![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Setelah beristirahat di hutan selama semalaman penuh, akhirnya Noelle dan yang lain melanjutkan perjalanan mereka ke kota berikutnya dengan jalan kaki.
Jarak antara lokasi mereka berkemah dengan gerbang masuk kota bisa dibilang cukup jauh, namun jarak seperti itu dapat ditempuh rombongan Noelle dengan cepat karena spesifikasi tubuh mereka yang gila.
"Bahkan dinding kota itu terlihat sangat besar dari jauh … ", Noelle berkata sambil menggendong Chloe di tangannya.
Mereka sudah beristirahat selama semalaman penuh, namun Chloe masih tertidur lelap tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Begitu juga dengan Brackas. Setelah diberi nama oleh Chloe, Brackas menghilang ke udara dan beristirahat di dimensi sihir Noelle.
(Yahh, jumlah energi sihir Chloe cukup sedikit, jadi wajar jika ia akan langsung pingsan)
Ini mungkin akan mempengaruhi rencana mereka kedepannya, bergantung pada seberapa lama Chloe tertidur, mereka harus tetap tinggal di kota itu untuk sementara waktu sampai Chloe dan Brackas bangun.
Charlotte bisa saja membawa Chloe terbang seperti sebelumnya meskipun Chloe sedang dalam keadaan tidak sadar, tapi itu akan cukup beresiko jika mereka tiba-tiba terlibat dalam pertempuran.
Tidak butuh waktu lama, Noelle dan rombongan telah sampai di gerbang kota dan membiarkan para penjaga memeriksa identitas mereka.
Kali ini Noelle sedikit berharap agar mereka bisa lewat dengan mudah karena dia sudah memiliki kartu identitas. Lagipula dia tidak mau membuang waktunya hanya untuk mendekam di sel penjara yang dingin semalaman.
Para penjaga itu dengan mudah membiarkan kelompok Noelle masuk ke kota dengan mudah setelah Noelle membayar biaya pajak masuk, meskipun mereka terlihat sangat terkejut saat melihat kartu identitas Noelle yang menyatakan kalau dia adalah petualang dengan rank-C.
Itu seperti yang pernah dia pikirkan sebelumnya, kualitas kekuatan manusia di dunia ini cukup rendah, terlalu rendah sehingga para penjaga itu sempat tidak percaya dengan rank di kartu identitas Noelle.
(Mereka pasti curiga ya … ), pikir Noelle sambil tersenyum kecut.
Di dunia dimana kualitas kekuatan sangatlah rendah, mendapatkan rank tinggi di usia Noelle saat ini adalah hal yang sulit, sangat sulit bahkan hampir mustahil.
Terlebih lagi, secara penampilan Noelle tidak terlihat kuat sama sekali, dia memang memiliki otot yang terbentuk di bagian-bagian tubuhnya, namun otot itu tidak begitu menonjol dan terlihat seperti orang kebanyakan di dunia itu.
Meskipun penampilan Noelle bisa dikatakan 'ideal' jika mereka masih di bumi, di dunia ini dia terlihat seperti orang normal.
Tentu saja penampilan bisa menipu—Karena pada kenyataannya, Noelle adalah seorang vampir yang memiliki kualitas fisik dan sihir jauh diatas manusia normal.
Setelah masuk ke kota, kelompok Noelle sekali lagi disambut dengan pemandangan yang familiar di depan mereka.
Dibandingkan dengan kota Suiren, kota tempat mereka saat ini tidak terlihat begitu mengesankan.
Tentunya itu hanya anggapan seseorang yang sudah mengunjungi kota yang lebih besar.
"Yahh, meskipun ini sedikit berbeda dari Suiren, pemandangan ini cukup bagus … Mengingatkanku dengan suatu distrik di London"
"Nn, setuju"
"Kalian pernah ke London? "
Noelle berkomentar dan Olivia serta Charlotte meresponnya dengan berurutan.
"Begitulah, itu hanya perjalanan bisnis biasa … Kami berdua dibebaskan berkeliaran sementara paman dan bibi menyelesaikan urusan mereka"
'Paman' dan 'bibi' yang dibicarakan Noelle adalah orangtua Olivia di kehidupan sebelumnya. Meskipun mereka telah hidup bersama selama bertahun-tahun, Noelle saat itu masih enggan untuk memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu.
