Find The KEY

Find The KEY
Ep. 319



"Naaah sudah normal kembali tekanan darah Ibu tapi obat yang saya kasih tetap di makan ya" ucap Dokter.


"Alhamdulillah..... " jawab semua yang ada di dalam ruang praktek Dokter.


"Bayi di dalam juga sehat dan aktif. Semua hasilnya bagus. Berat bayinya juga normal kok" ucap Dokter.


"Syukurlah semuanya baik" ucap Lidya yang mendengarkan penjelasan Dokter dengan lebih teliti. Dia tidak mau melewatkan sedikitpun informasi tentang menantunya ini.


"Tapi dua minggu lagi kita tetap harus pantau ya. Dua minggu lagi berkunjung lagi ya Bu. Gak bosankan lihat wajah saya terus" ucap Dokter bercanda agar Catherine tidak tegang.


"Nggak lah Dok, justru saya tenang kalau sudah bertemu Dokter" balas Catherine.


"Ini saya kasih resepnya ya Pak. Sampai ketemu lagi Ibu Catherine dua minggu lagi" ucap Dokter.


Setelah pemeriksaan kandungan Catherine kedua orang tua Catherine sengaja di tahan Rafa untuk pulang. Dia meminta waktu dua minggu lagi sampai pemeriksaan kandungan Catherine yang berikutnya.


Karena sebelum pulang tadi Rafa sempat bicara berdua dengan Dokter kandungan tanpa sepengetahuan Catherine. Rafa beralasan kalau ponselnya tinggal di dalam ruangan Dokter. Kesempatan itu dimanfaatkan Rafa untuk bertanya kepada Dokter.


Kalau seandainya tekanan darah Catherine naik lagi di usia kandungan tujuh bulan Dokter akan melakukan operasi kepada Catherine. Dan bayinya akan lahir prematur.


Hal itu diambil untuk mencegah terjadinya hal yang tidak di inginkan. Jangan sampai Catherine mengalami kejang atau anak dalam kandungan Catherine keracunan akibat tekanan darah Catherine yang tinggi.


Oleh sebab itu Rafa membujuk Mr dan Mrs. Wolter untuk menunda kepulangan mereka. Dan hal ini sangat disambut kedua orangtua Catherine. Mereka juga sangat berat meninggalkan Catherine saat hamil seperti ini.


Urusan pekerjaan Mr. Wolter sudah dia persiapkan jauh - jauh hari makanya kemarin mereka sedikit telat sampai di Indonesia.


Ini membuat Rafa sangat lega, karena semua keluarga ada bersamanya dan selalu mendukungnya.


Catherine tidak curiga sedikitpun mengapa orangtuanya pulang lebih lama karena Mr dan Mrs. Wolter mengaku masih kangen sama Fathir cucu mereka.


Dua minggu berlalu dengan normal dan baik. Catherine kembali melakukan pemeriksaan hanya saja kali ini tidak ditemani oleh orang tua dan mertuanya lagi. Hanya Catherine, Rafa dan Fathir.


Hasilnya semuanya baik. Catherine dan Rafa sangat senang karena tekanan darah Catherine tetap normal.


"Bagus kan Key hasilnya?" tanya Keysha saat mereka bersama - sama cek kandungan lagi.


"Alhamdulillah Key" jawab Catherine senang.


"Syukurlah. Mudah - mudah kita bisa bareng ya melahirkannya. Dulu Shaby bareng sama Sitha. Fathir bareng Ryntia lahirnya. Kalau twinsku ini barengan lahirnya sama putri kamu kan seru juga. Biar ulang tahunnya barengan di rayain" ucap Keysha.


"Iya ya tapi gak bisa di prediksi Key. Aku harus siap kapan saja Dokter bilang harus operasi. Semua tergantung dengan kondisiku. Maklumlah belajar dari pengalaman dulu" jawab Catherine.


"Iya juga Ket. Ah yang penting semua sehat - sehat dan mereka bisa lahir dengan selamat" balas Keysha.


"Aamiin.... " sambut Catherine.


Setelah sampai di rumah hasil pemeriksaan Catherine sudah disampaikan kepada seluruh keluarga.


Saat mereka sedang makan malam bersama.


"Honey... mungkin lusa Mommy dan Daddy pulang ke London ya" ucap Mrs. Wolter.


"Iya Mom. Mommy dan Daddy kan udah sebulan di sini. Kasihan kerjaan Daddy menumpuk di London" jawab Catherine.


"Kamu.. mmm gak apa - apa kan kalau Mommy dan daddy pulang?" tanya Mrs. Wolter ragu.


