[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 324: Menemukan Lokasi



...****************...


Wajah Noelle berangsur-angsur berubah, menunjukkan kecemasan yang bahkan dapat disadari oleh Tania.


Itu jelas membuat Tania bingung.


"Kenapa? "


Noelle menghela napas untuk menghapus kecemasannya, dan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gelisah.


"Kau ingat dengan penghalang yang kupasang pada Rudra? "


Tania mengangguk. Noelle memasangkan Rudra penghalang itu tepat di hadapannya sendiri sebelum mereka pergi ke desa suku Artof.


Penghalang itu menjaga agar jiwa Rudra tidak menghilang dan tetap di dalam zirahnya. Tania sudah mengetahui itu, tapi dia masih belum paham mengapa Noelle terlihat khawatir.


Dia pun segera mengetahui alasannya.


"Sebenarnya, penghalang itu dipertahankan dengan sihirku sendiri. Aku berfungsi sebagai baterai hidup yang menjaga agar penghalang itu tetap aktif."


Tania kemudian melebarkan matanya. "Kalau begitu–"


Noelle mengangguk. "Ada batas jarak yang bahkan tidak bisa ditembus oleh sihirku. Jadi Rudra tidak boleh pergi terlalu jauh, atau penghalang yang melindungi jiwanya itu akan melemah, dan akhirnya menghilang karena kehabisan bahan bakar."


Penghalang akan terus aktif dengan menyerap mana Noelle yang ada di dekatnya. Selama itu terjadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, ketika baterai yang menyumbang bahan bakar agar itu tetap aktif tiba-tiba menghilang, penghalang tidak akan memiliki cadangan sihir yang bisa digunakan untuk mempertahankan dirinya.


Dalam kondisi ini, paling lama penghalang hanya akan bertahan selama 10 menit saja. Lebih dari itu, sama artinya dengan kematian Rudra.


Noelle meletakkan tangannya di bahu Tania sejenak, lalu berkata, "Ganti pakaianmu, dan segera susul aku."


Dengan begitu, Noelle pun melompat dan memanfaatkan sihir gravitasi untuk terbang hingga ke ketinggian di mana dia bisa mengamati seluruh desa.


Dia tidak perlu menemukan Rudra. Yang terpenting dia ada di dekatnya saja, karena penghalang itu akan secara otomatis menyerap mana dari Noelle.


Mata Noelle berkeliling, mencari ke seluruh penjuru desa, hingga akhirnya, dia merasakan kehadiran kuat yang benar-benar menonjol di tengah kehadiran yang lebih kecil.


Noelle melihat ke arah itu, dan menemukan sosok berzirah lengkap sedang berdiri di tengah kerumunan suku Artof.


Dia ada di pusat desa, dekat dengan sumur utama dan bangunan serbaguna.


Ada banyak anggota suku Artof yang mengelilingi Rudra, penasaran dan sangat bersemangat. Sebagian besar dari mereka yang menghampiri adalah anak-anak.


Rudra sepertinya menjadi tokoh yang populer di tempat ini karena dia terlihat begitu hebat dengan zirahnya.


Noelle dengan lembut menurunkan ketinggian, dan mendarat tak jauh dari kumpulan orang bersemangat itu.


Dia duduk di bawah pohon, sambil mengamati tanpa ada niat untuk mengganggu.


(Dia jadi populer, huh ….)


Tidak masalah untuk tetap duduk diam di sini. Noelle sudah bisa memasok mana secara otomatis dari jarak ini.


Tidak hanya dia sangat populer, Rudra juga sangat mudah dalam mengakrabkan diri dengan anak-anak. Dia menggendong beberapa anak sekaligus, lalu mengayunkannya dengan lembut di udara, memberikan sensasi seperti sedang terbang.


Hal itu membuat semua anak-anak di sekitarnya bersemangat, dan menuntut jatah giliran.


Melihat ini, Noelle secara alami tersenyum.


Pemandangan itu adalah hal yang tidak akan pernah terjadi pada Noelle.


Dia tiba-tiba teringat dengan Levina, sosok gadis kecil yang mengaku sebagai anaknya sendiri, menuntut kasih sayang dan ingin dimanjakan olehnya. Namun, Noelle tidak bisa memenuhi keinginan itu.


Noelle menyukai anak-anak. Dia suka bagaimana anak-anak hanya bisa bersikap jujur pada diri mereka sendiri, tidak perlu memikirkan banyak hal yang merepotkan selayaknya orang dewasa.


Hanya saja, Noelle tidak ahli dalam berurusan dengan mereka. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat anak-anak senang. Apakah dengan memanjakan mereka saja cukup? Tapi, dia berpikir kalau itu adalah hal yang bisa berakibat buruk.


Itu benar, cara berpikir ini disebabkan oleh Noelle yang sejak awal tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya menjadi anak-anak normal.


Sebagai penerus nama Canaria, dia dituntut untuk menjadi anak atau pewaris yang kompeten, sempurna, tanpa cacat, mampu memenangkan segala hal tanpa banyak kerugian.


Saat dia akhirnya diperlakukan layaknya anak normal, itu sudah terlambat. Cara berpikirnya sudah terbentuk sedemikian rupa, sehingga dia tidak perlu lagi merasakan hal-hal yang umum dirasakan anak-anak.


Karena itulah Noelle ragu saat harus berhadapan dengan kelompok anak kecil.


Dibandingkan dengan itu, Rudra dan Olivia adalah sosok yang sempurna sebagai pengasuh. Mereka mampu memahami apa yang anak kecil pikirkan dan inginkan, sehingga bisa memberikan respon yang sesuai.


Noelle menghela napas saat dia membayangkan dirinya ada di posisi Rudra.


