[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 177: Clausa Memoria (2)



...****************...


Tanah tempat mereka berpijak mulai bergetar dengan kuat, dan dinding yang tampaknya tak jauh dari sana juga mulai bergerak menyempit.


Untuk sejenak, Olivia meningkatkan kewaspadaannya. Tapi, dia segera melengahkan dirinya sendiri ketika menyadari kalau semua perubahan itu tak berdampak buruk.


Setelah beberapa saat, getaran menghilang, dan dinding mulai berhenti bergerak. Selain itu, semua kabut tebal yang sebelumnya menghalangi pandangan mereka juga telah menghilang sepenuhnya.


Dinding batu diatur sedemikian rupa sehingga membuat posisi mereka semua menjadi semakin jelas. Tepat di hadapan mereka, dinding batu itu menjulang tinggi dan menyatu dengan langit-langit.


" … Apa yang sebenarnya terjadi? "


Mereka semua, tak terkecuali Olivia dan Anzu dibuat kebingungan dengan apa yang terjadi. Semua terlalu tiba-tiba, dan terlalu sedikit informasi yang mereka miliki sehingga mereka tak dapat menemukan jawaban apa pun.


Namun, bahkan tanpa mereka memahaminya, semua hal terus saja bergerak mengikuti aliran waktu yang terus berjalan.


Sebuah bola cahaya kecil muncul di tengah dinding batu itu, dan melebarkan jangkauan cahaya redupnya sehingga semua permukaan dinding itu telah ditutupi oleh cahaya yang redup.


Mereka tidak memahami maksudnya, tapi mereka secara alami bergerak untuk maju menelusuri lorong panjang yang telah diciptakan dari celah dinding itu.


Kedua sisi dinding itu bercahaya, dan kabut tipis perlahan muncul dan menutupi kaki mereka.


Satu per satu, ingatan yang bahkan tidak mereka pikirkan sekarang tiba-tiba saja muncul di permukaan pikiran mereka.


" … Apa itu? "


Olivia tentu saja menyadari kejanggalan itu. Tidak peduli betapa ia menghargai semua kenangan masa lalunya, semua ingatan itu tidak mungkin akan muncul dengan sendirinya tanpa ia inginkan.


Tampaknya semua orang mengalami hal yang sama, dan ada berbagai reaksi dari mereka. Sebagian besar adalah reaksi kebingungan yang sangat jelas, tapi ada beberapa orang yang menunjukkan wajah jengkel saat ingatan masa lalu mereka timbul di pikiran mereka sendiri.


Di antara semua itu, ada Anzu yang tampaknya memiliki ekspresi melankolis di wajahnya. Dia terlihat jengkel, tapi di saat yang sama juga terlihat sedih ketika ia mengingat masa lalu itu.


"Kenapa ingatan itu muncul sekarang? "


Iris bertanya dengan sedikit khawatir, tapi ia tak melonggarkan ekspresinya dan justru meningkatkan kewaspadaannya terhadap sekitar.


Meskipun begitu, tak ada satu pun bahaya yang bisa dia waspadai di sini.


Akhirnya, setelah beberapa saat berjalan menyusuri koridor cahaya itu, mereka akhirnya tiba di suatu tempat.


Itu adalah ruangan besar yang didesain seperti sebuah taman mewah. Ada sungai kecil yang mengelilingi ruangan itu, dan taman yang memiliki berbagai jenis bunga tumbuh di sana, serta sebuah pondok marmer bercorak emas mewah yang berdiri dengan megah tepat di tengah semua keindahan.


Kaki mereka secara alami tertarik menuju pondok itu. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi mereka semua masih bisa masuk dan bergerak dengan cukup leluasa di dalamnya.


Suara percikan dari air mancur yang menghiasi di setiap sisi mengisi kekosongan suara di sana, dan kicauan burung yang entah berasal dari mana juga ikut dalam konser alam kecil-kecilan itu.


"Di mana kita sebenarnya? "


Antara tempat ini, dengan tempat sebelumnya, pemandangannya terlalu kontras. Mau tak mau mereka jadi bingung karena banyaknya teka-teki yang harus mereka pecahkan tanpa petunjuk.


