![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Sudah kuduga kamu ada di sini."
Suara Tania tiba-tiba muncul, membuat Noelle seketika mengalihkan pandangan padanya.
Noelle tidak menjawab saat dia melihat Tania melompat ke tempat dirinya berada sekarang.
Saat ini, Noelle sedang duduk di salah satu reruntuhan di area ibu kota. Reruntuhannya seperti masih segar, seolah semua kejadian mengerikan itu baru terjadi kemarin.
Kembali menatap langit malam yang terasa lebih sepi dari biasanya, Noelle tiba-tiba bersuara, "Ini benar-benar membingungkan."
Dia tidak tahu lagi harus mencari di mana katakis terakhir itu. Tidak ada petunjuk, jadi Noelle benar-benar harus memikirkannya dari awal.
Ini mungkin dibuat sulit untuk menguji apakah Noelle benar-benar orang yang ada di ramalan Ratu Bengis atau bukan. Noelle sendiri mulai meragukannya.
Noelle kemudian mendengar suara langkah kaki Tania yang ringan, dan tanpa dia perhatian, Tania sudah duduk tepat di sampingnya.
"Rupanya tempat ini dulunya menara observasi. Aku menemukan beberapa benda yang mirip teleskop. Apa kau mau mencobanya? "
Pada saat ini, Noelle sudah tidak tahu harus mengatakan apa pada Tania. Dia hanya mengeluarkan topik acak yang ada di kepalanya.
Namun, Tania menggeleng.
"Kita bisa mencobanya nanti. Untuk sekarang, aku hanya ingin duduk tenang di sampingmu."
"Itu adalah kata-kata yang tidak boleh kau ucapkan secara sembarangan," kata Noelle setelah dia menghela napas pasrah.
Tania tidak menanggapi, hanya memeluk lututnya sendiri saat dia ikut memandangi langit bersama Noelle.
Keheningan itu berlangsung selama beberapa menit, sampai akhirnya, Tania memutuskan untuk menghancurkannya.
"Meski kamu tidak mempercayai ramalan, kamu masih bertindak untuk memenuhinya. Sebenarnya, apa yang kamu mau? "
Tania tahu kalau Noelle sama sekali tidak percaya pada ramalan. Tapi, semua tindakan Noelle selama ini sukses membuatnya kebingungan. Apa yang sebenarnya menjadi tujuan Noelle?
Meski itu tidak ditunjukkan oleh ekspresinya, tatapan Tania yang penuh tanda tanya sudah cukup untuk memberi tahu Noelle kalau dia penasaran.
Pada awalnya, itu adalah pertanyaan yang tidak dapat Noelle jawab. Tapi sekarang, semuanya berbeda. Dia sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.
Rudra sudah menanyakan hal yang hampir sama dengannya, tapi saat itu Noelle mengandalkan logika untuk menjawab. Dan entah mengapa dia tidak bisa menggunakan logika itu untuk menjawab pertanyaan Tania.
Bicara jujur sesuai kata hati adalah hal yang sulit bagi Noelle, jadi dia takut ini akan sedikit canggung. Tapi, tidak ada gunanya mengkhawatirkan itu sekarang.
"Aku … hanya tidak ingin mengecewakan mereka."
Dia tidak mau lagi mengkhianati harapan yang seseorang bebankan padanya. Dan untuk itu, dia harus berusaha sebaik mungkin untuk membuat harapan mereka menjadi kenyataan.
"Sebelum kita bertemu lagi di ibu kota … apa kau ingat apa yang terjadi? "
Tania mengangguk. "Gerbang ke dunia bawah dibuka, dan kita bertarung bersama. Setelah itu … aku tidak ingat apa pun, tapi Navi bilang kalau aku berhasil melarikan diri dari kejadian terakhir."
Noelle sendiri hanya ingat dengan samar-samar. Saat itu kondisinya sangat buruk sehingga kesadarannya hampir menghilang, dan dia juga sudah di ambang hilang kendali berkat meminum darah kotor para boneka dan Noir yang terus menekan kesadarannya.
Pada saat itu, Noelle ingat kalau Tania sempat bertarung bersamanya, meski dengan 'suasana' yang sangat berbeda.
Tapi, bukan itu yang jadi bahan pembahasan Noelle kali ini.
"Apa kau ingat bagaimana aku mengubah identitasku untuk pertama kalinya? "
Tania langsung mengangguk. "Kamu memberi tahu semua orang di Asterisk."
