[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 206: Rekan Baru (2)



...****************...


Setelah memastikan situasinya, dan membenarkan kalau dia memang sedang berada di alam mimpi, Norman tidak diam di tempat, dan justru berjalan ke sekitar untuk menemukan segala macam petunjuk.


Baginya, saat di mana semua orang ditarik ke alam mimpi kolektif ini adalah saat yang tepat untuk mencari informasi.


Sebelumnya dia sudah mendengarkan penjelasan dari Erwin, yang mengatakan kalau semua yang ada di alam mimpi ini adalah bentuk manifestasi dari mimpi seseorang. Yang artinya, ada petunjuk yang tersebar di semua tempat, hanya saja tidak bisa dipastikan karena si pemilik mimpi itu sendiri tidak menyadarinya.


Menurut Erwin, bagian mimpi yang dimanifestasikan di sini benar-benar acak dan tidak menentu. Itu membuat Norman sedikit cemas karena menurunkan peluang untuk mendapatkan informasi, tapi entah bagaimana dia tetap akan mengatur segalanya dengan semua informasi yang ada.


Setelah memeriksa sekelilingnya, Norman menyadari kalau dia ada di sebuah ruangan besar yang mirip dengan aula dalam sebuah istana. Dua tangga melingkar dengan banyak ornamen mewah dapat terlihat di dua sudut di depannya, sedangkan beberapa lampu gantung berkualitas tinggi terlihat sedikit berayun dengan setiap interval hembusan angin yang datang.


Norman menaiki salah satu tangga, dan kini menghadap satu pintu ganda yang ukurannya bahkan menyentuh langit-langit.


Di kedua sisi pintu itu, patung Gargoyle dengan sebuah pedang menancap di dadanya terlihat sangat nyata seolah itu adalah makhluk hidup sungguhan yang berubah menjadi batu.


Norman mengabaikan rasa penasarannya, dan mengingat semua peringatan yang Erwin berikan.


Peringatan pertama adalah untuk tidak menjelajah terlalu jauh dari tempat dia muncul, kedua adalah untuk tidak secara sembarangan memeriksa sesuatu, karena mereka tidak tahu manifestasi mimpi siapa itu. Memeriksa sesuatu secara acak dapat menyebabkan banyak hal yang tidak diinginkan.


Ada beberapa peringatan lainnya, tapi duanitu adalah yang paling diutamakan.


Norman mengangkat kedua tangannya, secara perlahan mendorong daun pintu. Dengan suara derit yang tidak terlalu mengganggu, pintu sedikit terbuka, membuat Norman mampu mengintip apa yang ada di dalamnya.


Namun, pada saat itu, dia merasa kekuatannya dengan cepat menghilang, seolah telah disedot oleh kekuatan yang tidak diketahui di dalam ruangan itu.


Hal itu membuat Norman secara alami mundur beberapa langkah dengan terkejut. Setelah pulih, dia kembali maju dan mengintip apa yang ada di balik pintu itu.


Kekuatannya masih terkuras sedikit demi sedikit, tapi itu tak sederas sebelumnya.


Tanpa dia duga, cahaya yang menyilaukan datang dari arah jendela di ruangan itu, membuat pandangannya menjadi sedikit tidak jelas.


Dalam keadaan bingung, dia kemudian mendorong pintu itu lebih jauh lagi, dan kini berhasil membukanya.


Itu adalah ruang takhta, luasnya mungkin sama atau hanya sedikit lebih kecil dari ruang takhta yang Norman lihat di kastil kerajaannya.


Namun, yang membuat ruang takhta itu terlihat berbeda adalah suasananya yang aneh. Itu sepi, dan memberinya perasaan yang menyedihkan, seolah tidak ada yang pernah menginjakkan kakinya di ruangan itu selama ribuan tahun.


