[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 88: Konflik (5)



...****************...


Setelah menyaksikan sosok Izaya yang perlahan menghilang, mereka semua langsung membeku dalam diam.


Keheningan yang canggung dan menakutkan itu benar-benar tak tertahankan untuk Charlotte, jadi dia berbicara untuk memecahkan keheningan.


"Jadi … Noelle terlibat dalam kasus itu sebagai 'dalang di balik layar', ya … "


Lilith menganggukkan kepalanya.


"Unn … Sulit dipercaya, tapi … Noelle … Dia seharusnya menjadi pelaku utama dalam kasus itu. Karena, dia lah yang menghasut anak itu untuk melakukan pembantaian."


Norman menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.


"Tidak. Itu … Tidak mungkin! Tidak mungkin dia akan melakukan itu, 'kan?! "


Rico mengerutkan keningnya. "Tenanglah, Norman."


"Lilith … Bisa kau jelaskan pada kami dengan lebih detail? Tentang Noelle yang menghasut orang itu untuk melakukan pembantaian massal itu."


Tidak seperti biasanya, kali ini Rico menampilkan sosok tenang yang benar-benar tak terduga bahkan untuk Kaira, ia hanya bisa melebarkan matanya ketika menghadapi keseriusan itu.


Sedangkan itu, Anzu dengan wajah tidak nyaman terus menatap lantai sambil mengabaikan semua orang.


"Aku tidak memiliki ingatan tentang bagaimana Noelle menghasutnya, tapi … Aku pernah melakukan percakapan dengan Noelle mengenai hal ini. Liscia, lanjutkan pemutarannya dengan ingatan yang sudah kuberikan tadi."


Liscia mengangguk atas perkataan Lilith.


Ruangan sekali lagi berubah. Itu masih ruang kelas, namun itu adalah ruang kelas yang berbeda dari yang sebelumnya.


Di sana, Izaya terlihat sedang duduk bersantai di kursi sambil memainkan ponselnya.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita dewasa dengan setelan kerja lengkap.


" ……… "


Lilith terlihat malu saat melihat wanita itu. Bagaimanapun, wanita yang masuk itu adalah dirinya di masa lalu.


Kagarin masuk dan langsung menutup pintu, lalu mendatangi meja Izaya.


Sudah menyadari kehadiran Kagarin, Izaya langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Kagarin.


"Ada apa? Apa ada yang 'Sensei' butuhkan dariku? " tanya Izaya dengan senyum simpul di wajahnya.


Melihat itu, Kagarin langsung mengerutkan keningnya dan menghentakkan tangannya di meja Izaya.


"Tidak perlu berbasa-basi lagi. Apa maksud percakapnmu kemarin dengan anak itu?! "


"Percakapan? Anak itu? Apa maksudmu? Bisakah kau memberikan pertanyaan yang lebih jelas lagi? Kau adalah guru sastra, 'kan? Kau seharusnya menjadi contoh yang baik dalam berkata-kata."


Izaya terus berbicara pada Kagarin tanpa menghilangkan senyumnya.


Selagi dia menatap Kagarin, jari tangannya terus bergerak untuk menekan keyboard di ponselnya.


Tampaknya ia sedang melakukan chatting dengan seseorang tepat saat Kagarin memasuki kelas itu.


" … Apa kau berpura-pura tidak mengetahui apa pun? Aku bertanya padamu, apa yang kau maksud dengan 'aksi' yang kau rencanakan dengan anak itu?! Katakan padaku kalau itu semua hanya candaan! Kau … Apa yang kau rencanakan? "


Kagarin tanpa sadar berteriak dengan wajah takut pada Izaya.


Jelas ia menjadi tidak sabaran. Setelah apa yang ia dengar kemarin, tidak mungkin dia hanya akan diam saja.


Sebagian besar orang mungkin akan menganggap kalau percakapan Izaya dengan Tanaka hanyalah lelucon belaka. Sebuah permainan anak-anak.


Namun, Kagarin dengan jelas mengetahui sifat dan kepribadian Izaya yang tidak pernah tertarik untuk mengikuti permainan konyol seperti itu.


Jadi, jelas kalau semua yang Izaya dan Tanaka bicarakan kemarin adalah hal yang serius.


Senyum Izaya semakin dalam.


