![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Apa yang sebenarnya terjadi–"
Belum selesai Rico memprotes, puluhan anak panah mulai menghujaninya tanpa henti, membuatnya secara refleks langsung menggunakan tombaknya sendiri untuk mengubah jalur beberapa anak panah.
Di sisi lain, Norman juga mengayunkan pedangnya untuk menyingkirkan beberapa living armor yang bermunculan. Namun, jumlah mereka tampaknya sama sekali tidak berkurang.
Norman kembali mengayunkan pedangnya, dan menangkis serangan dari salah satu living armor, tapi living armor lainnya menyelinap ke belakangnya dan berniat menyerang.
Belum sempat Norman bereaksi, sebuah pedang hitam muncul dan menghancurkan living armor itu, melindungi Norman dari bahaya.
"Terima kasih! "
Norman berteriak pada orang yang melempar pedang itu, Noelle, yang kini berdiri memunggunginya.
"Tidak masalah. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di sini? "
Noelle mencoba bertanya dengan tenang, tapi serangan terus datang padanya, sehingga dia hanya bisa mengendalikan beberapa perisai dan melindungi dirinya sendiri menggunakan itu.
Di sisi lain, Kaira, dan semua orang yang bersembunyi di dalam penghalang, mereka menikmati pertunjukan itu dengan wajah yang sedikit cemas.
Tentu saja, alasannya karena penghalang yang Noelle ciptakan itu, bisa saja hancur karena serangan.
"Aku tidak tahu. Tapi, kurasa kita sudah terjebak," jawab Norman sambil melemparkan sebuah pisau ke arah salah satu living armor yang mencoba untuk mendekatinya.
Bicara tentang living armor, mereka adalah tipe monster, atau lebih tepatnya golem, yang tubuhnya hanya terdiri dari set armor yang kosong.
Tidak ada apa pun di dalam armor itu. Jadi, serangan menggunakan pisau seperti yang baru saja Norman lakukan adalah hal yang sia-sia.
"Terjebak, ya … "
Bagaimana mereka bisa terjebak dalam situasi seperti ini, dan apa yang menyebabkannya … Semua bermula pada suatu kejadian beberapa menit yang lalu ….
...****************...
"Kita tidak benar-benar bergerak dari tempat ini. Ini seperti … Kita terjebak dalam lorong yang tak memiliki ujung! "
Begitu Rico mengatakannya, bahu Noelle seketika tersentak.
Kenapa ia tidak menyadarinya? Penyesalan seperti itu terus berputar di kepalanya.
Setelah ia memikirkannya, tidak mungkin ia bisa terus menyusuri lorong ini tanpa menemukan satu pun tanda-tanda akan pintu keluar.
Luas bangunan ini tidak memungkinkan konstruksi aneh seperti itu.
Kalau begitu, hanya ada satu kesimpulan yang dapat menjawab pertanyaannya.
Noelle yakin, kalau dia dan semua orang di belakangnya telah terjebak dalam salah satu perangkap di bangunan ini.
Tidak seperti perangkap fisik yang menyerang secara tiba-tiba seperti panah, perangkap yang Noelle maksud di sini adalah jenis perangkap yang benar-benar menjebak mereka dalam ruang tertutup, dan menutup semua jalan keluar.
Dalam hal ini, lorong panjang tak berujung inilah yang menjadi perangkapnya.
Namun, yang paling Noelle perhatikan sekarang bukanlah perangkap atau apa pun itu. Melainkan kenyataan bahwa ia sama sekali tidak sadar kalau dirinya telah terjebak dalam perangkap musuh.
Perangkap berbasis ruang seperti ini seharusnya menggunakan sihir elemen spasial untuk aktif. Dalam hal itu, Noelle seharusnya mampu mendeteksi sihir itu tepat sebelum perangkapnya aktif.
Tetapi, yang terjadi justru kebalikannya. Noelle tidak sadar, dan malah masuk ke dalam perangkap yang merepotkan.
Pasti ada sesuatu yang mengganggu fokusnya. Begitulah yang ia pikirkan.
Setelah Noelle memastikannya, ia akhirnya menyadari sedikit keanehan.
Jarak deteksinya, berkurang secara drastis. Pengelihatan malam yang ia miliki juga semakin meredup, membuatnya sedikit sulit melihat di lorong gelap ini.
Selain itu, ia juga bisa merasakan regenerasi fisik dan sihirnya mulai melambat.
