[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 181: Clausa Memoria (4)



...****************...


Adegan yang diproyeksikan kembali berganti. Kali ini, mereka mendapatkan diri mereka berada di sebuah stasiun kereta, berdiri di tengah kerumunan orang yang tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri.


Berkali-kali orang berjalan menembus tubuh mereka, tapi anehnya mereka tak dapat merasakan sensasi fisik apa pun dari sentuhan itu. Sepertinya itu cukup masuk akal, mengingat semua ini hanyalah bagian dari proyeksi ingatan.


"Alat musik, dan stasiun … Hanya ada satu hal yang ada di pikiranku … "


Iris bergumam sendiri dengan suara yang terdengar seperti suatu kecemasan.


"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku rasa aku memahaminya," ucap Alan sambil maju beberapa langkah.


Dia akhirnya keluar dari kerumunan orang, dan menemukan dua orang yang ia kenal sedang duduk di bangku taman yang jaraknya tak jauh dari gerbang stasiun itu.


Dua orang itu adalah Izaya dan Shion, tapi ada satu orang lagi di samping mereka. Orang itu adalah pria, dan berdasarkan fisiknya, Alan menyimpulkan kalau dia berusia sekitar 20 tahun.


Mereka bertiga sedang duduk di bangku taman itu, tampak sedang mengatur peralatan musik mereka.


Izaya sedang mempersiapkan biola miliknya, sedangkan Shion tampak memetik senar gitar akustiknya beberapa kali untuk memastikan suaranya. Pria yang ada bersama mereka, dia tampak sedang memegang sebuah bass yang telah diatur sebelumnya.


Tak lama kemudian, semua orang berkumpul di sekitar Alan, memberikan tatapan penuh kejutan pada proyeksi Izaya dan Shion itu.


Tak hanya orang-orang di dunia nyata, tapi beberapa orang dari proyeksi itu juga tampak berkumpul, menunggu apa yang akan tiga orang itu lakukan.


" … Aku tidak tahu ini. Apa kalian berniat menjadi artis jalanan? "


Menyembunyikan ekspresi cemberutnya, Olivia bertanya pada Anzu, yang kemudian dijawab dengan sebuah gelengan singkat.


"Kami hanya melakukan itu beberapa kali, tapi tampaknya popularitas kami sebagai artis jalanan jauh melebihi apa yang kami bayangkan. Jadi … Yahh, kami selalu melakukan itu kalau kami butuh uang."


Bagi Olivia, itu terdengar seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Bagaimanapun, dia tahu kalau kekayaan pribadi Izaya saat itu sudah cukup untuk membeli sebuah pulau pribadi dengan semua aset di dalamnya. Karena itulah, ia sedikit heran ketika mendengarnya dari Anzu, bahwa Izaya membutuhkan uang.


Anzu tampaknya menyadari isi pikiran Olivia, dan hanya tersenyum masam sebagai responnya.


Dia tak mengatakan apa pun lagi, dan beralih melihat pertunjukan yang sudah dimulai di proyeksi itu.


Sosok Izaya masih menggunakan mantelnya, dan ia memakai sepasang sarung tangan putih di tangannya. Sedangkan untuk Shion, dia tampaknya belum mengganti pakaiannya sejak pagi. Itu adalah hoodie dan rok yang sama dengan yang ia gunakan sebelumnya.


Mengabaikan tatapan semua orang, Izaya berdiri, dan mulai bersiap memainkan biola miliknya.


Tangannya secara perlahan dan mengikuti tempo yang telah ditentukan menggesekkan bow pada senar biola, membuatnya menghasilkan nada yang sangat nyaman untuk didengarkan.


Suara yang dihasilkan gesekan biolanya sama sekali tak teredam oleh banyaknya suara yang ada di sana. Seolah, suara biola dari Izaya telah menjadi pusat dan memiliki volume yang lebih tinggi dari semua suara itu.


Orang-orang di stasiun mulai melihat ke arahnya, dan diam tanpa mengatakan apa pun untuk menonton penampilannya. Beberapa dari mereka mengambil ponsel mereka sendiri, dan mulai merekam penampilan Izaya, sementara Shion di sana tersenyum kecil sambil memetik satu senar pada gitarnya.


Semuanya sudah sesuai tempo. Tapi, karena kombinasi alat musik yang agak tidak biasa itu, banyak orang mulai mengalihkan perhatian mereka pada Shion.


Meskipun begitu, Shion tak mempedulikannya. Dia terus memetik senar gitarnya dan mulai melantunkan suatu lagu.