Dia berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu berjalan ke arah jendela.


"Yahh, kau akan tahu tidak lama lagi. Apakah itu serius atau tidak, aku akan menyerahkannya pada pemikiranmu sendiri. Tapi … Kurasa kau datang sedikit terlambat, Sensei."


Mengatakan itu, senyum yang ada di wajah Izaya melebar, dia tanpa menghapus senyumnya menunjuk ke arah luar jendela.


Seketika, suara sirine peringatan langsung berbunyi dengan sangat keras.


Meskipun suara sirine itu cukup jauh, Kagarin bisa mendengarnya dengan sangat jelas dari posisinya saat ini.


Ia melebarkan matanya dengan tidak percaya, berusaha menopang tubuhnya dengan berpegangan pada meja.


"Mmhmm~ Meskipun kau seorang guru, kau cukup bodoh, ya, Sensei. Seharusnya, setelah kau mendengar percakapan kami kemarin … Kau segera pergi melapor ke pihak berwajib dan memberi sinyal peringatan pada pihak sekolah Sakuragaka, dan bukannya datang padaku saat hari pelaksanaannya."


Dari kejauhan, ia dapat mendengar suara sirine mobil polisi dan ambulan, sementara suara baling-baling helikopter memenuhi langit.


"Meskipun kau mendatangiku dengan penuh keyakinan seperti itu … Kau tampaknya masih tidak percaya dengan apa yang akan kami lakukan, ya? "


"Tidak … Itu … "


Kagarin perlahan terjatuh ke lantai sementara wajahnya berantakan.


"Kenapa … Kau melakukan … Itu? " tanya Kagarin dengan tubuhnya yang gemetar.


Pada saat ini, Kagarin telah kehilangan energi dan semangatnya untuk berdiri karena penyesalannya akan kebodohannya sendiri.


Seperti yang Izaya katakan, ia seharusnya langsung mendatangi pihak berwajib begitu ia mendengar tentang rencana Izaya.


Tapi, ia tidak melakukan itu, dan justru mendatangi Izaya keesokan harinya untuk memastikan.


Jelas ia akan menyesali keputusan bodohnya.


"Meskipun kemarin aku sengaja melepaskanmu agar kau dapat membuat semuanya menjadi lebih menyenangkan … Ternyata cara berpikirmu sama saja dengan orang dewasa kebanyakan."


Izaya menyandarkan tubuhnya pada jendela, lalu menghela napas dengan kecewa.


"Tapi … Yahh, reaksi mereka melebihi perkiraanku … "


Dia dengan senyum masam melirik ke arah langit yang diisi oleh beberapa helikopter militer.


"Pastinya Tanaka tidak bisa menghabisi mereka sendirian … Yahh, apa boleh buat … "


Mengatakan itu, Izaya kemudian mengambil ponselnya dan mulai menelepon seseorang.


" … Ahh, Tanekada. Sepertinya semua tidak berjalan seperti yang direncanakan. Bantu Tanaka untuk menyingkirkan helikopter itu."


Izaya diam sejenak untuk mendengarkan jawaban yang diberikan dari 'Tanekada' itu. Kemudian, dia tersenyum dan mematikan ponselnya dan kembali menatap Kagarin.


"Hey, apa kau mau melihat kembang api? "


Senyumnya semakin menggila, lalu, helikopter yang beberapa kilometer di belakangnya langsung meledak karena tabrakan sesuatu.


Tidak hanya satu helikopter, tapi 'tembakan' itu langsung meledakkan beberapa helikopter lain yang ada di sekitarnya.


"Mmhmm … Sudah kuduga kembang api tidak cocok untuk ditonton saat siang hari … Tapi … Tanekada memang sniper yang hebat, bukan? Dia bisa menembak jatuh semua helikopter itu dalam waktu singkat dari jarak yang cukup jauh … "


Menyadari kalau Kagarin tidak akan menjawab apa pun yang ia katakan, Izaya mulai berbicara sendiri sambil memandangi bunga ledakan di kejauhan.


Izaya kembali membuka ponselnya.


"Woah! Hanya beberapa menit sejak serangan Tanaka dimulai, tapi … Beritanya sudah menyebar di mana-mana. Seperti yang diharapkan dari internet."