Seperti yang diharapkan, dia sama sekali tidak akan tahan.


Saat Noelle sibuk berpikir, Tania yang melangkah tanpa suara sedikit pun sudah ada di sampingnya.


Penampilannya berubah, menjadi lebih rapi. Set pakaian yang biasa ia gunakan, sebuah kemeja gothic lengan panjang berwarna putih dengan pola biru berbentuk garis dan silang, rok hitam yang panjangnya selutut, memiliki pola garis dan silang yang sama seperti kemeja, berwarna biru.


Di bagian kerah, ada sebuah pita merah dengan bros permata tanzanite yang memiliki warna biru gelap yang indah.


Noelle menatap Tania, dan secara sadar mengatakan itu, yang membuat Tania hanya bisa berkedip bingung.


"Terima kasih? "


Tania pun melihat ke arah Rudra, dan ikut duduk di samping Noelle, tepat di bawah pohon yang rimbun.


"Dia sangat populer," ucap Tania.


"Itulah yang kupikirkan sejak tadi."


"Hehe, kesatria kebanggan ratu kami luar biasa, 'kan? "


Keduanya sudah menyadari kehadiran Dolum, tapi pura-pura tidak tahu karena mereka tidak memiliki urusan dengannya.


Meski sepertinya Dolum tidak menyadari pemikiran itu.


Kesampingkan itu, apa yang Dolum katakan sebelumnya cukup mengejutkan Tania, tapi tidak dengan Noelle.


"Jadi kau sudah tahu, ya? " tanya Noelle sambil menghela napas.


Tania tidak mengatakan apa pun, dia menunggu jawaban dari Dolum.


"Aku tidak yakin pada awalnya, tapi aku memiliki firasat. Jadi aku mencari informasi tentangnya di ruang arsip saat kalian sibuk mencari petunjuk."


Itulah jawaban Dolum.


Sekarang Tania mengingatnya. Dia sempat melihat Dolum mencari-cari sesuatu di salah satu buku. Itu bukanlah masalah karena Dolum bisa saja mencari informasi tentang darah ratu. Hanya saja, Tania melihat itu saat Noelle sudah mendapatkan petunjuknya. Selain itu, yang Dolum periksa adalah buku yang sebelumnya sudah Noelle baca sampai habis.


"Kesatria Ratu yang paling berani, setia, dan terhormat. Tidak ada yang layak untuk memegang gelar itu selain dirinya. Itulah Rudra fi Tharika."


Dolum terkihat bangga saat mengatakannya, meski yang ia bicarakan itu bukanlah dirinya sendiri.


Sebenarnya, Dolum masih tidak ingin mempercayainya. Tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa ada banyak sekali keajaiban di luar sana.


Dia tidak akan terlalu heran jika ada orang yang berhasil bertahan hidup selama ratusan tahun, melampaui batas usia manusia.


Daripada itu, ada hal lain yang sukses memicu kekesalannya.


"Jadi begitulah seharusnya wujud asli kami! Kesatria berzirah yang terlihat gagah! "


"Ciri fisik itu adalah apa yang ratu kalian berikan untuk melindungi kalian, semua," balas Noelle spontan.


Noelle mengerti kekesalan Dolum yang harus kehilangan gambaran dirinya sebagai pria sejati, tapi ada alasan yang sangat kuat di balik itu.


Jika Dolum tidak mengalami transformasi, maka itu artinya evolusi yang Ratu Bengis paksakan pada mereka berakhir dengan kegagalan. Itu sama artinya dengan kematian.


Jadi, Dolum seharusnya senang karena berkat wujud itulah dia dan semua orang masih hidup sampai sekarang.


Tania juga memikirkan hal yang sama saat dia menatap kosong pada Dolum.


"Tentu saja aku tahu itu. Aku hanya bercanda, hehe."


Melihat tidak ada ketertarikan di wajah Noelle dan Tania, Dolum pun langsung menghentikan tawanya, dan mengganti arah percakapan.


Akan terlalu canggung jika dia mempertahankan suasananya seperti tadi.


Dolum tiba-tiba bertanya, "Jadi, bagaimana dengan proses pencarian katalis itu? "


"Kami sudah menemukannya," jawab Tania menggantikan Noelle.


Tidak diragukan lagi, informasi itu sukses membuat Dolum terkejut.


Jawaban itu membuat Dolum terperangah. Dia membuka mulutnya tanpa tahu harus mengatakan apa. Dia hanya menatap Tania tanpa berkedip sedikit pun, bertanya-tanya apa maksud jawabannya tadi.


Melihat kebingungan itu, Noelle langsung menambahkan, "Tapi kita masih harus memeriksanya. Yang kami temukan bukanlah katalis itu, tapi hanya lokasinya."


Dolum kembali sadar. Dia pun tersenyum lebar, hampir berteriak kegirangan karena tidak bisa mengendalikan perasannya sendiri.


Dia sama sekali tidak menduga kalau proses pencarian katalisnya akan berjalan dengan sangat lancar dan secepat ini.


Begitu semua katalis berhasil didapatkan, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah memulai ritual untuk membangkitkan Ratu Bengis.


Atau … setidaknya itulah yang Dolum pikirkan.


Usai menenangkan dirinya sendiri, Dolum akhirnya bertanya, "Jadi, ada di mana katalis terakhir itu? "


Mereka berdua tidak menjawab. Tania menatap Noelle, menyiratkan bahwa ia menyerahkan jawabannya pada Noelle.


Namun, Noelle juga tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengangkat tangannya, dan dengan lesu menunjuk tepat pada Rudra.


Senyum di wajah Dolum membeku, dan ekspresinya tidak berubah untuk beberapa saat.


...****************...