Anehnya, bahkan saat mereka semua bingung dengan kombinasi suara gitar akustik Shion dengan biola Izaya, mereka tampaknya cukup menikmati suara yang dihasilkan, sehingga tak ada satu pun yang keberatan dengan kombinasi itu.


Tak lama kemudian, laki-laki lain yang ada bersama mereka juga mulai memainkan bass miliknya. Suara yang terdengar dalam, tapi anehnya tidak sumbang itu menghiasi paduan suara gitar akustik dengan biola yang telah dimainkan terlebih dahulu.


Detik kemudian, suara gesekan bow dengan senar biola Izaya terdengar menjadi lebih cepat. Dia terus menggesekkan bow dengan senar itu sambil tetap memasang ekspresi santai. Jari-jari tangan kirinya yang dilapisi sarung tangan putih itu dengan lincah bergerak untuk menjepit senar tepat pada posisi kuncinya, sehingga suara yang dihasilkan menjadi lebih sempurna.


Sementara itu, nyanyian dari Shion juga tak kalah bagusnya. Lagu yang dinyanyikannya adalah lagu yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang harus berpisah. Itu adalah lagu lama, dirilis 17 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2013, dan tak banyak dari para penonton itu tahu tentang lagunya.


Setiap lirik yang ia nyanyikan itu seolah menjadi isi hatinya yang ia ucapkan secara alami, dan itu membuat semuanya menjadi lebih mengagumkan.


Hingga akhirnya, sampailah mereka pada bagian reff. Kali ini, laki-laki yang memainkan bass itu melakukan rap dengan notasi yang lambat sehingga tidak mengacaukan nada yang sebelumnya sudah Shion buat. Tangannya tak berhenti memainkan bass untuk menggiring alunan melodi gitar akustik Shion dan biola Izaya yang terus berlangsung, tapi ia terlihat tak terganggu dengan itu.


Justru, ia terlihat lebih nyaman ketika harus bermain bass sambil melakukan rap.


Dan saat pertengahan lagu, Izaya akhirnya bergabung dalam vokal.


Dia tidak berhenti memainkan biolanya, dan justru terlihat semakin intens dengan itu, tapi anehnya ia dengan ahli dapat membagi fokusnya antara mengendalikan biola bersama dengan suaranya sendiri.


Suara yang ketiganya miliki tak kalah bagusnya dengan para penyanyi terkenal pada masa itu, dan itu membuat semua penonton di sana merasa heran mengapa mereka bertiga masih belum terkenal.


Lagu terus berlanjut, dan kini mereka bertiga saling menyanyikan setiap liriknya dengan kombinasi yang sempurna. Itu seperti mereka bertiga saling berdialog, membuat lirik lagu itu terasa seperti konflik yang nyata.


Tak lama kemudian, mereka bertiga secara serempak menyanyikan bagian lirik yang sama berulang-ulang. Hingga akhirnya, lagu selesai.


Lagu itu sendiri memiliki durasi yang tak lebih dari 4 menit, tapi cerita di balik liriknyalah yang membuat lagu itu terasa sangat lambat.


Mereka bertiga selesai, dan alunan suara dari alat musik mereka telah berhenti.


Detik kemudian, riuh tepuk tangan dari puluhan penonton di sana segera muncul, menggantikan lagu mereka yang telah selesai.


Shion bersama laki-laki pemain bass itu berdiri di samping Izaya, lalu tersenyum tipis. Ketiganya menunduk dan secara serempak mengucapkan, "Terima kasih! " pada para penonton yang hadir.


Tepuk tangan tak berhenti, dan berbagai sorakan pujian yang meminta mereka untuk mengulang lagu itu terus bermunculan.


Meskipun begitu, mereka tampaknya tak memaksa ketiganya untuk memainkan satu lagu lagi, dan justru melemparkan sejumlah uang ke dalam tas biola Izaya yang dibiarkan terbuka di tanah.


Ketiganya saling menatap sejenak, dan kemudian tersenyum. "Terima kasih banyak! " ucap mereka sambil kembali membungkuk pada para penonton yang terus melemparkan uang mereka.


Tak lama kemudian, sebagian besar penonton mulai meninggalkan tempat itu dengan ekspresi puas di wajah mereka. Bahkan, ada beberapa orang dewasa yang sebelumnya tampak lelah dengan pekerjaan mereka, lalu wajahnya seketika berubah menjadi penuh semangat setelah menonton pertunjukan musik yang sederhana itu.


