[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 139: Neutral Enemies (10)



...****************...


"Hmm … Kupikir ini akan jadi sangat menarik karena kehadiran Knight of Round dan Asterisk, tapi … Ini cukup membosankan."


"Apa anda bersenang-senang, Nona? "


Di suatu tempat di area bawah tanah Eisen. Seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat menawan dan berpakaian sopan dengan kimono merah bermotif bunga itu menatap kerumunan monster yang tersisa di atas sebuah gedung yang hampir hancur fondasinya.


Wanita itu memiliki rambut hitam yang ditata dengan rapih dalam bentuk yang mirip dengan kuncir kuda, dan di tangannya, ia memegang sebuah payung tradisional yang dikenal sebagai wagasa.


Berdiri secara diagonal di belakangnya, seorang pria tua dengan postur tegap berbicara dengan wanita muda itu.


Kimono dengan paduan warna yang indah antara hitam dan putih itu tampak bergoyang setiap kali angin menimpanya. Wanita itu menghela napas sambil memejamkan matanya, menciptakan sebuah penampilan yang sangat menawan.


"Tidak mungkin aku bisa bersenang-senang di sini, Hayase. Olpus dan yang lain akan marah jika tahu kalau aku baru saja ikut campur dalam pertarungan itu."


Wanita itu menyebut nama Olpus dengan mudahnya seolah tanpa beban. Hanya dengan itu saja seharusnya sudah cukup untuk menjelaskan kalau wanita itu bukanlah orang normal.


Wanita itu sebenarnya adalah salah satu Voyager yang datang untuk mengawasi bagaimana semua hal berjalan di Eisen.


Namun, melihat bagaimana semua hal yang telah terjadi di Eisen, dia merasa sia-sia karena telah datang.


(Aku datang untuk menghormati keputusan Tetua yang ingin menjaga kehormatan keluarga Sawano, tapi … Kurasa aku tidak dibutuhkan di sini.)


Namanya adalah Sawano Yukine. Ia memang memiliki kebangsaan yang berbeda dengan Olpus dan yang lain, tapi kedua negara mereka telah bekerjasama sehingga Yukine harus datang ke tempat ini sebagai salah satu dari Voyager.


Benar-benar merepotkan, pikir Yukine pada awalnya. Namun, setelah menyaksikan bagaimana orang-orang di tempat ini berkembang, ia menjadi semakin tertarik dan akhirnya tenggelam dalam kesenangan dan rasa penasaran saat memperhatikan bagaimana semua orang dapat berkembang.


"Anda mengatakan itu, tapi Anda sebelumnya telah turun tangan langsung untuk menguji mereka bertiga, 'kan? " ucap Hayase sambil tersenyum tipis.


Menanggapi itu, Yukine hanya menunjukkan wajah datar tanpa ada perubahan besar pada ekspresinya.


"Mereka berempat. Dengan satu orang yang menyamar sebagai seekor kelelawar kecil."


Empat orang yang Yukine maksud tentu saja orang-orang yang terjebak bersama Noelle sebelumnya.


"Begitu, ya. Lalu, bagaimana pendapat Anda setelah menguji mereka semua secara langsung? "


'Menguji' yang Hayase maksud adalah saat Noelle dan yang lain harus berhadapan dengan musuh tak dikenal dengan kehadiran yang sangat tipis itu.


Sosok musuh tak dikenal itu sebenarnya adalah seorang wanita yang sangat cantik bernama Sawano Yukine. Tentu saja, Noelle dan yang lain tidak mungkin menduga hal itu.


Orang yang membuat Noelle dan yang lain terjebak dalam sebuah pembatas tanpa akhir itu adalah orang yang sama dengan yang menyerang mereka, itu tidak lain adalah Yukine seorang.


《Unlimited Imprisonment》adalah nama dari skill spesial yang Yukine miliki. Skill itu memiliki fungsi berupa menciptakan sebuah penghalang yang memisahkan area di dalam penghalang, dengan dunia luar.


Dengan skill itu, Yukine telah menjebak Noelle dan yang lain dalam sebuah sangkar ilusi yang tak dapat dihancurkan bagaimanapun caranya.


