[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 154: Cryll Rescue Act (11)



...****************...


"Apa-apaan?! "


Begitu Noelle akhirnya berhasil menembus dinding yang sangat tebal itu, ia langsung disambut dengan sebuah bilah kapak bergerigi yang menargetkan lehernya.


Biar pun dia kehilangan sebagian kekuatannya di tempat ini, itu tidak membuat Noelle lengah sedikit pun. Noelle langsung menunduk untuk menghindari kapak itu, dan berputar 360 derajat sambil mengayunkan pedang Langen yang masih di tangannya.


Bilah melengkung dan besar yang Langen miliki sangat cocok untuk menebas, jadi ia melakukan pergerakan yang masuk akal.


Setelah mendapatkan momentum yang tepat, Noelle langsung mengarahkan bagian tajam dari pedangnya ke musuh.


Senjata yang menargetkan lehernya adalah sebuah kapak. Singkatnya, itu adalah jenis senjata yang hanya digunakan dalam jarak dekat.


Yang artinya, jarak antara dirinya dengan musuh tidak terlalu jauh. Bilah pedang Langen seharusnya bisa mengenainya.


Pandangan Noelle sedikit terbutakan karena matanya masih berusaha beradaptasi dengan cahaya. Tapi, itu tidak masalah. Telinganya cukup bagus sehingga ia bahkan bisa mendengar setiap langkah yang diambil semua orang di sekitarnya.


Noelle meningjatkan jumlah tenaga di tangannya, dan memutar pergelangan tangannya untuk memindahkan jalur lintasan pedang. Dengan begitu, ia bisa menargetkan bagian yang lebih spesifik lagi.


Dan tepat seperti yang ia prediksi, begitu ia mengarahkan bilah pedangnya ke atas, dan langsung mengayunkannya, ia bisa merasakan bilah hitam Langen menyentuh dan menggali ke dalam bagian yang tebal, namun sangat empuk.


Kemungkinan itu adalah daging. Noelle bisa merasakan bagian yang sedikit keras, sementara suara jerit kesakitan memenuhi telinganya.


Mengabaikan itu, Noelle langsung berdiri dan menggunakan kaki kanannya sendiri untuk memberikan dorongan pada beban yang ada di hadapannya.


Dihadapkan dengan kekuatan fisik seorang vampir adalah hal yang cukup menakutkan. Itu terbukti dengan bagaimana lawannya langsung terpental jauh dan menabrak dinding, sementara Noelle tak bergerak sedikit pun dari posisinya.


Tak lama kemudian, akhirnya mata Noelle telah beradaptasi dengan cahaya di luar. Dia menatap sekelilingnya dengan bingung.


Norman yang sama bingungnya dengan dia juga tampak mengerutkan keningnya.


"Bukankah tempat ini … "


"Apa kita kembali ke tempat sebelumnya? Tidak, kurasa tidak."


Norman menoleh dan menatap Noelle dengan bingung, mempertanyakan apa yang ia gumamkan barusan.


"Kau lihat, tempat ini memang sama persis dengan tempat kita sebelumnya berada. Hanya saja, ada beberapa detail yang sedikit berbeda."


Itu benar. Lokasi tempat mereka berada sekarang mungkin tak jauh dari tempat tujuan mereka. Tapi, tingkat kemiripan yang dimiliki tempat ini dengan tempat mereka mulai berangkat sebelumnya membuat mereka sedikit keliru.


Mungkin karena struktur bangunannya yang dibuat dengan pola yang identik, sehingga siapa pun yang keluar dari lorong tak berujung itu akan kebingungan, dan mengalami 'kondisi buta arah'.


"Seharusnya ini tidak terlalu jauh dari tujuan kita. Ayo lanjut. Yang terpenting, kita sudah keluar dari tempat itu."


Walaupun agak disayangkan jika harus melepaskan jalan pintas seperti yang baru saja mereka temukan, mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti rute baru.


Tampaknya musuh benar-benar waspada dan menciptakan banyak perangkap yang menjengkelkan itu.


Sementara Noelle mengalihkan perhatiannya untuk menyelidiki sekitar, Kaira telah keluar dari penghalang dan berlari menuju musuh yang sebelumnya telah Noelle tendang ke dinding.


Di belakangnya, Rias tampak mengikuti dengan wajah pucat.


"Ke-kenapa aku harus ikut ke sini?! "


Dia terlihat panik, dan warna hampir menghilang dari kulit wajahnya. Meskipun begitu, Kaira dengan mudah mengabaikan keresahannya dan menarik tangannya untuk berlari lebih cepat.