" … Entah bagaimana aku harus berkomentar … Itu Luar biasa … "


Waka dengan penuh kekaguman juga memperhatikan proyeksi tiga orang itu, sementara Muku yang ada di sampingnya mengangguk singkat. "Aku tidak tahu kalau kau bisa bernyanyi, Anzu."


"Ohh, semua orang bisa melakukannya, jika mereka mau berlatih dan mengimprovisasi suara yang mereka miliki."


"Kau mungkin benar, tapi kombinasi yang sempurna seperti itu tidak bisa dilakukan jika kalian tidak memiliki bakat untuk itu. Berapa lama kalian berlatih? Itu tidak terlihat seperti pertunjukan yang dilakukan pemula."


"Daripada itu, siapa laki-laki yang memainkan bass bersama kalian? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya."


"Ohh, umm … K-kalian luar biasa … "


Berbagai komentar positif seketika membanjiri Anzu, dan membuatnya merasa malu sejenak. Itu adalah proyeksi dari ingatannya yang sudah sangat lama, jadi ia hampir melupakan beberapa detail penting di sana. Tapi, tampaknya proyeksi itu bahkan secara sempurna menampilkan setiap detail yang tidak terlalu ia ingat.


Dari semua komentar positif itu, ada satu suara yang terasa sangat berbeda. Itu berasal dari Olivia, yang dengan murung bertanya tanpa berbalik untuk menatap Anzu.


"Bisa aku tanyakan satu hal? "


" … Apa? "


Terdapat jeda yang cukup panjang antara respon Anzu dengan lanjutan pertanyaan dari Olivia.


"Untuk apa kalian mengumpulkan semua uang itu? Aku yakin kalau kau memiliki sejumlah uang di rekeningmu, dan Iza memiliki lebih banyak uang dari yang bisa kupikirkan. Jadi aku tidak mengerti kenapa kalian melakukan semua itu untuk mengumpulkan uang yang jumlahnya tidak terlalu besar."


" … Jika proyeksi ingatan ini terus berlanjut … Kurasa, kau akan mengetahui jawabannya."


Bukan jawaban langsung yang keluar dari mulut Anzu, melainkan sebuah jawaban samar yang meminta dirinya untuk mencari tahu sendiri.


Dan tepat seperti yang Anzu katakan, adegan proyeksi terus berlanjut.


Semua penonton yang sebelumnya berkumpul di sana telah pergi, dan stasiun itu mulai sepi.


Langit berubah menjadi semakin cerah, matahari juga telah berada pada puncak takhtanya, dan ketiganya duduk di kursi taman sambil menghitung berapa banyak uang yang mereka dapatkan.


"12.000 Yen untuk sekali tampil, huh … Itu benar-benar uang dalam jumlah besar … Aku merencanakan satu kali tampil lagi untuk sore nanti, tapi … Kurasa itu tidak diperlukan."


Tentu saja itu adalah jumlah yang sangat besar, mengingat semua uang itu mereka dapatkan dari bayaran sukarela orang lain.


"Berapa yang kalian inginkan? Haruskah kita membaginya secara rata? Sebenarnya, aku hanya butuh 3500 Yen," ucap Izaya sambil menatap bolak-balik antara Shion dengan laki-laki itu.


Sesaat kemudian, laki-laki itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kau tidak perlu membayarku. Aku bermain karena aku suka dengan itu, dan mengamen dengan kalian juga cukup menyenangkan. Panggil aku jika kalian butuh bantuan."


Usai mengucapkan itu, laki-laki itu kemudian langsung pergi menjauh dari mereka berdua.


"Sebenarnya … Aku juga tidak terlalu membutuhkan uang itu. Tapi, aku akan senang jika kau memberiku sekitar 2000 Yen."


"Baiklah, ini."


Izaya memberikan dua lembar uang 1000 Yen pada Shion, lalu melipat semua uang yang tersisa.


"Akan kau gunakan untuk apa semua uang itu? "


Shion tentu tahu seberapa banyak nominal yang ada di rekening Izaya, dan karena itulah ia heran mengapa Izaya sampai repot-repot melakukan semua hal itu untuk mendapatkan uang.


Anzu diam-diam tersenyum lembut saat matanya menyipit tenang pada proyeksi dirinya di masa lalu.


"Aku ingin membeli sebuah kristal biosphere. Ecosphere terlihat sangat bagus untuk menjadi hadiah, dan aku memesan secara langsung pada pengrajin untuk membuatkan satu yang bertemakan langit malam."


"Ahh, aku mengerti … Tidak, sebenarnya tidak. Kenapa kau sampai repot untuk mendapatkan uang? "


Olivia menelan ludahnya, tampak tak sabar dengan jawaban yang akan Izaya berikan.


