Find The KEY

Find The KEY
Ep. 75



Pesta resepsi pernikahan Ditha dan Disil berlangsung sangat meriah. Para undangan sudah ramai berdatangan.


Musik mengalun dengan riangnya menghibur telinga para tamu undangan. Tiba-tiba pembawa acara memanggil sebuah nama.


"Sesuai dengan permintaan kedua mempelai dimintakan kepada Mbak Ariella agar sudi kiranya menyumbangkan sebuah lagu untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia hari ini. Ayo Mbak... mana nih Mbaknya" panggil pembawa acara.


"Aduuh Ditha dan Disil sepertinya ngerjain aku nih" ucap Ela.


"Ayolah El tunjukkan pesonamu. Masak kamu tega menolak permintaan Ditha dan Disil" sambut Rafa.


"Ayo sayang maju, tunjukka kamu bisa" teriak Aditya.


"Ela.. Ela.. " yang lain memberikan semangat.


Akhirnya Ela berdiri dan melangkah menuju tempat hiburan. Ela naik ke atas panggung yang di khususkan untuk para pengisi hiburan dan segera meraih mic.


"Khusus permintaan sahabat tercintaku Ditha dan Disil. Aku akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kalian" ucap Ela.


Dari atas pelaminan Disil mengacungkan jempolnya, Dan Ditha juga tersenyum melihat Ela.


"Bisa pinjam gitarnya gak Mas" pinta Ela.


"Bisa Mbak" Jawab pria yang sedang memegang gitar.


Pria tersebut menyerahkan gitarnya kepada Ela. Dia juga mengangkat kursi ke tengah pentas, agar Ela bisa memainkan gitarnya dengan santai sambil bernyanyi.


Ela mulai mengambil nada dan mulai memetik gitarnya perlahan. Sambil di iringi alunan gitar Ela mulai berbicara.


"Aku dan kedua mempelai sudah bersahabat sejak kami dari kandungan, karena orangtua kami juga bersahabat. Kami tumbuh dan besar bersama. Kami sekolah dan bermain bersama. Walau saat cinta diantara kalian bersemi saat aku tidak ada tapi aku tau bagaimana perjalanan cinta kalian sampai kalian berhasil melaju ke jenjang yang lebih serius. Dan diantara kita berenam yang bergabung dalam sebuah Geng yang kita sebut Geng ERASADIS kalian berdualah yang telah berhasil memecahkan rekor menikah duluan. Jadi, saya sebagai ketua Geng mewakili anggota Geng lainnya izinkan menyumbangkan sebuah lagu dalam pernikahan kalian"


Sontak para tamu undangan tertawa mendengar ucapan Ela.


Masih dengan iringan petikan gitar Ela melanjutkan kata-katanya.


"Inilah sebuah lagu khusus untuk kedua sahabat aku yang hari ini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. CINTA LUAR BIASA" Ucap Ela.


Ela mulai bernyanyi.


Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Oh-ho huu


Terimalah lagu ini


Hm-mm


Dari orang biasa


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Terimalah cintaku yang luar biasa


Hm-mm


Tulus padamu


Saat Ela bernyanyi layar monitor yang memang disediakan oleh TIM WO menampilkan cuplikan foto-foto GENG ERASADIS dari sejak kecil. Foto mereka saat balita, saat di sekolah dasar, SMP dan SMU.


Suara merdu Ela juga dengan indah terdengar mengiringi cuplikan foto-foto tersebut. Ditha jadi terharu dan menangus melihat cuplikan tersebut.


Disil menggenggam erat tangan istrinya. Bersama-sama menikmati pertunjukan indah yang dipersembahkan Ela buat mereka.


Saat Ela mengakhiri nyanyinya sontak para undangan meminta sebuah lagu lagi.


"Lagi.. lagi.. lagi..." teriak mereka.


"Bagaimana ini Mbak, semua berteriak lagi. Apakah Mbak bersedia?" tanya pembawa acara.


"Wah gak adil kalau saya nyanyi sendiri" jawab Ela.


"Tadi barusan kami lihat dari cuplikan foto Geng ERASADIS pernah ngeband ya Mbak?" tanya pembawa acara.


