![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Mendapatkan pertanyaan itu dari Tian membuat Noelle seketika menatap pada Felice.
Felice, bagaimanapun hanya tersenyum tipis sambil balas menatapnya. "Kamu sepertinya sangat ingin membuat kontrak, jadi semalam aku menghubungi Tian dan memberitahunya tentang ini."
Noelle tidak tahu harus menganggap ini sebagai bantuan atau bukan. Memang, dia memiliki niat untuk membuat kontrak, tapi keputusannya masih belum pasti.
Dia mendengar banyak sisi negatif kontrak dari 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu'. Hal itu membuatnya jadi banyak memikirkan ulang semua keputusannya.
Lagi pula, Noelle memiliki terlalu banyak rahasia yang dia bahkan tidak ingin dewa mana pun mengetahuinya.
Meskipun begitu, mendapatkan inisiatif dari Felice dan Tian membuatnya kembali memikirkan semua itu.
Noelle diam sejenak, lalu kembali mengangkat wajahnya dan menatap Tian.
"Itu benar. Aku punya niat untuk itu. Apa kau bisa membantuku? "
"Aku tidak bisa membantu banyak, tapi … " Tian berhenti dan membawa tangan kanannya ke dagu. Kemudian, dia melanjutkan, "Aku bisa menggantikan Dolf untuk memberikan izin padamu."
"Apa itu artinya … "
Tian mengangguk. "Noah, buatlah kontrak. Jangan khawatir itu akan gagal atau berhasil. Tapi, kalau kau berhasil, kau harus melakukan beberapa pekerjaan tambahan."
Ini pertama kalinya Noelle mendengar itu. Noelle melihat pada Felice sejenak, dan segera menyadari bahwa gadis itu telah mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Dia benar-benar lupa mengatakan itu pada Noelle.
"Dari yang kulihat, sepertinya Felice belum memberitahumu. Jangan khawatir, pekerjaan tambahan ini tidak akan berat. Kau hanya akan mendapatkan pekerjaan tambahan saat gereja membutuhkannya. Pekerjaan yang akan kau dapat biasanya meliputi penyelidikan atau menjadi pengawal."
" … Aku mengerti."
Tian melihat pada jam sakunya sendiri, lalu segera berdiri dari kursinya.
"Aku akan menyerahkan sisanya pada Felice. Beri tahu aku setelah kau selesai membuat kontrak."
Mengatakan itu, Tian kemudian berbalik dan pergi dari ruang pegawai.
"Baiklah, kurasa kita bisa mengesampingkan itu semua untuk nanti. Bar masih harus dibuka, dan hanya ada kita berdua sekarang."
Noelle yang telah selesai mengganti pakaiannya kini berada di belakang Felice, tampak sedang mengamati gadis itu dengan seksama sambil melipat mantelnya.
...****************...
Bar dibuka sedikit terlambat hari ini, tapi itu tidak masalah karena memang belum ada pelanggan yang datang.
Bahkan setelah hampir 20 menit menunggu, Noelle dan Felice hanya berdiam diri di balik meja sambil menunggu bunyi dentingan lonceng di pintu.
(Apa ada koran atau majalah di sini? )
Noelle menenggelamkan wajahnya di meja sambil memainkan pulpen. Kemudian, dia mengangkat wajahnya ke atas dan menatap Felice dengan bingung seolah dia ingin menanyakan sesuatu.
"Elis, tentang kontrak itu … Bagaimana aku bisa membuatnya? "
Noelle yang tiba-tiba bicara itu membuat Felice seketika mengangkat bahunya dengan terkejut. Jelas, dia sedang tidak fokus.
"Ah … Itu … Kamu bisa melakukannya di altar yang ada di bawah tanah. Aku akan mengantarmu ke sana nanti."
"Baiklah."
Setelah percakapan singkat itu berakhir, lonceng di pintu berbunyi, dan sekelompok pelanggan yang sepertinya merupakan para mahasiswa itu datang.
Mereka sibuk mengobrol, dan secara alami mengambil kursi kelompok di sudut.
Noelle berdiri dari tempatnya, membawa daftar menu, dan berniat memberikan itu pada mereka.