Noelle mendengus. "Itu benar. Itu adalah pertama kalinya aku hidup dengan identitas yang benar-benar asing, identitas yang tidak pernah terlahir bersamaku."
Noah Ashrain. Pada awalnya, itu tidak lebih dari nama acak yang ia buat untuk identitas barunya. Dia juga menciptakan identitas baru itu untuk menjauhkan Olivia dan yang lain dari jangkauan Noir.
Pada awalnya, itu tidak lebih dari identitas yang dia gunakan untuk melindungi apa yang berharga baginya.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, konsep itu mulai berubah. Identitas baru ini mulai melenceng dari tujuan awal penciptaannya.
Noelle merasakan banyak hal untuk pertama kalinya dengan identitas ini. Salah satu hal yang ia dapatkan, adalah pengalaman diberikan tanggung jawab dan kepercayaan oleh mereka yang baru dia kenal.
"Saat aku menjadi Noah Ashrain, aku bergabung dengan organisasi gereja, Lunatic Order. Aku bisa bergabung berkat surat yang kudapatkan dari seorang kenalan. Di sana, aku akhirnya mengenal mereka."
Dolf, Tian, Louen, Dexter, Rita, Mona, dan Felice. Selain mereka, ada juga Old Yode, pria tua yang menjadi anggota luar organisasi—orang yang menjadi bagian dari organisasi, tapi tidak terikat di dalamnya.
Noelle kemudian mengeluarkan jam saku yang masih ia simpan sampai saat ini. Itu adalah jam saku yang menjadi tanda keanggotaannya di bar Nautica. Dibuatkan oleh Old Yode atas permintaan Dolf.
"Aku tidak berencana memiliki hubungan yang dalam dengan mereka, karena sejak awal tujuanku hanyalah bersembunyi sambil mengumpulkan informasi. Tapi … jelas kalau semuanya tidak akan berjalan semudah itu."
Keikutsertaan Noelle ke dalam Lunatic Order justru menjadi tanda dimulainya rentetan kejadian yang kemudian membawa bar Nautica ke 'kehancuran' mereka.
Keterlibatan Noelle dalam kasus Feran Cerces benar-benar menjadi penyebab dari semua kejadian ini.
Memang, itu bukan benar-benar salahnya, karena sejak awal gereja memang sudah menargetkan Feran Cerces yang menjadi bagian dari Swallow Life Order. Tapi tetap saja, Noelle tidak bisa memaafkan kebetulan itu.
Berkat informasi yang ia berikan, Dolf dan tim intelijen Lunatic Order berhasil menemukan jejak pergerakan dari anggota Swallow Life Order, yang kemudian membawa mereka ke 'pertarungan terakhir', di mana ada banyak orang yang menjadi korbannya.
"Setelah dipikir lebih lanjut, mungkin kesalahan terbesarku adalah memancing semua orang masuk ke rencana musuh."
Karena jika itu tidak direncanakan, tidak mungkin bala bantuan dari Hermit Cult bisa datang tepat waktu.
"Semua orang di bar Nautica seharusnya menganggapku sebagai orang asing. Tapi, mereka justru menerimaku dengan baik tanpa sedikit pun kecurigaan."
Itu adalah perasaan yang aneh untuk Noelle.
"Setelah pertarungan itu berakhir, aku bertemu dengan Louen di makam Rita."
"Dan di sanalah kamu mulai merasakannya," sambung Tania.
Noelle mengangguk, membenarkan kata-kata Tania.
"Dia menceritakan masa lalunya, dan dia juga bilang kalau dia akan segera pergi. Itu seharusnya menjadi akhir, tapi …."
Noelle meremas erat jam saku yang ada di tangan kanannya, tapi dia menahan kekuatannya agar jam itu tidak rusak.
"Sebelum pergi, dia justru menggantungkan harapan padaku, agar aku bisa bersama dan melindungi semua orang, menggantikan dirinya."
Louen menggantungkan harapan itu pada orang yang salah. Noelle bukanlah anggota tetap, tapi hanya seorang 'kutu lompat' yang tinggal untuk sementara, lalu langsung pergi setelah tujuannya tercapai.
"Louen salah karena menggantungkan harapannya padaku, tapi di sisi lain aku juga salah karena menjadi orang yang layak di matanya."
Jika saja Noelle menjadi orang yang lebih tidak layak, maka Louen pasti akan menggantungkan harapannya itu pada Dexter, bukan pada Noelle.
"Aku tidak bisa tinggal dengan mereka lebih lama lagi, jadi … aku langsung merencanakan kepergianku tak lama setelah Louen menghilang tanpa kabar."