"Iya, tapi sudah lama itu. Sudah tujuh tahun" jawab Ela.


"Bagaimana kalau kita ulang lagi pertunjukan itu. Bagaimana penonton, setuju????" tanya pembawa acara.


Sontak para tamu undangan yang menyaksikan itu bersorak.


"Setujuuuuuu...." teriak mereka menyambut pertanyaan pembawa acara.


"Gile bro.. mana ingat lagi aku" ucap Rafa dari meja mereka.


"Iya, itukan sudah lama" jawab Aby.


"Gawat nih" balas Sintia.


"Ayooo sayang tunjukkan pada kami. Dulu Mama cuma lihat kalian latihan saja. Mama ingin lihat pertunjukannya langsung" teriak Alexa.


"Ayo.. ayo.. kami juga ingin lihat" kata Reza.


Sebenarnya Geng ERASADIS tidak tau kalau acara ini sudah direncanakan oleh orangtua mereka. Jauh-jauh hari orangtua mereka sudah meminta Tim WO untuk mempersiapkan kejutan ini pada mereka. Bahkan lagu dan nada dari lagu yang mereka mainkan dulu sudah mereka persiapkan. Lengkap dengan krecek Disil.


"Bagaimana nih teman-teman? Kita ditantang seperti ini? Pantang bagiku untuk mundur tapi apalah dayaku tanpa kalian. Karena group band tidak akan berjalan tanpa personil yang lengkap. Apa kalian setuju?" tanya Ela.


"Setujuuuuu" malah penonton yang jawab.


"Ayo sayang maju" teriak Satria pada Sintia.


Akhirnya para orangtua mereka menarik anak-anaknya untuk maju ke atas pentas. Termasuk kedua mempelai.


Seketika TIM WO mengangkat perlengkapan Band. Drum, keyboard, dan gitar mulai dinaikkan.


"Waaah sepertinya kita kena prank nih" ucap Ela dari atas pentas.


Para tamu undangan tertawa mendengar ucapan Ela. Semua personil Geng ERASADIS sudah naik ke atas pentas.


Kalau sudah seperti ini pantang bagi mereka untuk mundur. Semua mengambil posisi mereka masing-masing.


Aby mulai memegang drum. Ditha keyboard, Rafa bass, Ela gitar, Sintia pegang mic dan Disil pegang krecek.


Sintia dan Disil sama-sama pegang Mic.


"Aku dikerjain dihari pernikahanku. Ini pasti kerjaan para orangtua nih" ucap Disil


Para tamu undangan tertawa mendengar ocehan Disil.


"Tapi demi kalian semua yang sudah menyayangi dan menyemangati kami dalam setiap perjalanan hidup kami. Kami akan persembahkan lagu ini sebagai tanda terimakasih kami untuk kalian. Tapi maaf kalau sedikit mengecewakan. Maklum tanpa latihan sebelumnya" ucap Disil.


"Siap teman-teman?" tanya Disil.


"Siap" jawab yang lain.


"Tu wa ga" ucap Aby memberi aba-aba.


Musik mulai terdengar dan pertunjukan dimulai.


Tik, tik, tik, tik


Waktu berdetik


Tak mungkin bisa ku hentikan


Maumu, jadi mauku


Pahitpun itu, ku tersenyum


Kamu, tak tahu, rasanya, hatiku


Saat, hadapan kamu


Tik, tik, tik


Air mataku


Biar terjatuh dalam hati


Mau ku, tak penting lagi


Biar ku buat, bahagiamu


Kamu tak tahu, rasanya, hatiku


Saat ber, hadapan kamu


Kamu, tak bisa, Bayangkan, rasanya


Jadi diriku, yang masih cinta


Persis sama seperti dulu.. Disil menggoyangkan kreceknya dengan riang dan menari bergoyang - goyang di atas pentas. Membuat para tamu undangan tertawa melihat gayanya.


Kamu, tak tahu, hancurnya, hatiku


Saat ber, hadapan kamu


Kamu, tak bisa, bayangkaaan, rasanya jadi


diriku, yang masih cinta


Uh huu


Uh huu


Uh huu


Tepuk tangan yang riuh menggema seluruh penjuru ruangan.


.


.


BERSAMBUNG