![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Rico! Mundur! "
Kaira secara refleks memanggil Rico, dan memerintahkannya untuk mundur.
Itu bukan tanpa alasan. Kaira melakukan itu untuk menyelamatkannya.
Rico yang tidak begitu mengerti situasinya menjadi bingung, tapi ia tak membantah dan langsung mundur tepat seperti yang Kaira perintahkan.
Detik kemudian, ledakan muncul tepat di tanah tempat Rico berpijak sebelumnya. Ledakan yang kuat, tapi tidak begitu kuat sehingga gelombang kejut yang dihasilkannya sama sekali tidak mempengaruhi Rico dan yang lain.
Meskipun begitu, ledakan seperti itu sudah cukup untuk menghancurkan manusia menjadi bubur daging yang menjijikkan.
"Apa itu? "
Berkat skill analisis miliknya, Rico berhasil mengidentifikasi ledakan itu sebagai bahaya tepat pada waktunya, sehingga ia tidak terlambat dalam merespon peringatan Kaira.
"Aku tidak tahu. Tapi, kurasa itu adalah perangkap yang dimaksud dalam pesan tadi," jawab Kaira.
Rico mulai memeriksa ingatannya, dan menemukan peringatan tentang banyaknya jebakan yang dipasang di tempat ini.
Tapi, hanya dengan informasi itu saja tidak mungkin cukup. Jika benar-benar ada perangkap yang ditanam di sekitar tempat ini, maka mereka harus menanggap itu sebagai masalah yang serius.
Bagaimanapun, sebagian besar dari mereka tidak memiliki ketahanan yang bagus terhadap perangkap. Jadi mungkin mereka akan langsung mati ketika menyentuh perangkap itu.
"Alan, apa kau bisa mengurus semua perangkap itu? "
Kaira menoleh pada Alan, yang pada akhirnya direspon dengan sebuah gelengan sederhana.
"Kemampuanku adalah melucuti senjata dari musuh, dan bukan untuk menghancurkan perangkap. Jadi itu mustahil. Tapi, aku mungkin bisa membantu dengan memeriksa posisi semua perangkap itu."
Berkaitan dengan kemampuan yang dimiliki Alan, itu adalah kemampuan yang benar-benar berguna dalam pertarungan melawan seseorang yang kekuatan utamanya terletak pada senjata yang digunakannya.
《Dissarmament》, itu adalah nama skill yang dimiliki Alan. Fungsinya seperti yang telah dijelaskan. Itu dapat melucuti semua senjata dan perlengkapan pertarungan yang digunakan oleh musuhnya.
Secara alami, kemampuan seperti itu tidak berguna dalam situasi seperti ini.
Meskipun begitu, Alan memiliki keunggulan lain yang membuat kekurangan skill tersebut menjadi bayaran yang sepadan.
"Baik, ayo lakukan."
Alan meletakkan telapak tangannya ke tanah, dan mulai memejamkan matanya.
Energi sihir dalam jumlah tertentu mengalir melalui tangannya, dan mulai berkumpul tepat di telapak tangannya.
Tak lama kemudian, sebuah gelombang suara berfrekuensi rendah mulai dipancarkan oleh telapak tangannya, dan seketika menjalari tanah.
Titik-titik tertentu di mana gelombang suara itu berhenti adalah tempat di mana semua jebakan itu diletakkan.
(Satu, dua, dan … Ada terlalu banyak … )
Alan mengangkat tangannya, dan berdiri. "Kurasa itu adalah jenis perangkap yang akan aktif ketika mendapatkan sentuhan keras dari bagian atasnya, dan juga … Ada terlalu banyak perangkap di tempat ini. Kita tidak akan sempat menghancurkan semuanya."
"Kalau begitu, kita hanya perlu menghancurkan yng menghalangi jalur. Anzu, Werli, bisakah kalian melakukannya? "
Kaira menoleh, dan langsung mendapatkan balasan berupa anggukan kecil dari mereka.
Anzu segera melemparkan beberapa butir kelereng ke titik yang telah ditandai oleh Alan, dan memicu semua perangkap yang tertanam di sana. Seketika, banyak ledakan mulai bermunculan dari titik yang disentuh oleh kelerengnya.
Masing-masing perangkap itu aktif hanya dengan sentuhan dari sebutir kelereng. Itu sudah cukup untuk membuktikan betapa mengerikannya sensitifitas yang dimiliki semua perangkap itu.