Untuk memastikan apa yang ia pikirkan, Noelle mulai mengeluarkan sejumlah energi sihir dari tubuhnya. Tentu saja, secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan.
Norman yang pertama kali merasakan kebocoran energi sihir Noelle langsung menegakkan bahunya, sementara kedua tangannya telah dalam posisi mengepal yang sangat erat.
Di belakangnya, Rico, Alan, Muku dan Waka juga mengalami hal yang sama. Tubuh mereka tiba-tiba merinding, dan membuat mereka merasa tegang. Semua itu disebabkan oleh kebocoran energi sihir Noelle yang terjadi secara tiba-tiba.
Norman ingin menegur Noelle, tapi ia tak bisa. Seperti ada sesuatu yang menghalangi jalan antara dirinya dengan Noelle.
Untungnya, Kaira dan semua orang yang ada di dalam penghalang telah dilindungi dengan penghalang sihir dari Noelle. Jadi mereka tidak terlalu merasakan kebocoran itu.
Tak lama kemudian, kebocoran energi sihir Noelle sudah sedikit mereda. Norman dan yang lain akhirnya bisa bernapas dengan lega tanpa perlu merasa tegang.
Meskipun begitu, Norman masih sedikit gugup. Ia perlahan menghampiri Noelle dan menanyakan situasinya.
Namun, Noelle yak menjawabnya, dan justru merenung sendiri.
(Sudah kuduga … Kekuatanku terasa seperti diserap oleh sesuatu … )
Akhirnya, Noelle dapat menyadari keanehan yang ia rasakan.
Noelle dalam diam mencoba untuk menempelkan telapak tangannya ke dinding, hanya untuk berhenti beberapa senti sebelum benar-benar bersentuhan.
Tidak salah lagi, sumber keanehan itu ada pada dinding ini. Atau lebih tepatnya, semua material yang menjadi bahan pembangunan lorong ini.
(Apa-apaan ini … )
Meskipun ia merasa jengkel, pada akhirnya ia tak dapat menemukan jawaban untuk pertanyaannya.
Noelle dengan kesal mendecakkan lidahnya, lalu melihat ke sekeliling.
Masih tak ada apa pun. Hanya sebuah lorong gelap yang tak memiliki ujung.
"Bagaimana kita bisa keluar dari sini … "
Anzu menghela napas lelah saat ia menyadari isi pikiran Noelle.
Sebagai orang yang memiliki skill analisis, Rico tentu saja menjadi yang pertama kali menemukan solusinya. Tapi, ia tidak tahu apakah itu bisa dilakukan atau tidak.
Karena, idenya sangatlah bergantung pada Noelle.
"Noelle."
Rico memanggil Noelle, yang pada akhirnya direspon oleh Noelle hanya dengan erangan kecil.
Mencoba mengabaikan itu, Rico kemudian bertanya padanya. "Bisakah kau membawa kita semua ke dalam《Reign》, lalu kembali ke sini lagi? "
Itu adalah satu-satunya solusi teraman yang dapat ia pikirkan.
Memang, sihir《Reign》milik Noelle sangatlah berguna dalam situasi seperti ini. Jika mereka bisa memanfaatkan itu dengan baik, maka mereka bisa melewati semua jebakan berbasis ruangan lainnya seperti lorong tanpa akhir ini.
Namun, jawaban yang akan Noelle berikan setelahnya sangatlah mengecewakan.
Noelle dengan ekspresi muram menggelengkan kepalanya, dan menjelaskan. "Aku sudah mencobanya. Tapi, entah kenapa aku tidak bisa mengakses《Reign》dari sini."
"Tunggu, apa kau bilang? "
"Tch, sudah kubilang. Aku tidak bisa mengakses《Reign》dari sini. Ada sesuatu yang menghalangi."
"Menghalangi, ya … "
Rico melihat ke sekelilingnya, tapi tak menemukan apa pun yang dapat dijadikan petunjuk. Iaencoba menggunakan《Analyze》miliknya, dan menemukan satu jawaban kecil.
"Energi sihir yang tadi kau pancarkan … "
Meskipun tidak sebaik Noelle, Rico memiliki sedikit kemampuan dalam mendeteksi aliran energi sihir. Walaupun ia hanya mampu melihat sebatas jejaknya saja, setidaknya itu membuatnya dapat melihat ke mana perginya energi sihir Noelle.
Noelle mengangguk, setuju dengan apa yang Rico pikirkan.