" … Hey … "


Saat Izaya sedang fokus pada ponselnya untuk melihat berita secara online, suara penuh kepasrahan dari Kagarin menyeretnya kembali ke kenyataan.


" … Apa? "


"Kenapa … Kau melakukan ini …? "


Izaya terlihat kebingungan sejenak saat mendapat pertanyaan dari Kagarin. Dia menutup matanya untuk berpikir.


Dia kemudian membuka matanya dan menatap ke langit dengan bingung.


"Hmmm … Meskipun kau menanyakan itu … Aku sendiri juga tidak mengerti … "


" … Apa … Maksudmu? " tanya Kagarin.


"Itu … Seperti yang kukatakan. Aku juga tidak mengerti kenapa aku melakukan ini. Yang kutahu … Aku … Hanya ingin melakukan sesuatu daripada diam menunggu takdirku berjalan dengan sendirinya … "


Kagarin diam sambil terus menatap Izaya.


Sebaliknya, Izaya tampak sama sekali tidak gelisah ketika Kagarin menatapnya seolah memindai dirinya dari rambut sampai ke ujung kaki.


Dia hanya terus menatap ledakan yang terus terjadi di kejauhan.


"Daripada ingin melakukan sesuatu … Mungkin … Seperti mencari jati diri? Aku tidak terlalu mengerti. Namun, jika kau bertanya padaku tentang apa yang kuinginkan … Aku pastinya akan menjawab … 'Untuk menghabisi semua penjahat' … Seperti itu."


Usai mengatakan itu, Izaya tersenyum.


" … Menghabisi penjahat … Apa yang kau bicarakan? Jika kau benar-benar ingin menghabisi penjahat, kau bisa saja menggunakan cara lain," ucap Kagarin sambil menyipitkan matanya yang terus menatap Izaya.


Izaya tidak keberatan, dia mengangkat bahu dan tertawa kecil.


"Cara lain? Yang seperti apa? Bertindak seperti pahlawan yang menjijikkan dan mengeluarkan deklarasi konyol seperti 'aku akan melindungi yang lemah! ', sesuatu seperti itu? Tidak, terimakasih. Di mataku, pahlawan yang seperti itu tidak lebih dari orang yang menindas orang lainnya sambil mengharapkan pujian dari mayoritas masyarakat."


" ……… "


Kagarin terdiam. Sejujurnya, ini pertama kalinya ia mendengar Izaya membicarakan sesuatu berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Jadi, ia tidak tahu harus berkata apa untuk menghadapinya.


"Entah sejak kapan, tapi … Definisi tentang seorang 'pahlawan' telah lama bergeser di benakku. Dulunya aku memang menganggap kalau pahlawan itu sosok yang hebat dan patut untuk dicontoh, tapi … Entah kenapa aku benar-benar tidak menyukai mereka sekarang … "


Izaya kemudian berbalik dan menatap Kagarin dengan senyum kecil.


"Hei, Sensei, menurutmu … Apa itu pahlawan? Aku tidak meminta pendapatmu sebagai seorang guru sastra, tapi aku ingin mendengar jawabanmu secara pribadi. Orang-orang mempunyai definisi yang berbeda-beda untuk 'seorang pahlawan'. Dan menurutmu, apa arti pahlawan bagimu? "


" ……… "


Kagarin tidak mampu menjawabnya. Ia tidak tahu alasannya, tapi, kata-kata yang sudah ia siapkan untuk menjawab pertanyaan dari Izaya sudah lenyap tak bersisa dari pikirannya.


Seolah, jawaban yang ia pikirkan sebelumnya bukanlah jawabannya sendiri.


Menyadari itu, Izaya tersenyum sedih dan kembali melihat pemandangan di luar jendela.


"Sudah kuduga kalau kau juga tidak mengetahuinya, ya … Yahh, lupakan tentang arti seorang pahlawan. Yang aku inginkan hanyalah membasmi para penjahat. Namun, aku tidak mau menjadi sosok tak jelas seperti pahlawan itu."


Dari jendela, Izaya dapat melihat kerumunan orang yang penasaran dengan situasinya mulai dibubarkan dengan suara tembakan dari polisi di sekitar.


