[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 325: Frustasi



...****************...


"Tolong bergantian, jangan rebutan."


Di tengah alun-alun desa, seorang gadis muda yang jelas merupakan manusia, kini sedang dikelilingi oleh belasan anak dari percabangan ras manusia. Mereka adalah anak-anak dari suku Artof.


Tania mengangkat kedua tangannya dan mencegah anak-anak itu merebut beberapa mainan di tangannya, sedangkan anak-anak lain terlihat senang saat mereka bermain dengan mainan mereka sendiri.


Semua itu adalah mainan yang Noelle miliki di gudangnya, dan Tania berinisiatif untuk membagikan dan bermain bersama para anak-anak itu.


Dia hanya mencari alasan untuk menghabiskan waktu.


"Aku mau yang itu! "


"Tidak! Itu milikku! "


"H-hei, Kak Tania bilang kita harus bergantian …."


Dari tempatnya duduk, Noelle bisa mendengar beberapa bocah dulu Artof mengatakan itu. Sementara itu, Tania terlihat kerepotan, meski dia tidak menunjukkannya langsung dengan ekspresinya.


Syukurlah dia bisa menangani mereka semua dengan baik.


Noelle mendengus dan kembali melihat bolak-balik antara Rudra dan Dolum yang ada di dekatnya.


Sementara Tania berurusan dengan para anak-anak, dia di sini bertugas untuk memberitahukan Rudra dan Dolum tentang hasil penyelidikannya.


Dia dan Dolum duduk di atas panggung sebuah pondok kayu kecil, sedangkan Rudra tetap berdiri tanpa berani menginjakkan kakinya ke atas lantai pondok.


Bagaimanapun, dia memiliki bobot yang setara dengan beberapa pria dewasa. Pondasi pondok itu tidak akan kuat menahannya.


"Jadi, apa hasil pencarianmu itu? "


Rudra bertanya dengan suara berat, yang terdengar mengintimidasi, tapi di saat yang sama juga menenangkan, seolah suaranya saja sudah cukup untuk membuat semua orang merasa aman.


"Tentang itu …."


Noelle bergumam dan berpikir sejenak. Dia sudah memiliki jawaban untuk pertanyaan itu, tapi dia masih mencari cara untuk menjelaskannya.


"Grei."


Beberapa saat setelah kebeningan menguasai, Tania tiba-tiba datang dan memanggilnya dengan nama palsu yang sudah ia gunakan selama beberapa hari ini.


Tangannya sudah kosong, yang berarti dia sudah selesai membagikan semua mainan itu. Tania pun berjalan ke arah kelompok, dengan ekspresi datar, dan mata yang menyorot langsung pada Noelle.


Melihat kehadirannya, Noelle pun mengangguk, lalu menatap bolak-balik antara Rudra dan Dolum.


"Ada berita baik dan berita buruk. Aku akan memberitahumu berita baiknya terlebih dahulu."


Rudra mengangguk untuk memberikan persetujuannya.


Setelah membiarkan Tania duduk di sampingnya, Noelle pun langsung bicara.


"Berita baiknya, kami sudah menemukan lokasi katalis ketiga itu."


Katalis ketiga, darah ratu. Dari tiga katalis, itulah yang paling sulit ditemukan karena minimnya informasi dan petunjuk. Meski begitu, mereka tetap menemukannya.


"Benarkah?! "


Noelle sudah memprediksi reaksi itu. Persis seperti Dolum beberapa saat yang lalu.


Dolum tidak terlalu terkejut karena dia sudah tahu lebih awal, tapi gerak-gerik Rudra dalam mengekspresikan keterkejutannya terlihat sangat menarik di mata Noelle.


Noelle mengangguk, mengonfirmasi jawaban atas pertanyaan spontan yang diajukan Rudra.


"Yahh, berterimakasihlah pada Tania, karena dialah yang pertama menemukan itu."


Tanpa basa-basi, Rudra dan Dolum pun langsung menatap pada Tania, dan menundukkan kepala mereka saat mereka dengan serius mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih."


"Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi terima kasih."


