke permukaan.
" … Aku ingin melihatnya lagi … "
Begitu Noelle mengatakan itu, sekujur tubuh Olivia seketika gemetar dan ia mengeluarkan wajahnya dari selimut, lalu menatap Noelle dengan mata yang hampir menangis dan wajah yang telah memerah sepenuhnya.
Mereka berdua saling menatap dari jarak dekat, sampai akhirnya Olivia membenturkan dahinya sendiri dengan dahi Noelle lalu melempar bantal ke wajah Noelle.
" … Noelle bodoh … "
(Baiklah, kurasa aku sudah berlebihan … )
Noelle hanya mampu tersenyum masam saat melihat Olivia yang sudah menyembunyikan dirinya di bawah selimut.
...****************...
"Di sini, silahkan masuk ke sini."
Wanita resepsionis itu benar-benar menunjukkan ekspresi senang dan penuh harapan ketika melihat Noelle dan Olivia keluar ruangan.
Ia membimbing mereka sambil melompat-lompat dan menggumamkan 'aku tidak jadi dipecat~' dengan nada ceria.
Wanita itu membukakan pintu ruangan pertemuan, kemudian Noelle dan Olivia tanpa berkata apa pun langsung masuk ke ruangan itu.
"Maaf membuatmu menunggu, kami memiliki beberapa masalah kecil tadi."
Noelle memasuki ruangan dan segera berbicara pada seorang pria berseragam lengkap yang sedang duduk di sofa sambil menyesap tehnya.
Noelle mengulurkan tangannya untuk bersalaman, dan pria itu dengan ramah menjabat tangannya.
"Tidak masalah, aku baik-baik saja hanya dengan menunggu beberapa menit. Selain itu, apa Anda baik-baik saja, Tuan Noelle? " tanya pria itu sambil tersenyum ramah.
"Aku tidak masalah, hanya ada sedikit urusan pribadi. Ngomong-ngomong, aku tidak melihat siapa pun di sini selain kita, apa Cryll dan yang lain masih belum datang? "
Noelle melihat ke sekelilingnya, namun tidak menemukan siapa pun selain dirinya, Olivia, wanita resepsionis, serta utusan dari guild itu.
"Ahh, tentang Tuan Cryll dan yang lainnya, aku sudah meminta mereka untuk pergi lebih dulu menuju ruang pertemuan di guild."
Setelah utusan dari guild itu berbicara, Noelle segera menganggukkan kepalanya dengan penuh pengertian.
"Begitu, ya … Itu artinya semua orang sudah berkumpul, ya … Kalau begitu, lebih baik kita berangkat sekarang."
"Seperti yang Anda katakan, aku akan membimbing Anda ke sana, Tuan."
Usai melakukan percakapan singkat itu, utusan guild pun berniat pergi meninggalkan ruangan dengan diikuti Noelle, namun, Noelle tiba-tiba berhenti dan memperhatikan Olivia yang masih diam menatap bagian tertentu dari ruangan.
"Livia? Apa ada masalah? "
Ia mencoba bertanya untuk memastikan, tapi Olivia hanya menatapnya dan menunjukkan ke arah yang sudah ia perhatikan sejak tadi.
"Ada sesuatu di sana."
Noelle tidak mengerti dengan apa yang Olivia maksud, tapi dia mencoba untuk tidak bertanya dan memutuskan untuk memeriksa titik yang ditunjuk Olivia.
Tempat yang ditunjuk Olivia adalah sudut ruangan dengan sofa dan meja kecil yang menghiasinya. Noelle mencoba untuk menyingkirkan sofa itu dan seketika melebarkan matanya.
" … Kenapa dia bisa ada di sini … "
" … Noelle? "
Olivia bertanya dengan wajah penasaran, tapi Noelle tidak menjawabnya dan justru membungkukkan dirinya seolah mencoba meraih sesuatu yang ada di bawah.