"Kemampuanmu sangat dibutuhkan di sini! Jangan khawatir, aku akan membayarmu setelah ini."


"Bukan itu yang kukhawatirkan! "


Baik di dunia sebelumnya, ataupun di dunia sekarang, Rias hanyalah seorang gadis biasa tanpa keistimewaan. Sifatnya agak pemalu dan canggung, tapi dia bisa berbicara dengan normal asal ada orang yang ia kenali di sekitarnya.


Nilainya dalam semua mata pelajaran rata-rata, agak buruk dengan mate-matika dan fisika. Singkatnya, dia adalah orang paling normal di antara semua reinkarnator yang tergabung dalam kelompok Norman.


Dan di sinilah ia sekarang. Harus memeriksa mayat seseorang, hanya karena ia memiliki kemampuan untuk membaca ingatan.


Begitu sampai, Kaira langsung berjongkok dan memeriksa denyut nadi pria itu. Dia masih hidup. Setidaknya itu bagus.


Kaira sedikit khawatir kalau Noelle akan membunuhnya karena tidak sengaja, tapi untungnya serangan akhir yang Noelle berikan itu hanya membuatnya syok sejenak.


Satu-satunya yang menjadi masalah adalah, dia sudah tidak memiliki tangan kanan. Jelas terputus karena tebasan pedang Noelle sebelumnya.


Kaira menggunakan sihir api untuk membakar lukanya, dan menghentikan pendarahan. Dia kemudian menarik kepala pria itu mendekati Rias.


"Dia hanya pingsan. Bisakah kau memeriksa ingatannya? "


"Uhh … Baiklah … "


Dengan penuh keterpaksaan, Rias meletakkan telapak tangannya di dahi pria itu. Dia pun mulai menggunakan skillnya.


Namun, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi.


Rias dengan terkejut melebarkan matanya, dan mencoba memeriksa ulang apa yang ia lihat.


Kaira bertanya-tanya dengan apa yang ia temukan di sana, tapi Rias hanya menggeleng.


"Tidak ada apa-apa. Ini sama seperti sebelumnya, aku tidak bisa membaca ingatannya."


"Apa yang sebenarnya terjadi? "


Keduanya tidak dapat memahami keanehan ini.


Apakah karena orang itu memiliki berkah dewa yang mampu menghalangi skill milik Rias! Tidak, tidak mungkin begitu. Skill yang Rias miliki sama sekali tidak dapat ditahan hanya dengan berkah dewa semata.


Kemampuannya dapat menembus semua tipe pertahanan mental. Atau setidaknya itulah yang terjadi selama ini.


"Hei, lihat ini."


Di kejauhan, Liscia bersama Werli memanggik semua orang, membuat perhatian mereka terarah pada kedua orang itu.


"Apa yang terjadi? "


Noelle mendekati mereka, dan menanyakan situasinya. Dia pun mendapatkan respon yang cukup mengejutkan.


Liscia melempar sesuatu pada Noelle, yang pada akhirnya kangsung ditangkap dengan mudah olehnya.


"Ini … "


Apa yang baru saja Liscia lemparkan adalah sebuah tangan. Itu adalah potongan tangan pria itu yang telah sedikit mengering.


Darah sudah berhenti menetes dari sana, dan bau amis perlahan mulai mengalir keluar dari bekas tebasan itu.


Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Noelle.


Sesuatu yang membuatnya merasa penasaran adalah apa yang ada di tangan pria itu.


Di telapak tangannya, ada sesuatu yang sangat ia kenal.


"Barcode? "


Mirip dengan barcode, tapi Noelle ragu dengan itu. Yang ada di sana hanyalah campuran antara garis hitam dan putih. Dan di bagian bawah garis itu, ada barisan huruf yang membentuk satu kata.


'VOYAGER', adalah apa yang tertulis di sana.


...****************...


"Apa-apaan?! "


Tangan kanannya yang menggenggam erat pedang hitam Langen mencoba bergerak untuk menebas ke depan, tapi itu justru membuat keseimbangannya rusak.


Noelle terpaksa melompat mundur dan memanfaatkan tangan kirinya untuk bertumpu di tanah, ia kemudian melemparkan dirinya sendiri jauh ke belakang.


Langen yang sebelumnya ia pegang kini terjatuh dan tertinggal, tapi itu bukan masalah.


Noelle langsung menarik Verstand dengan tangan kirinya, dan melemparkan itu pada musuh yang sudah bersiap di depannya.


Karena bentuknya yang melengkung, Verstand yang terlempar itu berputar dengan sangat kencang dengan momentum yang Noel ke berikan.