Jendela kaca patri dengan motif yang sama terlihat berderet di sisi ruangan, sementara karpet beludru merah dengan sulaman benang emas di pinggirnya. Pilar penyokong dengan motif yang mewah dan elegan terbuat dari marmer putih itu terlihat semakin memaku keagungan ruang takhta.


Selain Norman, hanya ada satu orang lain yang ada di ruangan itu.


Dia sedang duduk di takhtanya, dengan siku kirinya diletakkan di sandaran tangan, sementara telapak tangan kirinya menjadi sandaran untuk pipi yang halus itu.


Tidak salah lagi, dia adalah seorang pria. Namun, Norman tidak bisa melihat sosok sejatinya. Ini seperti ada tirai tak terlihat yang membuatnya tidak dapat dengan jelas melihat siapa sosok itu.


Dia sedang tertidur, dengan ketenangan yang tampaknya menjadi sesuatu yang abadi di ruangan itu. Sosoknya membuat Norman tak berkutik, dan punggungnya menjadi lebih dingin.


Meskipun sosok itu mungkin sedang tertidur, entah kenapa Norman masih bisa menerima pancaran emosi darinya. Itu adalah kesedihan, kesepian, dan penyesalan yang sangat mendalam. Semua emosi itu membuat mata Norman memanas, dan dia hampir menangis sendiri.


Pada saat inilah Norman merasakan keanehannya. Dia yakin dia sedang berada di alam mimpi kolektif. Semua yang ada di sini harusnya menjadi manifestasi dari mimpi seseorang.


Tapi, mimpi siapa ini? Apakah ini adalah mimpi dari sosok yang tertidur di sana? Itu adalah kemungkinan terbesarnya. Bagaimanapun, Norman belum pernah menemukan kasus yang di mana seseorang muncul di alam mimpi kolektif, tapi sejak awal tidak berada di area dengan kabut mimpi.


"Ini buruk … "


Semakin dia menyadarinya, semakin dia merasa takut.


Norman langsung mengabaikan sosok yang masih tertidur itu, dan berlari keluar dari pintu, menuruni tangga, menyusuri lorong, lalu keluar dari pintu besar yang lain.


Dia akhirnya tiba di luar, tapi tak ada apa pun di sana. Hanya tanah kosong, dan jurang yang tidak diketahui seberapa dalam itu sebenarnya.


Norman mencoba mendekati tepi jurang, lalu melihat ke bawahnya. Tanpa dia duga, yang ada di bawah sana bukanlah kegelaoan yang biasa muncul dari sebuah jurang, melainkan pemandangan alam yang normal yang bisa ia lihat di mana saja.


Dia tidak berada di jurang, melainkan di sebuah pulau melayang!


Di langit, bulan merah raksasa masih berada di posisi yang sama, seolah memang tidak bergerak untuk waktu yang lama.


...****************...


Begitu Noelle terbangun, dia tanpa ragu langsung memeriksa sekelilingnya. Kemudian, dia sadar kalau dia ada di sebuah tempat dengan banyak reruntuhan bangunan raksasa.


Masing-masing bangunan itu dibuat dengan marmer dan beton, membuatnya menjadi struktur yang sangat kuat. Namun, semua itu kini menjadi bagian dari sejarah yang hancur.


Tak ada yang tersisa di sana, hanya ada reruntuhan dengan banyak kenangan yang tak terlukiskan.


Noelle berdiri dan mendekati salah satu reruntuhan, yang merupakan sebuah katedral bergaya gothic yang indah.


Atap kerucut dari menara katedral itu telah runtuh, menyisakan puing-puing yang dulu membangun kemegahannya. Kaca patri dengan pola yang misterius, menara jam dengan lonceng berkarat, dan area pemakaman yang sudah tidak terurus.


Katedral itu sebagian besar sudah runtuh, tapi struktur bangunannya masih ada dan terlihat rapuh seolah berusaha mempertahankan dirinya sendiri di tengah gelombang sejarah.


