[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 168: Kembali?



...****************...


"Apa tidak apa membiarkannya seperti itu? Olpus."


Di ruang bawah tanah yang berlokasi di sekitar ibukota Republik Waldenholt, Alten.


Di ruangan dengan ukuran 10 meter persegi itu, seorang wanita dengan pakaian miko formal itu berbicara dengan lantang, tanpa membiarkan aura keanggunannya berkurang sedikit pun.


Dia duduk dengan anggun di kursi yang diposisikan melingkari sebuah meja besar di sana, dan orang yang menjadi lawan bicaranya, Olpus, juga duduk di salah satu kursi itu.


Hanya ada mereka berdua di ruangan ini, jadi percakapan apa pun tidak akan bocor begitu saja.


"Apa kau membicarakan tentang kejadian yang baru saja kita lihat itu? "


Olpus bergumam dan melirik ke arah monitor yang ada di belakangnya. Sejumlah energi sihir mengalir keluar dengan cukup deras dari perangkat yang menghasilkan layar itu.


Wanita yang berbicara dengannya, Sawano Yukine hanya mengangguk ringan. Dia kemudian membuka kipas lipat di tangannya, dan menutupi bibirnya sendiri dengan itu.


'Kejadian' yang baru saja Olpus maksud itu adalah apa yang baru saja mereka saksikan sebelumnya.


Layar yang menyala di belakang mereka dapat memproyeksikan apa pun yang dilihat oleh familiar orang yang menciptakannya, jadi mereka bisa melihat apa pun secara real time selama familiar itu masih baik-baik saja.


Dan kejadian yang dimaksud adalah tentang pembantaian yang baru saja Noelle lakukan di salah satu kapal miliki Voyager, kapal yang mengangkut sebagian penjaga yang mengungsi dari penjara itu.


Olpus tak menjawab apa pun, dan hanya menghela napasnya. Secara alami, Yukine tahu apa jawabannya.


"Kau tidak keberatan, ya? Dasar jahat."


Meskipun Yukine mengatakan itu, dia anehnya tersenyum. Seolah ia sama sekali tidak peduli dengan puluhan nyawa yang baru saja lenyap di tangan Noelle, orang yang bisa dipastikan sebagai musuhnya.


"Aku tidak ingin mendengar itu darimu, Yukine. Lagi pula, aku memang tidak keberatan bahkan jika semua orang yang menjaga tempat itu dihabisi olehnya secara langsung."


"Ohh? Kenapa begitu? "


Yukine terlihat tertarik dengan jawabannya, tapi Olpus hanya mendengus kesal sebagai reaksinya.


"Singkat saja. Ini untuk menyingkirkan semua sampah itu. Semua yang mereka lakukan di penjara itu sudah keterlaluan, aku sudah tidak bisa mentoleransi mereka lagi. Aku yakin kau mengerti maksudku."


"Yahh, aku setuju denganmu."


Senyum masam terbentuk di wajah cantik Yukine. Sebelum akhirnya, keseriusan kembali mengambil alih ekspresinya.


"Tapi, aku yakin kau juga memahami apa yang baru saja orang itu lakukan, 'kan? "


" … Tentu. Itu adalah pesan ancaman untuk kita."


Noelle secara terang-terangan menyerang dan menenggelamkan salah satu kapal mereka. Hanya ada satu jawaban untuk tindakan itu.


"Tapi … " Olpus kemudian melanjutkan. "Kita memang tidak akan berurusan dengannya lagi. Lagi pula, kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan."


Olpus mengangkat tangannya, dan sebuah bulu cahaya berukuran seperti lengan pria dewasa muncul di sana, mengambang di atas telapak tangannya.


Itu adalah Angel Feather (bulu malaikat), yang telah Yukine dapatkan sebelumnya.


"Dengan ini, kita bisa menyelesaikan 'Pan-dora', dan membawakan kejayaan pada Galardworth."


Yukine melebarkan senyumnya, dan matanya menyipit, sementara Olpus hanya menatap bulu itu dalam diam.


Dia seharusnya senang dengan ini. Semua tujuannya akhirnya akan tercapai. Tapi, kenapa? Ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Dan itu terkait dengan sosok 'Souris', orang yang ia lihat dari layar itu sebelumnya.


(Aura keberadaannya … Sangat tidak asing. Tapi … Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya … )


Saat ini, bahkan Olpus sendiri masih belum mengetahui apa pun, tentang fakta mengejutkan yang telah Noelle temukan.