"Hee~ aku belum pernah pergi ke sana, kedengarannya cukup menarik … Aku berharap untuk mengunjunginya sebelum kita dipindahkan ke dunia ini~", Charlotte berkomentar dengan santai dan membuat Noelle serta Olivia tersenyum kecil.
Tidak ada gunanya berharap sekarang, karena mereka sudah di-reinkarnasikan di dunia lain, jadi impian itu tidak akan terkabul.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Noelle, tapi dia memutuskan untuk diam dan hanya tersenyum sambil berjalan santai menuju penginapan yang akan mereka tinggali untuk sementara.
"Baiklah, dimana kita akan menginap? ", Noelle bertanya untuk meminta pendapat Olivia dan Charlotte.
Olivia tampak diam sejenak, lalu kemudian berbicara.
"Unn … Karena kita hanya akan menetap sebentar sambil menunggu Chloe bangun … Sebaiknya kita pesan kamar yang kecil saja … "
"Benar", Charlotte dengan mudah memberikan persetujuannya.
" …… Yahh, tidak ada salahnya untuk berhemat sesekali"
Meskipun Noelle sedikit berkonflik dengan pikirannya, ia tidak memberikan penolakan atas saran tersebut.
Noelle sendiri tidak begitu peduli tentang gaya hidup, ia bisa beradaptasi dengan mudah pada banyak situasi.
Yang menjadi masalahnya adalah Charlotte. Charlotte sudah terbiasa dengan kehidupannya sebagai putri bangsawan yang dikelilingi dengan kemewahan, karena itulah dia ragu untuk membiarkan Charlotte memulai gaya hidup sederhana layaknya kebanyakan orang.
Namun semua kekhawatiran itu tampaknya hanya akan menjadi omong kosong belaka. Karena pada kenyataannya, Charlotte juga tidak begitu peduli tentang gaya hidupnya.
Tentu hidup mewah itu menyenangkan, tapi hidup sebagai rakyat biasa juga tidak masalah baginya.
Noelle tidak mengerti, namun dia menduga kalau semua yang terjadi padanya di bumi adalah hal yang membantu dalam membangun mentalnya menjadi seperti itu.
… Meskipun mereka bertiga memiliki ketidakpuasan yang sama akan kurangnya hiburan.
(Sangat sulit untuk berhenti menjadi budak internet, huh … )
Setelah beberapa saat menyusuri jalanan kota yang dipenuhi orang-orang dari berbagai ras, kelompok Noelle akhirnya tiba di bangunan besar yang tampaknya menjadi penginapan kota.
Bangunan itu tidak begitu besar, namun juga tidak begitu kecil, mungkin sanggup untuk menampung kurang lebih sepuluh kamar tamu di dalamnya.
Memasuki bangunan, Noelle sekali lagi mendapatkan pemandangan yang telah ia lihat puluhan atau bahkan ratusan kali di kota Suiren.
Noelle berjalan menghampiri gadis resepsionis yang tengah menatap linglung ke udara.
"Umm, apa kamar di sini masih tersedia? "
" … Ah! Eh? Y-ya … Masih ada beberapa kamar yang tersedia"
Gadis itu berbicara dengan terburu-buru setelah akhirnya sadar dari lamunannya.
"Kalau begitu, aku pesan … 2 kamar, 1 kamar untuk mereka bertiga, dan 1 kamar untukku sendiri"
"Baiklah! Kamar kalian akan segera siap~"
Gadis resepsionis itu dengan senang hati berlari ke belakang dan berbicara dengan seseorang.
Noelle membuat keputusan untuk memisahkan kamar itu bukan tanpa alasan, setelah berpikir panjang di kepalanya, dia akhirnya membuat keputusan untuk memasukkan Olivia, Charlotte, dan Chloe di ruangan yang sama.
Noelle melakukan itu setelah mempertimbangkan situasi yang akan terjadi. Charlotte dan Chloe adalah orang asing, dan mereka sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Situasi akan menjadi canggung jika Chloe tiba-tiba bangun dan hanya ada Charlotte di sisinya.
Karena itulah keberadaan Olivia sangat penting untuk meredakan situasi. Olivia cukup akrab dengan Charlotte karena hubungan yang mereka miliki di kehidupan sebelumnya, dan Chloe tampak lengah saat bersama Olivia karena Olivia memperlakukannya dengan begitu baik.
Jadi, Noelle dengan cepat membuat keputusan untuk mengumpulkan mereka bertiga di satu ruangan, sedangkan dia akan memiliki ruangannya sendiri.