Di bagian paling depan katedral itu, tepatnya di bagian atas sebuah pintu ganda raksasa, ada sebuah ukiran yang dibentuk langsung dari permata ruby. Bentuknya bulat sempurna, dan memiliki tonjolan sabit di permukaannya. Selain itu, di sekitar ukiran itu juga memiliki beberapa permata putih kecil yang disusun secara acak.


Tidak salah lagi, ingatannya langsung bekerja dan menemukan kalau itu adalah simbol yang sama dengan yang dimiliki Vesperi Goddess.


Simbol itu selalu ada di setiap gereja dan katedral yang menjadikan Vesperi Goddess sebagai target pemujaannya, jadi Noelle tidak mungkin salah.


"Katedral ini … Mimpi siapa ini? "


Setelah melihat itu, berbagai pemikiran mulai mengalir di kepala Noelle. Dia membayangkan kalau ini adalah bagian dari mimpi seseorang, tapi entah kenapa dia merasa kalau jawabannya tidak seperti yang dia pikirkan.


Dari model bangunannya, katedral itu seharusnya menjadi bangunan yang dibuat jauh di masa lalu. Masuk akal jika hanya tersisa reruntuhannya saja. Namun, bangunan simbolis seperti gereja dan tempat doa selalu dijaga dengan baik oleh pihak berwenang, jadi tidak mungkin itu dibiarkan runtuh seperti ini.


Yang artinya, katedral ini sejatinya berada di tempat yang tersembunyi, sehingga luput dari perhatian pihak berwenang.


Setelah menemukan dasar untuk kesimpulannya, Noelle langsung berjalan mendekati pintu katedral itu.


Saat dia mendekat, dia merasakan instingnya menjerit akan rasa bahaya. Dia tidak mengerti asalnya, tapi ia langsung mematuhi instingnya dan berhenti di tempat, sebelum akhirnya mundur beberapa langkah.


" … Kelihatannya bagian dalam katedral ini sangat berbahaya. Apa yang ada di sana? " Noelle dengan cepat menyimpulkan. Dia kemudian memutuskan untuk mencoba menggunakan《Clairvoyance》dan sedikit 'mengintip' ke dalam.


Hasilnya, ia hanya melihat kegelapan total tanpa ada apa pun di sana. Bukan berarti tempat itu sangat gelap sehingga ia tidak bisa melihatnya, tapi《Clairvoyance》Noelle memang tidak mampu untuk melihat apa yang ada di dalamnya.


"Apa yang terjadi? "


Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu ada saat di mana ia tidak bisa menggunakan beberapa kemampuannya, tapi itu tidak sampai membuat pengelihatannya menjadi gelap gulita seperti barusan.


(Apa ada sesuatu yang menghalangi pengelihatanku? Atau malah … )


Kemungkinan lain yang Noelle pikirkan adalah katedral ini memiliki efek 'penyembunyian' atau 'penyegelan' yang membuat orang-orang di luar tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam.


Jika memang begitu, maka semua masuk akal.


Tapi, itu justru menimbulkan pertanyaan lain. Apa yang sebenarnya terjadi sampai kekuatan penyembunyian itu muncul di dalam katedral? Selain itu, insting Noelle sebelumnya meneriakkan tanda bahaya, tapi sebenarnya apa yang diwakilinya?


Jika ini adalah situasi yang normal, Noelle pasti sudah bertindak untuk memenuhi rasa penasarannya. Dia akan menendang pintu besar itu, dan menerobos masuk ke dalam tanpa ragu.


Sayangnya, sekarang dia tidak dalam situasi yang bisa dengan bebas melakukan itu.


Noelle hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pasrah saat dia merelakan rasa penasarannya. Baginya, situasi saat ini cukup berbahaya, dan dia juga yakin kalau kekuatannya belum cukup untuk mengatasi bahaya itu.


