[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 316: Diskusi Pria (2)



...****************...


"Ah, ya, Rudra. Apa aku boleh menanyakan sesuatu yang agak tidak sopan? "


"Selama aku bisa menjawabnya, kurasa tidak masalah."


Rudra dengan tenang merespon, lalu menunggu sampai Noelle menanyakan apa yang ingin ia tanyakan itu.


Sebenarnya, ada banyak hal yang mengganggu pikiran Noelle. Dia ingin menanyakan banyak hal, tetapi dia berusaha menekan keinginannya itu dan fokus pada satu pertanyaan yang menurutnya penting.


"Kenapa kau masih diam di tempat ini? Sudah enam ratus tahun berlalu, dan kurasa itu sangat aneh karena kau masih berkeliaran di kawasan ibu kota, seperti hantu. Apa kau pernah memiliki niat untuk pergi ke dunia luar dan menemui Ratu Clament lagi? "


Kepala Rudra tertunduk. Meski Noelle tidak bisa membaca perasaannya, dia tahu kalau Rudra saat ini sedang menekan gejolak batin yang amat kuat.


Pertanyaan itu mungkin terlalu berat untuknya.


Noelle hanya berpikir, kalau sudah sangat lama waktu berlalu, jadi seharusnya Rudra sudah cukup mengemban semua emosi negatif itu. Dia bisa menginjakkan kaki ke luar ibu kota, dan pergi menyusul semua orang yang telah memulai kehidupan baru. Tapi sepertinya, kasusnya tidak sesederhana itu.


"Tolong lupakan—"


Saat Noelle hendak mengubah arah percakapan, jawaban akhirnya keluar dari mulut Rudra.


"Tentu saja aku memiliki keinginan untuk itu. Lebih dari apa pun, aku ingin kembali melayani Yang Mulia."


Tangannya teremas erat, dan bunyi gemeretak dari logam yang hancur dapat Noelle dengarkan dengan jelas. Itu berasal dari tangan kanan Rudra.


"Tapi … aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya."


Suaranya terdengar dalam, dan pasrah seolah dia telah mengalami jutaan percobaan yang menyakitkan.


"Apa maksudmu? " tanya Noelle dengan penasaran.


Melihat Noelle masih bingung, Rudra pun menjelaskan, "Saat aku hendak melangkah keluar dengan kakiku, aku tiba-tiba tidak bisa bergerak. Rasanya ada sesuatu yang menahanku."


(Ahh …. Aku mulai tidak suka arah penjelasan ini.)


Noelle sudah menyadarinya. Alasan menjijikkan mengapa Rudra sama sekali tidak bisa melangkahkan kakinya ke dunia luar.


Ada sebuah penghalang, yang dirancang khusus untuk Rudra agar dia tidak bisa keluar. Meski rasanya menjijikkan, itu menjelaskan semuanya.


Noelle sekarang tahu alasan mengapa jiwa Rudra tidak lenyap, dan masih melekat pada zirahnya adalah berkat penghalang itu.


Penghalang itu kemungkinan besar merupakan bagian dari hasil ritual yang dilakukan oleh orang yang sama dengan yang menanamkan jiwa Rudra pada zirahnya.


Itu bagus karena berkat itulah Rudra masih hidup sampai sekarang. Namun, menganggap itu sebagai hal yang bagus adalah sebuah pemikiran yang naif.


Terkurunh dalam tubuh anorganik, tidak memiliki kebutuhan biologis seperti makan dan tidur. Tidak bisa melangkah ke dunia luar meski dia sangat menginginkannya.


Rudra telah terjebak dalam sangkar besar ini untuk waktu yang sangat lama, tidak bisa melakukan apa pun selain meratapi masa lalu, masa di mana dia gagal menyelamatkan semua orang.


Dipaksa untuk menatap dan meratapi kehancuran tanah airnya selama ratusan tahun, itu adalah hal yang sangat berat bagi kesatria luar biasa seperti Rudra.