Biar pun mereka adalah pelanggan tetap, memberikan buku menu adalah bagian dari profesionalisme yang harus dimiliki setiap pelayan. Setidaknya, itulah yang dikatakan Tian.
"Selamat pagi, bisa sebutkan pesananmu? "
Setelah bekerja di sini beberapa hari, Noelle sudah cukup terbiasa melayani orang lain. Noelle sendiri tidak menduganya, tapi dia cukup cocok dengan pekerjaan ini.
Bagaimanapun, ini adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan pengendalian emosi serta ekspresi yang baik. Noelle telah mencapai tingkat ahli untuk semua itu, jadi dia bisa melakukan pekerjaan ini dengan lancar.
Kelompok pelanggan itu dengan ramah menjawab Noelle dan menyebutkan pesanan mereka tanpa melihat menu. Setelah itu, Noelle kembali dan memberi tahu Felice tentang pesanannya.
Sambil melihat Felice bekerja, Noelle mau tak mau memikirkan tentang para pelanggan sebelumnya.
Mereka semua adalah mahasiswa dari universitas lokal, dan usia mereka juga kemungkinan baru menginjak 19 atau 20 tahun.
Usia Felice juga 19 tahun, tapi kenapa dia justru sibuk di sini, sementara semua orang yang seumuran dengannya sedang kuliah.
Untuk Noelle, dia tidak terlalu peduli dengan itu. Memang, dia belum pernah merasakan kuliah yang sesungguhnya, tapi dia sudah memiliki pemahaman yang mendalam untuk setiap materi yang dipelajari di jenjang itu.
(Apa masalah biaya? Atau … )
Noelle tidak bisa membayangkan negara ini memiliki sistem kasta. Tidak seperti Kerajaan yang sangat meninggikan para 'Darah Biru', Republik adalah negara bebas yang semua penduduknya bisa mendapatkan hak akses untuk banyak fasilitas, dan salah satunya adalah fasilitas pendidikan.
Jika di Kerajaan ada akademi, maka di Republik ada yang namanya Sekolah Umum dan Universitas. Tidak ada batasan khusus selain aturan mutlak yang menyatakan bahwa hanya orang asli Republik yang diizinkan mendaftar ke sana.
(Yahh, apa pun itu … Kurasa tidak ada hubungannya denganku, 'kan? )
Selagi Noelle memikirkannya, Felice sudah menyelesaikan semua pesanan. Noelle mengangkat nampan yang berisi beberapa cangkir kopi itu, lalu dengan lancar mengantarkannya pada para pelanggan.
...****************...
"Kurasa hari ini kita tidak mendapatkan banyak pelanggan … "
Setelah semua shift selesai, Noelle segera memasang papan penanda tutup di depan pintu, dan mulai membereskan semua meja.
Jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, pelanggan yang datang hari ini tidak begitu banyak.
"Mereka sudah mendengar kabar kalau kita akan tutup lebih awal, dan ada perubahan jadwal juga untuk beberapa perusahaan di sekitar. Kamu ingat? Sebagian besar pelanggan kita adalah mahasiswa dan pekerja dari berbagai perusahaan di sekitar lingkungan ini. Perubahan jadwal perusahaan membuat mereka tidak bisa datang ke sini seperti biasa."
"Jadi begitu, ya … "
Ini adalah hal yang sudah Noelle pahami sejak awal, tapi baru pertama kali ia melihat pengaruh lingkungan terhadap kuantitas pelanggan.
(Aku biasanya hanya pergi ke kafe untuk sarapan gratis bersama Shion, jadi aku belum pernah melihat langsung yang seperti ini … )
"Untungnya kali ini ada kamu. Kalau tidak, aku benar-benar akan sendirian, dan bar ini terpaksa ditutup untuk sementara waktu."
Helaan napas lega keluar dari Felice setelah dia mengatakan itu. Kemudian, dia lanjut membersihkan meja yang basah karena tumpahan kopi.
Noelle yang mendengar itu dengan sangat jelas hanya bisa memberikan senyum masam sebagai responnya.
Setelah menyelesaikan sesi pembersihan, Noelle dan Felice akhirnya bisa duduk dengan lega di ruang pegawai.
Biar pun pelanggan tidak sebanyak biasanya, tetap saja agak melelahkan karena hanya ada mereka berdua di sana. Banyak hal harus dilakukan, salah satunya adalah mengisi buku keuangan.
