![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Pencarian informasi terkait dilanjutkan sampai malam akhirnya tiba. Namun, itu berakhir dengan sia-sia.
Mereka tidak menemukan petunjuk atau apa pun yang menyebutkan tentang 'darah ratu' di mana pun. Memang benar, satu-satunya petunjuk yang mereka miliki saat ini adalah sebuah buku yang merupakan kitab suci suku Artof.
Bagaimanapun juga, hanya buku itu yang memiliki kata kunci di dalamnya.
Langit sudah gelap, dan itu menandai berakhirnya pencarian mereka. Noelle yang merasa agak pusing pun mencari lokasi yang agak berjauhan dari pemukiman, tetapi masih di kawasan desa suku Artof. Di sana, dia segera mengeluarkan rumah portabelnya.
Dan beginilah keadaannya saat ini, berbaring di kasur, yang ada di kamarnya sendiri sambil membaca kitab suci suku Artof beberapa kali. Noelle bahkan sudah di tahap di mana dia mulai menghapal semua isi kitab itu, yang menandakan betapa seringnya ia membaca ulang.
Kamarnya tenang, tanpa penerangan apa pun, hanya mengandalkan sinar bulan dan bintang untuk menyinari kamar secara samar. Ketenangan dan kegelapan ini membuatnya nyaman, jadi Noelle tidak repot-repot menyalakan lilin atau alat penerangan lain. Dia hanya akan mengandalkan pengelihatan malam agar bisa membaca dengan lancar di kegelapan.
Tania dan Rudra mendapatkan kamar mereka sendiri, jadi semua orang bisa mendapatkan ketenangan yang layak.
Muak dengan kalimat berulang di kitab, Noelle memilih untuk menutup matanya sejenak.
Namun, pada saat itulah, bunyi ketukan muncul dari pintunya.
"Masuk," ucap Noelle, mengizinkan sosok di luar untuk membuka pintunya dan masuk ke kamar.
Noelle sudah merasakan kehadirannya di depan pintu sejak beberapa saat yang lalu, tapi memutuskan untuk diam karena orang itu sama sekali tidak menunjukkan tanda akan masuk.
Mungkin, dia hanya sedang mengumpulkan keberanian.
"Permisi."
Pintu terbuka, dan segera menampilkan sosok gadis muda yang wajahnya sudah akrab di mata dan otak Noelle.
Tania, dengan paras yang cantik dan memakai gaun piyama model one-piece dengan warna putih terang, seolah menekankan aura kepolosan dan keluguannya.
Harus diakui, Noelle bahkan terperangah sejenak saat melihat Tania dalam wujud seperti itu.
Noelle mengangkat tubuh bagian atasnya, membuat dia kini dalam posisi duduk lesu. Dia pun menatap Tania dengan bingung.
"Apa ada sesuatu yang kau butuhkan? "
"Ada yang membuatku penasaran," jawab Tania singkat.
Dia terlihat ragu, tapi di sisi lain terlihat seperti mengharapkan sesuatu.
Tania adalah tipe orang yang tidak bisa dibaca pikirannya, jadi Noelle mengangguk sebagai isyarat untuk membiarkan Tania masuk.
Dengan begitu, Tania pun melangkahkan kakinya ke kamar Noelle, dan segera menutup pintu.
Setelah memastikan situasinya aman, dia pun mendekati Noelle, dan tatapannya jatuh pada buku kitab yang Noelle pegang.
Sebuah buku besar dengan ketebalan lebih dari 400 halaman dan 132 bab. Tania menunjuk pada buku itu, lalu mengangkat matanya untuk menatap Noelle.
"Apa aku boleh melihatnya? "
Noelle mengangkat alisnya dengan bingung, tetapi dia tetap menyerahkan buku itu pada Tania.
Buku kitab itu ukurannya jauh lebih besar dari tangan Tania, jadi bahkan dia memegangnya dengan kedua tangan, itu terlihat seperti dia sedang membawa sesuatu yang sangat berat.
Setelah menerima buku, Tania pun memilih untuk duduk di kasur, tepat di samping Noelle. Dia membuka kitab itu dan menjelajahi setiap halaman, sampai akhirnya, tibalah dia di halaman yang membuat Noelle bingung.
Itu adalah satu-satunya halaman yang mencantumkan kata kunci 'darah ratu' di dalamnya, dan Tania membacanya berulang kali seolah sedang memastikan sesuatu.
Tania pun menunjukkan halaman itu pada Noelle. "Kupikir ini hanya kiasan, tapi memang benar, ada yang aneh."
Noelle masih tidak mengerti.
Dia tidak tahu apakah keanehan yang Tania rasakan itu sama dengan yang Noelle temukan.
