![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Kenapa semua berakhir seperti ini?
Sejak tadi, hanya kalimat itu yang muncul di kepala Felice.
Berulang kali ia menanyakan itu pada dirinya sendiri, namun tidak peduli seberapa keras ia memikirkannya, dia tidak dapat menemukan jawabannya.
Kemunculan Silis begitu mengejutkan, sehingga dia tidak dapat memproses segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
Silis seharusnya sudah lama mati. Felice yakin itu.
Lagi pula, dialah yang membunuhnya.
...****************...
Sekitar 10 tahun yang lalu.
Itu adalah sebuah desa biasa yang berada di pinggiran kota besar. Tidak ada yang spesial darinya. Pemandangannya indah, tapi itu adalah jenis pemandangan yang bisa dilihat di tempat lain.
Di desa dengan populasi kurang dari 100 orang itu, ada dua orang gadis muda yang sudah bersahabat sejak mereka masih balita.
Keduanya berteman dengan sangat baik, dan kedua orang tua mereka juga sudah saling mengenal untuk waktu yang sangat lama.
Karena usia keduanya tidak jauh berbeda, keduanya selalu terlihat akrab. Meskipun begitu, konflik pertemanan adalah hal yang tidak mungkin untuk dihindari.
"Tunggu aku, Silis! "
Gadis kecil berusia 9 tahun itu, Felice dengan cemas berlari menyusuri hutan, mengejar seorang gadis yang satu tahun lebih tua darinya, Silis.
"Cepatlah! Bunga itu hanya akan mekar selama satu jam! Kalau kita terlambat–"
Silis, yang terlihat sangat bersemangat berlari lebih cepat dari Felice.
Itu adalah hutan yang tak jauh dari desa mereka. Hutan itu relatif aman, nyaris tidak ada monster yang tinggal di sana. Kalau pun ada, itu juga tidak akan kuat, dan bahkan seorang anak-anak bisa mengalahkanmya jika mereka tidak bertindak gegabah.
Di tengah hutan itu, ada sebuah bunga berkelopak emas yang indah. Bunga itu hanya akan mekar selama satu jam setiap satu musim, dan jumlahnya juga sedikit.
Bunga itu dinamai Aurum, juga dikenal sebagai bunga kilau matahari. Dinamai begitu karena saat kelopak emasnya mekar, bunga itu akan memancarkan cahaya terang layaknya sebuah matahari.
Hari ini adalah hari yang sudah Silis tunggu. Bunga Aurum merupakan bunga yang paling ia sukai, karena itu sangat indah. Hari ini, bunga itu hanya akan mekar selama satu jam, karena itulah dia tidak ingin melewatkannya.
Felice mengerti itu, tapi mengejar kecepatan Silis masih menjadi hal yang sulit baginya.
Dia dengan susah payah berlari mengejar Silis, sambil berhati-hati agar tidak tersandung akar pohon.
"Felis, lihat! Kita sampai! "
Setelah beberapa menit berlari menyusuri hutan, mereka akhirnya sampai di suatu tempat yang cukup kosong.
Ada banyak pohon yang melingkari mereka, tapi tempat ini benar-benar terlihat berbeda dari hutan di sekitarnya.
Hanya ada hamparan bunga, dan bagian tengahnya memiliki satu tangkai bunga indah berwarna emas.
Bunga itu belum mekar sepenuhnya, dan masih ada beberapa menit hingga akhirnya bunga itu bisa mekar sepenuhnya.
"Indah … "
Seolah rasa lelah telah dilepaskan darinya, Felice berlari mendekati Silis yang menatap bunga itu dalam diam.
Keduanya menatap bunga yang belum mekar itu sejenak, lalu saling menatap. Keduanya kemudian tersenyum cerah sebelum akhirnya kembali menatap pada bunga itu.
Bunga Aurum memiliki umur yang panjang. Itu bisa bertahan selama puluhan tahun asalkan mendapatkan pasokan sinar matahari yang cukup.
Bunga yang ada di hadapan keduanya adalah satu-satunya bunga Aurum di hutan ini. Silis yang menanamnya sekitar tiga tahun yang lalu.
Silis ingat kalau dia mendapatkan bunga itu dari pamannya yang berasal dari salah satu kota di Kawasan Netral Elfrieden. Menurut rumor yang dia dengar, di kota itu ada sangat banyak bunga ini.
Setelah menunggu selama beberapa waktu, bunga Aurum perlahan membuka kelopaknya.
Cahaya emas yang menyilaukan berusaha menyelinap keluar, namun Silis dan Felice secara bersamaan mengulurkan tangan mereka seolah menjaga agar cahaya itu tidak melarikan diri.