Di sisi lain, Tania hanya mengangkat bahunya dengan ringan sambil mengangguk sekali. "Tentu," ucapnya.


Setelah Noelle berdeham, fokus mereka berdua akhirnya kembali.


"Yahh, seperti yang kukatakan, bukan hanya brruta baik yang akan kusampaikan."


Dolum menelan ludah dengan cemas. "A-apa berita buruknya? "


Rudra tidsk mengatakan apa pun, dan hanya fokus menunggu jawaban dari Noelle.


"Yahh, itu … berita buruknya adalah jawaban ini masih belum pasti. Seperti yang sudah kukatakan, kami menemukan lokasinya. Tapi, kami sama sekali belum mengetahui apakah katalis itu memang ada di sana atau tidak."


" … Hanya itu? "


Dolum berkedip beberapa kali, seolah tidak percaya dengan jawaban yang baru ia dengar.


Dia berpikir kalau berita buruknya pasti akan jauh lebih serius lagi. Tapi ternyata, ini berbeda dengan yang ia prediksi. Masalahnya ternyata cukup sederhana.


Itu bukanlah masalah yang besar. Dolum berpikir begitu, dan semua orang juga sepakat dengannya. Namun, Dolum tiba-tiba penasaran, mengapa Noelle memasukkan masalah itu ke dalam kategori 'berita buruk'?


Itu adalah masalah yang tidak dapat Noelle jelaskan.


"Jadi? Di mana katalis ketiga itu sekarang? "


Pertanyaan Rudra kembali membawa kesadaran Noelle keluar dari pikirannya sendiri. Noelle pun memandanginya sekilas.


"Darah ratu ada padamu, Rudra. Kemungkinan besar itu ada di dalam tubuhmu."


Itu informasi yang mengejutkan, baik untuk Rudra, atau bahkan Dolum.


Dolum memang sudah tahu kalau darah ratu ada pada Rudra, tapi dia tidak menduga kalau darah itu ada di dalam tubuhnya. Dolum kini bertanya-tanya, di mana tepatnya darah itu berada? Apakah mengalir bersama darah Rudra sendiri di tubuhnya? Dolum tidak yakin.


Di sisi lain, Rudra terdiam. Dia melihat telapak tangannya sendiri, yang hanya berupa logam hitam berkilau yang penuh dengan goresan.


Noelle yakin, kalau Rudra memiliki pemahaman yang berbeda dari Dolum.


Setelah beberapa saat diam memandang tangannya sendiri, Rudra sedikit menunduk, seolah baru saja menghela napas.


Kata-katanya berikutnya mengejutkan Dolum, dan Noelle serta Tania yang ada di sana.


"Jadi itu benar, ya? Bahwa aku sudah kehilangan tubuh fisikku? "


Ketiganya melebarkan mata mereka.


Noelle dan Tania saling memandang sejenak, lalu mengangguk.


Mereka tidak tahu kapan Rudra menyadarinya, tapi mereka lega karena Rudra dapat bersikap tenang meski menghadapi kenyataan itu.


Secara logika, memang sudah tidak masuk akal bagi manusia biasa untuk hidup selama lebih dari 600 tahun. Sekarang Rudra memahaminya. Dia juga yakin kalau apa yang ia pikirkan selama ini rupanya memang benar adanya.


Rudra sudah tahu bahwa dirinya bukan lagi makhluk hidup, melainkan hanyalah zirah bernyawa yang terus melanjutkan hidup tanpa arti yang jelas di dalam sebuah kota yang tersegel dari dunia luar.


Noelle, Tania dan Rudra sudah memahami itu. Namun, Dolum sebaliknya.


Dia masih belum memahami dengan baik apa yang baru saja ia dengar itu.


Melihat kebingungannya, Noelle pun lanjut menjelaskan, "Tidak seperti kita, Rudra sudah tidak memiliki tubuh fisiknya lagi. Saat ini, tidak ada apa pun di dalam zirah itu."


Noelle kemudian membuktikannya dengan mengetuk zirah Rudra beberapa kali, dan hasilnya seperti yang diharapkan; suara ketukannya bergema, yang membuktikan ada ruang kosong yang cukup luas di dalam sana.


