
Oooeeeeeek... oeeeeeek.....
"Paaaak" teriak salah satu suster yang melihat Disil tumbang dan jatuh tepat di samping tempat tidur Ditha.
Dokter dan perawat berhasil mengeluarkan bayi yang baru lahir, sedangkan perawat lain berusaha menggapai Disil yang jatuh ke lantai karena pingsan.
"Ayo panggil yang lain minta bantuan" perintah Dokter.
Salah seorang perawat keluar memanggil perawat pria yang ada di situ.
"Ada apa kok mereka terlihat panik?" tanya Dimas di depan ruang bersalin putrinya.
Sontak yang lain semua melihat ke arah ruang bersalin Ditha. Wajah mereka terlihat tegang karena melihat beberapa perawat laki - laki berlari masuk ke arah ruangan Ditha.
"Ada apa ini?" tanya Sandy khawatir.
"Sus ada apa?" tanya Fajar.
Sisil dan Mitha mulai menangis. Mereka menduga pasti sudah terjadi sesuatu dengan Ditha di dalam.
"Maaaas putri kita" ucap Mitha.
"Ada apa Suster?" Rafa mencegat salah seorang perawat yang hendak masuk.
"Ada yang pingsan di dalam Pak" jawab perawat tersebut.
"Siapa yang pingsan?" tanya Sandy khawatir
"Kami tidak tau, maaf sebentar ya Pak. Bapak tenang dulu" jawab perawat itu dan segera masuk ke dalam ruang bersalin Ditha.
Suasana di depan ruang bersalin Ditha terasa begitu mencekam. Mereka saling berpelukan dan saling memberi semangat agar lebih kuat.
"Ditha... " isak tangis Mitha terdengar.
"Tenang Mitha, kita tidak tau apa yang sedang terjadi di dalam. Teruslah berdoa" ucap Alexa berusaha menenangkan.
Sebernya Alexa juga sangat tegang karena menantunya juga sedang berjuang di kamar sebelah untuk melahirnya cucu pertamanya.
Semoga keduanya selamat begitu juga bayi mereka. Doa Alexa dalam hati.
Tak lama tiga perawat laki - laki keluar sambil mengangkat tubuh Disil yang pingsan di ruang bersalin.
"Disil" ucap Dimas.
"Disiiiiiiiil" teriak yang lain mendekat ke arah Disil.
Disil di baringkan di kamar sebelah karena tempat tidur di ruang bersalin Ditha hanya ada satu saja khusus untuk pasien yang akan melahirkan.
Rafa, Fajar dan Ryza menemani Disil di ruangan sedangkan yang lainnya tetap menunggu di depan kamar Ditha dengan lebih tegang.
"Mengapa Disil pingsan?" tanya Ela.
"Jangan - jangan Dithaaaaa" tangis Mitha kembali pecah.
"Yank kamu tenang dulu... " ucap Sandy.
Sisil menyusul ke kamar tempat Disil berbaring. Perawat memberi minyak angin di indra penciuman Disil untuk memancingnya sadar.
"Ada apa Sus?" tanya Sisil.
"Bapak ini pingsan ketika anaknya lahir Bu" jawab Perawat tersebut.
"Jadi menantu saya sudah melahirkan dan cucu saya sudah lahir dengan selamat?" tanya Sisil.
"Sudah Bu, Ibu dan bayinya selamat" jawab perawat.
"Alhamdulillah" jawab Sisil, Fajar, Rafa dan Ryza.
"Jadi kenapa dia pingsan Sus?" tanya Fajar penasaran.
"Kami menduga Bapak Disil tidak kuat melihat darah atau mungkin tidak kuat menahan sakit karena cengkraman istrinya yang begitu kuat atau mungkin karena dia terkejut melihat proses persalinan" ungkap perawat tersebut.
Mereka segara keluar kamar tempat Disil terbaring.
"Pa... cucu kita sudah lahir. Mitha cucu kita sudah lahir, Ditha dan bayinya selamat dan sehat" teriak Sisil.
"Alhamdulillah... " sambut semua yang mendengar.
Mereka saling berpelukan. Perasaan mereka sangat lega dan bahagia.
"Waaaah bayi siapa nih yang duluan lahir?" tanya Kevin tak sabar.
Tak lama Disil keluar dari ruangannya tadi.
"Tega banget gak ada yang temani aku, aku di tinggal sendiri" ucap Disil.
Semua mata tertuju padanya...
"Ya ampuuun sorry bro kami lupa karena tadi tegang banget dengar ada yang pingsan di dalam" ucap Rafa.
