
"Allahu Akbar Elaaaaa apa - apaan ini" Teriak Disil.
Sontak yang lain memperhatikan interaksi Ela dan Disil. Dari kejauhan terlihat seperti Ela sedang bertengkar dengan Disil karena terlihat tingak Ela sedang menjambak rambut Disil.
"Sakit Diiiiiiiiiiis" rintih Ela.
"Aku juga sakit Elaaaaaaaa" balas Disil gak kalah merintih.
Fajar segera berlari ke arah istrinya, dia khawatir melihat wajah istrinya yang sedang meringis.
"Yank kamu kenapa? Wajah kamu pucat dan merintih menahan sakit?" tanya Rafa.
"Perutku sakit banget Maaaaaas" Ela kembali mencengkram rambut Ela.
"Aaaaaaaaw... ampun Eeeeeeeeel" teriak Disil.
Rafa, Ryza dan Aby merasa lucu campur meringis melihat penderitaan Disil.
"Ya Tuhan dosa apa akuuuuuuu" ujar Disil sambil terus merintih.
Alexa dan Jasmine mendekati Ela. Wajah mereka terlihat khawatirkan plus kasihan melihat Disil tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan karena cengkraman tangan Ela sangat kuat di kepala Disil.
"Sayang perut kamu mules?" tanya Alexa.
"Iya Ma, sakit banget. Duuuh kok lama ya gak hilang - hilang. Padahal tadi gak begitu" jawab Ela.
"Lho dari tadi kamu sudah merasa mules?" tanya Jasmine terkejut karena saat di rumah tadi dia tidak pernah melihat wajah Ela meringis kesakitan.
"Iya Ma, dari tadi pagi tapi hilang timbul. Sekarang kok tambah sakit, malah sakit banget" Ela kembali menarik rambut Disil.
"Allahu Akbaaaaar sakit Eeeeeel" teriak Disil lagi.
"Yank, kasihan Disil. Tolong lepasin tangan kamu" pinta Fajar pelan dan penuh kelembutan.
"Maaf Dis tapi sakit bangeet aku butuh pegangan" jawab Ela sambil merintih.
Butuh pegangan? Helloooo.. kenapa gak suami kamu aja yang kamu pegang Eeel. Rontok semua rambutnya pun aku gak akan menangis El tapi kalau rambutku yang di beginiin habis El ketampananku. Jeritan hati Disil.
"Kamu bisa pegang aku yank" bujuk Fajar. Fajar menggenggam tangan Ela yang satu sementara tangan Ela yang satunya lagi masih di kepala Disil.
"Kasihan banget nasib Disil, sungguh tragis. Waktu istrinya mau melahirkan tangannya habis penuh luka karena kuku Ditha yang nancep. Nih si Ela mau lahiran, aku rasa si Disil terancam botak" ucap Rafa prihatin melihat penderitaan sahabatnya itu.
Ela mulai mendapatkan pegangan baru yaitu tangan suaminya sehingga dia bersiap - siap untuk melepaskan tangannya yang satu lagi yang berada di kepala Disil.
Tapi pas saat dia hendak melepas cengkraman tangannya di rambut Disil rasa sakit kembali menderanya.
"Uuuuuh ya Allaaah..." teriak Ela.
"Ya Allaaaaaaaaah Elaaaaa" teriakan Disil malah lebih keras dari Ela.
"Udah Fa bawa istri kamu sekalian Disil ke rumah sakit. Papa rasa keduanya butuh pertolongan medis" ujar Omar.
"Baik Pa. Maaf Dis, sepertinya kamu juga harus ikut ke Rumah Sakit" ujar Fajar.
Disil pasrah dengan keadaan yang ada. Kalau dia melawan bisa rontok semua rambutnya. Tenaga Ela sangat kuat sekali. Dalam keadaan sadar aja dia kalah melawan Ela bertanding taekwondo apalagi saat Ela gak sadar begini. Bisa selesai hidupnya hari ini juga.
"Baik Fa, aku akan ikut. Yank lanjut aja acara kita ya. Nanti aku pulang" ucap Disil kepada Ditha.
Akhirnya mereka bertiga melangkah bersama - sama menuju mobil di susul oleh Omar, Aditya, Alexa dan Jasmine.
"Kalian disini aja dulu bantuin Ditha, nanti kalau Ela sudah lahiran kami kabari" ucap Aditya pada teman-temannya.
Tapi tidak dengan anggota Geng ERASADIS.