Dolum merasa berat untuk memahami dan mempercayainya. Tapi, dia tidak bisa melakukan apa pun selain menerima penjelasan itu.


Tidak mungkin dia bisa menerimanya begitu saja. Tapi, memangnya apa yang bisa dia lakukan? Marah pun tidak akan mengembalikan tubuh fisik kesatria yang amat dibanggakan itu.


Dolum sedikit menutup matanya. "Aku … mengerti itu. Tapi, apa yang kau maksud darah Ratu Bengis ada padanya? "


Rudra juga menoleh pada Noelle, menyiratkan bahwa ia mengizinkan Noelle untuk memberi tahu Dolum tentang itu.


Noelle kini bersyukur karena Dolum cukup perhatian dan menyadari situasinya dengan baik. Jika Rudra kalah dari sifat baiknya dan menolak memberi tahu Dolum tentang itu, maka semuanya akan jadi lebih menyulitkan.


Setelah mengangguk sekali, Noelle akhirnya menjawab, "Yang ingin kukatakan adalah, darah itu secara harfiah ada di dalam Rudra. Ratu Bengis menyimpan sampel darahnya sendiri di dalam zirah Rudra."


Mengesampingkan Rudra dan Dolum yang memiliki reaksi terkejut, Tania di sisi lain terlihat biasa saja. Itu wajar, karena sejak awal, dialah yang pertama kali menyadari itu.


"Baiklah, kalau begitu … Tania, aku serahkan padamu penjelasan lebih lanjutnya."


Noelle melakukan peregangan sejenak, lalu memejamkan matanya. Tania pun mengangguk, dan melihat bolak-balik antara Rudra dan Dolum.


Tania sendiri tidak terlalu memikirkannya, tapi seksrang dia sadar bahwa perbedaan antara manusia biasa dan suku Artof benar-benar sangat mencolok.


Rudra dan Dolum sejatinya berbagi kebangsaan yang sama, jadi seharusnya mereka tidak terlalu berbeda. Namun, jika melihat mereka disandingkan begini, rasanya perbedaan itu jadi semakin mencolok.


Tinggi Rudra hampir tiga kali lipat dari tinggi Dolum sendiri. Itu membuktikan betapa drastisnya transformasi yang disebabkan evolusi paksa mereka.


Ditatap begitu membuat Dolum merasa sedikit tidak nyaman, jadi dia hendak menanyakan sesuatu terkait Noelle. Namun, sebelum dia dapat bertanya, Tania sudah lebih dulu menjawab, seolah sudah mengetahui apa yang akan ia tanyakan.


"Grei sedang memeriksa tubuh Rudra. Itu sedikit istimewa, jadi Grei harus lebih konsentrasi untuk bisa melihatnya dengan jelas."


Meski Noelle memejamkan matanya, dia sebenarnya sedang lihat menembus zirah Rudra dengan kemampuan《Clairvoyance》miliknya.


Tidak seperti saat Noelle memeriksanys di dalam penghalang kota, kali ini penghalang yang melindungi jiwa Rudra adalah buatannya sendiri. Meski dibuat dengan meniru penghalang aslinya, itu masih memiliki beberapa kecacatan sehingga ketahanannya cukup rapuh.


Noelle khawatir, jika dia menggunakan《Clairvoyance》untuk melihat ke dalam, itu akan mempengaruhi fungsi penghalang, mengingat penghalang itu dipasang tepat di lapisan dalam zirah.


"Selain itu, katalis ketiga, atau darah ratu ada di tempat yang benar-benar sulit untuk dijangkau," jelas Tania.


Darah itu ada di zirah Rudra. Meski kedengarannya sederhana, tapi sebenarnya proses untuk mendapatkannya sangatlah sulit.


Jika ingin mendapatkannya dengan cara biasa, maka mereka hanya perlu melepas zirah Rudra untuk kemudian mengambil sampel darah ratu yang ada di sana. Tapi sayangnya, itu tidak bisa dilakukan karena zirah itu sudah saling menempel menjadi satu kesatuan.