"Kurasa ini tidak akan mengejutkan karena kita ada di dungeon. Tapi … Tetap saja, apa-apaan ini? Bahkan ingatan kita sebelumnya juga dimunculkan … Apa maksudnya? "


Iris memasangkan tangannya di dagunya sendiri sebagai pertanda kalau dia sedang kebingungan. Meresponnya, Alan maju selangkah.


"Tempat ini … Mungkin memiliki efek yang bisa membangkitkan kenangan kita, tapi aku tidak tahu pasti dengan itu. Sialan, di saat seperti ini aku benar-benar berharap Rico ada bersama kita."


"Ya, dia menjengkelkan, tapi dia berguna," jawab Werli sambil mengangguk.


"Berhenti membicarakan orang lain, pikirkan bagaimana kita bisa keluar dari situasi ini! "


Anzu mulai jengkel, jadi ia sedikit membentak mereka sambil berkeliaran di sekitar taman itu untuk mencari petunjuk. Namun, hasilnya sia-sia. Ia tak menemukan apa pun.


Dan detik kemudian, suatu sensasi aneh tiba-tiba menjalari tubuh mereka.


"A- apa-apaan ini?! "


Werli menggeledah tubuhnya sendiri untuk menghilangkan sensasi itu, tapi sepertinya sensasi aneh itu muncul dari dalam tubuh mereka sehingga tindakan apa pun tidak akan berpengaruh.


Olivia sendiri pasrah dan menyerahkan dirinya pada sensasi yang tidak mengenakan itu, dan tak lama kemudian, kabut kembali muncul.


Kabut perlahan menutupi sekitar mereka, sebelum akhirnya menghilang, dan digantikan dengan pemandangan yang baru.


Itu adalah sebuah ruangan apartemen sederhana, dengan berbagai peralatan rumah tangga yang bisa ditemukan di rumah mana pun.


"Tempat ini … "


Itu adalah sesuatu yang sudah sangat tidak asing bagi Olivia. Perasaan nostalgia yang aneh bercampur aduk dengan emosinya yang sekarang saat ia melihat ruangan itu.


Tidak salah lagi, itu adalah kamar apartemen Noelle saat dia masih menjadi Izaya.


"Di lihat dari mana pun … Ini bumi, kan? "


Muku memperhatikan sekelilingnya, dan mencoba menyentuh salah satu furnitur di sana, tapi sentuhannya dengan mudah menembus furnitur itu seolah semuanya hanyalah proyeksi hologram.


"?! Kabut itu! "


Olivia kini menyadari semuanya, begitu pula dengan Alan dan Anzu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? "


Werli yang masih belum mengerti dituasinya itu pun mencoba bertanya pada Alan, tapi Alan memberinya ekspresi kebingungan yang aneh sehingga Werli sedikit segan.


Setelah diam sejenak, Alan akhirnya berbicara sambil menghela napasnya. "Bukan apa-apa. Hanya saja … Kabut itu mungkin yang menyebabkan ingatan kita muncul di luar keinginan kita. Dan sekarang … Tampaknya ingatan salah satu dari kita sedang diproyeksikan."


"Itu … Sulit untuk dipercaya … "


Werli mengerutkan keningnya. Bagaimanapun, semua yang terjadi juga sangat tidak masuk akal baginya. Sebuah proyeksi ingatan dari seseorang? Itu benar-benar suatu pelanggaran privasi! Selain itu, bagaimana sistem yang bekerja di baliknya? Apa mungkin bagi seseorang untuk memproyeksikan ingatan orang lain?


"Ahh, tunggu. Kurasa ada orang seperti itu."


Werli kemudian melirik pada Liscia, yang sejak tadi diam sambil melipat lengannya.


"Apa? " Liscia tentu saja menyadari pikiran Werli, tapi dia berusaha mengabaikannya dengan hanya memberinya tatapan kesal.


Tapi, memang benar kalau Liscia memiliki kekuatan yang serupa. Hanya saja, dia tidak bisa memproyeksikan ingatan atau apa yang dibayangkan oleh orang lain. Kemampuannya hanya terbatas pada dirinya seorang. Dia pernah bisa melakukan itu karena sebelumnya mendapatkan bantuan dari Charlotte yang menghubungkannya dengan Lilith dan Rias.