Begitu bunga Aurum mekar sepenuhnya, cahaya yang keluar perlahan memudar, dan bertahan menjadi pancaran kilauan sederhana.
Silis dan Felice tidak mengatakan apa pun, dan hanya terus menatap pada bunga itu.
Keindahannya membuat mereka sampai tidak bisa berkata-kata.
Tidak peduli berapa kali mereka melihatnya, mereka tetap saja kagum pada keindahan bunga Aurum ini.
Yang membuat bunga ini semakin spesial bagi mereka, adalah kenyataan bahwa hanya ada satu bunga di hutan ini. Satu bunga, yang hanya akan mekar selama satu jam di setiap musim.
Tidak mungkin mereka tidak merasakan apa pun dari bunga itu.
Masih ada lebih dari setengah jam sampai bunga ini menutup kelopaknya lagi. Sampai saat itu, keduanya tidak akan pindah dari tempat mereka.
Silis sesekali akan menyentuh kelopak emas itu dengan jarinya yang lembut, dan Felice juga tertarik untuk mencobanya.
"Mau menyentuhnya? "
"Y-ya! "
Felice dengan cepat mengangguk, dan membuat Silis tersenyum padanya.
"Sentuhlah dengan lembut. Hati-hati karena kudengar bunga ini cukup sensitif pada sentuhan manusia."
"B-baiklah."
Felice gugup, tapi ia berusaha menjaga ketenangannya. Dia perlahan mengulurkan tangannya yang kecil ke depan, dan menyentuh kelopak bunga Aurum dengan satu jari.
Lembut. Hanya itu yang dia rasakan. Kelopaknya sangat halus, seolah terbuat dari kapas.
Felice ingin menyentuhnya lebih lama lagi, namun—
" "?! " "
Getaran yang kuat tiba-tiba saja muncul, dan membuat keduanya terjatuh ke belakang.
Keduanya sontak terkejut dan merasa takut, tapi sebagai yang tertua, Silis berusaha menenangkan dirinya agar tidak membuat Felice semakin panik.
Getaran yang kuat tiba-tiba muncul lagi, namun kali ini dengan tingkat kekuatan yang sangat berbeda.
"Silis … "
Felice memeluk tubuh kecil Silis, dan berusaha berlindung padanya, tapi Silis sendiri tidak memiliki pemahaman tentang apa yang terjadi.
"Apa ada monster? "
Itu seharusnya tidak mungkin. Hutan ini termasuk kawasan yang aman dari monster kuat. Seharusnya tidak akan ada monster yang muncul.
Namun, berlawanan dengan yang ia pikirkan, sosok humanoid raksasa berukuran kurang lebih delapan meter muncul.
Raksasa itu mengintip melalui celah pepohonan, dan menatap langsung pada Silis dan Felice yang masih bertahan di posisinya.
Monster itu memiliki tubuh seperti manusia raksasa, tapi dengan kepala yang merupakan gabungan antara banteng dan kuda.
Meskipun keduanya hampir tidak pernah bertemu dengan monster seumur hidup mereka, keduanya secara naluri yakin kalau monster yang baru saja muncul ini berbeda dari monster biasa.
Keduanya tidak berani bergerak. Bahkan sekedar bernapas pun mereka segan. Keduanya hanya terus saling berpelukan dalam rasa takut sambil menghindari tatapan monster itu.
Tak lama kemudian, monster itu mengalihkan pandangannya. Dia sepertinya memiliki pengelihatan yang buruk, jadi tidak bisa melihat Silis dan Felice dengan jelas.
Silis dan Felice perlahan mulai tenang, dan keduanya segera berdiri dari tempat mereka berada.
"A-ayo kita pergi dari sini."
Atas ajakan Silis, Felice dengan cepat mengangguk. Dia juga tidak mau tinggal di sini lebih lama lagi.
Keduanya pun segera pergi dari lokasi bunga Aurum itu, dan akan segera sampai ke jalan menuju desa.
Ini masih di wilayah hutan, tapi ada jalan setapak karena para penduduk biasanya mengumpulkan buah-buahan dan tanaman obat dari sekitar sini.
Seharusnya, di sini cukup aman.
Keduanya berhenti berlari untuk menenangkan diri mereka sejenak, dan Felice menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah.
"Felis, ayo kita laporkan pada semua orang di desa. Mereka akan memburu monster itu! "
"T-tapi … "
Felice ragu dengan usulan Silis. Meskipun mereka memberitahukan keberadaan monster itu pada semua orang di desa, apa akan ada orang yang mengalahkannya? Felice merasa kalau itu tidak mungkin.