Kemungkinan besar dia akan memeriksanya lagi jika dia sudah mengumpulkan kekuatan yang cukup, tapi entah kapan itu akan terjadi.


Noelle berbalik dan berniat pergi meninggalkan katedral. Namun, tiba-tiba ada banyak hawa keberadaan yang muncul di sekitarnya.


Kewaspadaannya meningkat, dan pikirannya juga dipercepat guna menganalisis situasinya.


Noelle perlahan berbalik, melihat ke arah kumpulan hawa keberadaan yang tiba-tiba muncul itu. Di sana, tepatnya di puncak menara katedral, sekelompok gagal dengan mata merah yang menyeramkan muncul.


Mereka terbang mengelilingi menara katedral, dengan suara yang memekakkan telinga. Namun, bukan itu yang menjadi fokus Noelle.


Apa yang membuat Noelle benar-benar merasakan bahaya yang intens adalah sosok yang sedang duduk dengan tenang di puncak menara, sosok yang dikelilingi kerumunan gagak itu.


Dia adalah seorang pria, dengan pakaian yang mirip jubah penyihir berwarna hitam dengan pola emas di beberapa bagian. Sosoknya tinggi, dan wajahnya juga bisa dibilang tampan meskipun terlihat sedikit tua.


Rambutnya yang agak bergelombang itu berwarna hitam, dan matanya juga sepenuhnya hitam. Di atas kepalanya, sebuah mahkota hitam pekat yang mengeluarkan gumpalan asap hitam dapat dilihat sedang mengambang. Mahkota itu tidak benar-benar menempel di kepalanya, sedangkan di bahu kirinya ada seekor gagak yang sedang bertengger.


Noelle tidak pernah melihat sosok itu sebelumnya. Namun, meski ini adalah pertama kalinya ia bertemu, dia tidak bisa menahan dirinya dari rasa ketakutan. Tangan kanannya yang hampir meraih gagang pedang itu hanya diam di tempat, gemetar tanpa melakukan perlawanan apa pun.


Sosok dengan mahkota hitam itu menatap Noelle dalam diam. Tatapannya dingin, seolah memandang rendah segalanya. Perlahan, sebuah senyum dingin terbentuk di wajahnya, membuat kecemasan Noelle telah sampai pada puncaknya.


Noelle ingin segera pergi meninggalkan tempat ini, namun entah kenapa dia seperti dilumpuhkan di tempat, membuatnya sama sekali tidak bisa berkutik.


Sosok itu kemudian bergerak sedikit, dan langsung berada tepat di hadapan Noelle.


Noelle tidak sempat melakukan apa pun, dia juga terkejut dengan pria itu yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Hanya saja, alarm internalnya langsung berdering dengan sangat keras karena bahaya yang mendekat.


Tanpa menunggu reaksi dari Noelle, pria itu langsung mengulurkan tangannya, dan tangannya langsung tenggelam ke dada Noelle.


Untuk sejenak, Noelle merasakan sakit yang tak terlukiskan. Ini seperti ada sesuatu yang menyerang langsung pada jiwanya.


Dia tidak bisa melakukan perlawanan apa pun. Hingga akhirnya, pria itu menarik kembali tangannya, bersama sesuatu yang bercahaya yang ia ambil dari dalam tubuh Noelle.


Melihat ke sesuatu yang bercahaya di tangannya, pria itu kemudian berbicara dengan nada yang tidak mengandung emosi apa pun selain ejekan merendahkan, "Takdir benar-benar selalu berjalan ke arah yang tidak terduga, ya? "


Pada saat itulah, kepala Noelle tiba-tiba diserbu oleh kumpulan informasi; mulai dari apa yang baru saja pria itu ambil, dan siapa sebenarnya pria yang ada di hadapannya saat ini.


Noelle dengan susah payah menggerakkan mulutnya, berusaha melawan ketakutannya sendiri dan memanggil nama pria itu dengan suara yang serak.


"Noir! "


...****************...