Menyadari Noelle masih belum memahami maksudnya, Tania pun dengan baik hati menjelaskan, "Darah sang Ratu akan selalu ada dalam diri mereka yang berjiwa kesatria dan setia padaNya'. Ini adalah petunjuk yang Ratu berikan untuk kita."
Ratu Bengis mengurung dirinya sendiri di dalam segel yang bisa dibuka dari luar dengan menjalankan suatu ritual. Untuk ritual, dibutuhkan tiga katalis penting yang harus mereka temukan.
Tapi, bukan tanpa alasan Ratu Bengis melakukannya. Ini dirancang sebagai ujian untuk mengetahui apakah pasangan yang dia ramalkan itu layak untuk dinanti atau tidak.
Ratu Bengis memang merancang ujian, tapi di saat yang sama dia juga memberikan petunjuk yang kuat yang dapat mengarahkan mereka ke jawaban yang jelas.
Katalis pertama dan kedua, adalah hal yang tidak mungkin untuk ditemukan jika mereka tidak memiliki pembimbing. Noelle dan Tania bisa mendapatkan bendera karena Rudra masih menyimpannya, lalu mereka mendapatkan tiara karena Rudra memberitahu keduanya tentang tempat yang sangat disukai oleh Ratu Clament.
Dalam hal ini, jelas kalau petunjuk yang Ratu Bengis berikan muncul dalam bentuk seseorang, yaitu Rudra. Tapi, katalis ketiga sepertinya berbeda. Ratu memberikan petunjuk dengan cara lain, dan kemungkinan besar itu melalui kitab yang disimpan dan dihargai suku Artof. Bagaimanapun juga, Ratu Bengis terlibat dalam pembuatannya, jadi ada kemungkinan yang kuat bahwa Ratu Bengis sengaja memasukkan petunjuk ke dalam buku kitab itu.
Noelle mulai membuat titik imajinasi di pikirannya, dan menghubungkan semua itu satu per satu.
Apa yang ingin Tania katakan? Apakah ada sesuatu yang dirinya lewatkan? Noelle mulai memikirkan itu semua dan berakhir dengan mengerutkan keningnya sendiri.
Akhirnya, setelah beberapa waktu, Noelle akhirnya menemukan jawabannya. Kata-kata Tania membuatnya sadar bahwa dia terlalu banyak berpikir.
"Heh, hahaha …."
Noelle tersenyum lebar dan tertawa seolah dia telah menemukan sesuatu yang sangat konyol. Dia pun menjatuhkan punggungnya ke kasur, dan membiarkan tawanya keluar.
Benar-benar suatu kebodohan.
Noelle memikirkan itu saat dia menutup kedua mata dengan lengannya.
Tania yang masih dalam posisi duduk di sampingnya pun tidak mengatakan apa pun dan hanya membalas dengan senyuman lembut. Dia menutup buku kitab yang menjadi petunjuk itu, dan menunggu dengan sabar sampai Noelle tenang.
Setelah intensitas tawanya mereda, Noelle pun menghela napas.
Dia tidak tahu apakah suara tawanya tadi besar atau tidak. Dia khawatir itu akan sampai ke telinga Rudra yang ada di kamar lain. Bagaimanapun, Noelle tidak repot-repot memasang peredam atau sihir penghalang untuk mencegah kebocoran suara.
Mata Tania berkeliling untuk mengamati ornamen pada sampul kitab itu, tapi dia berhenti ketika suara tiba-tiba datang dari Noelle.
"Tania … kapan kau menyadari ini? "
Dengan tenang, Tania pun menjawab, "Sejak kamu bilang kalau ada makna tersembunyi di kalimat itu."
Itu artinya dia sudah menyadarinya sejak awal-awal mereka menemukan petunjuk itu.
Noelle tidak mengatakan apa-apa lagi, dan diam sambil membiarkan matanya tertutupi oleh lengannya sendiri. Senyumnya pun ikut menghilang.
Ketenangan kembali menenggelamkan ruangan itu.
Tania menyadari itu dan akhirnya ikut berbaring tepat di samping Noelle, dengan posisi tengkurap dan memeluk salah satu bantal sebagai tumpuan dagunya.
Dia pun menoleh dan melihat dengan jelas profil samping Noelle.
Meski tidak menampilkan apa pun, kondisi emosional Noelle sudah cukup berkembang sehingga Tania bisa menyadari apa yang ia rasakan hanya dengan menatapnya sebentar.
Noelle pasti sangat kecewa pada dirinya sendiri, karena begitu bodoh sehingga tidak menyadari jawaban yang jelas sudah ada di depan matanya. Atau, mungkin alasannya lebih dari itu.
Berniat menenangkannya, Tania akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan suara yang terdengar seperti bisikan.
"Seseorang pernah bilang padaku, kalau dunia ini sejatinya sangatlah sederhana. Orang-orang yang hidup di dalamnyalah yang membuatnya rumit."