Yukino melihat keanehan pada Olpus, dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya.


"Yahh, lupakan tentang itu sejenak. Bagaimana kita akan melaporkan yang satu itu? Siapa namanya? Bar … Bariso? Aku tidak ingat. Dia sudah mati, 'kan? Apa yang harus kita lakukan? "


Sebagai respon, Olpus menghela napasnya. Dia bersandar pada kursi dan membiarkan kepalanya dengan lembut beristirahat di bantal kecil yang ada di sana. Bulu cahaya itu juga langsung menghilang seolah merespon gerakannya.


"Namanya Barsio. Kau tidak perlu repot-repot mengingatnya. Yahh, aku akan memikirkan itu nanti. Doppelganger memang subjek yang penting, tapi Barsio hanyalah satu dari sekian banyak subjek gagal Doppelganger kita. Dia tidak bisa diharapkan."


"Sungguh … Begitu banyak rintangan sulit yang harus kita lewati hanya untuk mencapai satu keberhasilan kecil, ya … "


Senyum sinis seketika muncul di wajah Olpus yang minim akan ekspresi itu.


"Keberhasilan kecil? Kau terlalu meremehkannya, Yukino. Jika kita berhasil dalam percobaan ini, maka bayangkan seberapa besar keuntungan yang bisa kita berikan pada Yang Mulia. Ini adalah kehormatan besar."


Yukino hanya mampu tersenyum masam saat melihatnya. Dia kemudian ikut bersandar di kursinya dan memejamkan matanya.


"Seperti biasa, kesetiaanmu terhadap Yang Mulia selalu mengagumkan. Tapi, lupakan tentang masalah itu sejenak. Bagaimana dengan bocah yang dalam perawatanmu? Kalau tidak salah, namanya Leonardo, 'kan? "


Begitu Yukino menyebut nama Leonardo, Olpus kembali bangun dan menatap Yukino dengan wajah tanpa ekspresi.


"Aku berhasil menenangkannya. Pengkhianatan yang dilakukan Lucia pasti menjadi hal yang sangat menyakitkan untuknya."


"Hmm~ Kau harus merawat semua bawahanmu dengan baik, Olpus. Aku yakin, tidak ada siapa pun di barisan Voyager yang menginginkan bawahan yang berkhianat dan membiarkan kebocoran rahasia. Aku ragu mereka akan diam saja ketika mendengar kabar tentang wanita bernama Lucia Khora itu."


Mendengar itu, Olpus hanya mengangkat satu sudut bibirnya dan menatap meja dengan mata yang menyipit.


"Kesampingkan pengkhianatannya. Aku yakin mereka tidak akan melakukan tindakan apa pun yang akan membunuh Lucia."


Kali ini, Yukino membuka matanya, menunjukkan tatapan penuh ketertarikan.


"Ohh? Bisakah aku tahu kenapa? "


"Fuh, singkat saja. Mereka semua masih membutuhkan kekuatannya. Lucia memiliki《Mata Tuhan》, sesuatu yang sudah dicari Yang Mulia selama puluhan tahun. Dan juga …《Mata Tuhan》milik Lucia juga penting untuk rencana kedepannya. Jadi, dia tidak akan dibunuh begitu saja."


"Hmm~ Aku penasaran, apa benar begitu. Itu terdengar menarik. Aku ingin tahu, situasi seperti apa yang akan kita hadapi di masa depan nanti."


Yukino menoleh, dan melihat ke layar yang masih menyala.


Di sana, sosok Noelle dengan topengnya ditampilkan dengan sangat jelas.


"Asterisk, ya … Aku ingin tahu apa dia, atau mereka semua akan berperan besar dalam perubahan yang akan terjadi di masa depan … "


...****************...


"Sekarang … Apakah kita harus kembali? Atau kalian akan lebih suka jika kita beristirahat di sini untuk satu malam? "


Langit sudah gelap, dan semua kericuhan sebelumnya telah sepenuhnya menghilang.


Dengan diterangi dua buah obor yng menyala, dan beberapa bola cahaya yang melayang di sekitar, Noelle berbicara dan meminta pendapat semua orang.


Noelle duduk di sebuah batang pohon kering dengan Olivia di sisinya. Sementara itu, Norman dan Kaira yang ada di hadapannya tampak sedang berpikir keras sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya.