Olivia mengerti apa yang dipikirkan Noelle, karena itulah dia hanya menerima keputusannya tanpa rasa penolakan apapun … Meskipun dia merasa cukup kecewa karena harus dipisahkan dari Noelle.
Tapi itu hanya untuk satu malam, jadi dia harus bertahan entah bagaimana.
...****************...
Malam hari.
Sosok Noelle yang dengan santai melangkahkan kakinya di jalanan kota yang sudah cukup sepi itu tampak begitu menenangkan.
Dia dengan langkah yang tenang dan hampir tak bersuara itu menyusuri jalanan yang hanya diterangi dengan beberapa lampu sihir yang diaktifkan begitu malam tiba.
Sosoknya begitu samar untuk dirasakan orang-orang di sekitarnya meskipun Noelle sama sekali tidak menggunakan kemampuannya untuk memanipulasi kehadiran.
Ia entah bagaimana bisa berjalan atau melakukan suatu tindakan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sehingga kebanyakan orang tidak akan menyadari keberadaannya meskipun dia sedang berdiri di samping mereka.
Waktu saat ini sudah cukup larut, hanya ada beberapa orang di jalanan utama dan beberapa prajurit yang sedang berpatroli. Meskipun begitu, Noelle merasakan banyak kehadiran manusia dari satu-satunya bangunan yang masih terlihat terang dan meriah di area jalanan utama.
Dia sedikit tertarik untuk pergi ke sana dan menikmati waktunya, tapi dia segera menghapus pemikiran itu dan melanjutkan langkahnya.
Matanya menatap linglung pada udara kosong, kemudian mengalihkan pandangannya pada bulan yang selalu menunjukkan sinarnya.
( …… Membosankan … )
Dengan pemikiran itu, dia menghela nafas lelah.
Noelle memang menginginkan kehidupan yang damai, tapi dia tidak menginginkan kehidupan yang berjalan sangat lambat dan konstan.
Mungkin istilah 'rasa bosan dapat membunuh seseorang' bisa digunakan untuk situasinya saat ini.
Semuanya terasa sangat tidak nyata. Dia telah hidup di dunia baru ini selama lebih dari 15 tahun, tapi dia tetap tidak bisa menghapus perasaan aneh yang mengganjal di hatinya.
Semakin ingin dia memeriksa perasaan ganjal itu, semakin besar juga keanehan yang ia rasakan.
Sama sekali tidak ada yang bisa menggairahkan hatinya. Dia selalu merasa ada yang kurang di dunia ini, namun dia tidak tahu apa itu.
(Setelah dipikir-pikir … Aku sudah tidak memiliki siapapun selain Olivia, ya … )
Tidak ada yang tersisa darinya. Bahkan semua orang yang merawat dan membesarkannya begitu ia lahir di dunia ini telah lama meninggal.
Namun Noelle tetap tidak merasakan apapun bahkan setelah ia kehilangan banyak hal.
Ketika orang-orang terdekatnya yang telah ia anggap bagaikan keluarganya sendiri, terbunuh, seharusnya ia akan merasa sedih dan marah, namun Noelle tidak merasakan apapun..
Seketika dia membandingkan dirinya dengan Olivia yang menangis di pelukannya 8 tahun yang lalu.
Olivia menangis ketika melihat kematian semua orang yang telah merawatnya sejak ia terlahir di dunia ini. Namun itu tidaklah aneh.
Itu sangat alami. Siapapun yang mengalami hal yang sama dengannya pasti juga akan memiliki respon yang mirip dengan Olivia.
Kesedihan, amarah, kebencian, kesepian, semua emosi negatif itu akan berkumpul di hatinya dan akhirnya menghancurkan orang itu secara perlahan.
Olivia berhasil menghindar dari menghancurkan dirinya sendiri berkat keberadaan Noelle yang telah bersumpah akan selalu berada di sisinya.
Benar, hanya Olivia yang tersisa untuknya. Namun entah kenapa dia masih tidak merasakan kesedihan apapun seolah orang-orang yang telah merawatnya sejak dulu sama sekali tidak ada di hatinya.
Ketika Noelle melihat kematian semua orang di desa, dia anehnya tidak merasa marah sama sekali. Dia hanya bertanya-tanya mengapa mereka dibunuh ketika bahkan mereka tidak pernah berbuat salah.
Itu bukanlah perasaan sedih, itu hanya kesadarannya akan keadilan yang tiba-tiba bangkit dan menggantikan perasaan sedih itu seolah emosi itu memang tidak ada.