"Sama seperti teka-teki untuk mendapatkan katalis ketiga. Sebenarnya, itu sangatlah sederhana, tetapi kamu berpikir terlalu jauh sehingga tidak bisa menemukan jawaban yang sudah ada di depan matamu."
Terkadang, ada pertanyaan yang jawabannya sangatlah sederhana, tetapi orang-orang malah memperumitnya dan berujung pada tidak terpecahkannya pertanyaan itu.
Hal itu sering terjadi ketika seseorang mulai berpikir berlebihan terhadap suatu pertanyaan. Mereka berpikir kalau jawabannya pastilah sesuatu yang kompleks, meski yang sesungguhnya justru sebaliknya.
Kata-kata dan suara Tania, anehnya begitu menenangkan. Noelle tidak tahu kenapa, tapi rasanya Tania menjadi semakin hidup setiap harinya.
" … Dari mana kau dengar kata-kata itu? "
Tania perlahan membuka matanya dan menjawab, "Seorang gadis di mimpiku yang mengatakan itu."
(Bukankah itu berarti ….)
Noelle bingung. Dia membuka kembali matanya, hanya untuk melihat wajah melankolis Tania tepat di sampingnya.
"Aku tidak ingat dengan jelas, tapi belakangan ini aku mulai membangkitkan sedikit demi sedikit ingatanku."
Itu kabar yang mengejutkan. Noelle melebarkan matanya dan secara tersirat meminta Tania untuk melanjutkan penjelasan.
Tania berbalik, dan tubuh bagian depannya kini menghadap langit-langit kamar. Dia pun menoleh sedikit dan melihat ke langit luar melalui jendela yang terbuka.
"Sedikit demi sedikit, aku mengingatnya. Tentang diriku, tentangmu, dan tentang semua orang."
"Jadi kita benar-benar terhubung, ya ...."
Noelle tidak ragu lagi. Dia dan Tania memang sudah saling mengenal di garis waktu itu. Tapi, 'kenapa', adalah pertanyaannya.
Tanpa perlu ditanya langsung oleh Noelle, Tania sudah lebih dulu menjawab.
"Di mimpiku, kamu adalah seorang pemimpin, dan kami 33 orang sebagai anggotamu."
Noelle melebarkan matanya dengan kaget dan menatap Tania dengan pandangan tak percaya.
"Aku sebagai pemimpin, ya ...."
Lebih dari siapa pun, Noelle sadar kalau dirinya sama sekali tidak cocok untuk menjadi pemimpin.
Tidak ada alasan. Noelle hanya merasa kalau peran itu sama sekali tidak cocok untuknya. Daripada pemimpin, dia lebih cocok menjadi individu yang tidak terikat dengan kelompok mana pun. Efisiensi kerjanya akan meningkat, dan dia tidak perlu terbebani oleh apa pun.
"Itu tidak benar."
Penolakan langsung tiba-tiba datang dari Tania, dan sejujurnya, itu membuat Noelle agak terkejut.
Tania entah bagaimana paham dengan apa yang Noelle pikirkan, jadi dia menggeleng dan memiringkan sedikit tubuhnya, kini menatap Noelle dari dekat. Keduanya saling bertatap mata untuk sejenak.
Matanya berkilau, dan ekspresinya yang datar itu anehnya terlihat sangat lembut ketika dilihat dari dekat. Noelle semakin sadar kalau saat ini dia sedang bersama seorang gadis di ranjangnya. Tapi jangankan pemikiran yang tidak pantas, Noelle sama sekali tidak bisa membayangkan dirinya akan melakukan sesuatu yang di luar etika bersama Tania.
Noelle tidak tahu alasannya, tapi dia anehnya sama sekali tidak bisa membayangkan melakukan sesuatu yang buruk pada Tania. Mungkin karena Tania terlihat terlalu polos dan lugu, sehingga pemikiran untuk melindunginya jauh lebih dominan.
Seolah tidak menyadari isi pikiran Noelle, Tania melanjutkan kata-katanya. "Di mimpiku, kamu adalah pemimpin yang hebat. Karena itulah aku, kami semua mengikutimu tanpa ragu. Aku yakin, semua orang di grup itu sangat menghargaimu."
(Akan bagus kalau memang begitu.)
Noelle tidak menganggapnya serius, menganggap itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Bisa dibilang, dia hanya terus meremehkan dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak percaya akan ada orang yang mengikutinya dengan setia.
Noelle mulai membayangkan bagaimana jika dirinya benar-benar menjadi seorang pemimpin.
Namun, hanya kata 'tiran' dan 'diktator' yang muncul di kepalanya. Noelle hanya bisa membayangkan dirinya menekan semua orang secara paksa dengan kekuatan pemerintahan yang absolut.