Meskipun disebut sebagai sebuah skill yang spesial, baik kemampuan dan kekurangan dari skill ini mirip dengan《Absolute Cube》yang dimiliki Damian.


Satu-satunya yang membedakannya adalah, penggunaan skill ini sama sekali tidak dapat dideteksi oleh orang lain. Jadi, musuh tidak akan pernah tahu kalau mereka telah terjebak dalam penjara tanpa batas milik Yukine.


Yukine kemudian menarik ujung gagang payungnya, menunjukkan sebilah pedang yang tampak sangat tajam. Payung itu memiliki fungsi lain sebagai sarung untuk pedangnya.


Beberapa kelopak bunga merah muda juga tampak berterbangan di sekitarnya saat ia menarik pedang itu.


"Yahh, kekuatan mereka rata-rata. Meskipun aku bisa merasakan perbedaan kekuatan yang sangat jauh antara mereka dengan semua orang yang ada di sini. Tapi, yang paling mencolok adalah orang bernama Lucius dan Noelle itu. Aku tidak bisa menebak batas kekuatan mereka."


"Bisakah saya mengetahui apa maksud Anda? "


Yukine tersenyum senang, dan menjawab, "Aku tidak bisa melihat kekuatan penuh mereka. Mereka berdua masih menahan diri dalam pertarungan sebelumnya. Mereka juga memiliki banyak potensi sehingga dapat berkembang dengan cepat kapan saja."


" … Itu terdengar seperti sesuatu yang luar biasa … "


"Benar, 'kan? Awalnya aku tertarik untuk menculik dan menjadikan mereka murid keluarga Sawano, tapi aku segera berubah pikiran karena mereka tidak mungkin akan menerima tawaran itu."


Hayase melebarkan matanya, jelas terkejut dengan apa yang Yukine katakan.


"Mewarisi gaya bertarung dari keluarga Sawano seharusnya menjadi kehormatan untuk rakyat jelata seperti mereka. Mereka seharusnya tidak boleh menolak kesempatan sekali seumur hidup itu."


Tawa kecil keluar dari bibir Yukine yang mempesona. Tatapannya dengan lembut memandang tanah yang kini dipenuhi oleh mayat monster berbentuk anjing yang menjijikkan.


"Kesetiaan yang kau miliki terhadap keluarga Sawano memang selalu mengagumkan, Hayase. Tapi kau harus mengurangi sifat kesombonganmu itu karena itu dapat menjadi bumerang suatu saat nanti."


"Aku akan mengingatnya. Lalu, bagaimana dengan dua orang lagi? Apa pendapat Anda tentang mereka? "


"Hmm … Dua gadis bernama Tania dan Olivia, ya … Aku akui kalau mereka berdua juga cukup kuat, tapi potensi yang mereka miliki tidak sebanyak Lucius dan Noelle. Walaupun … Aku merasa kalau kedua gadis itu adalah tipe orang yang dapat berkembang dengan sangat cepat ketika mereka memiliki alasan untuk melakukannya. Terutama, gadis bernama Olivia yang sekarang sedang menyamar menjadi kelelawar itu. Aku bisa merasakan banyak potensi menarik dari dirinya."


"Apa Anda membicarakan tentang sihir es yang sebelumnya? "


Yukine mengangguk.


"Ya. Sihir es itu,《Frostnova》adalah sihir tingkat tinggi yang tidak mungkin bisa digunakan oleh orang biasa. Gadis bernama Olivia itu memiliki mana yang sangat banyak di tubuhnya, aku rasa dia bisa menggunakan sihir sebesar itu berkali-kali dalam waktu 12 jam."


" … Dia terdengar sangat kuat. Apa tidak masalah membiarkan mereka semua lepas sekarang? Mereka bisa saja menjadi masalah di masa depan."


"Itu mungkin akan terjadi, tapi kita akan serahkan itu pada Olpus dan yang lain. Satu-satunya tugas yang kita miliki di sini adalah mengawasi. Selain itu … Kita sudah mendapatkan apa yang menjadi tujuan kita."


Yukine tersenyum, kemudian mengeluarkan sebuah bulu besar dari sela pakaiannya.