Alasan Rudra masih waras saat ini mungkin karena ada sebuah pembatas yang dipasang pada jiwanya. Pembatas itu mencegah korupsi mental mengambil alih Rudra, dan mencegahnya untuk jatuh dalam kondisi「Berserk」.


Karena itulah suara dan kehadiran Rudra terasa begitu netral. Bukan karena dia memang tenang, tetapi karena dia dipaksa untuk merendahkan meteran emosinya.


Noelle mulai membayangkan situasi di mana Rudra tidak memiliki pembatas. Situasi di mana Rudra sudah menjadi 'living armor' tanpa kesadaran, dan hanya menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.


(Beban selama enam ratus tahun, ya ….)


Itu adalah hal yang mungkin tidak akan bisa Noelle tanggung.


Noelle bisa merasakan darah dan semua emosinya mendingin, tetapi bukan dalam arti yang positif.


"Rudra … apa kau pernah merasa marah pada apa yang menyebabkan ini semua terjadi padamu? "


(Ahh, tidak.)


Pertanyaan itu berhasil ia keluarkan, tetapi suaranya terdengar begitu datar tanpa intonasi. Noelle pun mengalihkan wajahnya, berusaha sebaik mungkin agar Rudra tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.


Noelle berusaha menjaga wajahnya agar tetap datar, tetapi mungkin Rudra bisa melihat tindakan itu.


Setelah diam sejenak, Rudra pun menjawab, "Tidak."


"Eh? "


Noelle mengangkat kepalanya, menunjukkan ekspresi bodoh yang sangat tidak cocok di wajah Grei Noctis.


"Meskipun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak pernah menganggap ini sebagai kutukan. Ini adalah tugas."


"Apa maksudmu? "


Noelle semakin tidak paham. Dia mengerutkan keningnya saat dia berusaha mencerna jawaban itu.


Mengabaikan Noelle, Rudrs kembali berbicara, "Tidak peduli siapa atau apa yang membuatku masih hidup sampai sekarang, semua ini pasti ada tujuannya. Aku adalah satu-satunya yang tersisa. Dan mungkin saja, ini adalah tugas terakhirku, untuk mengawasi semuanya dari dekat, dan menjadi bukti kalau Kerajaan Fortenia Yang Agung ini pernah ada."


Daripada kutukan, Rudra lebih menganggap ini sebagai tugas terakhir yang harus dia penuhi.


Hidup dan menjadi saksi serta bukti bahwa Kerajaan Fortenia pernah ada. Dia juga mengemban tugas sebagai 'penjaga makam', yang mengawasi tempat di mana semua orang yang ia kenal menemui ajal mereka.


Ini adalah tugas yang mulia, alasan yang mungkin membantu Rudra dalam menenangkan gejolak emosi negatifnya.


"Kenapa … kau menganggapnya begitu? "


"Semua yang hidup pasti memiliki tujuan, dan itulah yang menjadi tujuanku selama ini; mengawasi dan menjaga semua yang ada di Fortenia. Bahkan meski tanah airku sudah hancur, aku akan terus menjaga semua yang tersisa. Mungkin sia-sia, tapi inilah yang akan menjadi bukti bahwa tanah airku, Kerajaan Fortenia ini pernah ada."


(Ahh, sialan.)


Semua ini membuat Noelle merasakan sakit yang sulit dijelaskan. Noelle merasa loyalitas Rudra terhadap tanah airnya sangat mirip dengan suku Artof yang dengan tulus mengorbankan segalanya demi kebangkitan sang ratu.


Apa yang membuat mereka bisa begitu memuja seseorang? Apa karena pesona? Insting sebagai makhluk yang lebih lemah? Noelle tidak tahu jawabannya.


ketulusan Rudra dan suku Artof terhadap Ratu Clament serta tanah air mereka sukses membuat Noelle merasa bingung. Dia tidak tahu lagi disebut apa perasaan ini.


