[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 112: Nix Regina (7)



...****************...


“Ya ampun, kau terlalu nekat! Apa yang akan terjadi jika aku tidak melindungimu barusan! “


Colyn dengan kesal mendatanginya sambil berbaring mengayunkan kedua kakinya di atas bantal besar yang mengapung itu. Itu adalah bantal yang berbeda dengan yang sebelumnya. Sama sekali tidak ada jejak pertarungan di sana.


Olivia menoleh sedikit padanya dan mengangguk ringan, “Tidak masalah, lagi pula aku tidak akan mati semudah itu.”


“Kenapa kau bisa seyakin itu? “


“ ……… “


Tentu saja Olivia tidak akan menjawabnya begitu saja. Bagaimanapun, Olivia masih belum mempercayai Colyn atau bahkan Tania. Ia juga masih belum tahu tentang apa itu Asterisk. Tidak mungkin ia akan memberitahu mereka kalau ia adalah makhluk yang disebut vampir.


“Itu tidak penting. Ayo selesaikan dengan cepat.”


Olivia tanpa berbasa-basi langsung melompat ke udara lalu menembakkan beberapa pedang dan tombak es ke arah Nix yang sedang disibukkan dengan keberadaan Tania.


“Yahh, ayo lakukan. Semua orang sudah dievakuasi sekarang. Jadi kita bebas untuk bertindak.”


Melirik sejenak ke pulau buatan tempat mereka berada sebelumnya, Colyn sudah memastikan kalau tak ada seorang pun yang ia lewatkan di sana.


Jika bisa, Colyn ingin membuat Olivia ikut mengungsi bersama yang lain, tapi Olivia bersikeras untuk ikut. Dan tidak hanya Olivia, tapi ada banyak orang lainnya yang ingin ikut ke luar karena rasa penasaran mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun,pada akhirnya hanya Olivia yang diizinkan untuk ikut ke luar.


Colyn tidak bisa membantah atau menolaknya begitu saja. Lagi pula, jika ia berada di posisi Olivia, ia pasti akan melakukan hal yang sama nekatnya.


Colyn sendiri tidak bisa membayangkan keadaan bagaimana jika ada seseorang yang tiba-tiba saja muncul dan menyerang kota secara membabi-buta ternyata memiliki penampilan yang sama persis dengannya. Olivia mungkin memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Nix di sana, tapi ia ragu kalau Nix akan menjawabnya begitu saja.


Saking banyaknya pertanyaan yang ingin ia tanyakan, Olivia sendiri sampai bingung harus mulai menanyakan dari bagian mana lebih dulu. Semuanya begitu penting sehingga ia tak dapat memutuskan.


“ … Kekasihmu sepertinya adalah orang yang sedikit merepotkan, ya … Souris.”


Colyn hanya bisa tersenyum masam saat memikirkannya. Noelle memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi Colyn bisa menebak hubungan yang Noelle miliki dengan Olivia, mengingat Noelle benar-benar menekankan padanya untuk memprioritaskan Olivia.


Olivia menembakkan rantai es ke sayap Nix, bersamaan dengan beberapa ujung tombak yang siap menusuk tubuh Nix kapan saja. Begitu rantainya berhasil melilit salah satu susunan logam yang membentuk sayap Nix, Olivia segera memanfaatkan momentumnya untuk bergelantungan dan menusuk bahu Nix menggunakan rapier Achto di tangannya yang lain.


Nix menggertakkan giginya dengan kesal, lalu tanpa menoleh sedikit pun langsung mengarahkan moncong senapannya ke belakang dan seketika menarik pelatuknya. Olivia menghindari itu dengan sedikit gerakan, lalu menendang punggung Nix begitu ia melihat kesempatan.


Keseimbangan Nix menjadi terganggu. Tubuhnya terlihat sempoyongan, tapi ia mempertahankan dirinya entah bagaimana dan terus menembak ke arah belakang sementara sayapnya terus mengeluarkan gelombang energi yang masih saling bertabrakan dengan yang dikeluarkan Tania.


Peluru yang ditembakkan Nix ke belakang tanpa melihat itu memiliki akurasi yang sangat tinggi dan lintasan peluru strategis yang sangat efektif sehingga Olivia bahkan sedikit kesulitan untuk menghindarinya.


Ketika Olivia menghindari salah satu peluru, peluru lain datang tepat ke arahnya, dan begitu seterusnya. Seolah, Nix telah memprediksi semua pergerakan yang akan ia lakukan, dan memanfaatkannya dengan kemampuan menembak kelas atas.


