Find The KEY

Find The KEY
Ep. 189



Hari yang sangat di tunggu Rafa akhirnya tiba. Sebelum subuh dia sudah terbangun. Karena masih ada waktu Rafa melaksankan shalat tahajjud dan berdoa meminta kelancaran untuk hari ini.


"Ya Allah aku berserah diri hanya kepadaMU. Kalau memang dia adalah jodohku perlancarlah jalanku menujunya jika bukan dia yang terbaik untukku maka berikan kekuatan padaku untuk menerimanya karena KAU-lah pemilik hati ini yang dengan mudahnya membolak balikkan hatiku. Aamiin ya Rabb"


Setengah jam kemudian waktu subuh tiba, Rafa melanjutkannya dengan shalat subuh. Setelah itu dia bersiap - siap untuk pertandingan hari ini.


Sekitar pukul delapan pagi Rafa sudah turun ke lantai dasar dan Mike sudah menunggunya di sana.


"Anda sudah siap Mr?" tanya Mike.


"Sudah Mike, kita berangkat" jawab Rafa.


Sementara di Villa Lake District National Park Fajar dan Ela sedang sibuk menghubungi orangtuanya.


"Hallo Pa, kami ingin meminta satu permohonan" ucap Fajar.


"Apa itu?" jawab Omar dari seberang.


"Hari ini Rafa akan bertanding dengan Jimmy di Dojang untuk mendapatkan Catherine. Aku dan Ela ingin melihat pertandingan mereka. Jadi aku mohon kepada Papa kurangi waktu hukuman kami satu hari" pinta Fajar.


"Ah itu pasti cuma alasan kamu saja. Dikasih hukuman enak kok malah minta di percepat" tolak Omar.


"Paa... " balas Fajar.


"Pa please... aku ingin memberi semangat kepada Rafa, bagaimanapun dia adalah sahabat aku, Keket juga sahabat aku Pa. Aku ingin mereka bersatu. Please Paaaaa... Aku janji setelah pulang ke Indonesia aku akan menjadi menantu yang baik untuk keluarga Barrakh" potong Ela.


Omar tersenyum mendengar perkataan menantunya.


Walaupun kamu tidak berjanji, kamu adalah menantuku yang baik hanya saja ceroboh. Ujar Omar dalam hati.


Omar sengaja lebih lama memberikan jawaban agar terlihat agak keberatan dan sedang berfikir keras.


"Ya Pa.. pleaseee.. Papa emang mertua pualing baik sedunia, paling kaya dan paling tampan. Walau yang terakhir ketampanan Papa masih kalah dengan ketampanan suamiku. Mungkin karena Papa sudah tua kali ya. Aku yakin saat Papa masih muda Papa juga sangat tampan makanya Mama Jasmine jatuh cinta kepada Papa. Yaah walau wajah tampan suamiku tidak sepenuhnya diturunkan dari Papa ada andil Mama Jasmine juga di dalamnya. Jadi klop Papa tampan dan Mama Jasmine yang cantik menghasilkan suamiku yang super duper tampan" Ela berbicara dengan satu tarikan nafas.


"Pintar sekali kamu merayuku" sindir Omar


"Kalau aku tidak pintar pasti anak Papa tidak akan mau menikah denganku. Dan kalau soal merayu, rayuanku emang sangat maut Pa, makanya anak Papa klepek-klepek" balas Ela penuh percaya diri.


"Hahahaha... Dasar kamu memang.. " ujar Omar.


"Jadi bagaimana Pa, dikabulkan kan permintaan kami. Pleaseee Paaaaa" ucap Ela lagi. Kali ini dia memohon dengan sangat.


Fajar yang ada disebelahnya terlihat sedang tersenyum. Istrinya ini memang sangat unik, ada saja akalnya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Baiklah, Papa akan kabulkan permintaan kalian. Sebentar lagi akan datang supir ke Villa membawa pakaian kalian dan siap untuk mengantar kalian kemana saja. Selamat jalan - jalan dan bersenang - senang. Ingat permintaan Papa pada kalian. Tiga minggu lagi Papa tidak mendapat kabar baik dari kalian awaaaas.. Hukuman yang sama akan berlanjut bahkan lebih lama dari sekarang" ancam Omar.


"Siap Bos.. akan kami laksanakan dengan sepenuh jiwa. Papa tenang saja kami disini terus berusaha sampai tetes keringat terakhir" balas Ela.


"Hahaha.... ya sudah hati - hati" jawab Omar.