Tapi, tanpa bantuan Charlotte, itu tak mungkin untuk dilakukan. Jadi, Liscia bisa dikeluarkan dari daftar tersangka.


"Lagipula kenapa kau memasukkan namaku ke dalam daftar tersangka itu? Kau menjengkelkan," ucap Liscia sambil memberikan tatapan jijiknya pada Werli.


"Uhh, maaf tentang itu. Tapi … Alan, bahkan jika kau mengatakan kalau ini adalah proyeksi dari ingatan seseorang … Ingatan siapa ini? "


"Sayangnya ini bukan ingatanku. Aku tidak ingat pernah tinggal di tempat semewah ini."


Apa yang Alan ucapkan itu memang benar. Ruangan apartemen itu cukup mewah, tapi karena desainnya yang minimalis, itu justru membuat ruangan itu terlihat sederhana.


"Lalu … Ruangan siapa ini? "


"Ini adalah kamar apartemen Noelle, atau lebih tepatnya Izaya."


Suara Olivia tiba-tiba muncul dan menarik perhatian mereka.


Jika apa yang Olivia katakan itu benar, maka ini pasti ingatannya. Atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan sebelum Olivia membantahnya sendiri.


"Ini bukan ingatanku."


Olivia mengatakannya dengan suara yang terdengar sangat meyakinkan sambil menunjuk pada kalender abadi yang diletakkan di atas rak kecil di samping sebuah televisi 40 inch.


"23 Desember tahun 2030. Aku tidak bisa dengan yakin mengatakan kalau aku mengingat semua hal. Tapi, setidaknya aku tahu kalau aku tidak berkunjung ke apartemennya pada tanggal itu. Terlebih lagi … "


Olivia kemudian menunjuk pada layar hologram persegi panjang yang menempel di dinding tepat di atas televisi itu.


Itu adalah jenis jam digital yang umum di masa itu.


"Jamnya menunjuk tepat pada pukul 10 malam. Itu melewati jam tidurku."


Sejak dulu Olivia memang memiliki jam tidur yang cukup ketat. Itu demi menjaga kesehatan psikologis dan bagian dari perawatan fisiknya.


"Lalu … Jika ini bukan ingatanmu … Ingatan siapa ini? "


Olivia mengangkat bahunya, dan melirik pada Anzu.


"Kenapa kalian tidak bertanya padanya? "


Pandangan semua orang seketika tertuju padanya. Kali ini mereka terlihat sangat penasaran dan memiliki banyak pertanyaan.


Ketika dirinya tiba-tiba ditunjuk, Anzu benar-benar terkejut. Kedutan muncul di pelipisnya, dan senyum canggung mulai terbentuk di bibirnya,


Jika bisa, Anzu ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi, tampaknya semua orang tidak akan membiarkannya melakukan itu.


"Apa itu benar-benar kau? "


Anzu berniat mengatakan tidak, tapi bibirnya secara alami mengucapkan, "Ya."


Menyadari kalimat yang keluar dari bibirnya berkebalikan dengan yang ia pikirkan, Anzu langsung menggunakan tangannya sendiri untuk menutup mulutnya.


Dan saat ia kembali membukanya untuk mengatakan 'Aku tidak berada di sana', apa yang keluar dari bibirnya justru kebalikan dari itu.


"Ya, aku memang ada di sana."


Semua orang mengedipkan nata mereka dengan bingung. Beberapa dari mereka terlihat tidak percaya, tapi pemikiran mereka langsung berubah ketika Anzu membanting kepalanya sendiri ke meja kayu yang ada di sana.


"Kenapa aku tidak bisa berbohong?! "


Jeritan kebingungan itu keluar dari bibir Anzu saat dia terus membanting dahinya sendiri ke meja kayu itu.


"Anzu … Kau tidak perlu menyakiti dirimu seperti itu, oke … Cukup jelaskan pada kami tentang apa yang sebenarnya kau lakukan di sana … "


Seorang gadis berada di kamar apartemen seorang laki-laki yang bahkan bukan kekasihnya, itu jelas akan menjadi skandal yang luar biasa.


"Kurasa dia tidak perlu menjelaskannya," ucap Olivia untuk menarik perhatian senua orang.