Itu sama sekali bukan jenis pemimpin yang layak untuk dihormati dan dihargai.
Namun, mengesampingkan itu, dia semakin tertarik dengan mimpi yang diceritakan Tania. Itu bukanlah mimpi biasa, melainkan ingatan Tania tentang garis waktu sebelumnya.
" … Bagaimana diri kita di mimpimu itu? "
Tania secara alami melembutkan senyumnya. Dia pun semakin mendekat dan menempelkan kepalanya di bahu Noelle, lalu mulai bercerita.
"Kita semua berkumpul di bawah satu nama, yaitu 'Intaurus', dan aku tidak tahu kenapa, tapi kamu memutuskan untuk mengubah namanya menjadi 'Egoist'."
"Semua orang sangat menghargaimu. Aku juga merasa kalau hari-hariku di sana sangatlah luar biasa. Walaupun terkadang ada hal yang menyakitkan, tapi kita semua terus bersama sebagai keluarga. Aku juga ingat saat kamu bertengkar karena berbeda pendapat dengan wakil ketua."
Tania sangat senang saat menceritakannya, dan ceritanya sendiri cukup menarik, sampai ada satu bagian yang membuat Noelle penasaran.
"Apa kamu tahu siapa wakil ketua itu? "
Noelle tidak yakin. Dia tidak pernah bertengkar dengan siapa pun karena perbedaan pendapat. Kalaupun itu terjadi, dia lebih suka menyelesaikannya dengan cepat tanpa memperpanjang masalah.
Karena itulah, dia tertarik saat mendengar ada seseorang yang mampu bertengkar dengannya dalam bidang itu.
Walapun Noelle tidak yakin apakah pertengkaran yang Tania maksud itu sama dengan pertengkaran yang ada di kepalanya.
"Aku … tidak ingat. Tapi aku yakin kalau wakil ketua adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Aku bahkan berpikir kalau dia bukanlah manusia."
Sayangnya, hanya itu yang Tania ingat. Bahkan saat Noelle bertanya apakah dia mengingat ciri fisik lainnya, Tania hanya menggeleng kecil. Ini membuat Noelle tidak bisa menemukan identitas dari wakil ketua itu.
"Apa arti kelompok itu bagimu? "
Pertanyaan itu membuat Tania mengangkat kepalanya sedikit, hanya untuk menemukan Noelle memasang ekspresi rumit di wajahnya. Dia pun kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya di bahu Noelle.
"Bagiku ... semua orang di Egoist adalah keluarga. Aku ... selalu mencoba untuk mengingat kalian semua, meski itu menakutkan."
Noelle bertanya-tanya apa yang Tania maksud dengan 'menakutkan' itu. Tapi kemudian jawaban dari Tania sangat sesuai dengan ketakutannya sendiri.
"Mengingat semuanya ... membuatku takut, karena aku tidak tahu apa yang terjadi, sampai kita semua harus mengalami pengulangan waktu ini .... Aku juga tidak mengerti kenapa kita harus terpisah dan tidak bersama lagi di garis waktu ini...."
Suara Tania mengecil, dan matanya perlahan tertutup.
Noelle tidak membalas, tidak juga melihat pada Tania. Ketakutan yang Tania miliki itu sama dengannya.
Satu-satunya alasan kenapa Noelle tidak ingin terlalu mengingat semuanya adalah karena dia takut untuk mengetahui apa yang terjadi.
Mungkin, dia tidak membangkitkan ingatannya sebanyak Tania disebabkan oleh rasa takut yang lebih kuat ini. Dia tanpa sadar menolak untuk mengetahuinya, karena itulah alam bawah sadarnya menolak untuk mengingat semua mimpi yang ia alami.
Tapi, kalau rasa takut itu terus bertahan, dia tidak akan pernah sampai pada jawaban yang dia inginkan.
Apa yang sebenarnya terjadi sampai waktu harus diulang? Dan apa yang sebenarnya terjadi sampai semuanya berubah menjadi seperti ini? Jika dia dan Tania memang ada di bawah bendera yang sama di garis waktu itu, kenapa di garis waktu ini berbeda?
Saat Noelle memikirkan semuanya, dia secara alami menolak untuk mengetahui jawabannya. Mungkin, karena dia takut.
Dia takut apa yang ia bayangkan rupanya benar-benar merupakan kenyataan.
Tapi semua akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Dia harus mengingat semuanya, suka atau tidak.
Karena itulah, Noelle memperkuat alasan dan keputusannya. Noelle berpikir begitu saat dia memberikan selimut pada Tania dan menutup jendela kamar yang terbuka.
Dia dengan hati-hati bergerak agar tidak membangunkan Tania yang sudah tertidur, dan akhirnya ikut menutup mata sampai akhirnya terbawa ke alam mimpi.
...****************...