Dasar menantu nakal, bisa - bisanya segampang itu dia bercanda sama mertuanya. Tapi entah mengapa Omar sangat senang mendengarnya. Dia seperti mendapat hiburan baru setelah Fajar menikah dengan Ela.


Dan Omar sudah tidak sabar menunggu kepulangan Fajar dan Ela dari London. Kehadiran Ela di rumahnya nanti pasti akan menambah hangatnya rumahnya.


"Gimana sayang, Papa setuju?" tanya Fajar.


"Setuju donk, mana bisa Papa menolak pesona menantu idaman para mertua seperti aku" jawab Ela percaya diri.


"Kamu memang istri Fajar Barrakh, gak salah aku memilih kamu" Fajar mengecup lembut bibir istrinya.


"Sudah Mas sudah.. kita harus siap - siap. Sebentar lagi akan datang supir untuk menjemput kita. Dia akan membawa baju yang kita butuhkan" elak Ela.


"Maaaaas" jawab Ela malu.


"Bukannya tadi kamu bilang pada Papa bahwa kita di sini akan terus berusaha sampai tetes keringat terakhir?" goda Fajar sambil menyentuk dan meraba tubuh istrinya.


"Maaaas itu kan trik agar Papa mau mengabulkan permintaan kita" jawab Ela.


"Tapi bagiku itu sebuah ketegasan sayang bahwa kita memang harus berusaha sampai keringat terakhir" Fajar tersenyum nakal.


Sementara Ela tidak sanggup lagi berkata karena tangan nakal suaminya sudah merayap ke seluruh penjuru tubuhnya.


Melihat istrinya sudah pasrah dalam pelukannya Fajar mengangkat tubuh Ela dan membawanya ke atas ranjang.


Omongan harus sesuai dengan perbuatan, itulah yang mereka lakukan saat ini. Terus berjuang dan berusaha untuk mencetak bibit unggul keluarga Barrakh.


Tampan dan cantik juga berasal dari keturunan keluarga sama-sama pintar sudah bisa dipastikan akan menghasilkan bibit unggul.


"Kamu sudah siap?" ucap Fajar lembut di telinga istrinya.


Membuat Ela merasa geli bercampur gairah. Dengan wajah merah merona Ela menganggukkan kepalanya.


Walau bicara Ela yang suka vulgar dan tak tau malu ternyata berbanding terbalik dengan sikapnya di atas ranjang. Entah memang karena mereka baru menikah tapi Fajar merasa gemas melihat istrinya yang selalu malu-malu di atas ranjang.


Dia menemukan sisi lain dari sifat istrinya. Sungguh dia sangat mencintai istrinya dengan sepenuh hatinya.


Fajar melakukan penyatuan mereka dan membimbing Ela sampai kepuncak kepuasan. Dan berakhir dengan sangat indah.


Setelah selesai dan mereka istirahat sebentar Fajar dan Ela memutuskan untuk mandi yang kedua kalinya pagi ini. Karena sebelum subuh tadi mereka sudah mandi.


Sebentar lagi supir yang diutus Omar pasti akan datang dan mereka bersiap untuk meninggalkan villa dan kembali ke London.


Tepat setelah mereka selesai mandi bel villa berbunyi.


Ting.. Tong..


"Sebentar ya sayang aku buka pintu dulu, kamu bersiap setelah ini kita akan berangkat langsung ke Dojang" ucap Fajar.


"Oke Mas, aku sudah tidak sabar untuk segera keluar dari villa ini. Ternyata bosan juga seminggu di kurung disini" jawab Ela.


Fajar tersenyum karena merasa lucu melihat tingkah istrinya.


Kamu tau sayang seumur hidup dihukum seperti ini dengan kamu aku tidak akan pernah merasa bosan. Walau aku tau itu tidak akan mungkin terjadi. Batin Fajar.


Fajar segera berjalan menuju pintu dan menerima koper yang dibawa supir. Setelah itu mereka berdua bersiap - siap untuk pergi meninggalkan villa tersebut.


Villa bersejarah dalam kisah cintanya bersama Ela. Mungkin aku harus membeli Villa ini agar kenanganku bersama Ela tetap terjaga disini.


Tiba-tiba Fajar mendapatkan ide baru yang harus segera dia wujudkan.


BOS


Jim setelah pertandingan kamu dengan Rafa pagi ini segera cari informasi mengenai Villa ini. Aku ingin kamu membelinya. Aku tidak mau Villa yang bersejarah dalam hidupku ini dinikmati juga oleh pasangan lain.


Pesan terkirim...


.


.


BERSAMBUNG