Dan tepat seperti yang ia katakan, Anzu benar-benar tidak perlu menceritakannya. Karena, semua akan segera terungkap dengan sendirinya.


Anzu mengangkat kepalanya dengan terkejut dan menatap semua hal yang ada di kamar apartemen itu.


Detik pada jam digital hologram itu mulai bergerak, dan udara menjadi lebih hangat saat penghangat ruangan mulai mengeluarkan suara berderu yang samar.


"Tidak, tunggu! "


Anzu tak sanggup menghentikannya, semua telah terjadi dengan begitu tiba-tiba.


Beberapa detik berlalu, dan akhirnya salah satu pintu yang ada di sana terbuka. Sosok yang keluar dari pintu itu adalah seorang gadis dengan rambut cokelat kemerahan yang dipotong pendek sampai bahunya. Helai rambut bagian bawahnya agak ikal dan terlihat berantakan, tapi itu justru meningkatkan daya tariknya.


Wajahnya yang hanya menampilkan ekspresi mengantuk dari seseorang yang sepertinya belum tidur seharian penuh itu justru semakin menghiasi kecantikan dari parasnya.


Dia cukup tinggi, dan dia memakai sebuah hoodie berwarna biru gelap dengan sebuah kemeja putih-abu di dalam. Untuk bagian bawahnya, dia hanya memakai rok pendek berwarna hitam pudar yang disertai dengan stocking hitam yang menutupi semua bagian kaki dan pahanya.


Penampilannya hanya sedikit memperlihatkan kulit, tapi anehnya itu tak mengurangi kecantikannya yang alami. Dia benar-benar berpenampilan 'apa adanya'.


Gadis itu adalah sosok yang sudah hampir mereka lupakan tampangnya. Padahal, gadis itu adalah penampilan asli dari sosok gadis yang selalu bersama mereka selama 15 tahun belakangan ini.


Dia adalah Anzu di kehidupan sebelumnya, Shion Natsugawa.


"Aaahhh–"


Anzu yang melihat dirinya sendiri di sana hanya bisa menghela napasnya dengan pasrah, dan duduk di tempat itu dengan ekspresi kosong.


"Serius, apa yang kau lakukan di sana? "


Alan benar-benar tercengang, tapi ia berusaha bersikap tenang sambil memperhatikan sosok Shion yang keluar dari kamar itu.


Rambutnya terlihat berantakan, mengindikasikan kalau ia baru saja bangun dari tidurnya.


"Hmm? Ahh, kau sudah bangun."


Suara lain tiba-tiba muncul. Kali ini dari sisi lain. Mereka sontak menoleh ke sana, dan melihat sosok laki-laki tinggi yang tampaknya baru saja keluar dari toilet.


Rambutnya hitam, dan wajahnya hanya bisa mereka kategorikan sebagai 'tampan'. Itu adalah wajah yang sudah sangat tidak asing bagi mereka.


"Itu … Noelle? "


"Lebih tepatnya, dia adalah Iza. Noelle di kehidupan sebelumnya."


Izaya Canaria, seorang laki-laki yang dilihat oleh semua orang sebagai sosok yang 'sempurna'.


Berbeda dari ingatan mereka, kali ini Izaya menggunakan kacamata berbingkai perak yang tipis. Sorot matanya yang tajam mengintip melalui lensa optik itu, menatap Anzu dengan sekilas, sebelum akhirnya beralih membuka kulkas.


"Itu benar-benar tidur yang menyenangkan. Terima kasih karena sudah meminjamkanku kasurmu. Aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak di rumah karena semua anak-anak itu."


Izaya terkikik sejenak, dan mengambil beberapa kotak kecil susu yang belum dibuka, lalu meletakkannya di meja dapur.


"Susu setelah bangun tidur? Kurasa itu akan bagus untuk kesehatanmu. Apa kau mau? "


"Yahh, terima kasih."


Shion tanpa ragu menghampiri dan mengambil satu kotak susu itu, lalu menusukkan sedotan dan meminum isinya dalam waktu singkat.


"Full cream, ya … Bukan kesukaanku, tapi ini tidak buruk," ucap Shion sambil berjalan dan kemudian duduk di sofa.


Izaya terlihat tak keberatan dengan itu, dan justru menyeduh secangkir teh menggunakan pemanas air elektronik yang ada di sana.