Colyn tidak bisa mendekati Nix karena ia ingin berada di jarak aman, tapi ia sebisa mungkin membantu Olivia untuk menghindari cedera fatal yang akan dihasilkan oleh peluru itu.


Saat Olivia sibuk menghindari tembakan Nix yang menghujaninya tanpa henti, ia sempat melirik ke arah Tania sejenak, dan melihatnya melebarkan seringainya.


Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu, tapi semua pergerakan itu Olivia lakukan dengan mengikuti instingnya saja.


Dan ternyata, tepat seperti yang dikatakan instingnya, gelombang energi yang ditembakkan Tania menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya dan dengan mudah mendorong kembali tembakan gelombang energi yang Nix keluarkan dari sayapnya.


“Ugh– Sialan–! “


Nix berteriak dan berusaha memperkuat tembakannya, tapi itu tidak mungkin dalam keadaannya yang sekarang.


Jika saja, jika saja ia bisa mengeluarkan kekuatan sejatinya tanpa harus terganggu oleh limiter yang mengacaukan proses pengeluaran kekuatannya di sini, maka ia pasti dapat dengan mudah meratakan kota ini dalam hitungan detik.


Sebagai seorang Archon, senjata pembunuh dewa, ia diciptakan dengan kekuatan yang sangat besar. Terlalu besar untuk ditampung di satu tubuh manusia. Namun, kenapa di saat yang aneh seperti ini ia justru tak dapat menggunakan kekuatan penuhnya?


Dengan penyesalan seperti itu yang terus berputar di kepalanya, Nix menggigit bibirnya sendiri dan bersiap menerima hantaman gelombang energi yang dikeluarkan oleh Tania.


Tidak masalah, serangan yang diserap oleh Zephiroth sebelumnya bukanlah tipe serangan yang mengacaukan atribut keabadian dewa atau semacamnya. Itu hanya pelepasan energi sihir biasa.


Ia berusaha menyakinkan dirinya sendiri dengan berbagai macam alasan. Meskipun begitu, tubuhnya tak luput dari rasa gemetar penuh penyesalan yang telah cukup lama tak ia rasakan.


Walaupun, sebenarnya ia memiliki beragam penyesalan yang tak terhitung jumlahnya.


Saat lonjakan energi yang tampak seperti ditembakkan dari sebuah meriam itu hampir menyentuh tubuhnya, sesuatu yang tak terduga kembali terjadi.


Tepat sebelum lonjakan energi itu menyentuh tubuhnya, seorang gadis yang sangat ia kenali tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengeluarkan sebuah cincin emas kehitaman raksasa yang melindungi dirinya dari tabrakan energi itu.


“K-kau– Ratu Phantasmal Charlotte?! Kenapa … Kau bisa di sini?! “


Tidak ada waktu baginya untuk memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Olivia yang juga melihat itu langsung melebarkan matanya dengan terkejut dan menatap sosok Charlotte dalam keadaan membeku.


Charlotte menoleh sedikit pada Olivia, lalu tersenyum, sebelum akhirnya kembali menatap sosok Nix yang sudah hampir tak berdaya di hadapannya.


“Maaf, tapi ini seharusnya belum waktunya bagimu untuk muncul. Ini adalah kesalahanku.”


Mengatakan itu, Charlotte kemudian menempelkan dahinya di dahi Nix dan memejamkan matanya.


Dua pasang sayap hitam dan lingkaran halo hitam pekat muncul menghiasi sosoknya yang sudah indah sedari awal, dan sosok mereka berdua seketika bersinar bersamaan dengan perubahan penampilan yang tiba-tiba itu.


Nix mengeluarkan reaksi keterkejutan yang tak terduga, dan langsung kehilangan kesadarannya di pelukan Charlotte yang tersenyum tipis padanya. Charlotte kemudian menatap Olivia dengan senyum dan ekspresi yang menyakitkan sehingga ia tampak akan menangis kapan saja.


Charlotte tampak seperti mengatakan sesuatu pada Olivia, tapi tak ada sedikit pun suara yang keluar dari bibirnya, dan sosoknya dengan Nix menghilang begitu saja dari pandangan semua orang.


Kemudian, lonjakan energi yang sangat kuat dari sabit Zephiroth di tangan Tania langsung menyapu langit tempat Charlotte dan Nix berada sebelumnya, sampai akhirnya menghapus semua jejak yang tersisa dari keberadaan mereka berdua.


...****************...