Lagi pula, zirah itu pada dasarnya sudah menjadi tubuh Rudra sendiri. Sehingga jika mereka melepasnya, itu sama artinya dengan membunuh Rudra.


(Kurasa lebih baik mereka tidak tahu.)


Itu adalah kenyataannya, tapi Tania memilih untuk tidak memberi tahu mereka tentang itu.


Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan fokus menunggu sampai Noelle menyelesaikan pencariannya.


"Ketemu! "


Setelah beberapa saat, Noelle akhirnya membuka mata dan langsung mengucapkan itu.


Rudra dan Dolum pun langsung mendekatinya dengan perasaan suka cita yang sulit dijelaskan.


"Di mana itu?! "


Noelle menghela napas dan menggaruk bagian belakang kepalanya. Dia terlihat bingung, tapi ekspresi itu hanya bertahan sampai ia menunjuk pada Rudra.


"Di sekitar punggung. Itu membeku di antara serpihan kristal, dan jumlahnya juga tidak banyak."


Mengingat itu hanyalah sampel, jadi seharusnya jumlah yang Noelle lihat itu sudah cukup. Namun, ada hal lain yang membuat Noelle ragu.


"Membeku? Kalau begitu …."


Dolum berpikir sejenak, tapi kemudian Tania melanjutkan kata-katanya menggantikan dirinya sendiri.


"Itu akan sulit untuk diambil."


Noelle mengangguk, mengonfirmasi langsung hal itu.


"Itu bukan membeku secara alami. Aku yakin Ratu Bengis membekukan darah itu dengan kekuatannya sendiri. Tapi … mencairkannya seharusnya bukan masalah."


Yang menjadi masalahnya, Noelle tidak memiliki cara untuk melakukan itu.


Noelle mengeluarkan sehelai benang logam dari gudang spasialnya, bersama dengan segumpal kapas putih bersih yang lembut. Dia pun menyambungkan benang dan kapas itu, sehingga menjadi satu kesatuan.


Sebenarnya, ada banyak cara lain. Tapi, hanya ini yang menurutnya mampu memberikan hasil yang memungkinkan.


Pandangan semua orang tertuju pada benang logam dan kapas di tangan Noelle, lalu sedikit dikejutkan ketika melihat kedua benda itu bergerak dengan sendirinya, berdiri seperti seekor ular kobra yang mendengarkan alunan seruling.


"Aku bisa menggunakan ini untuk mengambil darah itu. Kapas ini akan menyerapnya, dan untuk benang ini … yahh, aku yakin kalian sudah paham."


"Itu bisa dilakukan. Tapi, aku yakin, masih ada masalah lain, 'kan? "


Noelle mengangguk. Masalahnya sekarang, darah itu membeku. Noelle bisa menggunakan otoritas dominasi untuk mengembalikannya ke wujud cair, tapi untuk melakukan itu, dia masih harus bersentuhan langsung secara fisik.


Meski Noelle sudah cukup percaya diri dengan kemampuannya menggunakan otoritas dominasi, nyatanya dia masih belum cukup hebat.


Noelle masih harus bersentuhan langsung dengan target untuk menggunakan kekuatan itu.


Cara yang Noelle pilih untuk mendapatkan darah ratu, adalah dengan menggunakan benang dan kapas sebagai perantara. Tapi, masalahnya, itu tidak bisa dilakukan. Yang diperlukan adalah sentuhan langsung.


Itu adalah syarat mutlak yang harus Noelle patuhi.


Meski Noelle tidak mengatakannya secara gamblang, Tania entah bagaimana mampu memahaminya. Dia dengan bingung menatap wajah Noelle, dan bertanya dengan ekspresi menanti kepastian di wajahnya.


"Kenapa tidak gunakan darahmu sendiri sebagai perantara? "


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Grei Noctis memiliki kemampuan untuk memanipulasi darahnya sendiri, dan Tania yang sudah cukup dengan Noelle juga sangat mengetahui itu.


Memang, ide yang Tania usulkan itu ada benarnya.


Noelle masih bisa menggunakan otoritas dominasi dengan menggunakan darahnya sendiri sebagai perantara, karena darah masih merupakan bagian dari tubuh seseorang.