Mereka sudah membagi tugas dengan cukup adil, tapi pembukuan bisa dibilang sulit karena satu kesalahan kecil bisa menjadi masalah yang fatal.
Noelle menggunakan handuk basah untuk mengompres kedua matanya, sedangkan Felice dengan lelah meregangkan tubuhnya.
Setelah puas melakukan peregangan, Felice kemudian menatap Noelle dan tersenyum.
"Noah, kita akan ke altar sekarang. Apa kamu siap? "
Noelle mengangkat handuk yang menutup matanya, lalu menjawab dengan suara, "Ya. Bawa aku ke sana."
...****************...
Normalnya, akan memakan waktu lama bagi anggota baru seperti Noelle untuk mendapatkan hak membuat kontrak dengan dewa. Namun, karena kepercayaan semua orang padanya sudah pada tingkat yang hampir maksimal, mereka dengan mudah memberikan izin padanya.
Saat ini, Noelle sedang menyusuri tangga menuju bawah tanah dengan bimbingan Felice di depannya.
Seperti yang sudah ia duga, tangga menuju bawah tanah ini adalah jalan yang bisa mengantarkannya ke mana pun asal dia memiliki hak untuk akses.
Jika seseorang tidak memiliki hak untuk memasuki ruangan mana pun, maka dia hanya akan terus berjalan menuruni tangga tanpa menemukan ruangan lain.
Tentu saja, mereka bisa sampai ke ruangan tertentu jika mereka mengikuti seseorang yang memiliki hak akses, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
"Kita sampai."
Tak lama kemudian, sebuah pintu muncul tepat di samping Felice, dan Noelle hanya bisa menatap pintu itu dengan senyum kaku.
Felice dengan santai membuka pintu, dan melangkahkan kakinya ke dalam. Noelle mengikuti itu dan secara alami mulai melihat ke sekelilingnya.
Pintu di belakangnya mulai tertutup sendiri, tapi itu bukan masalah. Saat mereka keluar nanti, mereka akan langsung berada di ruang khusus pegawai.
Tidak banyak yang bisa diamati dari ruangan itu. Ruangannya nyaris kosong dengan susunan batu berlumut sebagai dindingnya.
Yang paling mencolok tentu saja ada di ujung ruangan itu. Sebuah struktur aneh dibangun dengan membuat cekungan di dalam dinding. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi sudah cukup untuk memasukkan semua unit dekorasi yang indah.
Kolam air jernih dengan pancuran kecil, dan sebuah altar ritual yang indah dengan banyak kristal bercahaya biru muda di sekelilingnya.
"Kamu bisa berdiri di sana. Setelah kamu siap untuk ritual, kamu bisa tenang dan mengalirkan energi sihirmu ke dalam setiap garis mana yang ada di altar." Felice mulai menjelaskan sambil menunjuk altar itu.
Noelle tanpa sadar berjalan mendekati altar, dan mulai berdiri di atasnya. Dari sana, dia dapat melihat ratusan partikel cahaya yang berkedip seolah sedang berinteraksi dengannya.
Felice hanya melihat dari kejauhan, tanpa mengganggu Noelle sedikit pun. Jika bisa, dia ingin membantu Noelle, tapi sayangnya membuat kontrak dengan dewa adalah hal yang hanya bisa dilakukan sendiri oleh calon kontraktor itu.
Konsentrasi Noelle meningkat. Dia mulai fokus pada dirinya dan altar di bawahnya sendiri. Untuk sejenak, Noelle merasa pikirannya menjadi agak lambat, tapi entah bagaimana dia berhasil memulihkan kondisinya sendiri setelah menarik napas panjang.
Noelle melihat ke bawah, tepatnya pada garis sirkuit sihir yang tersebar di seluruh bagian altar.
semua garis itu terhubung satu sama lain, dan mengarah langsung pada sebuah pilar kecil dengan banyak kristal tertanam di permukaannya.
Noelle menutup matanya, dan mengeluarkan energi sihirnya melalui bagian kaki, yang kemudian merambat ke seluruh bagian altar.