"'Bulu malaikat', salah satu katalis yang sangat penting dalam 'penciptaan senjata malaikat'. Aku tidak menyangka kalau Earl itu akan mempunyai barang ini di rumahnya."


...****************...


Satu batalion penuh dengan serangga pembusuk milik Arnaz dengan cepat maju dan menerobos kerumunan, melelehkan semua monster yang disentuhnya.


Di sisi lain, ratusan kartu remi yang keluar dari lengan baju Ethan itu terus terbang dan menebas semua tubuh monster itu dengan sangat mudah, seolah-olah kartu itu adalah sebuah pedang yang sangat tajam.


Damian juga tak tinggal diam, dia mengayunkan kedua pedangnya dengan gerakan yang sangat halus tanpa ada sedikit pun celah, membuat semua monster yang ada di sekelilingnya seketika tewas dalam keadaan terbelah dengan sangat rapih.


Asher ikut bertarung dengan menusukkan tombaknya ke tanah, dan menciptakan banyak duri dari batu untuk menembus senua pertahanan monster. Itu adalah jenis serangan yang sangat efektif untuk melawan kerumunan monster.


Sementara itu, satu-satunya orang yang tak memiliki kekuatan serangan melawan para monster di kelompok itu, Lucia hanya bisa diam sambil memperhatikan semua 'rekannya' bertarung.


Bukan berarti ia tidak memiliki cara untuk bertarung melawan monster, hanya saja kemampuan yang ia miliki itu sedikit merepotkan karena dapat berpengaruh pada orang-orang di sekitarnya juga.


Mayoritas skill serangan yang dimiliki Lucia adalah serangan kuat dengan jangkauan area yang luas. Itu sedikit merepotkan karena ia tidak bisa mengatur siapa saja yang tidak boleh kena oleh serangan itu.


Meskipun begitu, serangan area miliknya setidaknya akan jauh lebih berguna daripada seorang gadis yang hanya bisa tertidur di atas sebuah bantal besar.


Setelah melakukan penyerangan berskala besar di Rondo, dan melawan para monster yang menyerang di area lain sebelumnya, kini Colyn telah kehabisan tenaganya sehingga ia bahkan tidak mampu mengeluarkan kemampuan《Inviolable Area》miliknya yang ia banggakan itu.


Sedangkan Noelle, dengan bimbingan dari Olivia yang memiliki kemampuan ekolokasi dalam bentuk kelelawarnya, Noelle telah menghabisi monster dalam jumlah yang sudah tidak bisa ia hitung lagi.


Beberapa waktu telah berlalu sejak Noelle terbebas dari penjara tanpa batas yang menjebaknya sebelumnya, dan sejak itu pula para monster yang tersisa mulai berdatangan.


Saat ini, Tania sedang berkeliling Eisen untuk menghancurkan semua 'gerbang' yang terbuka itu, sementara Lucius dan Asterisk yang lain bekerja sama untuk menghabisi para monster yang tersisa.


Setelah Pangeran dan teman-temannya diamankan ke tempat lain, sudah tidak ada alasan bagi Lucius untuk merasa ragu. Ia bisa bebas bertarung tanpa harus khawatir dengan keadaan Norman dan yang lain.


Dari tempatnya, Noelle dapat melihat bagaimana cara Lucius bertarung.


Tak diduga, gaya bertarung yang Lucius gunakan terlihat sangat mengagumkan di mata Noelle.


Sana sekali tak ada pemborosan dari gerakannya. Setiap gerakan yang ia lakukan telah menghasilkan suatu serangan yang dapat dengan mudah menghabisi musuh.


Noelle terus membunuh monster sambil memperhatikan gaya bertarung Lucius, dengan tujuan agar ia bisa mempelajarinya dan mengadopsi, lalu memadukan gaya bertarung itu ke gaya bertarungnya sendiri.


{Noelle, arah jam 9. Lebih dari 40 monster itu muncul. 20 detik tersisa sampai bentrokan.}


(Dimengerti.)


Noelle mengarahkan semua pedangnya ke tempat yang Olivia maksud, dan membuat pose kuda-kuda yang kuat.


Posturnya seolah mengatakan kalau ia siap untuk menghunus ke depan kapan saja.


