Find The KEY

Find The KEY
Ep. 40



"Sayaaaang.....?" Teriak Sintia, Rafa dan Aby.


"Hehehe.. sorry yank keceplosan" ucap Disil pada Ditha.


Ditha pasang wajah cemberut. Nasi sudah menjadi bubur tak mungkin Ditha bisa mengelak lagi.


"Wah... wah... aku cemburu, ternyata aku bukan honey bunny sweety kamu lagi" ucap Ela pura-pura sedih.


"Bisa kamu jelaskan Dis?" tanya Aby.


"Hehehe... aku udah nembak Ditha kemarin. Tapi status masih sama bro, masih sahabat. Ni mau OTW melamar" ucap Disil.


"What's? kamu kok gak cerita ke aku Tha?" tanya Sintia.


"Maaf Sin, aku belum siap bilang sama kalian" ucap Ditha malu.


"Ada kabar gembira nih?" teriak Ela.


"Yah begitulah El, tolong bantuin aku buat yakinin Ditha agar mau nikah secepatnya. Dia gak mau nikah kalau kamu gak pulang" ucap Disil.


"Tenang Tha... kalau kalian nikah aku pasti akan pulang" jawab Ela.


"Benar ya El?" tuntut Ditha.


"Iya sayaaang, aku udah gak sabar mau merancang gaun pernikahan kamu. Aku akan buat kamu jadi ratu. Pokoknya para wanita akan iri melihat pengantin cantik seperti kamu" jawab Ela.


"Gak nyangka aku Dis bisa kalah sama kamu" ucap Rafa.


"Makanya Raf jangan kelamaaan pacaran akhirnya masuk angin, hubungan kalian bantet" sindir Disil.


"Bantet?" tanya Aby bingung.


"Iya bantet, gak berkembang. Kayak hubungan Rafa pacaran aja terus gak nikah-nikah. Jangan-jangan diantara kita malah kamu nanti yang terakhir nikah" ledek Disil.


"Ih doa kamu jelek banget" sambut Rafa.


"Makanya semangat bro" ucap Disil.


"Jadi kapan kalian nikah?" tanya Ela.


"Secepatnya El, kalau besok kamu bisa pulang, besok juga aku nikahin Ditha" jawab Disil.


"Ye.. kamu fikir nikah itu segampang bibir kamu bergetar. Mangap dikit udah keluar tuh kata-kata muslihat. Makanya si Ditha manut, kena hipnotis kata-kata dari mulut kamu yang beracun" ledek Ela.


"Sulap kali El pakai tipu muslihat dan hipnotis. Saat ini Ditha dalam keadaan sadar tidak kurang satu apapun" ucap Disil.


"Ada kurangnya Dis" potong Ela.


"Kurang apa?" tanya Disil penasaran.


"Kurang jelas aja matanya bisa-bisa dia mau nerima lamaran kamu. Aku rasa matanya sudah rusak hahaha" ejek Ela.


"Ku jitak juga nih anak" Disil maju ke arah TV dan nyentil TV Ditha yang menampilkan wajah Ela dari dekat.


"Sakit nih anak, TV jadi pelampiasan" ejek Aby.


"Habis emosi gua lihat adik lo, tinggi amat seleranya. Gak bisa lihat apa babang Disil tampan gini. Mata kamu kali yang rusak" umpat Disil kesal.


Akhirnya kangennya bertengkar dengan Ela terbayar sudah walau lewat VC.


"Hahahhaa.. iya bambang, kamu memang tamfan" ucap Ela sambil tertawa.


"Ba... bang... Elaaa bukan Bambang" teriak Disil.


"Hahahha..." yang lain tertawa melihat tingkah Disil.


Sudah lama adegan seperti ini terlewatkan.


"Elaaaa kangeeeen" panggil Ditha sedih.


"Iya El, kami kangen banget sama kamu" Sintia mulai mewek.


"Hey.. hey... ngapain kalian nangis, ini bukan siaran TV jalinan kasih atau sinetron yang bercerita suaminya kawin lagi" ucap Disil.


"Kamu ngerusak aja Dis, kami kan lagi sedih karena kangen Ela" sambung Sintia.


"Iya, kamu gak peka Dis" sambut Ditha.


"Peka banget hati babang dek, nih babang kasi tisu untuk lap iler adek" goda Disil.