"Hubungan yang aku dan Tanaka miliki bukanlah teman atau sesuatu. Dia hanyalah klien, dan aku adalah agen dari penyedia jasa. Mungkin kau akan mengerti jika aku menyebutnya begitu? [BlackMarine], pernahkah kau mendengar tentang situs itu? Aku adalah salah satu admin di sana, dan … Kebetulan saja klienku adalah Tanaka."


Norman dan yang lain memiringkan kepala mereka ketika mendengar nama situs yang asing itu.


Mereka sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang situs yang dinamakan 'BlackMarine' yang dikelola oleh Izaya.


Charlotte bertanya pada Lilith dengan tatapannya, memaksa Lilith untuk menjawab.


"Itu … Adalah situs layanan gelap yang melayani percobaan bunuh diri dan pembalasan. Situs itu tidak bisa diakses dengan cara normal seperti surface web lainnya."


Charlotte mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Jika tidak bisa diakses dengan cara normal … Bagaimana laki-laki bernama Asahina Tanaka itu bisa membukanya? "


" …… Aku … Tidak tahu … Mungkin … Ada orang yang memberitahunya tentang itu, dan kemungkinan paling besarnya adalah … Noelle atau Izaya itu sendiri."


" ……… "


Charlotte masih tidak mengerti. Dia kemudian memfokuskan perhatiannya pada reka ulang ingatan agar dapat memahami ini dengan lebih baik.


"Kenapa … Kau melakukannya … Sampai sejauh itu? "


Kagarin bertanya padanya dengan wajah sedih.


"Sudah kubilang, 'kan? Memusnahkan penjahat. Itu adalah tujuanku. Karena aku tidak bisa melakukannya dengan cara biasa seperti meyakinkan kedua pihak untuk berdamai, aku hanya bisa membantu korban dan melenyapkan pelaku."


Senyum Noelle perlahan menghilang, digantikan dengan wajah yang memiliki emosi yang campur aduk antara kesenangan dan kesedihan.


"Aku bukanlah pahlawan, dan aku juga tidak memiliki niat untuk bertindak sebagai pahlawan. Aku sudah muak dengan hidupku yang hanya perlu menunggu takdir baik yang mendatangiku sendiri. Jadi, aku mencoba untuk melakukan hal lain dengan cara membantu 'korban kejahatan' dengan cara membalaskan kejahatan yang dilakukan pelaku padanya."


Bahkan setelah ia mengatakannya, Kagarin masih tidak mengerti.


Ia tidak mengerti bagaimana cara berpikir 'seorang Izaya'.


(Tidak … Tidak boleh seperti ini … )


Kagarin mengepalkan tangannya dengan sangat kuat guna untuk meyakinkan dirinya.


Jika situasinya terus seperti ini, ia tidak akan pernah mengerti cara berpikir muridnya. Itu akan menjadi penyesalan seumur hidupnya jika itu terus berlanjut.


" … Bisakah … Aku mengetahui alasanmu memulai ini semua? "


"Hmm? Bukankah sudah kujelaskan? Aku–"


"Tidak, bukan yang itu."


Sebelum Izaya menyelesaikan kalimatnya, Kagarin menyelanya dengan suara keras.


"Aku bertanya, apa alasanmu untuk memiliki pikiran seperti itu? Tidak mungkin kau menemukan ide itu sendiri, 'kan? Pasti ada sesuatu yang menjadi pemicu agar kau dapat memiliki pemikiran seperti itu."


Senyum Izaya perlahan menghilang. Matanya perlahan menjadi kosong, dan ekspresinya dengan mudah terhapus sepenuhnya dari wajahnya.


Seolah, ia sama sekali bukan makhluk hidup.


Ditatap dengan mata yang tak bernyawa seperti itu membuat Kagarin tak mampu menahan rasa gelisahnya.


Tubuhnya merinding, namun ia mengepalkan tangannya dengan kuat untuk balas menatap Izaya.


Namun, berlawanan dengan apa yang ia perkirakan.


Izaya langsung tersenyum seolah tak ada apa pun yang terjadi.


"Ahaha, apa yang kau bicarakan? Tidak mungkin pemikiran yang kumiliki saat ini dipicu oleh hal lain, 'kan? Satu-satunya orang yang paling dekat denganku hanyalah Ayano seorang. Ayah dan Ibu Ayano memang dekat denganku, namun tidak sedekat aku dan Ayano."