Noelle tanpa mengatakan apa pun lagi langsung maju ke depan dengan semua ujung pedangnya yang menargetkan setiap monster yang ia lihat.


Satu per satu kepala monster itu ditancapkan dengan pedangnya yang tajam, dan sejumlah monster lainnya dengan sangat mudah terbelah, menyisakan organ dalam mereka yang menjijikkan itu keluar.


Jika itu sesuai dengan yang ia pikirkan, maka ini seharusnya akan menjadi gelombang monster terakhir. Sekarang ia hanya perlu menunggu sampai Tania selesai menutup semua gerbang ke dunia bawah.


Untungnya, tak ada monster aneh seperti yang mereka hadapi di awal. Monster yang muncul di sini hanyalah monster kecil berbentuk anjing yang hanya sedikit lebih kuat dari sekelompok goblin.


{Arah jam 10, delapan monster lagi datang. Disarankan untuk menyerang dari atas agar bisa berganti target dengan mudah.}


(Dimengerti.)


Menuruti saran Olivia, Noelle langsung melompat jauh ke atas, dan mengeluarkan Aligma.


Tak butuh waktu lama hingga Aligma sepenuhnya diisi dengan energi sihir dari Noelle.


Noelle tanpa berbasa-basi lagi langsung menarik pelatuknya, dan menembakkan gelombang energi yang sandar kuat pada kerumunan monster itu.


Begitu Noelle mendarat ke tanah, Noelle langsung merapalkan sihir gravitasi yang mengganggu pergerakan semua monster di sekitarnya.


Memanfaatkan kesempatan itu, anggota Asterisk yang lain juga langsung menyerang para monster yang telah dilumpuhkan oleh sihir gravitasi dari Noelle.


Asher melemparkan tombaknya yang bersinar itu ke udara, lalu mendarat tepat di tengah kelompok monster.


Tombaknya dengan cepat menjadi sebuah pilar cahaya yang memusnahkan semua monster itu tanpa sisa.


Noelle yang melihat itu kembali menggunakan sihir gravitasi untuk menarik semua monster ke satu titik.


Lucia tersenyum begitu melihatnya. "Terima kasih karena telah menyediakan panggung untukku."


Tangan Lucia terangkat ke atas, sementara kain hitam yang menutup matanya perlahan terlepas, menunjukkan dua mata emas yang dipenuhi dengan lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya.


Seketika, semua monster itu berhenti memberontak. Tubuh mereka kaku, dan mereka perlahan berubah menjadi batu.


(Mata Medusa, ya? )


Noelle yang melihat itu mau tak mau langsung menghubungkan kemampuan Lucia dengan makhluk mitologi dari bumi, Medusa.


Memang, itu sangat cocok untuknya.


"Dengan ini seharusnya sudah selesai, tapi … Apa Mordred sudah menghancurkan semua gerbangnya? "


Damian melihat ke sekitar, dan memastikan kalau sudah tidak ada monster yang terlihat. Tampaknya mereka benar-benar telah memusnahkan semua monster yang ada.


Namun, meskipun telah membunuh monster dalam jumlah yang sudah tak dapat ia hitung lagi, Noelle tak mendapatkan perasaan akan pencapaian apa pun.


Saat ini, pikirannya fokus pada satu hal.


Di mana Harold, yang seharusnya sedang menyamar sebagai Souris sekarang?


...****************...


Tak lama setelah mereka semua menghabisi monster yang tersisa, Tania akhirnya datang dan melaporkan kalau semua 'gerbang' telah ditutup.


Yang artinya, pekerjaan mereka di sini sudah selesai.


"Eh? Sudah selesai? Padahal aku baru bangun … "


Kalimat itu datang dari Colyn yang sedang menggosok matanya, sementara tubuhnya masih dengan lesu berbaring di atas sebuah bantal besar yang melayang.


"Tidak masalah jika kau melanjutkan tidurmu, kau tahu? Tapi tidak akan ada yang mau bertanggung jawab jika kau mati di sini."


"Aku juga abadi, kau tahu? "


Colyn menatap Arnaz dengan mata setengah terbuka, sementara Arnaz hanya membalasnya dengan senyum sinis.