Dadanya terasa panas, dan perasaan tidak enak seperti sedang menjalari sekujur tubuh dan jiwanya.


(Kesetiaan yang mutlak, ya ….)


Sebenarnya, datang dari mana perasaan ini? Noelle seharusnya tidak pernah mengalami sesuatu yang bisa membuatnya merasakan sakit ketika melihat suatu bentuk kesetiaan dan pengabdian.


Kalau begitu, apakah perasaan ini berasal dari dirinya sendiri yang hidup di garis waktu sebelumnya? Apa pun jawabannya, Noelle merasa tidak ingin mencari tahu itu.


Sementara Noelle sedang terombang-ambing dalam perasaannya sendiri, Rudra melanjutkan jawabannya. Dia tidak berniat berhenti, tidak juga berniat mengganggu Noelle yang dalam kondisi seperti sekarang.


Dengan tenang, Rudra berkata, "Meski begitu, jika aku benar-benar diizinkan untuk menginjakkan kaki ke dunia luar dan kembali melayani Yang Mulia, maka aku akan dengan senang hati kembali untuk melayani di sisinya."


Karena untuk itulah dia ada, untuk melayani seseorang yang begitu dia cintai dan hormati, ratunya sendiri.


...****************...


Pencarian di hari kedua berakhir mengecewakan. Noelle, Tania dan Rudra sama sekali tidak menemukan petunjuk.


Masih tengah hari, tapi ketiganya sudah tidak memiliki niat untuk mencari di sekeliling kota. Kini, ketiganya duduk dalam posisi saling berhadapan untuk diskusi.


Sebenarnya, misi pencarian ini mengecewakan, dan Noelle bahkan sempat memiliki niat untuk berhenti.


Namun, dia menahannya karena ini adalah bagian dari penebusan dosanya.


Jika dirinya berhenti di sini, maka dia hanya akan mengulangi kesalahan yang sama; yaitu membuat mereka yang menggantungkan harapan padanya kecewa.


Suku Artof dan Rudra rela mengerahkan segalanya demi kebangkitan sang ratu, dan Noelle akan menyerah karena dia tidak bisa menemukan katalis yang dibutuhkan? Itu sama artinya dia menghina kesetiaan mutlak yang dimiliki Rudra dan suku Artof.


Jika itu sampai terjadi, Noelle tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


(Aku tidak akan mengulangi dosa yang sama.)


Sudah cukup dia mengkhianati harapan dan permohonan Louen dengan meninggalkan bar Nautica dan semua orang yang bekerja di dalamnya. Noelle tidak ingin itu terjadi lagi. Dia tidak ingin mengecewakan mereka yang telah berharap padanya.


(Setelah mendengar semua itu … tidak mungkin aku bisa tetap diam.)


Noelle tersenyum masam saat dia memikirkan perilakunya yang tidak biasa ini.


Setelah berpikir keras sepanjang malam, Noelle akhirnya sampai pada satu kesimpulan.


Dia akan melaksanakan misi ini sampai selesai, tanpa membuat siapa pun kecewa. Dan untuk itu, dia harus berjuang untuk mengumpulkan dua katalis yang tersisa itu.


Noir juga tidak mengatakan apa pun untuk menentang keputusannya. Justru, Noir tidak muncul sama sekali. Noelle pun menganggap ini sebagai lampu hijau untuk mengembangkan diri dan menebus kesalahannya di masa lalu.


Keputusan memang sudah dibuat. Tapi sekarang, yang menjadi masalah, di mana dia bisa menemukan dua katalis itu?


Noelle pun memulai diskusi dengan memberikan satu jawaban.


"Sebenarnya, kita bisa menelusuri kembali jalan yang dilalui Ratu Clament untuk sampai ke desa suku Artof."


Di sana mungkin ada petunjuk. Tapi, itu terlalu samar. Dunia luar sangat luas. Meski Noelle mempersempit jangkauan pencarian menjadi 'hanya jalan yang dilalui ratu', akan tetap sulit untuk menemukannya.


