
"Cath tolong kamu urus kontrak kerjaku yang telah kita tanda tangani ya. Kalau bisa di batalkan batalkan saja, kalau tidak ya sudahlah" perintah Ela.
"Ada apa El, kenapa kamu tiba - tiba begini?" tanya Cathrine manager Ela.
"Aku harus pulang ke Indonesia Cath, Papa Mamaku membutuhkanku" ucap Ela terlihat sendu.
"What's wrong?" tanya Catherine.
"Kakakku menikah kemarin, tidak ada lagi yang menemani mereka di hari tua. Mereka ingin aku pulang, lagi pula sudah cukup enam tahun aku di sini. Saatnya memang aku harus pulang" jawab Ela.
"Apa ada hubungannya dengan your first love?" tanya Catherine penasaran.
"haaaah" Ela menarik nafasnya panjang.
Selama di London Catherinelah sahabatnya, teman tempat dia bercerita tentang semuanya termasuk tentang cinta pertamanya pada Rafa yang harus kandas karena Rafa menyukai Lisa.
"Kamu tau Cath, Rafa sudah putus sama pacaranya" ungkap Ela.
"Waow... bagus kan, sekarang kamu bisa mengejarnya mendapatkan kembali cinta pertama kamu" balas Catherine.
"Aku merasa berbeda sekarang setiap berada di sampingnya. Getaran yang dulu sudah ada sepertinya sudah hilang. Dan kemarin saat pernikahan kakakku pacarnya datang, aku melihat masih ada cinta di antara mereka. Aku tidak tau pasti apa sebab mereka putus yang jelas aku ingin membantu mereka untuk balikan" sambung Ela.
"Terus kamu dapat apa donk. Kamu bilang semua sahabat - sahabat kamu sudah mempunyai pasangan. Tinggal kamu sendiri yang belum" Catherine mengingatkan.
"Aku akan menanti seorang pangeran datang mengejarku dengan menaiki kuda putih. Pangeran yang gagah dan tampan" jawab Ela dengan mata berbinar.
Tiba - tiba gak ada angin gak ada hujan bayangan Fajar datang dengan menaiki seekor kuda putih. Fajar terlihat sangat tampan.
Stop... stop... kenapa jadi kebayang wajah cowok pendendam itu. iiiiihh... jangan sampai dia muncul di hadapanku. Batin Ela.
"Kenapa El? Kamu melamun? Ayooo... sedang memikirkan pengeran itu ya?" goda Catherine.
"Ye enak aja. Pangerannya belum ada. Aku belum ketemu sama dia" elak Ela.
"Makanya jangan kebanyakan nonton drama korea" ejek Catherine.
Ela tertawa membayangkan Lee Min Ho berakting di drama yang berjudul The Eternal Monarch. Lee Min Ho dengan tampannya naik di atas kuda putih menghampirinya.
Setelah semakin dekat entah mengapa tiba - tiba wajah Lee Min Ho berubah menjadi wajah Fajar.
Oh my god kenapa wajah dia lagi. Umpat Ela dalam hati.
"Okey El, aku sudah atur jadwal kamu. Sabtu malam kita pagelaran busana kamu terakhir sekalian kamu pamit ya. Nanti kalau ada permintaan, tinggal kamu terbang aja lagi dari Indonesia" ucap Catherine.
"Thanks Cath, you'r the best" puji Ela.
"Apa kali ini kamu akan membuka semua tentang informasi kamu termasuk topeng kamu?" tanya Catherine.
"Tidak Cath, biarkan saja. Biar seperti biasa. Aku tidak mau mereka tau informasi tentangku. Aku tidak mau karena itu pergerakanku jadi terganggu dan terbatas. Aku mau bebas menjalani kehidupanku" jawab Ela.
Itulah alasan mengapa selama ini Ela merahasiakan informasi pribadi mengenai dirinya. Dia tidak ingin kehidupan pribadinya jadi terganggu.
Ela tetaplah Ela, walau sekarang perlahan - lahan dia sudah sedikit berubah menjadi anggun bahkan saat dia di panggung Ela sangat totalitas. Tidak ada yang menyangka aslinya dia adalah cewek yang tomboy.