Namun, alasan mengapa Noelle menolak ide itu sudah menjadi masalah yang berbeda.


"Aku berencana melakukan itu pada awalnya, tapi aku membatalkannya karena itu sangat tidak mungkin."


"Kenapa? " tanya Tania sambil memiringkan kepalanya.


Melihat itu, Noelle pun tersenyum pasrah. Akan lebih baik untuk menunjukkan ini secara langsung daripada harus menjelaskannya panjang lebar.


Noelle meminta Tania mengeluarkan sedikit darahnya sendiri, dan Tania mematuhi itu dengan menyayat sedikit bagian jarinya.


Luka yang terbuka itu akhirnya meneteskan darah, yang kemudian jatuh ke atas piring kecil yang telah lebih dulu Noelle persiapkan.


Darah Tania menodai piring yang semula bersih itu.


Detik kemudian, luka pada jari Tania langsung menghilang, seolah itu memang tidak pernah ada di sana. Rudra dan Dolum hanya bisa mengabaikan pemandangan ajaib itu, berpikir mungkin dia memakai sihir penyembuhan atau sesuatu yang serupa.


"Kalau begitu …."


Noelle menggunakan kukunya sendiri untuk menciptakan luka kecil di jari telunjuk, yang kemudian meneteskan darahnya ke piring yang sama dengan darah Tania berada.


Hanya satu tetes, tapi dampaknya luar biasa.


"Aku tidak bisa mengendalikan darah orang lain, tapi semua akan jadi berbeda kalau itu melakukan kontak dengan darahku, meski hanya setetes."


Darah Noelle tadinya jatuh di bagian piring yang bersih, tapi kemudian itu bergerak dengan sendirinya ke arah darah Tania yang menggenang di sisi lain piring.


Detik berikutnya, yang mereka semua lihat adalah sesuatu yang agak sulit untuk dijelaskan.


Darah mereka bersatu, tapi darah Noelle yang terlihat lebih gelap seperti menodai keseluruhan darah itu, sehingga semua menjadi serupa; darah dengan warna merah yang pekat. Itu adalah warna yang sama dengan darah yang dimiliki Noelle.


"Darahku memiliki sifat kontaminasi dan dominasi yang kuat. Jika itu bersentuhan dengan darah orang lain meski hanya sedikit, darahku akan langsung mendominasi dan mengambil alihnya, sehingga darah orang lain itu akan menjadi darahku sendiri."


Noelle menggerakkan jarinya sedikit ke kiri, dan darah pada piring itu bergerak sesuai arah yang ia tunjuk.


Singkatnya, darah Tania sudah bukan milik Tania lagi, melainkan sepenuhnya menjadi milik Noelle, karena telah terkontaminasi olehnya.


Itu adalah sifat alami yang dimiliki semua vampir dengan kemampuan mengendalikan darah. Darah mereka memiliki sifat yang jauh lebih kuat dalam hal kontaminasi dan dominasi, meski tidak terkait dengan otoritas mana pun.


Dengan sifat darah yang seperti itu, jika Noelle menyentuh darah Ratu Clament dengan darahnya sendiri, maka itu akan menjadi sebuah kebodohan. Karena alih-alih mendapatkan apa yang dibutuhkan, cara itu justru akan menghapus keberadaan katalis yang sangat mereka butuhkan dalam proses ritual.


Tania, Dolum, dan Rudra langsung mengerti masalahnya. Sekarang, ini berubah menjadi pertarungan waktu.


Tidak satu pun dari mereka yang bisa mendapatkan darah itu. Mereka hanya bisa mengandalkan Noelle agar ia bisa meningkatkan pengendaliannya terhadap otoritas dominasi.


Melihat ekspresi kecewa mereka, yang pertama Noelle lakukan adalah mendengus kesal.


"Yahh, maaf tentang itu, tapi kita benar-benar tidak bisa melakukan apa pun terhadap hal ini."


Noelle menghela napas dan berdiri, lalu menatap semua orang satu per satu


"Aku akan mengatasi masalah ini secepatnya, kalian bersabarlah."


...****************...