
Sekitar jam setengah satu siang Oryza sampai di rumah sakit di temani August suaminya.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka sambil masuk kedalam kamar rawat inap Ryza.
"Wa'alaikumsalam" jawab Ryza, Sintia, Satria dan Cinta.
"Mbak Cinta dan Mas Satria datang juga rupanya" sapa Oryza.
"Iya tadi pagi Sintia minta dibawain pakaiannya dan pakaian Ryza sekalian kami bawa makan siang soto tapi Ryza gak mau malah muntah - muntah cium wangi soto" ungkap Cinta.
August dan Oryza saling pandang, merasa aneh dengan sikap anaknya yang tidak biasa itu. Mereka jadi teringat kenanangan dulu.
Tapi August dan Oryza tidak berani memutuskan mereka memilih diam dan memperhatikan serta mengumpulkan bukti - bukti nyata dugaan mereka benar.
"Mama bawa sop kepiting pesananku? Aku laper sekali Ma" pinta Ryza.
"Bawa sayang" jawab Oryza lembut.
"Mama yang buat kan? Kalau dibuat sama Bik Inah aku gak mau" ucap Ryza.
"Iya Mama sendiri yang buat khusus untuk kamu" jawab Oryza penuh kasih sayang.
"Sini Ma, biar aku aja yang suapin Mas Ryza" pinta Sintia.
Oryza menyerahkan wadah yang dia bawa untuk tempat makanan kepada Sintia.
Sintia membuka satu persatu makanan yang dibawa mertuanya. Dia meletakkannya ke dalam piring dan langsung menyuapi Ryza.
"Hemmm... wangi banget Ma, aku jadi laper" ucap Sintia.
"Lho kamu kan baru makan dulu jam yang lalu. Udah laper lagi?" Cinta terkejut mendengar omongan anaknya.
"Iya Ma, gak tau nih aku kok udah laper" jawab Sintia.
Ryza hanya makan sedikit makanan yang di bawakan Mamanya.
"Mas udah kenyang?" tanya Sintia.
"Udah yank, aku takut mual malah terbuang semua yang sudah di makan" jawab Ryza.
"Aku habisin ya semuanya" pinta Sintia.
"Habisin aja dari pada terbuang mubazir" balas Ryza.
Sintia makan dengan lahapnya sop kepiting yang dibawa mertuanya.
"Mama perhatikan kamu gendutan Sin?" tanya Cinta.
"Iya Ma, baju aku udah pada sempit. Gak tau nih bawaannya suka cepat laper" jawab Sintia.
"Jangan - jangan kamu hamil Sin" ucap Oryza.
"Gak lah Ma, aku baik - baik saja. Gak ada merasa mual seperti Ela dan Ditha. Katanya kan kalau hamil muda suka mual - mual" balas Sintia.
"Siapa bilang semuanya sama. Mama dulu beda kok. Gak ada mualnya, makan enak, tidur enak bisa sambil kuliah lagi. Yang mual malah Papa kamu persis seperti Ryza saat ini" ungkap Oryza.
Ryza dan Sintia langsung saling pandang.
"Jangan... jangan.... " ucap mereka.
"Sebenernya Papa sama Mama sudah curiga dari tadi, karena seperti kata kalian hasil CT Scan Ryza bagus, tapi Ryza tetap pusing dan mual - mual seperti wanita yang lagi hamil muda. Gimana kalau kamu test Sin, siapa tau dugaan Papa dan Mama benar. Jadi dokter bisa mengambil tindakan untuk Ryza dan kamu juga bisa segera periksa ke dokter kandungan" suruh Oryza.
"Tapi aku gak punya alat testnya Ma" ucap Sintia.
"Sini biar Mama aja yang beli ke apotik depan sekalian beli makan siang untuk kita ya semua" potong Cinta.
"Tapi Ma" cegah Sintia.
"Aku ikut Mbak, ini kan untuk cucu kita berdua jadi kita sama - sama aja belinya" sambut Oryza.
