
"Sekarang bagaimana perasaan kamu padanya? Apakah kamu masih menyukai Rafa?" tanya Disil pelan.
Ela terdiam dan menatap Disil.
"Kamu gak percaya padaku El. Aku sahabat kamu, cerita padaku, aku akan dengar" desak Disil.
Rafa menghentikan gerakannya yang sudah memegang gagang pintu. Dengan hati berdebar dia menunggu jawaban Ela dari dalam kamar yang belum tertutup rapat.
Ela menarik nafas panjang dan mulai bercerita.
"Entahlah Dis aku tidak tau pasti apakah perasaan itu sudah hilang atau belum. Dulu aku sangat takut untuk pulang ke Indonesia. Takut untuk bertemu Rafa lagi dan melihat dia berjalan bersama Lisa. Tapi setelah aku fikir-fikir sudah saatnya aku kembali. Aku harus berani menghadapi kenyataan kalau dia memang bukan untukku. Cukup sudah enam tahun aku pergi dan mencoba menghapus rasa itu. Mungkin dia memang diciptakan hanya untuk menjadi sahabatku" ungkap Ela.
Ela menghempaskan nafasnya dengan berat.
"Tadi saat aku pertama kali melihat wajahnya di Dojang entah mengapa ada rasa yang berbeda. Aku.. aku merasa gimana ya? Aku merasa memang tidak ada lagi perasaan lain yang harus aku lanjutkan kecuali rasa sayang sebagai sahabat. Aku bisa tenang menghadapinya dan bisa menatap matanya dengan lantang" ucap Ela lega.
"Dan anehnya lagi aku bisa sesantai itu bercanda dengannya saat kita makan bakso dan bahkan tadi saat kita main gitar bareng. Aku sendiri juga merasa takjub dengan rasa baru yang aku alami. Rasanya ringan banget dan aku tidak menyangka bisa mengalir aja begitu. Rasa takut aku sebelumnya untuk bertemu kembali dengannya hilang begitu saja" pengakuan Ela.
Rafa sangat terkejut mendengar jawaban Ela. Ada yang sakit di hatinya saat mendengar jawaban Ela. Rasa penyesalan rasa bersalah timbul sangat besar menyesakkan dadanya.
Bodoh... bodohnya aku tidak menyadarinya selama ini. Aku sudah menyakiti Ela selama itu. Tujuh tahun Ela memendam perasaan padaku tanpa pernah sedikitpun aku tau? Batin Rafa.
"Mmmm... kalau seandainya saat ini status Rafa berbeda gimana El?" tanya Disil sangat hati-hati.
"Maksud kamu?" tanya Ela penasaran.
"Ini seandainya ya... Seandainya Rafa saat ini sudah sendiri?" tanya Disil.
Ela kembali menarik nafas panjang.
"Aku gak tau Dis, karena perasaan baru yang baru saja aku sadari tadi masih terlalu singkat. Aku belum begitu yakin dengan hal itu. Saat ini aku hanya ingin menikmati rasa lega di hatiku ini. Rasanya ringaaaan banget bisa bercanda dan bercengkrama dengan Rafa lagi tanpa ada yang mengganjal di hati. Aku tidak mau merusak rasa itu dengan harapan baru. Biar saja lah Dis mengalir seperti air, aku ikut kemana nasib membawaku. Capek ah mengulang kisah lalu. Aku baru saja merasakan kebebasan" ungkap Ela.
"Aku kan tadi bilang seandainya El" ucap Disil.
"Lagian kalau Rafa sudah sendiri, belum tentu juga dia balas cintaku Dis. Kalau dia emang suka padaku pasti sudah dari dulu dia merasakannya bukan malah sekarang saat aku sudah jauh darinya" sambung Ela.
"Yah siapa tau aja seperti syair lagu dangdut.. kalau sudaaaah tiadaaa baru teraaasaaa... karena kehaaadirannyaaa sungguh bermaaaaknaaa" jawab Disil sambil bersenandung.
Deg... jantung Rafa berhenti berdetak... Dia tersadar dengan apa yang barusan dikatakan Disil.
Apakah benar apa yang Disil katakan??? Batin Rafa.