(Haha … Sejak kapan aku menjadi seperti ini … )
Pikir Noelle sambil tersenyum mencela diri.
Kematian seseorang memang-lah sesuatu yang alami dan pasti akan terjadi. Ia sendiri juga menyadari kalau suatu saat ia akan mati—setidaknya itu sebelum dia mendapatkan keabadian.
Entah sejak kapan dia mulai kehilangan perasaannya akan kematian. Itu sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.
Apakah itu sejak dia kehilangan orangtuanya sebagai Canaria Izaya? Dia sendiri tidak tahu itu.
Seolah-olah dia sudah terbiasa.
Di dunia dimana adab kemanusiaan modern belum ada, dan dengan para monster yang bisa menyerang siapa saja kapan saja … Kematian sangatlah normal di dunia ini, dimana nyawa sangatlah murah sehingga seseorang bisa kehilangannya begitu saja …
( ……… Sialan … )
Noelle menghembuskan nafas lelah dan memperhatikan sekelilingnya.
Dia telah berjalan sambil melamun untuk waktu yang cukup lama sehingga ia tidak menyadari lokasinya sekarang.
Tempat ia berdiri kini sangatlah sepi dan gelap seolah sama sekali tidak ada jejak kehidupan, namun Noelle dengan jelas merasakan kehadiran beberapa orang di atap sebuah gedung.
Noelle mencoba menguping dengan menutup mata dan mulai menajamkan indera pendengarannya.
"Kenapa … Kenapa … Kenapa?! Kau pengkhianat! "
"Brengsek, seolah aku peduli tentang itu! Kenapa kau mendatangiku lagi sialan?! "
Yang satu adalah suara perempuan yang terus menggumamkan kata 'kenapa' layaknya radio rusak, dan yang lain adalah suara seorang pria yang terdengar sangat keras ketika dia berteriak pada wanita itu.
Di sisi lain, Noelle juga mendengar suara beberapa pria yang berusaha menenangkan pria yang meneriakki wanita itu.
Noelle mendesah lelah setelah mendengar mereka. Meskipun ia hanya mendengar beberapa kata dari orang-orang itu, dia bisa menebak kemana arah masalah ini.
( …… Lagi-lagi … )
Noelle menebak kalau masalah yang tengah dihadapi orang-orang itu adalah masalah yang serius yang melibatkan pasangan diluar nikah.
Itu adalah permasalahan yang sangat sering ia temui di bumi sehingga ia sendiri muak melihatnya.
Noelle menghela nafas lelah untuk yang kesekian kalinya, dan dia akhirnya melompat ke atap gedung yang lebih tinggi yang jaraknya tidak jauh dari gedung tempat orang-orang itu berada.
Dan seperti yang dia duga. Noelle mengarahkan pandangannya pada wanita itu dan melihat perut wanita itu telah membuncit dengan ukuran yang tidak seperti orang kebanyakan.
Singkatnya dia sedang hamil.
Noelle terus menonton mereka sampai akhirnya wanita itu berteriak keras sehingga siapapun yang mendengarnya pasti akan menutup telinga.
"Kenapa … Kenapa … Kenapa??!! Kau yang melakukannya! Jadi kau harus bertanggung jawab! "
Teriakan wanita itu begitu memekakkan telinga. Tampaknya wanita itu memaksakan tenggorokannya untuk berteriak sekeras itu karena suaranya mulai serak di akhir.
"Persetan dengan itu brengsek! Ini salahmu! Kenapa aku yang harus bertanggung jawab?! "
"Kau?! "
Noelle benar-benar muak dengan ini. Dia tidak mau mendengar omong kosong ini lebih banyak lagi. Maka dia segera melompat dan menghadapi orang-orang itu secara langsung.
"Ya ampun, ini sudah sangat larut … Jadi bisakah kalian diam? ", kata Noelle tanpa repot-repot menyembunyikan kejengkelannya.
"Hah? Siapa kau?! "
"Ahh, aku hanya warga sipil yang kebetulan lewat, namaku juga tidak begitu penting"
Suara Noelle terdengar sangat dingin seolah-olah dia berbicara tanpa emosi.
Dia tidak repot-repot menggunakan jubah atau topeng untuk menutupi penampilannya. Rambutnya yang putih mengkilap itu tampak bersinar di kegelapan malam dan mata dengan pupil merah itu menyipit tajam saat ia terus menatap orang-orang di depannya.