"Yank kami ikutan nyusul ke rumah sakit ya, kamu di sini aja sebentar. Nanti aku jemput. Rumah sakit gak baik untuk Shaby" ucap Aby pada Keysha.
"Iya Mas" jawab Keysha.
"Kamu yang temani Ditha ya Key, kami mau ikut ke rumah sakit" ucap Sintia.
"Iya aku juga ikut" sambung Catherine.
Aby, Rafa, Ryza, Sintia dan Catherine menyusul mobil Fajar dan mobil Omar menuju Rumah Sakit.
Di mobil Fajar ada Fajar, Aditya di depan sedangkan Ela dan Disil duduk di belakang. Ela masih tetap mencengkram rambut Disil.
Fajar melototkan matanya melirik ke spion. Gak nyangka dia mendengar ungkapan hati Disil dari mulut Disil sendiri.
"Kamu diam aja Dis, aku lagi konsentrasi nih biar bisa mengatasi rasa sakit sampai rumah sakit" jawab Ela.
Ela menarik nafas dan menghembuskannya kembali.
"Huf.. huf.. huf... eeeengghhhh.. ya Allaaaah" ucap Ela meringis kesakitan.
"Ya Allaaaah tolong hamba. Ampuuuun Eeeeel" teriak Disil.
"Sabar ya Dis" ucap Aditya memberi semangat. Dia juga kasihan melihat Disil yang menderita tapi Ela harus segera di selamatkan. Kondisinya sangat mengkhawatirkan.
"Maaas cepat sedikit perutku sakit bangeeeeet" rintih Elaaaaa.
"aaaaaaaaw...... " teriak Disil.
"ii.. iya sayang, Mas udah ngebut nih" jawab Fajar.
Mobil Fajar terlihat melaju kencang.
"Gila kencang banget si Fajar, aku jadi takut Ela melahirkan di mobil. Jangan sampai si Disil yang jadi bidannya. iiiiih... " bulu kuduk Rafa merinding membayangkannya.
"Sepertinya Ela sangat kesakitan. Aku gak pernah lihat Fajar sekencang ini mengendarai mobil" ujar Ryza menimpali.
Tiga puluh menit kemudian mobil Fajar, Omar dan Aby sudah sampai di Rumah Sakit.
Ela keluar dari mobil tetap memegang rambut Disil. Sungguh pemandangan yang sangat tragis. Semua orang bisa melihat betapa menderitanya nasib Disil.
Bahkan ada yang menduga Disil lah suami dari wanita yang akan melahirkan itu.
"Eeeel aku pasrah El kalau kamu ajak menemani kamu melahirkan tapi pleaaase jangan kuat - kuat donk tarik rambut aku. Botak aku Eeeel kalau kamu jambak begitu" rintih Disil pasrah.
"uuu.. daaah Diiis.. kamuuu diaaam ajaaaah. Aaah ya Allah" Ela kembali meringis.
"Aaaw... sakiiit Eeeeel" teriak Disil.
Mereka sampai di UGD dengan bantuan tim medis akhirnya tangan Ela bisa lepas dari kepala Disil.
"Huuuuffff... nasibku apeeees banget" ucap Disil lega dan lemas. Tampilan Disil terlihat sangat mengenaskan.
"Kasihan banget kamu Dis" ucap Ryza kasihan melihat Disil.
"Aku rasa ini balasan dari anak-anak Ela Dis, karena saat mereka dalam kandungan kamu selalu meledek Mama mereka" ujar Sintia.
"Ya Allah kejam banget kalian naaak padakuuu" ucap Disil lemaaaas.
Benar - benar siksa dunia. Mimpi apa aku tadi malam sampai diperlakukan seperti ini di hari bahagiaku. Batin Disil.
Ela langsung dibawa ke ruang bersalin. Aby membawa koper dan perlengkapan bersalin Ela yang sudah dipersiapkan Fajar jauh - jauh hari. Dia benar-benar belajar dari pengalaman Disil saat istrinya hendak melahirkan.
Ternyata ilmu itu sangat bermanfaat. Terbukti saat ini semua sudah dipersiapkan.
Diruang bersalin Ela.
"Maaf ya Bu, saya periksa sebentar ya.. " sapa dokter kandungan.
Ela terus meringis kesakitan dan kini tanggannya menggenggam erat tangan Fajar yang setia menemaninya di ruangan tersebut
"Astaga sudah bukaan sempurna.... "
.
.
BERSAMBUNG
Hai readers aku tambahin satu bab lagi ya buat hiburan malam minggu.
Selamat malam, selamat bersenang-senang.
Happy weekend.