"Eh–"


"Tapi … Apa kau yakin ingin menghabiskan waktu lebih lama di sini? Semakin lama kau di sini, semakin banyak orang akan mati, loh."


Mengabaikan keterkejutan Kagarin, Izaya langsung membuka ponselnya dan menunjukkannya pada Kagarin.


"Lihat, ada orang yang merekam tindakan Tanaka dan mempublikasikannya menjadi siaran langsung."


Kagarin melebarkan matanya dan membeku karena kaget saat melihat layar ponsel Izaya.


Bagaimanapun, di layar ponselnya, ada seorang anak laki-laki remaja seusia dengan Izaya yang sedang menembakkan senapannya dengan gila dan membunuh semua murid yang ada di hadapannya.


Dari speaker ponsel Izaya, Kagarin bisa dengan jelas mendengar suara-suara yang ada di sisi perekam.


『Ahahaha! Makan ini! Tembak! Tembak! Tembak! Terus habisi para sampah itu! Ahahaha! Ini menyenangkan! Ahhh! Akhirnya! Pembalasanku! Semua! Berkat Tuhanku! Aku bisa membalaskan dendam adikku! Ahhh! Tuhanku! Terimalah! Persembahanku ini! Berikan! Berikan aku lebih banyak! Lebih banyak kepuasan dalam pembalasan ini! Berikanlah semuanya padaku! Aku tidak akan mengecewakanmu! 』


Laki-laki bernama Tanaka yang ia lihat kemarin berteriak dengan gila di hadapan kamera.


Wajahnya dipenuhi dengan senyum gila yang menjijikkan, sementara kedua tangannya terus menembakkan senjatanya untuk menghabisi semua orang.


Saat senapannya kehabisan peluru, ia dengan cepat melemparkan bola kecil seukuran bola tenis ke arah para siswa dan guru yang melarikan diri.


Bola kecil itu dengan cepat meledak dan mengeluarkan gelombang kejut yang menghempaskan tubuh para murid dan guru yang tak berdaya, dan menabrakkan mereka ke dinding.


Tanaka dengan gerakan yang sangat lincah dan terlatih mengisi ulang peluru dan lanjut menembak ke arah lain.


『Tu-tunggu! Ja-jangan bunuh aku–』


Tanaka berhenti menembak ketika dia melihat sosok laki-laki yang dalam keadaan menyedihkan itu.


Ia terjatuh di lantai dengan celananya yang basah dan mengeluarkan bau pesing yang menjijikkan.


『Ahh! Bukankah kau adalah Satomi? Ahaha~ Kau terlihat sangat menyedihkan~』


Tanaka tertawa dengan geli ketika melihat sosok laki-laki bernama Satomi itu.


Tidak hanya dia, tapi bahkan seluruh orang yang menonton melalui siaran langsung mengeluarkan tawa mengejek mereka melalui live chat yang berlangsung.


Tak sedikit pula orang yang berdonasi untuk meningkatkan jumlah pembunuhan yang dilakukan Tanaka.


Kagarin menelan ludahnya dengan ngeri saat melihat itu semua.


Sedangkan Izaya, dia tersenyum simpul ketika melihat Kagarin yang ketakutan saat menonton siaran langsung itu.


『Tu-tunggu! Tanaka! Ki-kita teman, 'kan? Itu benar! Kita adalah teman! Kau adalah teman terbaikku Tanaka! Kau tidak boleh membunuhku! 』


Satomi mulai berteriak tak terkendali sambil menunjukkan wajah memelas yang menjijikkan.


"Ahhh … Ini dia … Kesukaanku … "


Izaya tanpa sadar bergumam.


"Saat seseorang sedang dalam keadaan terdesak di jurang kematian, dia akan langsung mengeluarkan sisi lain yang menjijikkan dari dirinya. Orang-orang seperti mereka akan mengatakan apa pun dan menggunakan apa pun asalkan mereka bisa selamat. Bahkan mereka mungkin mau menelan kotoran babi jika itu artinya mereka selamat."


-–Bagaimanapun, orang-orang seperti dirinya sangatlah menjijikkan.


Izaya tidak perlu mengatakan itu secara langsung karena semua sudah tergambar dengan jelas di wajahnya.


