
Tak lama polisi datang, Fajar, Omar dan Aditya datang ke ruang Direktur rumah sakit.
"Kami mohon maaf Pak atas musibah yang baru saja menimpa keluarga Bapak. Dan kami mohon maaf atas kelalaian dan lemahnya penjagaan Rumah Sakit sehingga terjadilah proses penculikan anak Bapak. Kami akan bertanggung jawab Pak dan bekerjasama dengan pihak rumah sakit untuk mendapatkan informasi sampai anak Bapak ditemukan" ucap Direktur Rumah Sakit.
"Iya Pak kami mengerti, kami juga tau kesalahan tidak sepenuhnya dari pihak Rumah Sakit. Penculiknya memang mempunyai motif dendam pada keluarga kami" jawab Fajar.
"Bisa Bapak ceritakan semuanya kepada kami Pak, agar kami bisa mengetahui informasi sedetail mungkin tentang tersangka penculik anak Bapak?" tanya Pak Polisi.
"Sekitar sepuluh bulan yang lalu wanita ini dan temannya seorang pria menjebak saya dan istri saya. Waktu itu saya dan istri saya akan menikah, hanya tinggal beberapa hari waktu pernikahan kami. Wanita dan teman prianya menjebak saya dengan obat tidur di restoran hotel kemudian mereka membawa saya yang saat itu tidak sadarkan diri ke kamar hotel. Wanita itu ingin menjebak saya di kamar hotel sedangkan teman prianya mengirim pesan kepada istri saya dan dia juga berencana menjebak dan memperkosa istri saya. Beruntung rencana Lisa di gagalkan Papa saya sedangkan teman prianya habis babak belur dibuat istri saya. Mereka ditahan polisi tapi wanita itu memberi pernyataan palsu, dia mengaku di jebak juga sehingga hanya teman prianya yang di penjara. Enam bulan yang lalu kami bertemu dia di sebuah restoran di Ancol. Saat itu dia juga sedang hamil dan mengancam akan membalas perbuatan kami. Saya sempat menyelidiki informasi tentang dia ternyata dia sudah menikah dengan teman prianya itu dj penjara" ungkap Fajar.
"Berarti Bapak kenal betul siapa penculik anak Bapak ya" Polis meyakinkan.
"Kenal Pak, nama wanita itu Lisa Larasati dan teman prianya bernama Rudy Kuswoyo pemilik PT. ABC yang saat ini sudah tutup karena perusaah itu mengalami kebangkrutan akibat bermain curang" Jawab Fajar.
"Baik Pak, informasi dari Bapak sangat membantu kami. Secepatnya kami akan mencari keberadaan wanita itu. Kalau ada informasi yang lain tolong secepatnya kabari kami" pinta Pak Polisi.
"Maaf Pak saya ganggu sebentar" Omar ikut bicara.
"Silahkan Bapak Barrakh" jawab Pak Polisi.
"Tadi anak saya bercerita bahwa enam bulan yang lalu dia sempat bertemu tersangka dalam keadaan hamil. Saya baru ingat saat tadi sempat melihat hasil rekaman CCTV sepertinya tersangka tidak canggung dengan keadaan rumah sakit ini. Dia seperti sudah sering ke rumah sakit ini. Saya curiga, apakah tersangka juga melahirkan di Rumah Sakit ini. Bisakah pihak rumah sakit mencari informasi tentang dia di rumah sakit ini?" pinta Omar.
"Benar Mar, aku juga berfikirkan sama dengan kamu. Aku lihat sikap Lisa terlalu tenang dan tidak ada kegugupan sedikitpun. Sepertinya dia sudah tau kapan waktunya pergantian jam kerja pada perawat sehingga dia mengambil kesempatan di waktu itu" Aditya ikut menimpali.
"Bagaimana Pak Direktur? Kami ingin melihat informasi beberapa bulan ini. Apakah ada nama wanita itu dalam daftar orang yang melahirkan di rumah sakit ini?" pinta Pak Polisi.
"Baik Pak, saya akan segera hubungi bagian administrasi untuk mengecek informasi tersebut" jawab Direktur Rumah Sakit.
Sang Direktur langsung menghubungi bawahannya untuk mencari informasi tentang Lisa di rumah sakit ini apakah nama wanita itu ada dalam daftar nama wanita yang melahirkan dalam beberapa bulan ini.