"Itu benar. Energi sihir yang kulepaakan sebelumnya, dengan cepat diserap oleh dinding dan lantai ini. Itu menghilang begitu saja. Berkat itu, aku tidak bisa mengakses《Reign》."
《Reign》adalah sihir berbasis elemen ruang yang memakan banyak sekali energi sihir untuk mengaktifkannya. Meskipun Noelle sudah cukup ahli dalam mempercepat proses perapalan dan pembentukan lingkaran sihirnya, tetap saja ia masih harus menyuntikkan banyak sekali energi sihir untuk mengaktifkan sihir itu.
Untuk melakukannya, ia harus mengeluarkan energi sihirnya, dan menciptakan 'benang' yang pada akhirnya akan menjadi komponen utama dalam pembentukan sigil dan lingkaran sihir.
Yang menjadi masalahnya, begitu energi sihir Noelle keluar, itu langsung diserap oleh dinding dan lantai di sekitarnya. Secara alami, proses pembentukan 'benang' akan langsung gagal.
Terkait dengan beberapa kemampuan lain yang ia miliki, ia masih tidak mengerti mengapa mereka semua melemah. Untuk sekarang, Noelle hanya tahu alasan mengapa ia tak bisa mengeluarkan sihir.
"Meskipun kau mengatakan itu … Aku masih bisa menggunakan sihirku dengan normal … "
Rico memainkan jarinya, dan membentuk beberapa partikel cahaya dari sana. Semua partikel cahaya itu kemudian melayang dan berterbangan ke semua arah, menyinari bagian lorong yang gelap.
Norman dan Alan yang ada di sisinya juga sama. Mereka menunjukkan sihir mereka pada Noelle, tanpa mengalami gejala yang Noelle rasakan.
Energi sihir mereka sama sekali tidak terserap, dan membuat mereka mampu menggunakan sihir secara normal.
Noelle merasa sedikit aneh saat memikirkannya, tapi ia langsung menemukan jawabannya setelah berpikir tenang sejenak.
Apakah material yang membangun dinding dan lantai lorong itu terbuat dari bahan yang mampu menyerap sihirnya? Jika memang begitu, bahan apa yang digunakan? Berdasarkan pengamatan Noelle selama ini, hampir tak ada perbedaan mencolok antara energi sihir yang ia miliki, dan energi sihir yang manusia normal miliki.
Keduanya cukup identik. Dan tentu saja, dengan memiliki ciri khas warna dan sensasi yang berbeda.
Apa yang membuat energi sihirnya berbeda dengan semua orang, sehingga hanya energi sihirnya yang akan diserap oleh material di sekitarnya? Untuk sekarang, Noelle mungkin akan mengabaikan itu.
Lebih baik ia fokus memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini.
"Apa kalian punya saran? "
Noelle mencoba bertanya pada semua orang, tapi mereka hanya menggeleng dengan pasrah.
Dalam pikiran mereka, anggapan pesimis bahwa mereka tidak mungkin bisa melakukannya mulai muncul. Mungkin mereka sedikit terlalu mengandalkan Noelle dan anggota inti dalam kelompok mereka, sehingga mereka semua tidak memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi suatu masalah.
Noelle merasa itu menjengkelkan. Ia hampir berpikir kalau mereka semua hanyalah sekumpulan orang yang tidak berguna.
Tentu saja, ia tak berniat mengatakan itu.
Noelle memainkan poninya, dan dengan keras memikirkan solusinya.
(Ada … Tapi … Aku tidak tahu itu akan berhasil atau tidak … )
Noelle melirik pada pedang yang menggantung di pinggangnya. Lebih tepatnya, pada bagian hitam yang menjadi corak mencolok pada pedang itu.
Pedang hitam Langen, dikatakan dapat memotong segalanya. Tapi, Noelle tak benar-benar tahu seberapa luas jangkauan kata 'segalanya' itu.
Kaira merasakan tatapan Noelle pada pedangnya, dan memanggilnya. "Hei, Noelle."
" … Apa? "
"Jika kau telah memikirkan suatu solusi, maka jangan ragu untuk mencobanya. Tidak ada satu pun di antara kita yang mau menghabiskan waktu hanya untuk berjalan di lorong tanpa akhir ini."
(Sebenarnya aku mulai merasa kalau ini nyaman … )
Pemikiran itu datang dari Anzu, yang mulai menguap, menunjukkan rasa kantuknya yang sangat jelas.
