
"Huaaaa Nonaaaaa.... " ucap mereka bersama - sama.
"Kenapa Uncle, apa masakanku tidak enak?" tanya Elfa
"Ueeeenak banget tapi haaaah puedaaaas" jawab Jimmy.
"Iya Nona, apa semua masakan Indonesia seperti ini?" tanya Kepala Koki.
"Tidak, tidak semua. Ketepatan aku memang pecinta pedas, makanya aku buat sesuai seleraku" jawab Elfa cuek.
Jimmy dan Kepala Koki saling pandang.
"Jadi apakah tidak sesuai dengan selera kalian?" tanya Elfa.
"Tidak.. tidak.. Nona kami suka dengan masakan Nona" jawab Jimmy cepat.
"Benar Nona masakan Nona sangat enak" puji Kepala Koki.
Memang masakan Elfa enak tapi sangat pedas. Mereka jadi bertanya tanya, apakah memang semua masakan Indonesia seperti ini.
Dan apakah baik untuk perut mereka menghabiskan dua makanan yang di masak Elfa ini? Tapi menolak masakan Elfa sangat tidak mungkin karena dia adalah cucu pemilik Hotel.
Ditambah lagi Elfa tadi memasaknya dengan sangat semangat. Mereka jadi tidak enak menolak makanan yang dengan susah payah sudah Elfa masak.
Walau dengan berat hati mereka tetap memakan masakan yang Elfa masak dengan peluh keringat. Bulak balik mereka menghapus keringat di wajah mereka dengan tisu.
"Sruuuup.... aaaaaah. Akhirnyaaaa habis juga" ucap Kepala Koki.
"Pedas banget tapi enak" puji Jimmy.
"Beneran Uncle?" tanya Elfa
"Benar Nona, tapi lain kali kalau Nona mau masak lagi tolong jangan terlalu pedas ya" pinta Jimmy jujur.
"Maaf Uncle aku tidak tau kalau lidah kalian tidak kuat makanan pedas seperti ini" ucap Elfa sedih.
"Nona jangan sedih, kami serius masakan Nona benar-benar enak hanya saja kami tidak terbiasa makan pedas seperti ini" sambung Kepala Koki.
"Sepertinya ini bisa jadi ide menu tambahan di restoran Hotel kita Mr. Andre. Jadi kalau ada orang Indonesia kangen mie instan Indonesia mereka bisa mencarinya di restoran kita. Kamu tadi sudah lihat kan bagaimana cara Nona Elfa masak?" tanya Jimmy.
"Sudah Mr. Jimmy. Aku akan mencatat sesuai dengan intruksi dari Mr" sambut Kepala Koki.
"Kalau sudah siap kita bisa melanjutkan pelajaran kita Uncle, kalau kelamaan Uncle jadi gak siap untuk pertunjukan besok" ajak Elfa.
"Iya, saya sampai lupa Nona. Mari Nona kita kembali ke ruangan saya" sambut Jimmy.
"Uncle Andre terimakasih sudah meminjamkan dapurnya untukku bereksperimen hari ini. Dan terimakasih Uncle sudah bersedia memakan makanan yang saya masak. Maaf kalau tidak sesuai dengan selera Uncle" ucap Elfa sopan.
"Sama-sama Nona, justru saya sangat berterimakasih Nona sudah meluangkan waktunya untuk memasakkan makanan untuk saya. Saya sangat tersanjung mendapatkan kesempatan seperti ini" balas Kepala Koki dengan tak kalah hormatnya.
"Saya pamit dulu Uncle" ucap Elfa dan menjabat tangan Kepala Koki dengan hormat.
Sedangkan Kepala Koki menundukkan kepalanya memberi hormat. Sungguh keluarga yang luar biasa. Pemilik TBF Hotel beserta keluarganya semua sangat sopan kepada karyawan di Hotel ini.
Walaupun mereka adalah pemilik TBF Hotel ini tapi tak satupun yang bersikap arogan dan semena - mena. Itu yang membuat mereka sangat betah bekerja di TBF Hotel ini.
Andre sangat salut dengan keluarga Barrakh. Walau kaya mereka tetap hormat kepada orang yang lebih tua dari mereka. Contohnya Nona Cilik nya ini.
Walau gayanya sangat tomboy ternyata dia sangat lihai memasak di dapur. Awalnya Kepala Koki tidak yakin kalau Nona ciliknya ini bisa masak.