"Sudah kamu dapatkan?" tanya Direktur.
"Sudah Pak" jawab Pria di seberang.
"Baik kalau begitu kamu bawa semua datanya ke ruangan saya" perintah Direktur.
Lima menit kemudian dengan langkah tergesa-gesa seorang pria masuk keruangan Direktur.
"Ini Pak berkas yang dibutuhkan" ucap salah seorang Karyawan rumah sakit.
"Silahkan duduk, dan kamu jelaskan semua datanya kepada Bapak polisi dan keluarga besar Barrakh" perintah Direktur.
"Baik Pak" jawab Karyawan Rumah Sakit.
Fajar, Oma, Aditya dan beberapa Polisi siap mendengarkan penjelasan dari salah seorang Karyawan Rumah Sakit yang baru saja di panggil Direktur Rumah Sakit.
"Begini Pak, berdasarkan permintaan dari Bapak Direktur tadi saya sudah mencari informasi atas nama Ibu Lisa Larasati. Saya menemukan data bahwa nama tersebut benar ada di daftar rumah sakit kami. Wanita tersebut melahirkan sekitar dua bulan yang lalu. Bayinya harus lahir prematur akibat benturan. Ibu Lisa jatuh sepulang dari pemeriksaan rutin di rumah sakit dua bulan yang lalu, mengakibatkan dia mengalami pendarahan yang banyak dan bayinya tidak bisa di selamatkan" ungkap karyawan tersebut.
"Iya Pak" jawab pria itu.
"Apa jenis kelamin anaknya yang meninggal?" tanya Fajar penasaran.
"Perempuan Pak" jawab Pria itu sambil melihat data yang dia pegang.
"Gila, apa wanita itu menganggap anak kamu sebagai pengganti anaknya yang meninggal Fa?" tanya Aditya.
"Benar - benar gila wanita itu. Sepertinya dia terobsesi pada kamu Fa dan ingin memiliki anak kamu" sambung Omar.
"Atau mungkin dia memang ingin melakukan balas dendam kepada kami Pa. Bisa jadi dia tidak terima dengan nasib yang menimpanya dan menyalahkan semuanya kepada orang lain" timpa Fajar.
"Itu namanya gak tau diri. Harusnya dia bertobat atas musibah yang dia alami bukannya menyalahkan orang lain atas apa yang dia derita. Kan dia sendiri yang mencari masalah" ucap Omar geram.
"Coba cari alamat wanita itu?" perintah Direktur.
"Baik Pak, ini dia alamat sesuai KTPnya. Jalan Bunga Anggrek No. 123 Jakarta Pusat" jawab Karyawan tersebut.
"Bisa kami meminta foto copy KTPnya Pak?" pinta Polisi.
"Bisa Pak, ini dia foto copy KTPnya" jawab pria itu
Polisi segera mengambil foto copy KTP Lisa.
"Kalau begitu kami akan bergerak secepatnya Pak, sebelum wanita itu belum terlalu jauh perginya. Kami khawatir dia tidak pulang ke rumahnya melainkan ke tempat lain" ucap polisi.
"Iya Pak, kami akan menunggu informasi dari pihak polisi dan rumah sakit. Saya akan membawa istri dan dua anak saya yang lain ke rumah. Kondisi istri saya sangat stres Pak mendengar kabar ini. Saya rasa pulang ke rumah adalah keputusan yang paling baik saat ini" sambut Fajar.
"Iya Pak, kami mengerti. Semua informasi yang kami dapatkan akan kami laporkan kepada Bapak. Kalau begitu kami undur diri dulu" polisi pamit dari rumah sakit.
Tak lama Fajar juga pamit kepada Direktur Rumah Sakit.
"Kami juga pamit undur diri Pak, saya akan membawa pulang istri dan anak - anak saya" ucap Fajar.
"Iya Pak, sampaikan salam kami kepada Ibu dan permintaan maaf sebesar - besarnya atas kesalahan pihak rumah sakit. Kami harap Bapak dan Ibu kuat dan sabar menerima cobaan ini dan semoga anak serta penculiknya bisa segera tertangkap. Kalau butuh bantuan lain, kami siap Pak membantu" balas Direktur Rumah Sakit.
"Terimakasih" balas Fajar.
Fajar, Omar dan Aditya segera meninggalkan ruangan Direktur dan kembali ke ruang rawat inap Ela.
.
.
BERSAMBUNG