Noelle kemudian berdiri dan membalikkan padannya, sambil memegang seekor hewan berbulu yang terlihat sangat menggemaskan yang dia angkat menggunakan kedua tangan.
" … Rakun? Kenapa dia bisa ada di sini? "
"Eh? Bagaimana– Penginapan ini seharusnya aman dari hewan liar! "
Olivia memiringkan kepalanya dengan bingung sementara resepsionis dengan panik menatap Noelle.
"Ada apa? "
Utusan guild kembali memasuki ruangan begitu ia menyadari kalau Noelle dan yang lain masih di sana.
Begitu memasuki ruangan, ia langsung melihat sosok Noelle yang mengangkat seekor rakun kecil dengan kedua tangannya sambil tersenyum.
"Tidak, kita hanya memiliki penyusup kecil di sini," ucap Noelle sambil menunjukkan rakun itu.
"I-ini sama sekali bukan candaan! penginapan ini memiliki aturan yang sangat keras mengenai keberadaan para hewan karena kami sering mendapatkan pelanggan yang memiliki alergi terhadap bulu hewan seperti rakun! Jika agensi kesehatan sampai menemukan fakta kalau seekor rakun telah menyusup ke penginapan kami, pihak mereka akan segera menutup tempat ini! Tidak hanya aku, tapi semua staff yang bekerja di sini akan kehilangan pekerjaan mereka dan menjadi pengangguran! "
"Oke, oke, tenang. Kau terlalu banyak bicara. Tidak masalah jika mereka tidak mengetahuinya, 'kan? Kita hanya perlu menyembunyikan keberadaannya. Umm … Tuan utusan, bisakah kau merahasiakan ini dari semua orang? "
Noelle mencoba menenangkan resepsionis itu sembari mengubah posisi rakun yang ia gendong di tangannya, kemudian dengan pandangan berharap mencoba bertanya pada utusan guild yang membuat utusan guild itu mengeluarkan senyum pasrah.
"Tidak masalah, ini berada di luar wewenangku, jadi aku bisa berpura-pura untuk tidak melihatnya. Tapi, tolong perketat keamanan kalian agar kejadian ini tidak terulang lagi."
"Te-terima kasih, saya akan menyampaikannya pada manajer."
Resepsionis itu membungkukkan tubuhnya dengan senyum cerah untuk berterimakasih.
Untuk saat ini, masalah berhasil diselesaikan, dan utusan guild itu segera mengajak Noelle dan Olivia untuk pergi menuju guild.
Di perjalanan, Olivia bertanya pada Noelle yang masih membawa rakun itu di pelukannya.
" … Kenapa Noelle tidak melepaskan rakun itu? "
Noelle kemudian memperhatikan Olivia yang sedang menatapnya dengan mata penasaran.
"Aku kebetulan mengenal rakun ini."
" ……? "
Olivia memiringkan kepalanya dengan bingung, namun Noelle tidak menjawabnya lebih lanjut dan justru mencubit pipi Olivia dengan satu tangannya yang bebas.
"Aku akan menjelaskannya nanti, untuk sekarang sebaiknya kita pergi."
" ……… Nn."
Setelah beberapa saat diam, Olivia akhirnya mengangguk dengan patuh dan lanjut berjalan sambil secara alami menggandeng tangan Noelle.
Sementara itu …
Di dalam ruangan pertemuan di guild petualang …
Keheningan yang canggung menguasai ruangan yang berisi orang-orang yang akan terlibat dalam misi penyerbuan.
Meskipun suasananya sangat canggung, Cryll tetap mencoba untuk tenang dengan menyesap tehnya sambil menutup mata.
(Aku datang lebih dulu karena kupikir ini darurat, tapi … Kenapa Pangeran dan yang lain juga ada di sini … )
Cryll dengan ekspresi pahit terus memasukkan gula ke dalam tehnya.