Ela juga bisa bebas berjalan kemana saja termasuk keluar masuk pameran lukisan, bahkan beberapa lukisan Ela juga sudah ada yang ikut pameran. Walau lukisannya tidak seterkenal rancangan busananya.
"Berarti ini pagelaran busana terakhirku selama tinggal di London ya, kelak mungkin aku hanya di undang sebagai bintang tamu ya" ucap Ela.
"Yup, berarti sebentar lagi aku akan jadi pengangguran donk" balas Catherine sedih.
"Tentu tidak sayaaang, kamu kan tetap menerima pesanan di sini. Metodenya tetap sama dengan teman - teman aku yang di Jakarta. Nanti aku akan kirim sketsa gambar busananya kamu yang proses pembuatannya di sini. Gimana?" tawar Ela.
"Makasih El, kamu tetap membuat aku punya pekerjaan setelah kamu pergi. Kuharap persahabatan kita tidak selesai sampai di sini. Nanti jika pangeran kamu sudah datang undang aku ya di pesta pernikahan kamu. Aku ingin main ke Indonesia" jawab Catherine.
Catherine memeluk Ela erat, rasanya sangat berat berpisah dengan Ela. Ela telah merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Walau Catherine masih tetap pada keyakinannya tapi entah mengapa dia senang sekali melihat Ela beribadah sesuai dengan ajaran agama Ela, seperti shalat dan berpuasa.
Bahkan Catherine sering mengingatkan Ela shalat ketika mereka sedang sibuk dan juga membantu Ela mencari makanan untuk berbuka puasa.
Catherine sangat senang jika mendengar Ela mengaji dan bersenandung salawat. Suara Ela sangat merdu sekali di dengar.
Intinya Catherine sangat senang bisa mengenal Ela. Sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara.
"Kamu belum pergi saja aku sudah sangat sedih El, aku pasti akan merindukan kamu di sini" ucap Catherine dengan mata yang berkaca - kaca.
"Hey.. aku tidak menghilang hanya pergi, tapi kan bisa datang lagi. Kalau ada undangan aku kan bisa terbang ke sini dan bertemu kamu lagi Catherine sayaaang" balas Ela.
"Jadi gimana dengan apartemen kamu ini?" tanya Catherine.
"Aku titip kamu ya, tolong kamu rawat apartemen aku ini. Kamu boleh memakainya" jawab Ela.
"Aku akan merawatnya El, kalau aku kangen kamu, aku akan datang ke sini. Enam tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar untuk berteman dengan kamu. Sulit sekali bisa menemukan sahabat seperti kamu" ungkap Catherine.
"Terimakasih juga atas persahabatan kamu selama ini Cath, tanpa kamu aku juga tidak tau bagaimana aku bisa hidup di sini tanpa keluarga dan orang yang aku kenal. Kamu juga yang membantu aku melupakan kesedihan dan menghiburku. Aku yang lari dari cinta yang tak berbalas perlahan bisa hilang dan kembali kuat berkat semangat dari kamu. Aku senang bertemu dengan kamu" Mereka saling berpelukan dan menangis.
"Duuuuh kamu lagi mengiris bawang ya El, mataku perih sekali. Airmataku tidak bisa berhenti keluar" ungkap Catherine sambil menghapus airmatanya.
"Sekarang mari kita bekerja mempersiapkan acara hari sabtu ya. Minggu pagi kamu akan aku kenalkan pada kakak dan para sahabat aku. Gimana?" pinta Ela.
"Oke El, aku sangat senang bisa bertemu langsung dengan mereka, selama ini aku hanya mendengar cerita kamu saja. Aku ingin melihat sahabat kamu Disil yang recok itu dan ingin melihat kakak tampan kamu yang sudah sold out. Padahal aku fikir aku bisa menikah dengan kakak kamu biar bisa menjadi saudara kamu" canda Catherine.
"Waaaah kamu terlambat, mengapa baru sekarang kamu mengatakannya. Atau kamu mau menjadi istri kedua kakakku?" goda Ela.
"Huuuuuh gak lucu, becandanya kelewatan" balas Catherine.
Hahaha.... mereka tertawa bersama.
.
.
BERSAMBUNG