"Iya kirain ada apa - apa dengan Ditha. Kamu khawatir banget" sambung Catherine.
"Maaf sayang, Mama juga lupa karena terlalu bahagia mendengar cucu Mama lahir" ujar Sisil.
"Anak kamu berjenis kelamin apa Dis?" tanya Sandy tak sabar.
"Bapak sudah sadar?" tanya perawat.
"Sudah kuat Pak?" tanya Dokter tersenyum ramah.
Ditha baru saja selesai di bersihkan.
"Maaf Dok membuat kalian panik dan repot" jawab Disil malu.
"Gak apa - apa Pak sudah biasa adegan seperti tadi" Jawab Dokter.
Disil mendekati istrinya yang sedang belajar menyusui anak mereka.
"Anak Kita laki - laki atau perempuan sayang?" tanya Disil lembut.
"Perempuan Mas, dia putri kita Mas" jawab Ditha dengan mata berkaca - kaca.
"Alhamdulillah sayangnya Papa Mama" jawab Disil.
"Sudah selesai Pak, Bu. Kami bawa sebentar ya Putrinya biar di bersihin. Setelah itu Bapak bisa mengadzankannya" ucap perawat.
Perawat membawa bayi yang berjenis kelamin perempuan itu ke ruang bayi yang terletak di sebelah ruangan bersalin untuk di bersihkan. Setelah di bersihkan putri mereka di bedong dan dan di letakkan di box khusus bayi.
"Sudah bisa Pak putrinya di adzankan" lapor seorang perawat.
"Iya Sus, sebentar ya sayang. Mas tinggal dulu" ucap Disil pada Ditha.
Disil berjalan ke dalam ruang bayi, di dalamnya dia melihat Aby sedang mengadzankan anaknya.
Disil mendekati box bayi putrinya kemudian mulai mengumandangkan adzan dengan pelan ke telinga anaknya.
Setelah selesai baru dia mendekati Aby.
"Anak kalian laki-laki atau perempuan By?" tanya Disil.
"Laki-laki Dis. Anak kamu?" Aby balik bertanya.
"Perempuan" jawab Disil.
Bayi mereka di letakkan di dalam box yang berdekatan. Aby melirik ke dalam box anak Disil.
"Wah waktu lahir mereka hanya berbeda lima menit ya" ujar Aby terkejut.
"Iya, seperti bayi kembar kalau melihat mereka seperti ini" sambut Disil.
"Iya kembar dari Bapak dan Ibu yang berbeda" sambung Aby.
Mereka berdua pun tertawa.
Tak lama Aby dan Disil keluar dari ruang bayi.
"Keysha juga sudah lahiran By?" tanya Sheila gak sabar.
"Sudah Ma. Alhamdulillah. Aku dan Disil baru aja selesai mengadzankan anak - anak kami" jawab Aby.
"Apa jenis kelamin anak kalian?" tanya Kevin tak sabar.
"Bayi kami laki-laki Pa" jawab Aby.
"Dan bayi kami perempuan" jawab Disil bahagia.
"Alhamdillah dapat cucu sepasang hari ini" jawab Alexa dan Sisil.
"Waaaah bisa di jodohin tuh" ucap Rafa.
"Huuusss.... hati - hati kalau bicara jodoh. Kami dulu orangtua kalian sekalipun tidak pernah berniat menjodohkan kalian waktu kecil. Biarlah soal jodoh pilihan anak - anak kalian nanti kalau mereka sudah besar" nasehat Aditya.
Rafa tersenyum malu mendengar jawaban Aditya.
"Iya betul itu" sambung Sandy dan Dimas.
"Ajarkan saja mereka bersahabat dan bersaudara. Seperti kalian saat ini. Kan seru punya saudara banyak" ujar Kevin.
"Iya Pa" jawab Aby.
"Iya Om" balas Disil.
"Ditha dan Keysha bagaimana keadannya?" tanya Sheila.
"Alhamdulillah dua - duanya sehat Ma" jawab Aby.
"Terus kami sudah boleh kan melihat cucu kami?" tanya Mitha tak sabar.
"Boleh Ma, tuh mereka sudah di ruang bayi" tunjuk Disil.
Mereka beramai-ramai mendekat ke ruang bayi yang berdindingkan kaca. Dari dalam seorang perawat mendorong dua box bayi mendekat ke arah kaca.
"Waaaah ganteng dan cantik ya mereka berdua" puji mereka bahagia.
.
.
BERSAMBUNG