Izaya mengangkat bahunya dengan ringan, dan bersandar pada sandaran kursi taman itu setelah menghela napas panjang sejenak.


"Yahh, kau tahu … Ada banyak uang di rekeningku, tapi semua uang itu adalah hasil yang kudapatkan setelah menimbun sebagian besar uang bulanan yang dikirimkan padaku. Aku tidak ingat berapa banyak uang yang kuhasilkan sendiri, jadi aku hanya bisa menghasilkannya kembali dari awal."


" … Pada dasarnya … Ini hanya kehendak pribadimu yang ingin membelikan Ayano hadiah menggunakan uang yang kau dapatkan sendiri, ya … "


Shion bergumam, dan Izaya seketika menoleh padanya, memberikan senyum lembut yang bahkan membuat Shion membeku sejenak.


Setelah beberapa saat, akhirnya Shion kembali normal. Dia menghela napas panjang, dan ikut menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu.


"Sangat mudah untuk menghasilkan uang jika kau berbakat, ya … "


" ……… "


Semua orang terdiam setelah mendengar alasan Izaya melakukan semua hal itu.


Tentu saja, mereka tak menduga kalau dia akan menjawab pertanyaan Shion seperti itu. Dan dari semua orang, yang paling terkejut di sana adalah Olivia.


Dia memiliki mata yang kosong, dan ekspresi di wajahnya tampak hampa. Namun, samar-samar, Anzu dan Iris dapat melihat senyum yang sedikit terbentuk di bibir Olivia.


Ini seperti dia yang merasa sangat senang, tapi tak tahu dengan bagaimana ia harus menunjukkan perasaannya. Jika Noelle ada di sana, Olivia pasti akan langsung berlari padanya dan memeluknya sekuat tenaga sambil menciumnya berkali-kali.


Jelas mereka tak ingin melihat pemandangan itu, jadi mereka bersyukur bahwa Noelle tak ada di sana.


...****************...


Adegan kembali berganti, tampaknya tempat itu belum selesai memproyeksikan ingatan yang dimiliki Anzu.


Kali ini, tempatnya bukan di stasiun, melainkan sebuah pusat perbelanjaan besar yang cukup ramai.


Itu adalah satu hari sebelum natal, tidak heran kenapa ada banyak orang di sana.


Di tempat itu, sosok Izaya bersama Shion yang masih membawa alat musik mereka tampak cukup menonjol.


Keduanya dalam diam berkeliling dan memasuki salah satu toko. Tak lama kemudian, mereka keluar, membawa beberapa paper bag yang penuh dengan perlengkapan aksesoris kecil dan pembungkus kado.


"Di mana kita akan membuat buketnya? Ada banyak orang di rumahku, jadi kita tidak bisa ke sana."


" … Kau benar, kita juga tidak bisa ke apartemenku karena kemungkinan Ayano akan ada di sana."


Izaya diam sejenak untuk berpikir, lalu menjentikkan jarinya setelah mendapatkan ide.


"Aku tahu tempat yang bagus, ikuti aku."


Izaya mulai mempercepat langkahnya, dan dengan susah payah dikejar oleh Shion.


"Tunggu! Jangan berlarian! Apa kau tidak tahu seberapa beratnya gitar ini? "


Beberapa kali Shion hampir tersandung dan terjatuh, tapi untungnya Izaya membantunya agar ia tidak mengalami kecelakaan kecil yang memalukan itu.


"Maaf, maaf. Aku terlalu bersemangat, aku akan mentraktirmu nanti, jadi ayo kita cepat selesaikan ini."


"Ughh, baiklah. Aku juga sudah tidak mau pulang sekarang, terlalu berisik di sana … "


Pada akhirnya, Shion hanya bisa menghela napas lelah dan mulai berjalan sambil berusaha menyamai kecepatan Izaya.


Sampai akhirnya, mereka berhenti di satu tempat. Itu pasti tempat yang Izaya maksud.


" … Sebuah Cafe Manga? "


Sesuai dengan yang Shion katakan. Tempat yang mereka tuju itu adalah sebuah cafe manga. Shion cukup aktif dalam media sosial, jadi ia tahu kalau ini adalah tempat yang cukup terkenal belakangan ini. Tapi, ia sedikit tidak menyangka kalau Izaya akan membawanya ke sini.


"Ayo masuk."


Tanpa menunggu persetujuan dari Shion, Izaya langsung memasuki bangunan itu.