"Gak nyangka ternyata kamu pecinta lagu dangdut. Setelah hampir dua puluh lima tahun usia kita aku baru nyadar hahaha" tawa Ela.
"Sudah ah, udah malam. Kamu gak ngantuk?" tanya Ela.
"Kalau kamu masih mau cerita aku temani, mataku masih bisa diajak kompromi" ucap Disil.
"Aku belum ngantuk Dis" jawab Ela.
"Jadi apa aja kerjaan kamu di sana?" tanya Disil.
"Aku merancang busana. Kalau ada waktu senggang aku pergi ke tempat-tempat yang indah dan melukis di sana" jawab Ela.
"Aku kan emang udah cuantik dari sono nya bro" ucap Ela bangga.
"Maksud aku ya tambah cantik dari sebelumnya. Sepertinya sudah bisa berdandan nih sedikit-sedikit" ucap Disil sambil memperhatikan wajah Ela.
"Wajah kamu lebih mulus, udah bisa lukis alis dan poles bibir" puji Disil.
"Ya namanya perancang busana Dis, kalau aku gayanya seperti dulu gak kenal mode ya gak ada yang percaya dengan keahlianku. Gak bakal ada yang mau pesan gaun mereka untuk aku rancang" jawab Ela.
"Iya juga ya... tapi di sana kamu gila juga seperti di sini?" tanya Disil penasaran.
"Ya nggak lah. Disana negeri orang bro mana bisa aku sembarangan. Harus bisa menempatkan diri sesuai keadaan. Pengalaman mengajarkan padaku seperti itu seperti kata pribahasa dimana langit dijunjung disitu tanah dipijak" ucap Ela.
"Kebalik El" potong Disil.
"Eh iya ya... berasa udah benar tadi aku nyebutnya" kekeh Ela.
"Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung" Disil memperbaiki kata-kata Ela.
"Sudahlaaah sama aja itu" balas Ela.
"Dasar kamu" umpat Disil.
Mereka pubmn tertawa bersama. Rafa mengurungkan niatnya untuk pergi keluar kamar Aby mengambil hpnya yang tertinggal.
Rafa kembali berbaring di atas tempat tidur Aby. Dia menatap langit-langit kamar Aby mencoba mencerna setiap kata yang Ela bincangkan tadi dengan Disil.
El... maafkan aku telat menyadari perasaan kamu, kalau seandainya dulu aku mengetahuinya aku tidak akan tega berbuat sekejam itu padaku. Kamu juga tidak akan pergi jauh dan aku juga tidak akan merasakan pengkhianatan Lisa.
Rafa meraba dadanya...
Apa ini jawaban mengapa hubungan aku dengan Lisa terasa hambar setelah kepergian Ela. Sejak Ela pergi aku memang merasa ada yang hilang. Hari-hariku tidak seceria saat bersama Ela. Ela berhasil menghibur dan mengisi keseharian kami bersama. Kami bisa bercanda, bermain gitar bersama, bertanding bersama di Dojang, makan bareng, jalan bareng. Akh.... banyak lagi hal-hal indah yang bisa kami lakukan. Apalagi dengan keceriaan Ela yang selalu membuat suasana hidup. Walau seperti kata Disil tadi Ela itu gila tapi dia masih dalam batas yang normal. Ela anak yang sopan dan manis.
Yah manis dan cantik. Akh.... mengapa aku baru menyadarinya kalau Ela itu semakin cantik. Ya Tuhaaaan.... apa yang sedang aku rasakan? Mengapa wajah Ela terus terbayang-bayang di mataku? Batin Rafa berkecamuk.
Rafa menjadi tidak tenang. Bolak balik dia mengganti posisi berbaringnya. Matanya enggan untuk terpejam, padahal sebelumnya dia sudah merasa mengantuk.
Rafa kembali bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju keluar.
Apa lebih baik aku keluar saja ya ikut bergabung dengan mereka. Mungkin bisa membuat perasaan aku lebih tenang. Batin Rafa.
Rafa segera meraih gagang pintu dan menariknya. Saat pintu terbuka tiba-tiba..
"Lho Raf kamu belum tidur?"
.
.
BERSAMBUNG