Pada akhirnya, hanya Noelle yang tahu ke mana dan untuk apa Louen pergi.
"Apa yang kamu lakukan untuk pergi dari mereka? "
Tania sama sekali tidak tahu tentang cerita ini. Dengan wajah dan mata yang penuh dengan rasa tertarik, dia menatap Noelle yang ada di sampingnya.
Menanggapi itu, reaksi jujur Noelle adalah senyum yang dipaksakan.
"Setelah semua yang terjadi, gereja mulai menaruh kecurigaan padaku, karena itulah aku tidak bisa pergi dengan cara yang normal. Jadi … aku memilih untuk memalsukan kematianku."
Itu adalah kedua kalinya Noelle memalsukan kematian identitasnya. Yang pertama sebagai Noelle, dan yang kedua sebagai Noah Ashrain.
Pengungkapan itu tentu saja membuat Tania terkejut. Dia melebarkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka, benar-benar tidak menyangka jawaban yang Noelle berikan.
"Tapi itu …."
Tania ingin mengatakan sesuatu, tapi Noelle menyela, "Aku menghancurkan harapan Louen terakhir Louen. Aku tidak bisa bersama mereka, apalagi melindungi dengan semua kekuatanku. Yang kulakukan justru melarikan diri tanpa rasa malu."
Noelle menyipitkan matanya, memiliki pandangan mengejek dan sangat jijik untuk dirinya sendiri.
Itu adalah dosa yang akan menghantuinya sampai kapan pun. Dosa yang ia dapat dari mengecewakan harapan baik seseorang yang dibebankan padanya.
Noelle tidak ingin mengulang dosa yang sama dua kali. Dia sudah menginjak-injak harapan Louen, dan dia sudah tidak mau melakukannya.
Karena itu, Noelle memutuskan untuk memperjuangkan harapan besar yang suku Artof bebankan padanya.
"Sejujurnya, aku sama sekali tidak peduli dengan suku Artof. Tapi, melihat loyalitas mereka terhadap Ratu Bengis membuatku berpikir dua kali. Mereka semua memiliki harapan yang sama, yaitu membebaskan Ratu Bengis dari segelnya. Itu adalah harapan yang luar biasa."
Noelle menghela napas sejenak, lalu melanjutkan.
"Dan ketika mereka menggantungkan harapan itu padaku, aku berpikir kalau ini bisa kujadikan sebagai bentuk penebusan dari kesalahanku yang menghancurkan ekspektasi dan harapan Louen."
Tatapan Noelle terlihat semakin gelap. Dia menatap reruntuhan ibu kota dengan mata yang mencela diri. Di sampingnya, Tania tidak melakukan apa pun selain mendengarkan semua keluhan jujur Noelle.
"Pada akhirnya, aku hanya mencari-cari alasan untuk memperbaiki kesalahanku."
Noelle tidak ingin mengulangi penyesalan yang sama. Dia tidak ingin mengecewakan siapa pun kali ini. Memikirkan bagaimana reaksi Louen ketika mengetahui apa yang Noelle lakukan, sejujurnya membuat Noelle takut.
Bahkan, Noelle tidak akan heran kalau Louen sangat membencinya sekarang. Dia tidak akan menyangkal itu. Justru, Noelle akan menerimanya dan dengan jujur mengaku kalau dirinyalah yang bersalah.
"Diriku yang dulu tidak pernah memikirkannya, tapi … mengecewakan harapan seseorang benar-benar hal yang menyakitkan."
Tidak biasanya Noelle mengungkapkan isi pikiran dan hatinya dengan jujur seperti ini. Bahkan dia sendiri pun terkejut, tapi tidak apa, semua akan baik-baik saja. Dia akan mencari solusi untuk masalah ini.
Noelle menatap langit, dan mulai memperkirakan bentuk rasi bintang.
Langitnya terlihat indah. Mungkin dia akan mengambil bekas teleskop itu nanti.
Tania yang masih di sampingnya tetap tidak mengatakan apa pun. Dia hanya tersenyum lembut, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Noelle dengan perasaan hangat dan senang menyelimutinya.
Tania berpikir kalau akan lebih baik jika perasaan ini bisa dibagikan pada Noelle.
"Kamu melakukan hal yang benar."
Pada akhirnya, hanya itulah yang bisa Tania ucapkan. Dia tidak tahu apakah perasaan yang ingin ia bagikan itu benar-benar tersampaikan. Tapi setidaknya, dia berharap begitu.
...****************...