Bilahnya kemudian menancap di pelat besi yang musuhnya jadikan perisai.


Noelle menarik tangan kirinya, yang menyebabkan benang tipis yang tersambung dengan gagang Verstand langsung menegang, dan membuat Verstand kembali pada Noelle.


"Kau tidak terduga cukup kuat, ya … Bocah."


Musuhnya, seorang pria dengan tubuh besar yang membawa sebuah gergaji mesin di kedua tangannya itu menertawakannya dengan cara yang menjijikkan.


Noelle berusaha mengabaikan itu, dan mencoba maju dengan Verstand. Dan di saat yang sama, ia mengeluarkan beberapa pedang yang melayang di sekitarnya.


Dia sudah bisa menggunakan sihir dengan normal sekarang. Tapi, Noelle tidak memiliki waktu untuk mengubah gaya bertarungnya.


Begitu Noelle sudah berada tepat di hadapan pria itu, pria itu langsung mengayunkan gergaji mesinnya ke arah Noelle. Tapi Noelle berhasil mengalihkan jalur gergaji itu dengan sedikit gerakan. Dia kemudian menusukkan beberapa pedangnya ke titik-titik vital pria itu.


Begitu berhasil mengambil kembali Langen, Noelle langsung menggunakan kedua tangannya untuk menjadi tumpuan, dan menendang dagu pria itu.


Pria itu terlihat meringis sejenak, namun ia langsung kembali sadar dan maju dengan kekuatan yang brutal ke arah Noelle.


Bilah gergaji mesin yang berputar dengan kecepatan yang mengerikan itu diarahkan tepat ke leher Noelle. Noelle berusaha menghindari itu, tapi tak dapat menghindari sepenuhnya.


Pangkal lehernya sedikit tersayat, dan membuatnya mengalirkan darah yang sangat kuat.


Rasanya tidak sakit. Tampaknya resistensinya sudah kembali. Dan regenerasinya juga sudah kembali normal.


Noelle melihat pria itu kembali bersiap-siap, yang akhirnya membuat Noelle ikut bersiap dengan Langen.


Verstand telah disarungkan kembali, dan dibiarkan tergantung di pinggangnya. Noelle lalu menggenggam gagang Langen dengan kedua tangannya, dan membuat posisi kuda-kuda yang sama dengan yang menghancurkan dinding tebal sebelumnya.


Mereka berdua maju secara bersamaan, dan kedua senjata mereka langsung bertabrakan, menghasilkan bunga api yang mengerikan, sekaligus mengagumkan.


Bilah hitam Langen tersangkut di gergaji mesin itu, membuat senjata itu jadi macet dan tak dapat bergerak.


Tapi, itu tak menjadi halangan bagi keduanya.


Mereka berdua secara bersamaan mengayunkan senjata mereka ke arah yang berlawanan, sehingga bagian senjata mereka yang tersangkut sebelumnya langsung terbebas.


Begitu selesai, mereka berdua melompat mundur dan bersiap untuk serangan berikutnya.


Noelle sedikit menunduk. Kaki kirinya berada agak jauh di belakang, sementara kaki kanannya masih berada di tempat, dan membentuk posisi berjongkok yang sangat tajam.


Tangan kanan Noelle dengan mudahnya mengangkat Langen yang berukuran besar itu, sementara tangan kirinya telah bersiaga di gagang Verstand yang masih tersarung.


Sementara itu, musuhnya, pria itu juga melakukan hal yang mirip. Dia sedikit berjongkok, dan kecepatan putaran gergaji mesinnya menjadi semakin mengerikan. Noelle mungkin tidak akan bisa menahan kekuatan gergaji mesin itu hanya dengan kekuatan fisiknya yang biasa.


Paling tidak, dia harus mendapatkan sedikit penguatan dari sihir, atau dia akan terdorong dengan sangat mudah saat pedangnya bertabrakan dengan gergaji mesin itu.


Keduanya sekali lagi maju secara bersamaan, Noelle mengayunkan Langen sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya, dan bertabrakan dengan gergaji mesin yang menyala itu. Hal itu menyebabkan laju perputaran gergaji mesin tiba-tiba berhenti, dan menghasilkan gelombang kejut yang menjalar hingga ke tangan mereka berdua.


Tak berhenti di sana, Noelle lanjut mendorong pedangnya sampai pedangnya itu menggali dan perlahan memotong bilah gergaji mesin.


Tentu saja lawannya tak akan tinggal diam. Dia mencoba untuk melepaskan penahanan Noelle dengan cara mengayunkan gergaji mesinnya, tetapi bilah hitam Langen telah menancap terlalu dalam sehingga ia tak bisa melepaskannya begitu saja.