"Brengsek … Yahh, tidak masalah … Kau terlihat cukup kaya untuk seorang warga sipil, bahkan 'tikus-tikus' seperti mereka dapat dengan mudah membunuhmu"
Merasa kalau ia sedang dipermainkan (meskipun itu hanya perasaannya sendiri), pria kasar itu menggertakkan giginya dan menyuruh beberapa bawahannya untuk menyerang Noelle.
Bawahan pria itu tampak tidak masalah dipanggil dengan sebutan 'tikus', mereka hanya dengan patuh menuruti perintahnya dan mengepung Noelle.
"Nah, akan lebih baik jika kita bisa langsung ke ini … Aku tidak bisa membuang waktuku yang berharga hanya untuk bermain-main di sini"
Bahkan saat dikepung dari segala arah, Noelle tetap berbicara dengan santai dan mengabaikan mereka. Namun pandangan dingin dari matanya sama sekali tidak berubah, mata itu justru menatap mereka dengan lebih tajam.
"Brengsek … Tarik kembali kata-katamu bajingan! "
Pria kasar itu berteriak keras pada Noelle, namun Noelle hanya diam tak bergeming.
Menganggap kalau Noelle sedang mengejeknya, pria itu tidak tahan lagi dan memerintahkan bawahannya untuk menghabisi Noelle di tempat.
"Salahkan keberuntunganmu sendiri nak", seorang pria bawahan berusaha mengayunkan kapak besarnya pada Noelle.
Meskipun serangan itu jelas untuk membunuhnya, Noelle justru merasakan kalau pria dengan kapak itu tidak benar-benar ingin membunuhnya. Singkatnya, dia terpaksa membunuh Noelle karena perintah dari atasannya.
"Setidaknya matilah dengan tenang! "
"Akulah yang seharusnya mengatakan itu padamu brengsek"
Sebelum kapak itu menyentuh kepala Noelle, bah kapak itu berhenti tepat beberapa centi di atas rambutnya.
Tangan Noelle sedang mencengkram sisi lain kapak dan berusaha menariknya, namun kapak itu digenggam dengan sangat kuat seolah tidak membiarkan dirinya lepas dari penggunanya.
Pria dengan kapak itu tampak tertegun sejenak, namun dia segera memulihkan ketenangannya dan berusaha menarik kapak itu dari Noelle.
Namun kapak itu hanya bergetar karena tarikan kedua kekuatan yang berlawanan.
Cengkraman Noelle pada bilah kapak semakin mengencang dan perlahan, kapak itu retak, lalu hancur berkeping-keping.
Sebelum sempat menyuarakan keterkejutannya, Noelle segera meraih wajah pria dengan kapak itu menggunakan tangannya. Lalu mengucapkan mantra.
"《Ignite》"
Dalam waktu singkat, pria dengan kapak itu langsung terbakar oleh api yang sangat panas sehingga bekas pembakarannya tidak menyisakan apapun, bahkan setitik abu juga tidak tersisa.
《Ignite》 adalah mantra sihir api yang paling dasar dan bisa digunakan hampir oleh semua orang. Kekuatan yang dihasilkan mantra ini sangatlah kecil sehingga hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, membakar sampah, dan lainnya.
Namun akan berbeda ceritanya jika pengguna mantra itu adalah Noelle.
Sebelum menggunakan mantra 《Ignite》, Noelle sempat menggunakan kemampuannya dalam memanipulasi darah dan memasukkan sebagian sarahnya ke tubuh semua orang di lokasi.
Dengan menjadikan darah dan mana yang dia masukkan ke tubuh musuh sebagai bahan bakar, Noelle membakar pria itu dari dalam sehingga semua organnya tidak ada yang tersisa.
Begitu juga dengan bawahan yang lain. Belum sempat mereka bereaksi, mereka telah dibakar oleh Noelle sehingga tidak ada yang tersisa sedikitpun.
Kini hanya ada Noelle, pria kasar itu, dan wanita yang sejak tadi memegangi perutnya dengan khawatir.
"A-apa-apaan kau ini?! "
Noelle dengan tenang melangkah maju ketika pria itu mundur dengan panik dan menjadikan wanita itu sebagai perisainya. Namun Noelle sama sekali tidak mundur. Dia hanya terus berjalan melewati wanita itu dan hanya tersisa beberapa langkah agar ia bisa mencapai pria itu.
"Sialll!!! "
Namun, pria itu justru melompat dari gedung dengan teriakannya yang gila dan mulai mengambil posisi untuk mendarat.