Lucius memperhatikan semua anggota Asterisk yang berkumpul (kecuali Souris), lalu pandangannya berhenti pada Damian.


"Dari seragammu itu, kau adalah tentara Republik, 'kan? Sebaiknya kau berhati-hati mulai sekarang. Karena fotomu akan dipajang dalam poster buronan yang dirilis besok."


Meskipun Damian menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya, orang-orang yang cukup mengenalnya di militer Republik pasti akan dapat dengan mudah mengetahui kalau Damian sebenarnya adalah Ructus, anggota Asterisk yang dicari.


Untuk Noelle, dia tidak masalah dengan fotonya yang menggunakan topeng itu tersebar ke publik. Lagi pula, tidak akan ada yang langsung mengenalinya mengingat rambut putih dan kulit pucat bukanlah sesuatu yang jarang.


Damian menatap Lucius dengan kuat dari balik topengnya.


"Aku berterima kasih atas kepedulianmu, tapi sangat disayangkan karena aku sudah tidak peduli dengan itu. Kami sudah memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya kami lakukan."


Lucius dapat melihat keseriusan Damian bahkan melalui topeng itu. Dia memejamkan matanya dan mendengus dengan kesal.


"Yahh, jika apa yang kalian lakukan masih sejalan dengan keamanan negara dan dunia ini, maka aku akan membiarkan kalian. Tapi, jika tindakan kalian mulai melenceng … "


Saat Lucius membuka matanya, niat membunuh yang sangat kuat mengalir keluar seolah melarikan diri dari sangkar yang dinamakan 'menahan diri' itu.


Bahkan seseorang seperti Damian atau Noelle pun hampir kehilangan kekuatan di kaki mereka saat menghadapi niat membunuhnya.


Noelle diam-diam menggertakkan giginya dengan kuat, dan mengerahkan energi sihir untuk menyelimuti dirinya dan Olivia yang masih bersembunyi sebagai kelelawar.


Niat membunuh seseorang adalah sesuatu yang merupakan perwujudan dari emosi dan pikiran seseorang sehingga tidak mungkin bisa dihindari. Niat membunuh seseorang hanya akan menyakiti orang lain secara mental dan merusak moral mereka, tapi tidak memiliki pengaruh apa pun pada fisik. Namun, ada beberapa cara untuk bertahan dari paparan itu.


Salah satunya adalah menyelimuti tubuh dengan sesuatu yang memiliki sifat 'dapat mempengaruhi alam'. Contoh dari materi yang memiliki sifat itu adalah mana, atau yang juga dikenal sebagai partikel sihir.


Lucius berbalik tanpa menghapus niat membunuhnya, dan segera melompat tinggi ke atas, terbang menembus penghalang di langit-langit.


Sosoknya kemudian menghilang dari pandangan semua orang. Jelas kalau ia telah pergi.


Semua orang yang tersisa di sana seketika diam tanpa bisa mengatakan apa pun. Suasana yang canggung memenuhi udara, tapi itu hanya berlangsung sampai Damian mengalihkan pandangannya pada Noelle, lalu melepas topengnya.


"Souris, apa alasanmu meninggalkan kami dan justru membuat seseorang menyamar sebagai dirimu tadi? "


Noelle menghela napasnya dengan lelah. Setelah semua yang terjadi, kini ia harus terjebak dalam interogasi yang menyebalkan? Tidak, terima kasih. Noelle hanya akan menjawab pertanyaan Damian secukupnya saja.


"Yahh, kau lihat, ada banyak orang yang mengenalku di kota ini. Meskipun para petualang dan prajurit yang tersedia sekarang berada di tempat lain untuk membantu pengungsian penduduk, aku masih harus membuat alibi jika seseorang tiba-tiba bertanya tentang di mana aku berada saat penyerangan."


Itu adalah alasan yang telah Noelle siapkan. Kecurigaan terhadap dirinya dan Olivia masih belum luntur sejak kemunculan Nix Regina. Itu membuatnya harus bertindak dengan lebih waspada lagi karena ia tidak ingin terlihat dengan masalah yang merepotkan di antara penduduk.


"Itu masuk akal," Arnaz mengangguk, menyetujui apa yang Noelle katakan.