"Ahh– tunggu! "


Shion tak sempat protes, dia hanya bisa langsung berlari menyusul Izaya memasuki tempat itu, dan hasilnya …


Apa yang menyambutnya di sana adalah sebuah ruangan besar dengan suasana yang menenangkan. Meja resepsionis memiliki warna cokelat yang tampak menyatu dengan dinding krem pastel itu.


Shion tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri, dia dengan bingung melihat ke sekelilingnya, tanpa menyadari Izaya yang sudah selesai memesan tempat.


Dalam sekejap, tangan Izaya menyentuh lehernya, dan membuat Shion menggigil sejenak dengan wajah yang sedikit memerah.


"A-apa yang kau lakukan?! "


"Hehe, maaf. Kau terlihat lucu saat sedang bingung, jadi aku tergoda untuk mengganggumu sedikit."


"Kau–"


"Baiklah, lupakan tentang itu. Aku sudah memesan tempat, jadi ayo kita pergi ke sana."


Lagi-lagi, Shion tak bisa menyuarakan protesnya. Ini seperti dia terseret ke dalam arus yang dinamakan 'Izaya'. Dia hanya bisa dengan pasrah mengikuti ke mana Izaya pergi.


Mereka menyusuri lorong yang dipenuhi dengan pintu, dan akhirnya tiba di depan sebuah pintu dengan nomor 43 tergantung di atasnya.


Izaya memasukkan kunci ke kenop pintu, dan memutarnya sekali. Pintu terbuka, dan membuat mereka dapat melihat semua yang ada di balik pintu itu.


Itu adalah sebuah ruangan persegi, dengan ukuran yang kurang lebih 6 × 6 meter. Ukurannya mungkin sama seperti kamar di apartemen Izaya.


Mereka berdua masuk, dan Izaya langsung menutup pintunya.


"Aku dengar ini adalah tempat yang akan melindungi privasi pelanggannya, jadi kurasa ini adalah tempat yang tepat. Tapi … Serius, tempat ini lebih mirip seperti hotel kecil."


Mereka semua dengan mudah setuju pada apa yang Izaya katakan.


Memang ada beberapa rak buku yang penuh dengan manga dan novel dalam berbagai genre, tapi tempat itu lebih mirip seperti kamar hotel mengingat semua yang ada di dalamnya.


"Baiklah … Kita akan membuatnya di sini."


Izaya meletakkan biola miliknya di sudut ruangan, lalu duduk di atas karpet tebal yang lembut sambil mengeluarkan semua barang yang sudah ia beli dari pusat perbelanjaan.


Shion tanpa mengatakan apa pun ikut duduk dengannya, dan mulai memeriksa semua barang yang ia beli.


Semuanya sudah sesuai, Shion mengangguk dan menata setiap peralatan itu hingga rapih dan enak untuk dilihat.


Namun, pandangannya terfokus pada satu hal. Itu adalah benda yang Izaya pegang dengan kedua tangannya.


"Ketika kau mengatakan biosphere, apa itu yang kau maksud? "


Apa yang ada di tangan Izaya adalah sebuah bola kristal dengan bagian kayu sebagai tatakan. Bukan bola kristal biasa, melainkan sebuah ekosistem mini yang sepenuhnya ada di dalam kristal itu.


Ada sebuah gunung bersalju di bagian puncak, dengan sungai kecil di bawahnya, dan kristal itu juga memiliki warna biru gelap yang menjelaskan kalau latarnya adalah malam hari.


Beberapa bintik putih yang entah terbuat dari apa terlihat melayang di dalam kristal itu, tampaknya dibuat untuk menjadi 'bintang' yang menghiasi langit malamnya.


"Biosphere yang indah … Aku tidak menyangka kalau kau akan memberikan itu pada Ayano."


Shion dengan mata yang memancarkan cahaya ketertarikan itu menatap biosphere di tangan Izaya tanpa berkedip sekali pun.


"Yahh, kau tahu … Ayano selalu menyukai pemandangan langit malam, jadi aku mendapatkan ide untuk memberinya hadiah yang terkait dengan sesuatu yang dia sukai. Sejujurnya, akan lebih bagus jika aku bisa mendapatkan biosphere yang bertemakan festival cahaya, tapi itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuatnya, jadi aku hanya bisa memesan yang sederhana ini."


"Begitu, ya … Aku harap dia menyukainya."


"Hehe, terima kasih atas dukunganmu. Sekarang, ayo kita selesaikan buket ucapan ini, aku sudah mengumpulkan surat ucapan selamat ulang tahun dari semua orang yang mengenal Ayano, jadi kita seharusnya bisa menyelesaikan ini dengan cepat."


"Baiklah."


...****************...