Pria itu mendarat dengan aman di tanah dan berniat lari, namun.
"Hahh … Merepotkan … Akan lebih mudah jika kau diam dan patuhi aku saja … "
Menggaruk kepalanya sejenak, Noelle kemudian mengucapkan mantra yang akan membunuh lawannya seketika.
"《Blood manipulation, blood edge: type 4》"
Jenis serangan yang sama yang pernah ia lakukan pada salah satu pengawal Lindsey.
Pria itu terjatuh tanpa daya ketika bilah pisau merah raksasa tiba-tiba muncul dari dalam perutnya dan merobek semua organ dalamnya.
Sesaat kemudian, bilah pisau itu mencair kembali menjadi darah, lalu mayat pria itu terbakar tanpa sisa seperti yang terjadi pada semua bawahannya.
"Ahh … Ini melegakan … ", kata Noelle dengan senyum puas terbentuk di bibirnya.
"Sekarang, giliranmu", Noelle menatap wanita itu dengan mata merah darahnya yang biasa. Wanita itu tampak bergetar ketakutan, tapi tetap memelototi Noelle dengan penuh permusuhan.
"Kenapa aku juga?! Yang salah adalah bajingan itu! Semua karena dia aku menjadi seperti ini! Bajingan itu! Ini semua salahnya! "
"Lalu, apa yang akan kau lakukan? ", berkebalikan dengan wanita itu yang terus berteriak dengan panik, Noelle hanya menjawab dengan sangat tenang.
"Biar ku tebak, kau tidak bisa menggugurkan kandunganmu karena kau terlalu takut untuk melakukannya, jadi kau memilih untuk melahirkannya dan meminta pria itu untuk bertanggung jawab, benar kan? "
" ……… "
Sekali lagi, wanita itu hanya bisa terdiam setelah mendengar kata-kata Noelle. Dia tidak bisa menyangkal apa yang baru saja dikatakan Noelle. Lagipula itu memang kenyataannya.
Melihat wanita itu tidak menjawab, Noelle hanya dengan dingin menatapnya kemudian bertanya.
"Kemudian … Apa yang akan kau lakukan setelah melahirkannya? Kau belum membuat rencana untuk itu kan? "
"Diam … Diam kau! Ini bukan urusanmu! "
Wanita itu terus berteriak, tapi Noelle hanya mengabaikannya dan terus berbicara.
"Biar ku tebak lagi, kau berencana untuk menitipkannya ke panti asuhan agar mereka bisa mengurus anak itu 'kan? Dan pilihan lainnya adalah membiarkan anakmu mati sendirian di tempat terpencil"
"Berisik … Ini bukan urusanmu … Ini salahnya … Benar, ini salahnya! Jika saja dia tidak ada, aku tidak akan mengalami hal seperti ini! "
Wanita itu terus berteriak gila pada Noelle. Teriakannya benar-benar keras sehingga tidak heran jika pita suaranya pecah kapan saja saat dia berteriak.
"Kalian para manusia memang selalu seperti itu … Ketika kalian tidak mampu menyelesaikan masalah yang kalian buat sendiri, kalian hanya akan melemparkan masalah itu dan menjadikan itu kesalahan orang lain … Tidak peduli di dunia manapun, sifat manusia memang selalu sama"
Gumaman Noelle sama sekali tidak memasuki telinga wanita yang sudah setengah gila itu. Dia hanya terus mengulangi kata-kata yang sama layaknya radio rusak.
"Kalau begitu, selamat tinggal"
Noelle mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan telapak tangannya ke arah wanita itu.
Sesaat kemudian, gelombang kejut ditembakkan tepat dari tangan Noelle dan menabrak tubuh wanita itu. Wanita itu terjatuh dari gedung dan mendarat tepat di atas tanah yang keras.
Melihat apa yang baru saja dia lakukan sendiri, Noelle hanya menurunkan matanya dengan sedih dan menatap mayat wanita itu, kemudian bergumam.
"Daripada melihat seorang anak tanpa dosa menderita di dunia yang gila karena keegoisan kalian, akan lebih baik jika anak itu tidak pernah terlahir"
Kata-kata Noelle yang dipenuhi dengan kesedihan itu hanya terbang terbawa angin dan tak didengar siapapun.
Dia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan mayat wanita yang kini tengah terbakar oleh api putih penyucian.
...****************...
[Baca juga ->> 'Sekigan Petals' di NOVELTOON]