Asher maju, dan berdiri di hadapan Noelle. Tapi, ia kemudian berbalik dan menatap Damian seolah sedang membela Noelle.


Asher kemudian melepas topengnya dan berbicara pada Damian.


"Ructus, tindakan Souris tidak merugikan kita sedikit pun. Dia juga sudah menyuruh seseorang untuk menggantikan posisi dirinya sebagai 'Souris' untuk menghapus kecurigaan."


"Tapi, tetap saja … Tindakan yang Souris lakukan itu beresiko membocorkan identitas kita semua."


"Tapi, pada akhirnya resiko yang kau bicarakan itu sama sekali tidak terjadi, 'kan? Kalau begitu, biarkan dia. Aku yakin kalau kau juga akan melakukan hal yang sama dengan Souris jika dihadapkan pada situasi yang serupa."


" ……… "


Apa yang Asher katakan itu memang benar. Damian juga akan melakukan hal yang sama dengan Noelle jika ia terlibat dalam situasi yang sama dengannya.


Jika identitas Damian sebagai Asterisk terungkap, maka itu adalah akhir baginya. Semua bawahan yang mempercayainya, serta Claudia yang telah menjadi putrinya secara hukum pasti akan dalam bahaya jika itu sampai terjadi.


"Baiklah. Aku akan membiarkan tindakanmu kali ini. Tapi, aku mungkin tidak akan bisa menahan diriku jika hal ini terulang lagi. Apa kalian setuju dengan itu? "


Damian kemudian menatap semua anggota Asterisk yang tak terlibat dalam percakapan.


Karena struktur pengorganisasian Asterisk yang berdiri tanpa adanya pemimpin, semua keputusan harus diambil berdasarkan kesepakatan bersama. Jika ia ingin membuat sebuah aturan, maka setidaknya mayoritas anggota harus setuju dengan itu.


"Aku tidak masalah," ucap Lucia sambil tersenyum.


"Lakukan sesuka kalian," jawab Arnaz.


"Aku akan mengikuti keputusan apa pun selama itu terdengar bagus," kata Colyn.


Tania masih diam, tapi kemudian ia menatap Damian. "Aku setuju."


Damian mengangguk, dan berjalan pergi meninggalkan mereka.


Asher dan yang lain juga kemudian berjalan mengikutinya, sebelum akhirnya mereka semua terbang ke udara, keluar dari lubang masuk yang telah Asher ciptakan sebelumnya.


Sekarang, yang tersisa hanyalah Noelle dan Olivia.


Olivia yang masih dalam wujud kelelawar kecil itu keliar dari mantel Noelle, dan mewujudkan tubuh aslinya dengan cepat.


Dia tersenyum lembut pada Noelle, dan mengangkat kedua tangannya ke depan, seolah menarik Noelle yang kini berada tepat di hadapannya.


Tatapan Noelle secara alami melembut, sudah tidak ada lagi aura mengancam yang sejak tadi menyelimuti dirinya.


Noelle perlahan berjalan menghampiri Olivia yang berdiri tak jauh darinya, lalu membungkuk sedikit untuk membiarkan Olivia memeluk punggungnya.


"Selamat datang kembali. Kamu benar-benar menepati janjimu untuk kembali padaku, ya … "


"Unn. Lagi pula aku memang sudah di sini. Tidak mungkin aku bisa pergi jauh."


"Hmm … Padahal kamu tidak perlu mengatakannya begitu."


Olivia sedikit cemberut, tapi senyum tak menghilang dari wajahnya. Tangannya perlahan membelai dan mengelus rambut putih Noelle yang sangat halus itu.


" … Maaf."


Dia benar-benar kembali. Noelle telah kembali ke tempat ia seharusnya berada. Kini ia seharusnya tidak perlu memikirkan apa pun yang dapat merusak perasaan hangat yang memenuhi dirinya saat ini.


Tapi, apa-apaan ini? Ia seharusnya senang sekarang. Tapi, ada perasaan yang begitu menyakitkan memenuhi dirinya, seolah hatinya telah diremas oleh sesuatu.


Ini seperti … Dirinya telah kehilangan sesuatu yang amat berharga baginya. Dan ia tidak bisa mengingat apa itu.


...****************...