Untuk sejenak, cahaya violet yang menyilaukan muncul dan menyelimuti altar. Felice yang melihat itu dari kejauhan tidak bisa mengalihkan pandangannya, dan hanya bisa mengagumi pemandangan itu.
Energi sihir Noelle berhasil memasuki garis sirkuit, dan itu kemudian dialirkan ke pusat yang menjadi inti dari ritualnya.
Masing-masing kristal di permukaan pilar kecil itu menyala dengan cahaya violet yang menyilaukan. Itu tanda kalau Noelle sudah menyelesaikan tahap pertama dari ritualnya.
Felice terus melihat itu dari kejauhan. Lalu, matanya melebar saat dia melihat sebuah gerbang cahaya muncul dan terbuka tepat di atas kepala Noelle.
Gerbang cahaya itu berada dalam posisi melayang horizontal, dan kedua daun pintunya yang terbuka memiliki berbagai pola misterius yang tidak pernah Felice lihat sebelumnya.
(Apa ini … Gerbang Roh? )
Felice sudah mendengar tentang hal itu, tapi dia sendiri belum pernah melihat Gerbang Roh. Satu-satunya saat dia pernah berinteraksi dengan Gerbang Roh adalah saat dia melakukan ritual untuk membuat kontrak dengan dewa.
Pada saat itu, matanya tertutup, dan keasadarannya juga menghilang, jadi dia tidak benar-benar tahu bagaimana bentuk dari Gerbang Roh.
Ruang di dalam Gerbang Roh itu memancarkan cahaya putih yang menyilaukan, sebelum akhirnya beberapa sulur bercahaya yang transparan mulai menempel di sekujur tubuhnya.
Semua sulur itu kemudian tertarik kembali ke dalam Gerbang Roh, namun kali ini dengan membawa sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mata.
Noelle dengan jelas merasakan kesadarannya perlahan menghilang.
Saat Noelle bangun, dia dengan cepat menyadari bahwa dia tidak sedang berada di tempat dia berada sebelumnya. Hanya ada cahaya yang menyilaukan di sini, dan berbagai bisikan yang memekakkan telinga juga membuatnya tidak dapat fokus.
Noelle berusaha melihat ke sekeliling, dan menemukan tujuh pilar cahaya dengan warna yang berbeda-beda sedang menunjukkan keilahiannya di tempat yang jauh.
(Ini … Apa aku berada di Dunia Roh? )
Pemandangan ini tidaklah asing baginya, dan dia juga sudah cukup akrab dengan suara bisikan yang menyesatkan dari para makhluk yang hidup di sini.
" ……… "
(Apa yang harus kulakukan sekarang? )
Noelle menunggu selama beberapa saat, tapi tidak ada yang terjadi. Dia juga tidak tahu bagaimana proses pembuatan kontrak itu berlangsung, jadi dia tidak bisa memastikannya.
Noelle dengan bingung melihat ke sekelilingnya, tapi kemudian kesadarannya seolah ditarik ke tempat lain dengan sangat kuat.
Tarikan yang tidak bisa Noee tahan. Noee hanya bisa membiarkan dirinya terseret oleh gaya tarik itu, lalu kembali melihat sekelilingnya.
Pemandangan di sekitar masih cukup sama. Hanya ada cahaya putih dari semua arah. Dia masih ada di dalam Dunia Roh.
Namun, itu tak lama sebelum dia akhirnya berada di tempat yang berbeda.
Transisi yang tiba-tiba membuatnya kebingungan, tapi dia juga tidak asing dengan pemandangan ini.
Ini adalah pemandangan yang membangkitkan traumanya. Noelle tidak bisa menahan dirinya dari melihat ke arah lain. Namun, tidak peduli ke arah mana ia melihat, hanya ada kabut tebal menutupi seluruh tempat.
Tidak salah lagi, ini adalah Taman Kabut yang pernah ia kunjungi.
...****************...
Kabut dengan sisa kekuatan Dewi Penjaga Malam Zelica masih ada di sana, dan udara berat yang mengikis kewarasan juga masih cukup pekat.
Semuanya masih identik dengan yang Noelle ingat. Ini adalah hal yang traumatis baginya.
Noelle memiliki firasat buruk tentang ini, tapi dia berusaha menenangkan dirinya dan menunggu spa yang akan terjadi selanjutnya.