Noelle menggertakkan giginya dan memperkuat tangannya sendiri, lalu memberikan dorongan terakhir pada Langen.


Melihat ia tak memiliki kesempatan untuk melawan, pria itu langsung melepas genggamannya pada gergaji mesin, dan melompat jauh ke belakang.


Kedua kakinya dengan suara yang keras mendarat di lantai, dan pria itu langsung berjongkok. Dia kemudian menciptakan gaya pegas dengan kakinya, yang pada akhirnya langsung membuat di meluncur ke arah Noelle yang masih sibuk dengan gergaji mesin itu.


Namun, itu adalah kesalahan yang sangat fatal baginya.


Noelle tersenyum, menunjukkan taringnya. Dia lalu kembali mengayunkan pedangnya tepat ke arah pria itu, sementara gergaji mesin masih menempel di bilah pedangnya.


Tentu saja, hasilnya bisa ditebak. Gergaji mesin yang perlahan terlepas dari pedang Noelle itu langsung membentur kepala pria itu, dan memberikan pendarahan yang sangat kuat. Efek getaran yang dihasilkan mesin yng masih menyala itu memperkuat dampak kerusakan yang diterima otaknya, sehingga ia mendadak pingsan.


Momentun masih mengisi Langen, dan membuatnya tertanam ke lantai. Noelle memanfaatkan kesempatan itu dengan langsung melepaskan tangannya, dan kemudian menarik Verstand yang masih disarungkan di pinggang bagian belakangnya.


Arah gagang Verstand itu berada di kiri, tapi Noelle justru menggunakan tangan kanannya sendiri untuk menarik itu agar ia bisa memberikan penguatan yang sangat drastis pada daya genggam dan daya tariknya.


Hasilnya, pedang perak Verstand ditarik dengan kecepatan yang mengerikan, menciptakan sebuah tebasan yang tak dapat dilihat oleh mata.


Satu-satunya yang menjadi jejak akan kejadian itu, adalah kepala seorang pria yang kini tergeletak di lantai, bersamaan dengan genangan darah yang menghiasinya.


Begitu selesai memeriksa situasinya, Noelle kembali menyarungkan Verstand, tepat setelah membersihkan darah yang menempel di bilahnya.


Namun, semua tak berakhir di sana.


Beberapa sosok musuh dengan ciri fisik yang mirip dengan pria yang baru saja ia bunuh itu mulai bermunculan, dengan menggunakan berbagai macam senjata.


Noelle dengan jengkel mendecakkan lidahnya. Dia lalu kembali mengeluarkan Verstand, dan di saat yang sama juga mencabut keluar Langen yang sebelumnya masih menancap di lantai.


Saat itu, suara teriakan memanggilnya dari belakang.


"Noelle! Kami sudah selesai dengan yang di sana! Serahkan tempat ini pada kami! Kau lanjutkan mencari Cryll! "


Norman dengan sebuah pedang di tangannya maju melewati Noelle, dan berlari ke arah kumpulan musuh.


Dia tanpa ragu mengayunkan pedangnya sendiri, dan menciptakan hembusan angin yang sangat kuat sehingga mementalkan semua musuh.


Dan di saat semua musuh mulai bangkit untuk balas menyerang, mata Norman langsung menyipit.


Seketika, semua musuh terjatuh. Tubuh mereka seperti sebuah boneka marionette yang telah dipotong benangnya.


Noelle terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya, dan berniat bertanya pada Norman. Namun, Norman langsung membalas tatapan bingungnya dengan tatapan mengecam.


"Cepatlah pergi sebelum aku mulai melampiaskannya ke padamu! "


"Oke."


Noelle dengan patuh mengikuti kata-katanya. Dia benar-benar tidak ingin terlibat dalam hal yang merepotkan seperti meredakan gejolak emosi yang dialami Norman.


Untuk sekarang, Noelle langsung maju menuju sebuah pintu yang akan mengarahkannya ke ruang penyimpanan berada.


Tujuannya adalah satu, yaitu merebut kembali Sword Geist, senjata bintang milik Cryll yang disita oleh musuh.


Setelah itu, barulah ia akan menyelamatkan Cryll.


Dia membuat keputusan itu bukan tanpa alasan. Melainkan karena ia tahu kalau musuh tidak akan melakukan apa pun pada Cryll.


Lagi pula, ruang penyimpanan tempat Sword Geist berada itu cukup berdekatan dengan lokasi Cryll ditahan. Jadi tidak ada salahnya untuk memprioritaskan senjatanya lebih dulu.


...****************...