Lagi pula, Ratu Clament tidak mungkin akan meninggalkan katalis yang begitu penting seperti itu begitu saja. Dia pasti menyembunyikannya di suatu tempat, tempat yang hanya bisa diakses oleh orang yang ia lihat dengan pengelihatan masa depannya.


"Kita bisa mencoba itu, tapi …."


Tania setuju, tetapi dia terlihat sangat ragu. Noelle pun mengangguk dan menyetujui pemikirannya.


"Dalam enam ratus tahun, medan dan topografi Hutan Dingin pasti sudah sangat berubah."


Kalau seperti itu, mencari dua barang seperti tiara ratu dan darah akan menjadi tantangan yang besar.


Saat itulah, sebuah ide terlintas di benak Noelle.


"Rudra, kau sudah mengenal Ratu Clament bahkan saat dia masih bayi. Apa kau bisa beri tahu aku apa saja yang Ratu sukai? Barang atau tempat misalnya."


Jika Noelle mengetahui sesuatu tentang itu, maka mungkin saja dia bisa mendapatkan petunjuk yang lebih jelas.


"Jika itu bisa membantu, maka aku akan memberitahumu. Sejak masih anak-anak, Yang Mulia sangat menyukai bunga Mentine."


"Bunga Mentine? "


Bukan Rudra yang menjawabnya, tetapi Tania. "Bunga Mentine, itu adalah bunga yang memiliki kelopak putih kebiruan. Kamu juga bisa memakannya, rasa bunga itu agak pedas dengan sensasi yang dingin."


(Jadi itu mirip dengan mint.)


"Kau tahu banyak, Nona. Benar, sejak dulu bunga Mentine selalu menjadi bunga yang khas di Kerajaan ini, karena itu adalah salah satu bunga yang bisa mekar sepanjang tahun meski dalam kondisi musim dingin yang ekstrim. Ohh, sebagai catatan, nama Yang Mulia juga diambil dari nama bunga ini."


"Clament … Mentine … Clamentine? Ahh, semua itu masuk akal sekarang."


Noelle mengangguk, tampak agak senang ketika dia menemukan informasi menarik ini.


Senang karena Noelle tampaknya menghargai informasi itu, Rudra melanjutkan penjelasannya.


"Lalu untuk tempat … dulunya ada sebuah taman gantung yang dibangun di halaman belakang kastil kerajaan. Tapi tempat itu sudah hancur tanpa sisa sekarang."


Mengungkapkan itu membuat Rudra merendahkan suaranya. Meski tidak ditunjukkan dengan jelas, Noelle tahu kalau berat bagi Rudra untuk mengatakan itu.


"Seharusnya masih ada sesuatu yang bisa diperiksa di sana," ucap Noelle dengan sikap positif.


Rudra sekali lagi mengangguk. "Tapi, kupikir ada satu tempat yang lebih layak untuk kalian periksa."


"Di mana itu? " Tania dengan semangat yang meninggi tiba-tiba bertanya.


"Lokasinya ada di luar ibu kota, dan sebenarnya tidak terlalu jauh dari rute yang digunakan Yang Mulia dan semua orang untuk melarikan diri. Tapi itu adalah tempat yang agak tersembunyi, jadi kalian mungkin akan kesulitan untuk menemukannya."


"Tidak masalah. Tolong katakan tempat apa dan di mana itu."


Petunjuk sekecil apa pun sangat berharga saat ini. Noelle tidak bisa menyia-nyiakannya hanya karena itu terdengar sulit dan merepotkan.


"Bunga Mentine mampu tumbuh dan mekar dengan subur tanpa masalah meski di musim dingin yang ekstrim. Dan di sekitar tempat yang sekarang kalian sebut Hutan Dingin, seharusnya ada taman tersembunyi yang penuh dengan bunga itu."


"Binggo."


...****************...