Akhirnya, gumpakan kabut abu-abu di sekitarnya tersedot ke satu titik, dan perlahan membentuk satu sosok.
Firasat buruknya menjadi kenyataan. Bukan dewa mana pun, yang keluar di hadapannya sekarang justru merupakan entitaa paling mengerikan yang pernah is lihat.
Rambut hitam, mata hitam, dan jubah penyihir kuno itu berkibar seiring dengan melebarnya senyum di wajahnya.
Tubuh Noelle merasakan gemetar, dan kakinya menjadi lemas. Kedua tangannya bersiap melakukan segala sesuatu untuk melindungi diri, tapi itu bahkan tidak memiliki tenaga sedikit pun.
Sosok yang berdiri di hadapannya, terlihat memiliki tinggi yang sama berkat Noelle yang mengubah penampilannya. Meskipun begitu, entah mengapa ketegangan yang Noelle rasakan membuatnya merasa kalau sosok itu sangatlah besar.
Dengan suaranya yang bergetar, Noelle berhasil menyebut nama dari sosok itu.
"Noir …! "
...****************...
Wujud seorang pria dewasa itu, tidak salah lagi, itu adalah Noir yang sama dengan yang pertama kali Noelle lihat.
Kali ini, dia berpose santai sambil duduk di puing-puing katedral yang entah sejak kapan muncul di sana.
"Lama tidak bertemu, Noelle. Kau terlihat berbeda dari yang kuingat. Apa secuil kekuatan yang kupinjamkan padamu itu berguna? "
Kedua mata Noir menyipit tajam saat senyumnya melebar.
" … Apa yang kau mau? "
Pada saat seperti ini, Noelle benar-benar tidak berani menurunkan kewaspadaannya. Dia dengan hati-hati memperhatikan setiap gerakan yang Noir lakukan. Bahkan, satu kedipan juga tidak luput dari pandangannya.
Noir pastinya tahu bahwa Noelle sangat waspada padanya, tapi itu bukanlah alasan untuk mengubah sikap.
"Hehe, aku akan langsung ke intinya. Buatlah kontrak denganku."
"Apa kau bercanda? "
Setelah mendengar itu, mau tak mau Noelle jadi meragukan telinganya. Jika Noir benar-benar ingin membuat kontrak dengannya, maka hanya ada satu hal yang bisa Noelle pikirkan.
Itu adalah penghinaan.
"Maaf saja, tapi satu hal yang paling kubenci, adalah dimanfaatkan! "
Mengatakan itu, Noelle menggunakan tangannya sendiri untuk menebas secara diagonal dari atas ke bawah, menciptakan hembusan angin yang tajam berkat sihirnya, dan mengarahkan itu langsung pada Noir.
Tentu saja, serangan itu tidak akan pernah berhasil. Gumpalan asap hitam aneh muncul dan menahan serangan Noelle seolah itu hanya hembusan angin biasa.
Sebenarnya, Noelle sudah menduga ini.
Jika tebakannya benar, maka dia saat ini pasti sedang berada di alam mimpi kolektif. Sebelum datang ke sini, dia hanyalah proyeksi astral yang masuk ke Dunia Roh, lalu ditarik ke tempat ini oleh kekuatan yang kemungkinan besar berasal dari Noir.
Serangan apa pun yang Noelle berikan tidak akan terlalu berpengaruh, mengingat ini bukanlah dunia nyata. Sebaliknya, Noir bisa melakukan semua yang ia mau karena ini adalah alam mimpi, yang menjadi tempat'Nya' disegel.
"Aku sangat paham kalau kau benci dimanfaatkan. Aku sangat memahami itu. Karena, aku juga memiliki perasaan yang sama."
Senyum masih terpajang di wajah Noir, tapi entah mengapa itu terlihat menyeramkan.
"Justru karena itulah aku berpikir kita akan cocok. Jika kau membuat kontrak dengan dewa lain, maka kau hanya akan dimanfaatkan oleh mereka demi tujuan kecil. Tapi, jika kau membuat kontrak denganku, ini akan menjadi hubungan setara yang saling menguntungkan."
" ……… "
Noelle benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar. Noir benar-benar mengatakan semua itu seolah itu adalah hal yang wajar.