Bahkan dia sempat meremehkan kemampuan Elfa dalam hati. Dia fikir masakan Elfa akan hancur dan tak karuan.
Tetapi saat melihat Elfa memotong bahan-bahan masakan tadi penilaian Kepala Koki berubah. Ternyata dia salah menilai.
Setelah merasakan masakan Elfa dia semakin salut dengan Nona Ciliknya ini. Masakannya sangat enak walau sangat pedas.
Mudah - mudahan perutnya tidak apa - apa setelah makan makanan pedas yang di masak Elfa tadi.
Elfa dan Jimmy sudah sampai di ruang kerja Jimmy.
"Dimana Uncle menyimpan oleh-oleh dari Shaby?" tanya Elfa
"Boleh Uncle. Aku mau kentang goreng saja" jawab Elfa
Jimmy segera menelpon Kepala Koki.
"Andre tolong kamu masakkan kentang goreng untuk Nona Elfa dan bawa ke rumah kerjaku ya" pinta Jimmy.
"Baik Mr. Jimmy. Tapi tumben Nona cilik berlama-lama main denganmu?" tanya Kepala Koki penasaran.
"Kami punya sedikit bisnis. Dia ingin belajar tentang Hotel ini. Sepertinya kelak dia yang akan menjadi penerus mengelola Hotel ini" ungkap Jimmy.
"Aaah aku sangat senang sekali mendengarnya. Nona cilik itu memang sangat berbakat" puji Kepala Koki.
"Ya sudah kamu buatkan segera apa yang dia minta. Aku ingin melanjutkan pembicaraan kami yang sempat tertunda" balas Jimmy.
"Baik Mr. Jimmy" balas Kepala Koki.
Telepon pun terputus. Jimmy mengambil oleh-oleh yang di bawa Shaby dan duduk di sofa tepat di depan Elfa.
"Apa nama patung - patung ini Nona?" tanya Jimmy. Kemarin rasanya Tuan Shaby dan Nona Ryntia sudah menyebutkannya tapi dia lupa.
"Ini namanya wayang golek Uncle" jawab Elfa.
"Apakah ini hiasan atau bisa digunakan?" tanya Jimmy bingung.
"Ini bisa dimainkan tapi juga bisa dijadikan pajangan" balas Elfa.
"Bagaimana cara memainkannya Nona?" tanya Jimmy penasaran.
Elfa mengambil satu wayang golek dan mempraktikkannya kepada Jimmy. Jimmy merasa sangat takjub dengan permainan barunya.
Wajahnya terlihat sumringah seperti anak kecil yang baru diberikan mainan baru oleh orang tuanya.
Tak begitu lama Kepala Koki datang mengantarkan kenyang goreng yang di pesan Elfa. Dia merasa harus mengantarkan sendiri kentang goreng yang Elfa minta sebagai balas budi karena tadi Elfa sudah memasakkannya makanan Indonesia.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk" perintah Jimmy dari dalam.
Kepala Koki masuk ke dalam ruang kerja Jimmy dan melihat Jimmy sedang memegang sesuatu.
"Apa yang kamu lakukan Mr. Jimmy?" tanya Kepala Koki penasaran.
"Aku sedang memainkan wayang golek yang dibawa Tuan Muda Shaby" jawab Jimmy.
"Wayang golek. Nama apa itu?" tanya Kepala Koki bingung.
"Nama patung ini Uncle. Ini permainan tradisional dari Indonesia. Berasal dari pulau Jawa dan seperti ini cara memainkannya" Elfa memainkan salah satu wayang golek.
Kepala Koki meletakkan kentang goreng yang Elfa pesan di atas meja kemudian duduk di samping Jimmy.
Kepala Koki dan Jimmy adalah teman dekat, sehingga mereka sudah terbiasa duduk santai di ruangan Jimmy seperti ini kalau pekerjaan mereka sama - sama sudah selesai.
"Apakah Uncle ingin juga memainkannya?" tawar Elfa.
"Boleh.. sepertinya asik" sambut Kepala Koki.
"Nah Uncle ikuti caraku. Bagaimana kalau kita bertiga membuat drama untuk besok. Sebagai hadiah ulang tahun untuk Fathir dan Ryntia" ucap Elfa
"Boleh Nona Muda. Apakah sulit?" tanya Kepala Koki.
"Tidak asalkan kita membuat isi dramanya dulu baru setelah itu menyesuaikan dengan wayang golek ini. Bagaimana, Uncle setuju?" tantang Elfa.
"Setuju.... "
.
.
BERSAMBUNG