Dari kelihatannya saja, sudah jelas kalau monster itu sangat kuat. Para penduduk desa yang biasanya hanya berurusan dengan hewan liar tidak akan sanggup melawan makhluk itu.
"Felis … "
Silis juga mengerti itu. Namun, apa ada pilihan lain? Tentu saja tidak. Para penduduk desa bisa saja melaporkan hal ini pada penjaga dari kota, dan membuat permintaan resmi pada guild petualang.
Meskipun begitu, tetap saja, monster itu tidak akan menunggu sampai bala bantuan tiba untuk menghancurkan desa.
Di saat Silis sedang menenangkan pikirannya sambil beristirahat, dia seketika dikejutkan dengan pemandangan di hadapannya.
Itu adalah wajah dari monster yang sama. Namun, kali ini dia tersenyum. Monster itu menunjukkan sebaris gigi kekuningan berukuran besar. Mungkin, satu giginya berukuran sama dengan kepala Felice.
"Fe-Felis … "
Silis sangat takut. Dia ingin melarikan diri sekarang juga. Namun, dia tidak bisa meninggalkan Felice.
Sementara Felice, dia tidak mampu bergerak. Pikirannya kosong saat dia menyaksikan senyuman keji dari monster itu.
Monster itu kemudian mendengus seolah merasa sombong karena telah menemukan keberadaan mereka, dan dia perlahan berjalan mendekat dengan dentuman keras di setiap langkahnya.
Dentuman itu membuat tanah begetat. Silis hampir terjatuh, tapi dia berpegangan pada pohon sehingga keseimbangannya tidak hancur.
Setelah menyaksikan monster itu mendekat, Silis langsung membuang semua akal sehatnya.
Silis meraih pergelangan tangan Felice, dan berlari ke arah hutan.
Desa sudah tidak jauh, tapi Silis sama sekali tidak memiliki pikiran untuk kembali ke sana. Dia hanya bisa berlari semakin dalam ke arah hutan, dengan harapan monster itu akan kehilangan jejaknya.
Namun, entah karena dia tidak fokus, dia salah dalam mengambil jalan.
Hanya ada jurang di depannya. Itu adalah jurang yang terbentuk di antara dua dataran di tengah hutan. Jarak antara tempatnya berdiri dengan dataran di seberang sekitar 15 meter, dan itu adalah jarak yang tidak mungkin untuk dilintasi tanpa jembatan.
Getaran yang dihasilkan langkah monster itu semakin kuat dan semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu.
Akhirnya, monster itu muncul, dengan mengarahkan tatapan ganasnya pada Silis dan Felice.
"S-seseorang … tolong … "
Silis sudah sampai pada tahap di mana dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Hanya bisa menangis sambil memohon bantuan. Itu adalah tindakan yang sesuai dengan usianya.
Sementara itu, Felice berusaha memberanikan dirinya, namun semangatnya seketika dihancurkan saat dia melihat Silis menangis. Dia justru menjadi semakin takut.
Meskipun begitu, Silis entah bagaimana bertahan. Dia perlahan berdiri dan menghadapi monster raksasa itu.
Felice menoleh ke belakang, dan menunjukkan wajah ketakutannya pada Silis.
Silis mengerti ini. Dia juga ketakutan, Dia tidak berbeda dari Felice. Hanya seorang anak yang bisa menangis saat menghadapi situasi berbahaya.
Silis menarik Felice ke pelukannya, dan berusaha menenangkannya. Namun, monster itu langsung melangkahkan kakinya ke depan, dan membuat keduanya kehilangan keseimbangan.
Pegangan mereka terlepas, dan keduanya hanya bisa menatap monster itu dengan penuh ketakutan.
Monster itu melangkahkan kakinya sekali lagi, menghasilkan getaran yang kuat. Namun, kali ini getarannya berhasil membawa perubahan dari situasi sebelumnya.
Felice kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang, yang menyebabkannya secara tidak sengaja mendorong Silis.
"Ahh–"
Akhirnya, Silis terjatuh ke jurang tanpa sempat mengatakan apa pun.
Felice yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menjerit ngeri atas apa yang terjadi.
"Silis! Silis! "
"Jawab aku! Silis! Silis! "
Satu-satunya yang bisa dilakukan Felice dalam situasi itu adalah meneriakkan nama Silis sambil menjerit ke arah jurang.
Di belakangnya, monster itu masih berdiri dan menatapnya sambil mengangkat tangannya yang memegang sebuah gada besar.
"Silis! Silis! "
Tanpa menyadari segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya, Felice terus meneriakkan nama Silis yang terjatuh ke dasar jurang.