"Apa tujuanmu? "
Tidak akan ada gunanya memikirkan jawabannya sendiri. Noir adalah entitas yang sulit ditebak, jadi lebih mudah jika 'Dia' yang mengatakannya sendiri.
Noir mendengus kecil. "Sederhana saja. Aku ingin bebas."
Setelah jeda yang cukup panjang, 'Dia' melanjutkan kata-katanya. "Selain itu, aku ingin menyaksikannya. Kelahiran Sang Raja."
(Kelahiran Sang Raja? )
Noelle ingin bertanya apa maksudnya, namun sayangnya dia tidak diberikan kesempatan untuk melakukan itu.
"Aku tidak akan berbasa-basi denganmu. Aku ingin kau membuat kontrak denganku. Sebagai gantinya, aku akan memberikan banyak keuntungan untukmu."
"Apa saja keuntungan yang akan kudapat? "
Senyum di wajah Noir kembali normal.
"Ada banyak. Salah satunya, otoritas 'Dominasi' yang kau miliki sekarang akan berkembang seiring dengan perkembanganmu sendiri. Selain itu, aku juga akan membantumu setiap kali kau dalam keadaan terdesak. Bagaimanapun, kau adalah pasangan kontrakku, jadi kau tidak boleh mati."
"Kenapa kau bicara seolah aku sudah menerima tawaranmu? "
"Kau tidak akan menerimanya? "
Tidak ada perubahan pada ekspresi Noir, tapi Noelle bisa merasakan udara di sekelilingnya menjadi lebih berat.
" … Apa kau pikir aku akan menerima tawaran itu? Kaulah yang menyebabkan semua ini terjadi. Karena kaulah aku harus pergi meninggalkan semua orang. Aku tidak ingin mereka terluka hanya karena aku membuat kontrak denganmu."
Setelah mendengar itu, Noir tidak bisa menahan diri dari tertawa keras. Tawanya begitu keras sehingga daratan tempat mereka berpijak mulai bergetar.
"Jangan khawatir tentang itu. Aku tidak akan menyentuh mereka. Bukan berarti aku mematuhimu, hanya saja, mereka tidak begitu berharga sehingga layak untuk mendapatkan perhatianku."
Mengatakan itu, Noir kemudian turun dari puing-puing katedral tempat dia duduk.
"Sebagai catatan, bahkan meski mereka tidak akan mendapatkan perhatianku, kau tidak akan bisa kembali pada mereka. Bagaimanapun, kau memiliki tujuan yang harus kau capai tidak peduli apa yang terjadi."
"Bagaimana? Apa kau akan membuat kontrak denganku? "
Noir mengangkat tangan kanannya sebagai ajakan bersalam, tapi Noelle bahkan tidak berkutik sedikit pun.
Sejujurnya, dia ingin bertanya tentang poin terakhir yang Noir sebutkan. Namun, melihat situasinya, tidak mungkin Noir akan menjawab lebih dari ini.
Banyak waktu berlalu hanya untuk Noelle melakukan berbagai pertimbangan. Setelah dia selesai dengan itu, Noelle akhirnya membuat keputusan.
Noelle mengangkat wajahnya, dan menjabat tangan Noir.
"Aku terima kontrakmu."
Ini adalah pilihan yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut, tapi bukan berarti dia memiliki pilihan lain. Apa pun alasan Noir memilihnya, itu bukan masalah selama Noelle bisa mencapai tujuannya.
Setelah jabat tangan dilakukan, Noir semakin tidak bisa menahan senyumnya.
"Baiklah kalau begitu. Dengan ini … Aku, 'Yang Licik dan Mendominasi'—Noir, setuju untuk menjadikan Izaya Canaria, Noelle Lynneheim, dan Estelle Finnegard sebagai pasangan kontrakku."
Sebelum Noelle sempat menanyakan apa maksud dari nama yang disebutkan Noir tadi, cahaya yang menyilaukan bersama dengan gumpalan asap hitam yang menenggelamkannya itu muncul, dan membuat kesadaran Noelle tenggelam dan kembali ke dunia nyata.
Di atas altar, Noelle yang telah menyelesaikan ritualnya itu hanya bisa menatap linglung pada Felice yang duduk di sampingnya.
...****************...