"Aku gak apa - apa Mom. Jangan khawatirkan keadaanku. Seperti yang kalian dengan tadi hasil pemeriksaanku semuanya bagus. Aku dan bayiku baik - baik saja" tegas Catherine.


"Kamu harus tetap semangat ya sayang walaupun Daddy dan Mommy tidak ada di sini. Nanti kalau kamu melahirkan kami akan datang lagi ke sini" ucap Mr. Wolter.


"Kabari kami setidaknya satu hari sebelum kamu melahirkan ya sayang agar kami punya waktu untuk terbang ke Indonesia dan bisa memberikan semangat untuk kamu saat kamu melahirkan" sambut Mrs. Wolter


"Iya Mom. Kami akan mengabari Mommy dan Daddy" jawab Catherine.


"Grandma dan Grandpa jangan lupa bawa coklat yang banyak ya untukku" ucap Fathir.


"Iya sayang nanti akan grandma bawa yang baaanyak untuk kamu. Maaf ya kemarin kami kelupaan karena terburu - buru" jawab Mrs. Wolter.


"Makasih sayang" ujar Mrs. Wolter dan tersenyum lembut kepada cucunya.


"Mommy tenang saja ya, walaupun grandpa dan grandma pulang tapi kan tetap ada Opa dan Oma di sini" ucap Fathir berusaha menenangkan Mommynya.


"Iya honey, Mommy tidak takut. Kan ada kamu jagoannya Mommy" balas Catherine memuji putranya.


"Siap. Aku akan selalu berada di samping Mommy" tegas Fathir.


Semua tertawa mendengar jawaban Fathir.


Keesokan harinya Catherine, Rafa dan Fathir bersiap - siap untuk mengantar Mr dan Mrs. Wolter ke Bandara. Karena sorenya mereka akan berangkat ke London.


"Mommy sudah siap?" tanya Catherine.


"Sudah honey" Jawab Mrs. Wolter.


Mr.Wolter datang dari arah belakang membawa coper mereka.


"Yuk kita ke mobil" ajak Rafa.


"Kami pulang dulu ya Mr. Reza. Nanti kalau Catherine sudah mau melahirkan kami akan datang lagi" ucap Mr. Wolter kepada Papanya Rafa.


"Baik Mr. Wolter. Hati - hati di jalan ya" balas Reza.


Mrs. Wolter juga saling berpelukan dengan Lidya untuk berpamitan. Catherine terlihat seperti meringis dan Fathir memperhatikan setiap gerakan Mommynya.


"Mommy kenapa? Apakah perut Mommy sakit?" tanya Fathir.


"Tidak sayang. Mommy hanya sedikit pusing. Tapi nanti juga sembuh sendiri" jawab Catherine.


Setelah berpamitan Mr dan Mrs. Wolter naik ke dalam mobil Rafa. Mereka melaju menuju Bandara. Selama dalam perjalanan Catherine terlihat lebih banyak diam.


Entah mengapa tiba - tiba badannya terasa tidak enak, kepalanya pusing dan keringat mengucur deras.


"Sayang kamu kok diam saja, kenapa?" tanya Rafa yang heran melihat istrinya dari tadi tidak banyak bercerita.


"Kamu sedih ya karena Mom dan Dad mau pulanh?" Goda Mrs. Wolter.


"Ha.. nggak Mom" jawab Catherine.


"Mommy tadi bilang kalau kepalanya pusing" sambut Fathir.


Seketika Rafa memperhatikan gerak - gerik istrinya.


"Yank, wajah kamu pucat. Kamu kenapa? Jangan diam aja donk, kalau ada yang sakit kamu bilang ke aku. Jangan diam saja" ucap Fathir.


"Mm.. anu Mas kepalaku pusing sekali. Aku kira akan hilang dengan sendirinya tapi ternyata aku semakin pusing" jawab Catherine.


Rafa menepikan mobilnya di tepi jalan dan memeriksa keadaan istrinya.


"Kamu keringat dingin yank" ucap Rafa.


"Are you okey honey?" tanya Mrs. Wolter khawatir.


"Sorry Mom, Dad sepertinya kita harus segara ke rumah sakit. Selama kehamilannya Catherine tidak pernah seperti ini. Sepertinya kita batal ke Bandara" ucap Rafa.


"Tidak apa - apa Raf, ayo kita ke Rumah Sakit. Keselamatan Catherine dan bayinya yang utama" jawab Mr. Wolter.


Rafa kembali mengemudikan mobilnya tapi sudah berbeda arah, bukan ke Bandara melainkan ke Rumah Sakit.


.


.


BERSAMBUNG