"Mempertimbangkan reaksi apa yang akan diberikan Earl nanti … Aku lebih suka mengambil waktu di sini untuk mempersiapkan diriku."


Merespon jawaban Norman, Kaira dan Rico dengan pasrah mengangguk.


Dan ketika itu pula, semua orang yang tergabung dalam kelompok ekspedisi Norman langsung memiliki ekspresi murung.


Jelas mereka menyadari apa yang sudah mereka lakukan. Melarikan diri dari kota secara diam-diam, dan terlibat dalam pertarungan melawan musuh yang sama sekali tidak mereka ketahui. Jika salah satu dari mereka menjadi korban, akibatnya tidak akan menjadi urusan yang bisa diselesaikan dengan cepat.


"Yahh, bukannya aku tidak mengerti perasaan kalian. Tapi, aku akan mengurus semua masalah dengan Earl. Jadi, kalian bisa tenang."


Memang akan jadi lebih mudah jika Noelle turun tangan langsung untuk mengatasi masalah itu. Tapi, Norman dan Kaira merasa agak berat hati untuk menyetujuinya.


Semua ini memang disebabkan oleh Noelle yang mengajak mereka semua. Tapi, ini juga menjadi tanggung jawab bagi mereka semua yang dengan mudahnya menyetujui ajakan Noelle.


Namun, ada beberapa orang yang jelas sekali memiliki pemikiran yang sangat berlawanan dari itu.


Dan orang itu adalah Rico dan Anzu.


Rico mengangkat tangannya dan berkata, "Kalau begitu, selesaikan semua masalahnya. Aku mengandalkanmu." Sebelum akhirnya ia berbalik, dan berbaring di sebuah matras empuk yang Noelle sediakan untuk beristirahat.


Anzu mengangguk setuju, dan bersandar di batang pohon besar yang ada di belakangnya. "Aku tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh orang itu. Tapi, aku akan menyerahkan semua masalah ini padamu."


Mengesampingkan Anzu yang memang sudah seperti itu sejak lama, Noelle masih heran kenapa Rico terlihat tidak peduli dengan masalah ini.


Padahal, dialah yang seharusnya bertanggung jawab karena menyetujui semua proposal Noelle tanpa membahasnya lebih lanjut dengan Norman.


Noelle hanya bisa menghela napasnya dengan pasrah dan meregangkan tubuhnya sendiri di tempat.


Sejenak, dia bisa merasakan satu tangan Olivia yang memeluk tubuhnya, tapi Noelle tak menunjukkan reaksi apa pun, dan justru menoleh pada Cryll dan Stella yang duduk di sisi berlawanan darinya.


"Kalau begitu, sudah diputuskan. Cryll juga butuh waktu yang agak lama untuk pulihkan secara total. Dan juga … "


Noelle bangun dari tempatnya, dan menatap ke sekeliling.


"Apa yang kau cari? " tanya Norman.


Mendengarnya, Noelle langsung menggelengkan kepalanya, dan mendengus ringan.


"Tidak ada. Hanya saja … Aku tak sempat melakukannya tadi, jadi … Aku ingin memulainya sekarang."


" … Apa itu? "


"Penyelidikan." Noelle menjawabnya dengan cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari sekitar.


Dia tidak butuh istirahat. Luka, dan semua rasa lelah yang fisiknya alami akan langsung pulih dengan sendirinya. Jadi, Noelle ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan penyelidikan terhadap lokasi sekitarnya.


"Ahh, kau benar … "


Norman langsung mengerti. Sejak awal, ia tidak berpikir kalau akan ada monster di tempat ini. Jadi, ketika mengingat berapa banyak orang yang telah mati di tanah ini, ia jadi sadar. Ada kemungkinan kalau semua energi negatif itu telah terakumulasi sedemikian rupa sehingga membentuk suatu keberadaan monster yang mengerikan. Dan tentu saja, itu hanya hipotesanya yang sederhana.


Tiba-tiba, Norman merasakan keinginan untuk ikut menjelajahi tempat ini bersama Noelle. Tapi, belum sempat ia menyuarakan keinginannya itu, Noelle langsung menggeleng.


"Aku ingin memeriksa semua tempat ini sendiri. Kalian bisa nikmati waktu kalian untuk beristirahat. Dan juga … "


Bayangan di bawah kaki Noelle bergerak selayaknya sungai tenang yang tiba-tiba dilempari baru kerikil.