"Umm … Cryll … Kamu sudah memasukkan cukup banyak gula ke dalam tehmu … Itu bukan seleramu, 'kan? "
Stella yang memperhatikannya dari samping bertanya dengan ekspresi kekhawatiran yang jelas. Namun, Cryll hanya tersenyum kecil dan menjawab.
"Kurasa lidahku mulai mati rasa hari ini … "
Mungkin ia merasa terlalu pusing sehingga indera perasanya mulai mati rasa.Sumber dari semua sakit kepalanya itu tentu saja karena keberadaan beberapa orang yang sedang duduk di sofa di hadapannya.
Yang duduk di hadapannya adalah Norman, Iris, Lilith, dan beberapa sosok yang ia kenal dengan baik sejak ia masih bersekolah di akademi ibukota kerajaan.
Dan tampaknya, hanya Cryll yang merasa mual dengan keberadaan mereka. Sementara Charlotte dan Chloe yang datang lebih dulu bersamanya tetap terlihat tidak terpengaruh dan fokus menikmati cemilan mereka.
(Bagaimana mereka bisa setenang ini … Orang-orang yang Noelle bawa memang luar biasa … )
Cryll tidak terlalu peduli tentang perbedaan pangkat dan posisi, jadi ia tidak akan ambil pusing meskipun yang ada di hadapannya adalah seorang pangeran. Tapi, pangeran yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang ia kenal dengan cukup baik dan tidak ingin ia temui lagi sampai kapan pun.
Cryll berhenti dari akademi beberapa bulan yang lalu untuk menempuh hidupnya sebagai seorang petualang, dan Stella juga berhenti karena keinginannya untuk mengikuti Cryll. Karena itulah mereka seharusnya sudah tidak memiliki hubungan dengan kelompok pangeran, tapi …
Entah secara kebetulan atau ada orang yang mengaturnya, mereka berdua selalu terlibat dengan kelompok pangeran tanpa alasan yang jelas.
Cryll saat ini benar-benar ingin pergi melarikan diri dan menyembunyikan dirinya di suatu tempat seperti yang biasa Noelle lakukan untuk kabur dari tanggung jawabnya.
Akan lebih baik jika Terneth ada di sana karena ia bisa menjadi penengah situasi, tapi sampai sekarang Terneth masih belum memasuki ruangan, entah apa alasannya.
Norman dan Iris dengan canggung memperhatikan sekelilingnya, sedangkan Lilith dengan wajah suram terlihat tak bernyawa.
Setelah beberapa saat keheningan canggung, Norman akhirnya berbicara untuk meredakan situasi.
"Umm … Itu … Apa yang harus kukatakan di saat seperti ini … Ahh benar. Umm, lama tidak bertemu Cryll … Ini mungkin mengejutkan, tapi … Kami akan terlibat dalam misi penyerbuan ini, jadi … Mohon kerja samanya … "
" ……?! "
(Aku sama sekali tidak tahu tentang ini! Terneth brengsek! Apa yang ia lakukan?! )
Cryll mencoba mempertahankan senyumnya yang mulai kaku, lalu dengan canggung menjawab Norman.
"Te-tentang itu … Mohon kerja samanya … "
(*Ahhh brengsek … Noelle cepatlah datang! Keberadaanmu sangat diperlukan untuk menjadi tumbal di si*ni … )
Tepat saat ia memikirkan itu, pintu terbuka dan menampilkan empat sosok orang yang sudah cukup ia kenal.
(Nice timing.)
Cryll dengan gembira bersorak di dalam hatinya saat sosok yang ia tunggu akhirnya menampakkan dirinya sambil mengatakan 'maaf membuat kalian menunggu … '
" …………… "
Keheningan kembali memenuhi ruangan ketika Noelle melihat sosok Norman dan yang lain sedang duduk menatapnya.
Noelle kemudian mengerutkan keningnya dengan raut tak senang.
"Apa-apaan ini … "
(Jangan tanya aku, aku akan meninggalkan permainan.)
...****************...