"Iiiiih Disil. Kog malah iler siiiih" Ditha memukul bahu Disil karena kesal.


"Sabar... sabar... ini cobaan aku pasti pulang" ucap Ela.


Aby hanya tertawa melihat tingkah teman-temannya. Sedangkan Rafa lebih banyak diam dan melihat wajah Ela dengan serius. Wajah yang sangat dia rindukan selama lima tahun ini.


Tidak bisa dia membohongi hatinya, saat Ela pergi hari-harinya sepi. Walau Lisa sudah mengisi hatinya tapi entah mengapa kepergian Ela sangat membuatnya kehilangan.


Ela makin cantik saja, dan sepertinya dia sudah berubah. Gak tomboy seperti dulu, walau saat ini Rafa melihat wajah kucel Ela karena wajahnya terkenal cat sana sini tapi Rafa melihat perubahan di wajah Ela.


Dia memakai lipstik tipis dan sudah pintar melukis alis.


Aaaakh... kangen kamu El. Batin Rafa.


"Jadi kabar lainnya apa lagi nih? Ada yang akan segera menyusul Ditha dan Disil? Rafa gimana?" tanya Ela.


"Dia mah masih lama El, lagi galau" goda Disil.


"Galau gimana?" tanya Ela penasaran.


"Tanya sendiri noh sama orangnya" ucap Disil.


"Gimana Raf, kapan nyusul Disil? Kalau kalian nikahnya barengan kan aku bisa menghemat waktu dan biaya hehehe" oceh Ela.


"Huu... pelit kamu. Udah berhasil juga disana sebagai designer" ejek Disil.


"Gimana Raf?" desak Ela.


"Masih lama sepertinya El, aku dan Lisa belum ada membicarakan hal serius" jawab Rafa akhirnya.


"Lah udah enam tahun lho Raf masak mau pacaran terus. Biar aku sekalian buatin gaun pernikahan untuk Lisa juga" ucap Ela.


"Eh jangan El, kamu fokus buat punya Ditha aja dulu. Kalau aku mau nikah nanti aku bilang deh sama kamu" ucap Rafa.


"Trus siapa lagi, Kak Aby, Sintia?" tanya Ela.


"Aby juga udah ketemu sama targetnya El. Kamu ingat gak cewek yang dulu lawan sekolah kita saat lomba cerdas tangkas waktu SMU?" tanya Disil.


"Ingat si Kunci. Ya kan Kak Aby?" tanya Ela pada kakaknya.


"Eeeel dia punya nama" teriak Aby.


"Hehe sorry kak, Key kan namanya?" tanya Ela lagi.


"Yup. Tepat sekali" potong Disil.


"Keysha?" tanya Ditha.


"Kamu serius By?" tanya Sintia tak percaya. Ternyata Dia dan Aby sama-sama mempunyai target yang sama dari Barrakh Corp.


"Apa sih, cuma rekan bisnis" jawab Aby.


"Cie.. cie.. yang malu-malu" goda Disil.


"Benaran cuma rekan bisnis El" Aby masih tidak mau terbuka.


"Gak apa kak, rekan bisnis dulu nanti kan bisa naik level jadi rekan hidup" ucap Ela.


"Sok tau kamu" jawab Aby malu.


"Hey kak aku ini kembaran kamu. Tau banget arti wajah kamu saat ini" ucap Ela.


"Emang apa arti wajah Aby saat ini El?" tanya Disil penasaran.


"Wajah orang yang lagi jatuh cinta" jawab Ela.


"Sama donk dengan wajah aku saat ini" sambung Disil.


"Kalau wajah kamu saat ini wajah kebelet sepertinya Dis" ucap Ela.


"Kebelet gimana maksud kamu?" tanya Disil penasaran.


"Kebelet nikah hahahaha" tawa Ela senang.


Rasa hari ini puas banget dia tertawa bersama teman-temannya. Sudah lama dia tidak tertawa lepas seperti ini. Sebenarnya dia sangat kangen ingin pulang tapi kerjaannya sangat padat disini.


"Kalau itu sih seratus untuk kamu. Kamu emang tau banget isi hati babang" ucap Disil.


"Tau banget bambaaaaang" teriak Ela.


.


.


BERSAMBUNG