『 … 』


Tanaka terdiam ketika melihat Satomi yang mengemis untuk hidupnya. Namun …


『Ahaha … Hahaha! Bajingan! Kau bajingan sialan! Brengsek! 』


Dia dengan wajah penuh kemarahan langsung memukul sekujur tubuh Satomi menggunakan senjatanya.


『Teman? Pfftt– Hahahaha! Persetan dengan itu! Kau! Menyebut! Dirimu! Sebagai teman terbaikku?! Tepat setelah kau melecehkan dan membunuh adikku?! Ahahahaha!! Jangan bercanda denganku brengsek! Mati saja kau bajingan! Orang sepertimu adalah orang yang tidak dibutuhkan di dunia impian Tuhanku! 』


Tangan Tanaka dengan mudah menangkap kepala Satomi dan menjambak rambutnya untuk mencegahnya melarikan diri.


Setelah itu, Tanaka dengan cepat membanting wajah Satomi ke dinding dan pecahan kaca serta puing batu di sekitarnya.


Meskipun wajahnya sudah rusak dan mengeluarkan banyak darah, Satomi entah bagaimana masih mempertahankan kesadarannya dan memohon pada Tanaka sambil menangis.


Tidak ada jejak wajah tampan di wajahnya yang sekarang.


Hanya wajah hancur yang menjijikkan.


Tanaka tertawa keras sambil terus membanting wajah Satomi ke permukaan di sekitarnya.


『Bagaimana?! Ini adalah teknik yang kupelajari dari Tuhanku! Dengan begini! Aku! Bisa terus menyiksamu! Tanpa membiarkanmu pingsan! 』


"Ah … Tidak … Hentikan … "


Kagarin dengan ekspresi putus asa di wajahnya bergumam untuk menghentikan tindakan Tanaka, namun jelas kalau itu sia-sia.


Izaya tersenyum dingin.


"Kenapa? Kau ingin menghentikan Tanaka? Apa itu artinya kau membela penjahat itu? "


"Kau tahu, bajingan bernama Satomi itu adalah seorang playboy bajingan yang sangat terkenal di sekolahnya. Dia sudah meniduri hampir semua gadis yang menjadi kenalannya. Bahkan, adik perempuan Tanaka juga menjadi korbannya."


Karena posisinya yang sedang memegangi ponsel agar Kagarin bisa terus menonton siaran langsung, Izaya hanya bisa menggerakkan sedikit bagian tubuhnya.


Ia menggunakan tangannya yang bebas untuk menyisir rambutnya ke belakang.


"Tentu saja adiknya Tanaka tidak akan mau tidur dengan bajingan itu bahkan untuk satu kali pun. Tapi, bajingan Satomi itu sangat bersikeras untuk menodai tubuh suci adiknya Tanaka. Setelah menidurinya dengan paksa, bajingan itu langsung membunuhnya di saat itu juga. Apa menurutmu … Orang seperti dia bisa dimaafkan? "


Suara Izaya yang berbicara dengannya sangat berbeda dengan Izaya yang ia kenal.


Tidak ada jejak kehangatan dan keramahan yang selalu ia tunjukkan pada semua orang.


Pada saat itulah, Kagarin menyadari kalau sudah terlambat baginya untuk mengubah seorang Izaya.


Izaya sudah berada terlalu jauh dari jangkauannya. Kata-kata yang ia ucapkan tidak akan pernah mempengaruhi pemikiran dan ketetapan Izaya.


Sudah terlambat baginya untuk mengubah hal itu.


"Kau tahu? Awalnya … Tanaka menyewa jasa kami hanya untuk membunuh dirinya sendiri. Tapi … Aku meyakinkannya untuk tetap bertahan dan membalaskan dendam adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki."


Orangtua Tanaka sudah lama meninggal, meninggalkan Tanaka dan adiknya yang masih sangat kecil.


Tanaka selalu bekerja keras untuk memberikan penghidupan yang layak untuk adiknya. Namun, sebagai gantinya, ia harus menahan pembullyan yang terjadi padanya setiap hari.


Ia bisa mengabaikan tindakan pembullyan mereka karena ia hanya peduli pada adiknya. Namun, adik Tanaka yang mengetahui perlakuan yang didapat kakaknya langsung memberikan laporan pada pihak guru dan kepolisian.