"Tenanglah, Nak! "
Meski dia merasakan tarikan seseorang pada tubuhnya, dia tidak berhenti. Dia terus memanggil nama Silis meskipun dua orang tak dikenal sedang membawanya untuk menjauh dari tempat itu.
"Tidak! Aku harus pergi! Silis! Silis masih di sana! Selamatkan Silis! "
Tangisannya tidak berhenti, dan justru semakin kuat saat dia perlahan menjauh dari tepi jurang.
"Silis … "
Saat kegelapan jurang itu mulai menghilang dari pandangannya, Felice secara bertahap kehilangan kesadaran.
Dia baru bangun setelah pingsan selama dua hari.
Itu pun, dengan keadaan yang sama sekali tidak baik.
Momen di mana Silis terjatuh ke dasar jurang terus diputar di kepalanya. Ini seolah otaknya terus memperlihatkan kejadian yang sama untuk menghancurkan pikirannya sendiri.
Selama berhari-hari, dan berminggu-minggu, Felice hanya mampu terduduk di kasurnya sambil terus mengingat kejadian mengerikan itu.
Sesekali dia akan keluar, dengan harapan bisa bertemu dengan Silis. Namun, yang menyambutnya hanyalah tatapan penuh kebencian dari keluarga Silis.
Mereka bilang, kalau dialah yang membunuh Silis. Dialah yang membiarkan Silis mati. Mereka benar-benar mengatakan semua hal yang tidak layak diucapkan pada anak-anak.
"Aku … membunuh Silis? "
...****************...
Setelah kilas balik itu muncul di benaknya, Felice langsung bangkit dari tempatnya.
Dia yang bangun secara tiba-tiba mengejutkan penjaga di sekitarnya, tapi dia tidak peduli.
Felice bangkit dengan mata yang sudah gelap, seolah tidak terima dengan kenyataan yang dia lihat.
"Tunggu! Mau ke mana kau?! "
Penjaga di sekitarnya mencegahnya untuk pergi, tapi Felice benar-benar menghiraukan mereka.
Dia dengan tenang berjalan mendekati medan pertarungan, menatap pada sosok Silis yang sedang bertarung melawan Louen, Rita, dan Dexter.
Dibandingkan dengan yang dia ingat, Silis yang muncul di hadapannya kali ini terlihat benar-benar berbeda.
"Tidak. Silis … sudah mati. Akulah … yang membunuhnya."
Dia terus menggumamkan kata-kata itu sambil berjalan semakin dekat ke medan pertarungan.
Suara-suara di sekitar sudah tidak dia dengar lagi. Dia hanya fokus pada Silis yang sedang bertarung.
...****************...
"Kalian … "
Di saat yang sama, Silis sedang sibuk menghadapi serangan dari Louen dan Rita. Dia juga masih harus berurusan dengan Dexter yang akan sesekali menyerangnya dari jarak yang sangat dekat.
Sampai saat ini, belum ada serangan yang berhasil menyentuhnya. Itu karena kekuatsn unik yang dimiliki Silis.
《Destiny Restoration》, sebuah kekuatan yang dapat menukar takdir. Itu adalah kekuatan yang membuatnya dapat terhindari dari semua jenis luka.
Namun, ada beberapa kelemahan fatal dari kemampuan ini.
Yang pertama,《Destiny Restoration》tidak akan aktif dengan sendirinya. Yang artinya, dia harus sepenuhnya sadar akan semua serangan agar bisa membalikkan takdirnya.
Yang kedua, kemampuan ini tidak akan berguna melawan sesuatu yang berefek kematian instan. Jika seseorang memberikan serangan yang dapat langsung membunuhnya, Silis tidak akan dapat menggunakan kekuatan ini untuk membalikkan takdir.
Pada kenyataannya,《Destiny Restoration》memiliki kemampuan untuk memulihkan, dan menukar takdir. Ini tidak sekuat kedengarannya, dan memiliki banyak kelemahan yang fatal.
Silis dengan hati-hati melihat serangan yang diarahkan padanya, namun tidak menyadari sesuatu yang bergerak secara diam-diam di belakangnya.
Pada saat dia sadar, itu sudah terlambat.
Sebuah bilah pedang yang sangat tajam keluar menembus dadanya dari belakang.
Silis yang mengalami itu sendiri tidak dapat berpikir dengan jernih. Dia masih kebingungan, dan tidak mampu memproses kejadian ini tepat waktu.
Tusukan itu tidak mengenai jantungnya, tapi itu sudah cukup untuk membunuhnya setelah beberapa waktu terlewati.