Kemudian, tiga sosok hitam berkaki empat keluar dari sana, dan memanifestasikan wujud asli mereka di hadapan semua orang.


Itu adalah serigala. Dengan ukuran sedang, dan rambut halus yang sepenuhnya berwarna hitam. Mata merahnya tampak menyala di tengah gelapnya malam. Terlihat mengerikan, tapi juga terlihat indah ketika mereka bertiga berdiri dengan anggun di hadapan Noelle.


Samar-samar, Norman dapat mendengar Noelle bergumam. "Brackas tidak bisa kupanggil karena dia sedang menjaga Chloe dan Levina. Tapi … Mereka seharusnya cukup … "


Pandangannya seketika tertuju pada tiga sosok serigala itu.


Mereka bertiga tidak memiliki nama, tapi mereka berbagi marga dan garis darah yang sama dengan Brackas. Jadi, ras dan kemampuan yang mereka semua miliki relatif sama.


"Mereka bertiga akan menjaga kalian. Jangan khawatir, aku bisa jamin kalau mereka setidaknya lebih kuat daripada gadis yang tertidur di sana," ucap Noelle seraya melirik pada Anzu yang sudah memejamkan matanya.


"Apa kau mengejekku? " Anzu seketika membuka matanya dan bertanya dengan suara yang terdengar sedikit marah.


Noelle hanya mengangkat bahunya dan berbalik. "Entahlah. Mungkin hanya perasaanmu."


Dan dengan begitu, dia berjalan pergi meninggalkan semua orang.


Tatapan semua orang secara alami beralih pada Olivia yang sebelumnya duduk di samping Noelle.


" … Aku akan ikut dengan Noelle."


Tak tahan dengan tatapan semua orang yang diarahkan padanya, Olivia langsung berdiri dan berlari kecil guna mengejar Noelle.


Keheningan kembali melanda mereka semua. Tak ada satu pun yang berbicara, hingga akhirnya ….


" … Seharusnya aku memintanya mengeluarkan Lilith … "


...****************...


"Noelle … "


Tempat itu gelap, dan tak ada siapa pun selain mereka. Beberapa menit waktu berjalan dengan penuh keheningan, tapi tak ada satu pun dari mereka yang keberatan.


Hingga akhirnya, keheningan itu pecah karena satu kata dari bibir Olivia.


"Hmm? "


Noelle menoleh dan menatap Olivia dengan penasaran.


Sama sekali tak ada sumber cahaya di sekitar mereka. Entah mengapa, sinar bulan bahkan tak bisa mencapai tempat ini. Jadi, di sana benar-benar gelap gulita.


Namun, Noelle dan Olivia sama sekali tak terlihat kesulitan saat melangkah.


"Apa tidak masalah membiarkan mereka semua seperti itu? "


"Maksudmu … Kamu ingin aku merawat mereka? "


" … Tentu saja tidak."


Jawaban itu seketika mengembalikan keheningan di antara mereka.


Noelle berdiri diam tanpa mengatakan apa pun, sementara Olivia hanya menatapnya tanpa ada perubahan pada ekspresinya.


Sebelum akhirnya, keduanya secara bersamaan tersenyum masam dan tertawa kecil.


Olivia secara alami menempelkan wajahnya di dada Noelle, dan kembali menatapnya dengan mendongakkan sedikit kepalanya.


"Bau darah yang asing … Seperti yang kuduga … Noelle melakukan sesuatu secara diam-diam lagi."


Noelle sama sekali tak terkejut ketika Olivia menyadari semua itu. Dia sudah tahu kalau Olivia pasti akan menyadarinya cepat atau lambat.


Menghadapi intuisi mengerikan yang dimiliki kekasihnya itu, Noelle hanya bisa tersenyum masam.


"Tidak ada cara lain. Aku harus melakukannya untuk menyingkirkan semua masalah yang akan kita dapatkan di masa depan."


"Benarkah? Kalau memang begitu … Kenapa Noelle harus merahasiakannya dariku? "


"Itu … "


Mata obsidian Olivia menatap Noelle dengan kuat. Sama sekali tidak berkedip, dan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan mundur.


"Apa aku harus mengulangi kalimat yang kuucapkan di kamar mandi saat itu? "


Ingatan Noelle tiba-tiba beralih ke saat dia mandi bersama dengan Olivia. Tepatnya, beberapa saat sebelum Asterisk memulai aksi debutnya.