Ia berharap itu sudah berakhir. Namun, pihak guru maupun kepolisian mengabaikan laporannya dan justru membenarkan tindakan yang dilakukan oleh kelompok pembully.


Adiknya yang saat itu tidak tau apa pun tentang bagaimana cara dunia bekerja hanya bisa menanggung rasa kebingungan dengan sedih.


Satu hal yang tetap membuatnya bersemangat adalah keberadaan kakaknya yang tetap menjaga dan menghidupinya.


Sejak saat itu pula sang adik akan sangat menurut pada setiap perkataan Tanaka, agar ia tak mengacaukan kehidupan sekolah yang dimiliki kakaknya.


Namun, tindakan para pembully justru semakin memburuk sejak saat itu. Para guru dan pihak kepolisian hanya bisa menutup mata akan kasus yang menimpa Tanaka karena mereka tidak mau berurusan dengan orangtua dan koneksi yang dimiliki kelompok pembully itu.


Dan, Satomi adalah salah satu orang yang ada di kelompok itu.


Ia masih bisa menahan setiap tindakan kekerasan dan ejekan yang dilancarkan padanya. Namun, ia benar-benar kehilangan harapannya saat melihat tubuh tak bernyawa adiknya di rumah.


Secara alami, dia tahu kalau pelakunya adalah Satomi, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa padanya karena ia sama sekali tidak memiliki kekuatan, atau bahkan koneksi.


Jadi, ia meminta bantuan pada situs yang dinamakan [BlackMarine] yang pernah siberitahukan seseorang padanya.


Ia berharap agar pihak [BlackMarine] dapat membunuh dirinya untuk menghapus semua kesengsaraan itu. Namun, yang bertanggung jawab untuk mengurusnya adalah Izaya, seorang yang kelak akan ia anggap sebagai Tuhannya.


Izaya entah bagaimana bisa mengubah pemikirannya untuk bunuh diri menjadi membalas dendam pada semua orang yang sudah menutup mata di sekolah itu.


Izaya hanya butuh waktu beberapa bulan untuk mengajarinya teknik bela diri dan teknik menggunakan berbagai macam senjata agar ia bisa menggunakannya untuk membalaskan dendam adiknya.


Dan hari ini, tepat pada tanggal 17 Juli, adalah hari pembalasannya dimulai.


Tanaka dengan senyum gila dan tawa mengerikan terus menembakkan senapannya untuk membantai semua siswa dan guru yang ia lihat.


Jika ia melewatkan beberapa murid, ia akan langsung menembakkan bom proyektil yang berharga untuk menghabisi mereka.


"Ya ampun, meskipun aku sudah memintanya untuk menghemat senjata peledak, bagaimana dia bisa menjadi seboros itu? "


Meskipun dia mengatakan itu, Izaya tersenyum lembut pada Tanaka yang ada di layar ponselnya, seolah ia sedang mengamati hewan peliharannya yang sedang bermain di taman.


Tanaka terus berjalan sambil menyeret Satomi di tangannya.


『Ahhh, Tuhanku~ Aku! Merasa! Terlahir! Kembali! Apakah ini?! Berkah darimu?! Jika memang seperti itu! Maka! Aku! Akan! Memberikan! Persembahan yang terbaik! Hanya untukmu! 』


"Oy oy, Tanaka. Apa kau sudah lupa dengan tujuanmu? Ya ampun, dia terlalu liar. Meskipun dia seharusnya sedang membalaskan dendam adiknya, kenapa dia justru melakukan pemujaan padaku? "


Izaya tersenyum masam.


"Yahh, bagaimanapun … Aku hanya akan berada di belakang layar sambil menikmati pemujaan yang dia berikan. Sesuai dengan yang dia inginkan," ucap Izaya sambil mengangkat bahunya.


Mengabaikan Kagarin yang terus menonton siaran langsung itu dengan wajah ketakutan sekaligus pasrah di wajahnya, Izaya menoleh ke luar jendela dan menatap langit biru yang perlahan dipenuhi dengan asap hitam.


"Ahhh … Hakui … Aku … Bisa dibilang berhasil, 'kan? "


...****************...


(AN: dalam seminggu ke depan, mulai Senin ini, update yang kulakukan mungkin akan sedikit lebih kacau karena aku sedang sibuk dengan ujian tengah semester yang telah datang, kalau begitu, Adios~)