
"Keysha sudah hamil yank, kamu sudah ada tanda - tanda?" tanya Rafa.
"Belum Mas. Tunggu seminggu lagi ya, memang minggu ini jadwal aku datang bulan. Kalau sampai minggu depan belum datang bulan juga kita baru ke dokter" jawab Catherine.
Ternyata Catherine dan Rafa saat ke London sempat konsultasi ke Dokter Kandungan di London. Mereka berencana untuk program hamil anak kedua mereka.
Karena trauma akan kejadian saat melahirkan Fathir mereka awalnya tidak mau untuk menambah momongan. Tapi semakin besar Fathir mereka merasa rumah semakin sunyi.
Tidak ada tangisan ataupun celoteh anak - anak lagi. Karena semakin besar Fathir dia semakin pendiam dan lebih banyak di kamar belajar dan bermain.
Membuat Catherine dan Rafa semakin kesepian. Catherine yang mulai mengutarakan keinginannya untuk menambah anak. Rafa tentu saja tidak setuju, dia masih tidak kuat membayangkan bagaimana sakitnya melihat istrinya tak berdaya dan juga tak sadarkan diri selama dua hari koma di rumah sakit.
Tapi Catherine berhasil meyakinkan Rafa. Kalaupun memang sudah suratan takdir dia meninggal saat melahirkan dia sudah ikhlas.
"Bukankah melahirkan itu adalah jihadnya seorang wanita? Jangan larang aku beribadah untuk mendapatkan ridho Allah Mas. Aku sangat ikhlas dan bahagia bisa melahirkan buah hati kita kembali" itulah rengekan Catherine saat membujuk Rafa agar mau mengabulkan permintaannya untuk menambah momongan lagi.
Akhirnya dengan tekad yang bulat mereka konsultasi ke Dokter Kandungan di London.
Hasilnya semuanya baik, hanya saja saat hamil Catherine harus benar - benar menjaga pola makannya dan memakan makanan yang sehat agar tekanan darahnya tidak naik seperti yang mereka takutkan.
Catherine juga harus tetap berolahraga. Walau nanti dia hamil lagi, Catherine harus rutin melakukan oleh raga yang diperbolehkan untuk wanita hamil.
Mudah-mudahan niat dan ikhtiar mereka berjalan dengan baik dan lancar. Sesuai keinginan, semua sehat - sehat.
Rafa dan Catherine berbaring di tempat tidur. Mereka akan beristirahat setelah lelah seharian bekerja.
Satu minggu kemudian.
"Gimana yank?" tanya Rafa tidak sabar menunggu Catherine di depan pintu kamar mandi.
Catherine sedang melakukan test kehamilan di kamar mandi menggunakan test pack.
Tak lama Catherine keluar dari kamar mandi sambil membawa alat testnya. Setelah itu dia menunjukkan ke arah suaminya.
Dengan detak jantung yang tidak karuan Rafa berusaha menguasai dirinya.
"Bismillahirrahmanirrahim.... " Rafa membuka matanya dan melihat hasil pemeriksaan Catherine.
"Yank... " ucap Rafa tak percaya.
"Aku hamil Mas.... " Catherine menangis.
Rafa memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih ya Allah.. terimakasih sayang... " ucap Rafa dan mencoba menenangkan istrinya.
"Ini adalah awal perjuangan kita, kamu harus kuat ya. Bukankah kamu sangat menginginkan hal ini terjadi. Mulai saat ini kita harus lebih hati - hati ya. Dan besok kita pergi ke dokter kandungan" sambung Rafa kembali.
"Iya Mas, tapi jangan kabarkan dulu berita ini pada siapapun Mas, setelah kita dari dokter dan memastikan semuanya baik - baik saja baru kita kabari keluarga dan semua teman - teman" pinta Catherine.
"Iya sayang" balas Rafa.
Ke esokan harinya Rafa dan Catherine pergi ke dokter kandungan yang sama dengan dokter kandungan saat hamil Fathir.
"Selamat sore Ibu Catherine" sapa Dokter Kandungan.
"Selamat Sore Dok" Jawab Catherine.
Catherine dan Rafa saling berjabat tangan dengan Dokter Kandungan.
"Ada yang bisa saya bantu Ibu Catherine?" tanya Dokter ramah.
"Saya sudah test kemarin Dok dan hasilnya positif" ungkap Catherine.