"Kau baru saja mandi? " tanya Anzu.


"Nn, aku suka mandi di jam ini. Apa kau keberatan? "


"Tidak, tidak sama sekali."


Percakapan dari mereka berdua terasa begitu alami sehingga terlihat mengejutkan.


"Apa kalian benar-benar akrab? "


Werli dengan curiga bertanya pada Anzu, yang kemudian dia jawab dengan senyum pahit. "Ada banyak alasan untuk itu. Yang jelas, aku dan dia tidak memiliki hubungan seperti yang kalian pikirkan. Aku ada di apartemennya saat itu karena rumahku penuh dengan anak-anak dari kerabatku yang datang untuk liburan natal dan tahun baru."


"Yahh, kurasa itu bisa dimengerti," jawab Waka sambil mengangguk singkat.


Waka sendiri jadi teringat dengan kondisi rumahnya di masa lalu yang selalu penuh dengan kebisingan saat liburan.


Saat mereka semua sedang mendiskusikan hal itu, Shion di sana akhirnya menunjukkan pergerakan.


Dia bangun dan meregangkan tubuhnya di tempat sebelum akhirnya menatap Izaya.


"Iza, aku akan pulang. Sekali lagi, terima kasih karena sudah meminjamkanku kasurmu."


Menjawabnya, Izaya memiliki ekspresi khawatir yang cukup jelas. "Apa kau akan kembali? Ini sudah larut, dan berbahaya bagi seorang gadis untuk berkeliaran. Jika kau dalam bahaya, ayahmu pasti akan menembak kepalaku. Kau bisa menginap di sini, aku akan tidur dengan kasur lipat yang kusimpan untuk berjaga-jaga."


" … Kau yakin? "


Meskipun Anzu terlihat agak rumit dengan hal ini, ia secara pribadi senang ketika melihat masa lalunya. Karena pada masa itulah ia benar-benar merasakan kebahagiaan sebagai seorang remaja.


"Mhmm. Aku tidak keberatan. Selain itu, akan sia-sia jika kau tidak menginap. Lagi pula, kau sudah menyiapkan beberapa set pakaian ganti di sana."


Izaya melirik pada sebuah tas olahraga yang diletakkan sembarang di atas sofa. Tas itu berisi pakaian bersih Shion yang dia bawa sendiri ke apartemen ini.


"Kurasa kau benar … Tapi … Aku akan tidur dengan kasur lipat itu, dan kau akan tidur di ranjangmu sendiri, apa kau mengerti? Aku merasa tidak enak jika harus merebut tempatmu seperti itu."


"Apa kau menyuruhku tidur di ranjang yang masih memiliki sisa kehangatan tubuhmu? Aku tidak tahu kalau kau memiliki niat seperti itu."


Izaya mengatakannya sambil memasang senyum jahil dan mencondongkan tubuhnya ke depan, tapi Shion justru membalasnya dengan tatapan jijik.


"Jadi kau melihatku dengan mata yang mesum, ya? Aku akan melaporkan ini pada Ayano nanti," kata Anzu sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


" … Tolong jangan."


Keduanya hanya tersenyum masam dan terkikik sejenak sebelum akhirnya berjalan memasuki kamar bersama.


"Bagaimana aku harus mengatakannya … Hubungan kalian … Benar-benar luar biasa … "


"Kalian benar-benar Akrab … Dengan cara yang aneh."


" ……… "


Bahkan tanpa mereka mengatakannya, Anzu sendiri sadar kalau ia telah memiliki hubungan yang aneh dengan Noelle. Tapi, justru karena itulah ia ingin sedikit menjauh darinya. Itu semua untuk menjaga agar dirinya tidak mengembangkan perasaan yang tidak perlu pada laki-laki itu.


Anzu melirik sedikit pada Olivia, dan menyadari kalau Olivia sama sekali tidak terlihat keberatan. Justru, ia terlihat sedikit iri sekaligus bangga pada Anzu.


Dia terlihat senang saat melihat Anzu bisa akrab dengan Noelle, tapi juga terlihat iri karena yang ada di sana bukanlah dirinya.


Benar-benar gadis yang merepotkan, pikir Anzu.