Sementara itu, Werli yang juga mendapat peran untuk menyingkirkan perangkap yang tersisa …
Werli mengangkat, dan lalu mengayunkan lengannya dengan santai, menciptakan hembusan angin yang sangat kuat sehingga menghempaskan semua pasir dan debu yang menutupi tanah.
Tak butuh waktu lama hingga akhirnya pasir dan debu yang terhempas itu mulai berkumpul di titik-titik tertentu, lalu menggumpal hingga akhirnya mengeras menjadi pijakan yang kokoh.
Werli menciptakan pijakan itu menggunakan semua pasir dan debu yang ada di sekitarnya, dan memasangkannya tepat di titik di mana semua perangkap telah dieliminasi oleh Anzu sebelumnya.
Dengan melakukan itu, mereka akan memiliki tempat untuk berpijak, tanpa harus khawatir menyentuh perangkap yang masih tersisa.
"Ayo cepat."
Kaira langsung berlari, dan melewati semua pijakan yang telah dibuat oleh Werli. Di belakangnya, Rico mengikuti dengan menggendong Lilith yang masih belum sadar.
Mereka semua berlari mengikuti rute yang telah diberitahukan Noelle sebelumnya, sekaligus memastikan agar tak ada perangkap yang mereka aktifkan secara tidak sengaja.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di sebuah perempatan yang tiap sisinya dipenuhi oleh rak dan kotak kayu yang entah apa isinya.
Beberapa kargo yang terbuat dari logam tampak telah terbuka, dan memiliki bagian dalam yang telah kosong sepenuhnya. Rico berasumsi kalau pihak musuh pasti menyimpan banyak barang berharga di sana.
"Apa itu … Golem? "
Liscia dengan santai melemparkan sebuah pisau kecil ke arah golem yang sedang bekerja mengangkut barang.
Pisau yang dia lempar itu dengan mudah menusuk, dan menghancurkan kristal merah yang menjadi sumber daya utama golem itu. Ketika sumber energi yang dia gunakan untuk bekerja itu hancur, golem itu seketika terjatuh tanpa daya, membiarkan banyak kotak kayu yang ia bawa di tangannya berhamburan di lantai.
Kaira dan Liscia saling mengangguk, lalu berlari mendekati golem itu.
"Tempat ini seharusnya sudah ditinggalkan. Tapi, kenapa masih ada golem yang bekerja? "
Itu adalah pertanyaan yang ada di kepala semua orang sekarang. Wajar saja jika mereka merasa heran. Mereka cukup memahami cara kerja golem, jadi mereka tentu saja merasakan keanehan di sini.
Berdasarkan cara kerja dan sumber energinya, golem itu seharusnya menjadi golem yang diciptakan untuk keperluan logistik. Singkatnya, golem pembantu.
Kapasitas energinya tidak terlalu besar. Jadi, kristal yang menjadi sumber dayanya itu harus diisi ulang setiap beberapa waktu sekali.
Saat mereka melihat golem itu masih bekerja, itu hnya berarti satu hal. Musuh belum lama meninggalkan tempat ini. Itu adalah satu-satunya kesimpulan paling masuk akal bagi mereka.
Memang ada kemungkinan kalau para tahanan yang memberikan energi pada golem itu. Tapi, apa gunanya? Mereka hanyalah alat yang ditugaskan untuk bertarung. Mereka tidak lebih dari umpan yang hanya berperan sebagai pengulur waktu saja.
"Bagaimana? "
Rico menghampiri Kaira dan Liscia, lalu ikut memperhatikan golem itu.
Sama sekali tidak ada goresan di sana. Satu-satunya kerusakan fisik yang ada pada tubuh golem itu adalah sisa-sisa dari kristal yang telah dihancurkan oleh Liscia menggunakan pisaunya.
"Tidak ada yang aneh. Ini hanya golem pekerja biasa," jawab Kaira.
Dia kemudian berdiri, dan memperhatikan sekelilingnya.
Awalnya, dia berasumsi kalau golem itu akan memiliki bom di dalamnya. Tapi, tampaknya itu adalah kekhawatiran yang sia-sia karena golem itu tidak memiliki jejak modifikasi yang berbahaya. Benar-benar sebuah golem pekerja biasa.
" … Ayo kita lanjut."
Tepat setelah Kaira mengatakan itu, dinding di sisi barat seketika hancur, dan membuat mereka semua secara refleks berbalik dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.
Keira telah memasang kuda-kuda dengan tombaknya, dan siap menyerang kapan saja. Namun, posenya itu seketika runtuh ketika melihat sosok yang keluar dari lubang di dinding itu.