"Alhamdulillah.. Silahkan ibu berbaring biar saya periksa" ucap Dokter.
Perawat memasang alat tensi dan kemudian mengolesi gel ke atas perut Catherine.
"Tensi Ibu normal, bagus. Kini kita periksa janinnya ya" Dokter meletakkan alat ke atas perut Catherine.
"Alhamdulillah... " jawab Catherine dan Rafa.
"Ibu Catherine ada perasaan takut?" tanya Dokter.
Catherine menggelengkan kepalanya.
"Bagus, yang santai aja ya Bu. Jangan banyak fikiran. Tapi sepertinya Ibu sudah siap dan sangat menantikan saat - saat ini. Terlihat kalau Ibu sedang bahagia. Dari tadi senyum terus" goda Dokter untuk memenangkan Catherine dan Rafa.
"Iya Dok, saya sudah sangat siap" balas Catherine.
"Jaga pola makan, harus seimbang empat sehat lima sempurnanya. Istirahat yang cukup, olahraga dan rutin pemeriksaan. InsyaAllah sama - sama kita lalui ya Bu" dukung Dokter.
"Iya Dok, terimakasih sudah membuat saya semakin yakin dan kuat mengahadapi kehamilan ini" ucap Catherine.
"Sama - sama Bu, untuk mendapatkan hasil yang baik kita harus bekerjasama. Jangan segan - segan bertanya atau menghubungi saya jika Ibu dan Bapak sangat membutuhkan bantuan saya" ujar Sang Dokter.
"Baik Dok" jawab Rafa.
"Ini saya buatkan resep ya untuk Ibu minum. Jangan lupa rutin minum obatnya untuk mengontrol tekanan darah Ibu, selebihnya saya berikan vitamin untuk Ibu hamil. Keluhan ngidam ada?" tanya Dokter.
"Nggak Dok, alhamdulillah yang di dalam gak rewel" jawab Catherine.
"Syukurlah, sepertinya yang di dalam sangat mengerti keadaan Mamanya" balas Dokter.
Catherine dan Rafa saling menggenggam tangan dan tersenyum menatap Dokter yang ada di hadapan mereka.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Dok. Terimakasih" ucap Rafa.
"Sama - sama Pak" balas Sang Dokter.
Sesampainya di rumah baru Catherine dan Rafa mengabarkan kepada kedua orangtua mereka.
Kalau Mommy dan Daddy Catherine tidak terkejut lagi karena sewaktu di London mereka mengetahui niat Catherine dan Rafa untuk menambah momongan. Bahkan mereka mendukung keinginan Catherine dan Rafa.
"Assalamu'alaikum Ma" Catherine mengucap salam saat menelepon mertuanya.
"Wa'alaikumsalam sayang. Kamu lagi dimana?" tanya Lidya lembut.
"Di rumah Ma, baru aja pulang dari praktek Dokter" jawab Catherine mulai memancing cerita.
"Siapa yang sakit?" tanya Lidya khawatir.
"Nggak ada yang sakit Ma, justru karena sehat makanya ke dokter" balas Catherine.
"Sehat kok ke Dokter?" tanya Lidya bingung.
"Catherine saat ini sangat sehat Ma malah isi perutnya saat ini sudah bertambah" sambut Rafa yang berbicara di samping Catherine.
"Apa maksudnya Raf? Jangan main tebak - tebakan ah. Mama lagi malas main - main saat ini" jawab Lidya.
"Saat ini Catherine sedang hamil anak ke dua kami Ma" ungkap Rafa.
"Apa????? Yang benar Raf? Kalian kok berani banget sih. Gimana keadaan Catherine saat ini?" Lidya melemparkan banyak pertanyaan.
"Ma santai.. pelan - pelan ngomongnya. Nanya nya juga satu - satu ya" balas Rafa.
"Catherine sehat Ma, sangat sehat. Dokter bilang semuanya normal. Tidak membahayakan asal Catherine bisa menjaga pola malam selama kehamilan" ungkap Catherine.
"Kalian kenapa gak cerita ke Mama dulu rencana kalian nambah momongan ini? Pokoknya Mama gak mau tau. Mulai besok kalian kembali tinggal di rumah Mama dan Papa ya. Biar Mama bisa mengatur makanan yang sehat untuk kamu, ti... tik... tidak ada bantahan" tegas Lidya.
"Ha...... "
.
.
BERSAMBUNG