Adegan beralih, kini ruang apartemen itu berubah menjadi sebuah kamar dengan luas sekitar 6 meter persegi.


Sebuah ranjang besar diletakkan tepat di tengah, dan televisi gantung menempel di dinding tepat di hadapan kasur itu.


Selimutnya sedikit berantakan, tapi itu karena telah digunakan oleh Shion untuk tidur sebelumnya.


Izaya membuka pintu lemari besar yang berada pada posisi menghadap ke sisi kiri ranjang, dan membuka laci yang ada di bawah sana. Dari sana, ia mengambil sebuah kantung plastik besar yang kemudian ia buka dan lemparkan isinya pada Shion.


Itu adalah kasur portabel yang ternyata sangat nyaman untuk digunakan. Teksturnya empuk, dan elastis sehingga tidak akan memakan banyak tempat.


Shion tanpa mengatakan apa pun langsung membentangkan kasur portabel itu tepat di samping ranjang besar Izaya, dan Izaya juga membantunya untuk menyusun bantal dan selimut yang ia ambil dari ranjangnya sendiri.


Setelah selesai, Shion akhirnya berbaring di kasurnya sendiri.


Dia sudah tidur cukup lama sebelumnya, jadi matanya sama sekali tidak bisa menutup sekarang. Itu sangat menjengkelkan karena sebenarnya dia menginginkan tidur yang nyaman.


Sebagai gantinya, ia akan mengajak Izaya mengobrol sejenak.


"Hei, Iza … "


Izaya sendiri sudah berbaring di kasurnya, tapi dia juga belum tertidur. Dia masih memainkan ponselnya sambil bersandar dengan bantalnya.


"Hmm? "


Dia bergumam tanpa menoleh sedikit pun, tampak fokus pada ponselnya, sementara telinganya sendiri juga fokus mendengarkan Shion.


" … Apa yang sedang kau lakukan? "


"Hanya membalas pesan. Kau tidak bisa tidur? "


" … Begitulah."


Begitu Shion menjawabnya, Izaya langsung mematikan ponselnya. Dia sudah selesai membalas semua pesan yang masuk, dan kini siap untuk tidur. Setelah meletakkan ponselnya di wireless charger plate yang ada di rak tepat di samping ranjangnya, Izaya langsung memperbaiki posisi tidurnya.


Lampu telah dimatikan, dan AC juga menyala dalam keadaan penghangatan. Sama sekali tak ada tirai yang menutupi jendela, jadi mereka berdua bisa dengan jelas melihat apa yang ada di luar.


Langit yang gelap, dituruni salju putih, serta lampu-lampu dari gedung dan kendaraan yang ada di bawah sana.


Kamar apartemen Izaya terletak di lantai 28 di sebuah gedung apartemen besar, jadi mereka bisa dengan jelas melihat pemandangan kota dari sini.


Pemandangannya indah, begitulah pikir Shion. Hanya saja, ada yang kurang di sana. Sama sekali tidak ada bintang. Langit telah mendung karena awan gelap yang menutupinya dan menurunkan salju di kota.


" Iza … Menurutmu … Apa yang selama ini kita lakukan … Itu benar? "


" … Kenapa tiba-tiba? "


"Entahlah. Hanya saja … Keheningan ini seketika membuatku mengingat semua hal buruk yang sudah kulakukan … "


Izaya tidak menjawab. Dia menutup matanya sejenak, sebelum akhirnya kembali berbicara. "Jika menurutmu itu salah, maka itu benar-benar salah, dan begitu juga sebaliknya. Pada akhirnya, baik atau buruk itu ditentukan oleh perspektif masing-masing orang. Di masa sekarang, sulit untuk menentukan baik atau buruk secara objektif, kau tahu? "


" ……… Kau benar. Maaf karena sudah menanyakan sesuatu yang bodoh."


Bukan berarti Shion tidak mengerti cara berpikir Izaya. Dia hanya sedikit bingung, tentang perasaan dan nalurinya sendiri. Baik atau buruk, dia sudah tidak berada pada tahap yang bisa membedakannya.


"Tidak masalah, sekarang kau lebih baik tidur. Kita harus menyelesaikan semuanya besok."


"Besok, ya … Kurasa kau benar. Selamat malam."


"Nn."


...****************...