Mengingat itu semua, Noelle hanya mampu tersenyum kecut dan mengelus kepala Olivia dengan lembut.


"Maaf. Aku ragu untuk memberitahumu karena kupikir ini hanya masalah sepele. Aku bisa melakukan ini semua sendiri. Jadi … Aku tidak ingin melibatkanmu. Terlebih lagi, pihak yang kukirimkan pesan ancaman itu adalah pihak yang sama sekali tidak kita ketahui. Jadi, aku ingin lebih berhati-hati."


"Benarkah? "


"Tidak mungkin aku akan berbohong dalam situasi ini," jawab Noelle sambil tersenyum lembut. Saat melakukan itu, tangannya tak berhenti mengelus rambut halus Olivia.


"Mhmm … Kalau begitu, aku akan memaafkan Noelle. Tentu saja, dengan satu syarat."


"Syarat? "


Noelle mengedipkan matanya beberapa kali karena bingung. Melihat itu, Olivia memasang senyum nakal sambil menyipitkan matanya.


"Tidak ada siapa pun yang akan melihat. Jadi, aku mau Noelle menciumku."


" … Hanya itu? "


Pipi Olivia sedikit memerah, tapi menjadi semakin merah lagi ketika melihat reaksi Noelle yang datar.


" …… Lakukan saja," gumamnya sambil menutup mata dan memajukan bibirnya.


Tatapan Noelle secara alami menjadi lebih lembut, dan tangannya yang sebelumnya digunakan untuk mengelus kepala Olivia kini beralih ke bagian pipinya yang halus dan lembut.


Sensasi kenyal dari pipinya itu sempat membuatnya tergoda untuk memainkannya, tapi Noelle langsung sadar dan menarik wajah Olivia lebih dekat lagi dengan tangannya.


Pandangannya dengan mudah tertarik ke bibir merah muda yang sudah tak sabar ingin menyambutnya itu.


Dan dengan begitu, Noelle menutup matanya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Olivia.


Bibir mereka seketika tumpang tindih.


Beberapa saat berlalu, dan tak ada tanda kalau bibir mereka akan berpisah.


Itu hanya ciuman yang sederhana, tanpa ada agresifitas apa pun dari mereka.


Namun, begitu Noelle menarik bibirnya, Olivia langsung menatapnya dengan sedikit cemberut. Meskipun begitu, Olivia tak mengatakan apa-apa lagi, dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada Noelle.


Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Keheningan itu terus berlanjut hingga Olivia akhirnya mengangkat wajahnya dan berbalik, memposisikan punggungnya di depan Noelle.


" … Ayo kita teruskan menyelidiki tempat ini. Mereka akan curiga jika kita pergi terlalu lama."


Dan dengan begitu, Olivia berjalan dengan kecepatan yang sangat rendah, sehingga satu langkah kakinya mungkin hanya dapat mencapai seperempat meter.


Noelle tersenyum lembut sejenak, sebelum akhirnya ikut berjalan di belakang Olivia.


"Hei, Livia. Kau tahu, aku berniat untuk mengklaim tempat ini."


" ……… "


Langkah kaki Olivia terhenti. Dia berbalik dan menatap Noelle dengan ekspresi kebingungan di wajahnya.


"Kenapa tiba-tiba? "


Olivia sangat menyadari kalau Noelle tidak akan melakukan hal sebesar itu tanpa alasan. Jadi, ia mencoba menanyakannya. Meskipun, jawaban yang akan ia terima mungkin agak sulit untuk dicerna.


"Aku tidak tahu pasti dengan yang sebenarnya. Tapi … Pulau ini adalah harta karun tersembunyi."


Noelle berjalan ke titik tertentu, dan menghentakkan kakinya di sana.


Tampaknya tanahnya sangat kering dan rapuh, sehingga hentakan dari Noelle sudah cukup untuk menghancurkannya.


Dan saat itu juga, cairan kental dan licin mengalir keluar sedikit demi sedikit dari lubang kecil yang tercipta.


"Ini … "


Olivia mengerutkan keningnya dan berjalan mendekati cairan itu, dia pun menenggelamkan ujung jarinya ke genangan cairan itu, dan menciun bau yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Minyak! "


Senyum di wajah Noelle melebar ketika Olivia menyadari apa yang coba ia katakan.


...****************...