"Norman! "
Itu adalah Norman, yang terbatuk dengan cukup keras sambil mengipasi sekitarnya, membuat semua debu yang ada seketika terhempas menjauh.
"Apa kau tidak bisa pelan-pelan? Itu cukup mengerikan."
Dengan napas yang terengah-engah, Norman berbalik dan menatap sosok yang menjadi pelaku pelubangan dinding itu.
Itu adalah Noelle, yang memegang sebuah pedang panjang dengan pola warna yang unik antara hitam dan putih.
"Ini adalah cara terbaik untuk langsung menerobos. Atau kau mau berjalan melewati jalan yang dipenuhi dengan perangkap yang menjengkelkan itu? "
" … Aku berterima kasih atas perhatianmu," ucap Norman sambil membungkuk pada Noelle.
Adegan itu dilihat oleh semua orang, dan membuat mereka seketika bingung.
Apa yang dilakukan Noelle dan Norman di tempat ini? Itu adalah apa yang ingin mereka tanyakan.
Norman dan kelompoknya memang akan bersama Noelle dalam misi ini, tapi mereka seharusnya berada pada jarak yang cukup jauh dari lokasi Kaira dan Rico.
"Hei, apa yang kalian lakukan? "
Kaira mencoba bertanya, dan langsung disambut dengan pandangan heran dari Norman.
"Kenapa kalian bisa bersama di sini? "
'Kalian' yang Norman maksud adalah Kaira dan Rico, beserta kelompoknya. Seharusnya, Kaira dan Rico berada di tempat yng berlawanan arah, dan tak mungkin bisa berakhir di rute yang sama sebelum mencapai bagian inti dari bangunan ini.
Rico maju dan berniat menjelaskan, tapi dia seketika berhenti ketika Noelle bergerak untuk melihat ke sekelilingnya.
Pandangannya kemudian tertuju pada golem yang kristal intinya telah dihancurkan oleh Liscia sebelumnya.
"Apa kalian yang menghancurkannya? "
Liscia mengangguk, dan membuat Noelle kembali fokus pada golem itu.
Dia kemudian berjalan mendekatinya, dan memeriksa setiap bagian golem itu dengan teliti.
"Waktu aktifasi golem ini belum cukup lama. Apa itu artinya musuh meninggalkan tempat ini baru-baru ini? "
Tampaknya Noelle memiliki kecurigaan yang sama dengan mereka. Rico mengangguk, menyetujuinya.
"Hanya itu jawabnya yang masuk akal."
Noelle menghela napasnya, dan memasukkan golem itu ke dalam penyimpanan spasial miliknya. Alasannya tentu saja, karena dia menginginkan meterial yang menjadi bahan pembuatan golem itu.
Bahkan jika dilihat hanya berdasarkan penampilannya saja, semua orang dapat dengan jelas mengetahui kalau golem itu tidak terbuat dari batu atau logam biasa. Tampaknya itu adalah logam khusus yang juga menjadi material dasar untuk pembangunan tempat ini.
"Bisa aku menanyakan satu hal? "
" … Apa itu? "
Rico dengan waspada menatapnya. Lilith yang masih dia gendong di tangannya tampak tak bergerak, dan belum memulihkan kesadarannya, jadi Rico tak bisa sembarang bergerak.
Norman dan yang lain dapat dengan jelas merasakan ketegangan yang meningkat di sekitar mereka. Meskipun begitu, mereka tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Itu karena mereka memiliki firasat, kalau apa yang akan Noelle bicarakan dengan mereka selanjutnya, akan menjadi hal yang sangat penting.
"Apa kalian … Bertemu dengan beberapa orang, dan bertarung dengan mereka? "
Mata Rico seketika menyipit, dia mempertegas wajahnya, dan menatap Noelle dengan penuh amcaman.
"Jika jawabannya iya, apa yang akan kau lakukan? "
" … Begitu, ya."
Noelle mengangguk, lalu berbalik. Dia kemudian melanjutkan. "Apa mereka meledak? "
" … Dari caramu mengatakannya … Apa aku bisa berasumsi kalau kau juga menghadapi mereka? "
"Tentu."
Dari sini, Rico tidak memiliki pilihan lain selain menjawab Noelle dengan jujur.
"Ya."
"Begitu, ya."
Noelle tidak melanjutkan perkataannya, dan langsung berjalan pergi.
Semua orang menatapnya dengan bingung, tanpa menyadari senyuman misterius yang terbentuk di wajahnya.
...****************...