Silis dengan kaku menoleh ke belakang, dan menemukan sosok yang dulunya sangat ia hargai seperti seorang adik, sedang menusukkan sebuah pedang ke punggungnya.
"K-kau … "
Satu kata itu keluar dari mulutnya bersama dengan sejumlah kecil darah.
Sosok yang menusuknya benar-benar berbeda dari orang yang ia kenal. Silis selalu mengenal Felice sebagai orang yang lembut dan penakut. Namun, kali ini berbeda.
Felice menatapnya dengan mata yang gelap, tidak memancarkan cahaya apa pun. Bahkan sedikit hawa membunuh pun tidak keluar darinya.
"Silis … sudah mati. Akulah … yang membunuhnya."
Menerima tatapan dari Silis, Felice justru semakin menusukkan pedang itu lebih dalam ke tubuhnya, lalu seketika menariknya kembali.
Pedang itu kini berlumuran dengan darah Silis, dan Silis yang masih tidak memahami situasinya hanya bisa terjatuh ke tanah dengan darah yang terus mengalir keluar.
(Tidak … Aku harus … )
Dia hendak menggunakan《Destiny Restoration》, namun pikirannya tidak berjalan dengan lancar. Dia nyaris tidak dapat memikirkan apa pun di tengah situasi ini.
"Felis! "
Samar-samar, dia dapat mendengar seorang wanita memanggil Felice, dan yang bisa dilakukan Silis hanyalah melihat ke arah itu.
Rita, yang sebelumnya sedang bertarung melawannya, dengan panik langsung berlari mendekati Felice.
" ……… "
Kesadarannya perlahan memudar, tapi Silis berhasil mengaktifkan beberapa kemampuannya di saat yang sama.
Mulutnya terbuka, dan sebuah jeritan yang memekakkan telinga keluar dari sana.
《Voice of Desperation》, sebuah kemampuan berbasis suara. Kemampuan ini hanya dapat berefek pada satu orang di saat itu aktif. Efeknya adalah 'membagikan takdirnya dengan orang lain'.
Silis hendak menargetkan Felice, namun sebuah variabel tak terduga bernama Rita itu muncul. Alhasil, arah sasarannya sedikit melenceng, dan Rita harus menggantikan Felice untuk menerima takdir yang sama dengan Silis.
Untuk Felice, dia telah terlebih dahulu jatuh pingsan setelah mencabut pedang dari punggung Silis.
Sebuah lubang terbuka di tubuh Rita, seolah sebilah pedang tajam telah menembus punggung hingga ke dadanya.
Rita pun terjatuh di tempat, dengan darahnya yang terus mengalir ke luar.
"Rita! "
Louen hendak mendekat, namun dihentikan oleh tatapan dari Rita. Dia tidak ingin Louen melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Kesadarannya perlahan memudar, dan satu per satu kenangan indah masa lalu muncul di benaknya.
Semua kilas balik itu berakhir setelah adegan di mana dia membunuh Heinz dengan tangannya sendiri muncul.
"Lou … en … "
Di saat terakhirnya, dia berhasil memanggil nama seseorang yang sudah menemaninya sejak awal, seseorag yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri.
Itu adalah akhir dari kehidupan seorang wanita bernama Rita.
...****************...
Sementara itu, Silis yang masih mempertahankan sedikit kesadarannya berusaha untuk mengaktifkan satu kekuatan terakhirnya.
Meskipun pikirannya sudah kosong, keinginannya yang kuat untuk hidup membantunya untuk menjaga sedikit kesadarannya.
Dia berniat menggunakan《One's Hope》, yang merupakan salah satu kemampuan dari《Envy》.
《One's Hope》, sebuah kekuatan yang akan memenuhi satu harapan terakhirnya. Silis akan menggunakan itu sekarang.
(Aku harap … aku … bisa terlahir kembali … )
Jika dia bisa terlahir kembali, maka dia bisa memulai semuanya dari awal, tanpa harus merasa berat akan semua masa lalunya.
Merespon harapannya, seberkas cahaya muncul menyinari kegelapan dalam alam bawah sadarnya.
Silis untuk beberapa saat merasa nyaman dengan cahaya itu. Dia merasa bisa mati dengan tenang saat menerima pancarannya.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Rasanya wajah tersenyum seseorang bisa ia lihat di sekelilingnya, namun wajah tersenyum itu sama sekali tidak ada.
Hanya ada kegelapan total.
(Apa … reinkarnasiku … gagal? Kenapa … )
Silis tidak mampu memikirkan jawabannya. Kesadarannya perlahan memudar, dan satu-satunya yang sempat ia dengar, adalah suara tawa penuh ejekan dari seorang pria.
...****************...