Norman menoleh dan menatap Noelle. "Apa kau sudah memikirkan sesuatu? "
Butuh sedikit waktu bagi Noelle untuk merespon. Namun, meskipun begitu, semua orang anehnya mampu bersabar dan menunggu Noelle menjelaskan.
Sampai beberapa saat kemudian, Noelle akhirnya mulai berbicara.
"Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak. Tapi, tidak ada salahnya mencoba."
Noelle kemudian berbalik dan menarik pedangnya, menatap lurus ke depan dengan mata yang menyipit tajam.
Saat ia sudah bersiap dalam posisi kuda-kuda menyerang ke depan, sebuah zirah pelindung kosong yang muncul entah dari mana menabrak tubuhnya, dan membuat Noelle terpental hingga sedikit merusak dinding.
Seharusnya, Noelle tidak akan merasakan sakit di sana. Tapi, entah bagaimana ia bisa merasakannya dengan jelas. Rasa sakit.
Ini seperti saat pertarungannya melawan Lucius. Dia mampu menonaktifkan beberapa skill yang dimiliki lawan, sehingga beberapa skill perlawanan tidak akan berpengaruh padanya.
"Noelle! "
Norman dengan panik menghampirinya, hanya untuk melihat Noelle yang telah bersimbah darah dengan potongan zirah tajam menancap di beberapa bagian tubuhnya.
Norman mencoba menolongnya, tapi Noelle membuang tangan itu, dan langsung maju.
Tangannya yang memegang rantai yang tersambung dengan pedang itu bergerak dengan sangat cepat, menciptakan momentum yang tepat bagi pedangnya untuk langsung menebas musuh.
Namun, musuh yang dimaksud itu justru sangat mengecewakan. Dia bukanlah makhluk hidup, dan bukan hanya sekedar benda mati. Dia hidup di antara kedua perbedaan itu.
Sebuah living armor.
...****************...
Dan begitulah, penjelasan singkat mengenai situasi yang Noelle dan yang lain hadapi …
Punggung Noelle menempel dengan punggung Norman. Keduanya saling membelakangi, mewaspadai barisan musuh yang bisa saja muncul secara tiba-tiba.
Sementara itu, Muku dan Waka sedikit kesulitan.
Gaya bertarung mereka adalah serangan gabungan dengan tipe serangan mendadak seperti seorang assassin. Pada intinya, serangan gabungan antara keduanya membutuhkan ruangan yang cukup luas Karena itulah, tempat yang sempit dan lawan yang berupa armor sangat sulit untuk mereka kalahkan
Noelle mengendalikan beberapa pedang secara sekaligus dan langsung menghancurkan semua living armor yang berada tak jauh darinya. Di sisi lain, Norman juga melemparkan tombak di tangannya, dan mengenai tepat di bagian dada living armor itu.
Meskipun begitu, living armor itu hanya bergidik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Norman sedikit mendecakkan lidahnya dan bersiap dengan pedangnya sendiri di tangan.
Dengan mengandalkan kekuatan fisik murninya semata, Norman langsung maju menuju living armor itu. Begitu dekat, ia langsung mengayunkan pedangnya dengan berbagai gerakan pengecoh.
Itu terbukti efektif. Living armor itu tampaknya tak memiliki kecerdasan. Dia tidak bisa menebak jalur serangan Norman.
Pedangnya dengan mudah menembus dan membelah living armor itu menjadi beberapa bagian. Norman kemudia langsung melompat mundur dan kembali ke posisi semula.
Tak jauh dari mereka, Rico juga menusukkan tombaknya berkali-kali ke tubuh salah satu living armor. Bekas tusukan yang cukup brutal dapat dilihat dari bagian dada living armor itu. Meskipun begitu, dia masih belum terjatuh.
Rico tak mau membuang waktunya lebih lama lagi. Dia langsung melemparkan tombaknya dan menancapkannya tepat di bagian kepala, lalu mengeluarkan sebuah pistol tipe revolver sederhana.
Rico tanpa ragu menarik pelatuknya, dan menembakkan sebuah peluru yang akhirnya mendarat di bagian dada living armor itu.
Peluru dan revolver itu mampu memberikan dampak yang sangat kuat, sehingga membuat living armor itu terpental jauh ke belakang.
"Dari mana kau dapat revolver itu?! "
Kaira berteriak dari dalam penghalang, menanyakan sesuatu yang sudah jelas pada Rico.
"Aku mencurinya dari musuh."
...****************...