"Ayo Za... " balas Cinta.
Cinta dan Oryza segera keluar menuju apotek membeli test pack kehamilan untuk Sintia. Sedangkan August dan Satria menunggu istri - istri mereka di ruang rawat inap Ryza.
"Beneran Pa, apa yang di katakan Mama?" tanya Ryza tak percaya.
"Bener, apa yang Mama kamu bilang itu benar. Dulu waktu Papa melamar Mama kamu sama Om Omar Papa berjanji tidak akan menghalangi Mama kamu untuk kuliah dan tidak akan memberatkannya dengan tanggung jawab rumah tangga asalkan Omar mengizinkan kami untuk tidak menunda punya momongan. Karena saat itu usia Papa juga sudah sangat cukup tua sementara Mama kamu masih muda. Kalau di tunda Papa bisa ketuaan punya anaknya. Itu mungkin janji Papa yang harus Papa penuhi sehingga setiap Mama kamu hamil Papa yang merasakan ngidamnya. Mual dan pusing seperti yang kamu rasakan saat ini. Tapi kalau sudah malam agak mendingan, kepala terasa ringan dan nafsu makan bagus. Kalau pagi jangan di tanya Ry, wuiiih ampuun... dan itu Papa alami sampai tiga bulan kehamilan Mama kamu" ungkap August.
Ryza menelan salivanya. Kalau benar apa yang dikatakan Papanya berati dia harus menanggung penderitaan ini selama tiga bulan.
Ya Tuhan, apakah aku sanggup seperti ini? Tanya Ryza pada dirinya sendiri.
August yang melihat ketegangan di wajah anaknya langsung memberi nasehat.
"Kamu jangan takut, semua pasti bisa kamu jalani. Walau berat tapi itu pengalaman bagi kamu. Agar kamu lebih menghargai pengorbanan seorang wanita yang sedang hamil. Ternyata gak mudah lho hamil itu. Masih untuk hanya merasakan mualnya selama tiga bulan. Para wanita hamil membawa berat tubuhnya selama sembilan bulan sepuluh hari. Perut besar dan rasa tidak nyaman mereka rasakan tapi mereka tidak mengeluh malah mereka sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu dan sebentar lagi mereka akan melihat anak mereka lahir ke dunia ini" ucap August.
"Benar itu Ry, apa kamu gak pengen punya anak?" tanya Satria.
"Pengen "aiya PaPa, pengen banget malah" jawab Ryza.
"Kalian lebih beruntung cepat di beri anak, kalau Papa dan Mama harus berjuang dulu selama tiga tahun berobat ke sana dan ke sini untuk mendapatkan Sintia. Walaupun hanya Sintia kami merasa sangat bersyukur Allah masih sayang pada kami. DIA masih memberikan kepercayaannya kepada kami untuk menjadi orangtua" sambung Satria.
"Iya Pa, kalau Sintia beneran hamil aku sangat bersyukur sekali. Itu memang sudah kami nanti - nantikan selama beberapa bulan pernikahan kami ini" ucap Ryza.
"Syukurlah kalau begitu. Yang penting kalian tenang dan santai aja menjalaninya. Dinikmati setiap prosesnya. InsyaAllah hasilnya baik" sambung August.
Tak lama Cinta dan Oryza masuk ke dalam ruang inap Ryza sambil membawa bungkusan makan siang dan beberapa alat test kehamilan untuk Sintia.
"Nih coba kamu test di kamar mandi. Kami semua menunggu di sini ya" ucap Cinta.
"Mas aku takut" bisik Sintia pada Ryza.
"Gak usah takut yank, serahkan semua pada Allah. Kita kan sudah berdoa dan berusaha biar Allah yang memutuskan. Mudah - mudahan Allah mendengar doa kita dan melihat usaha kita selama ini" jawab Ryza.
"Aaamiin... " sambut Sintia.
Sintia mengambil alat test kehamilan dari bungkusan yang dibeli Mamanya di Apotek dan segera masuk ke kamar mandi untuk memakainya.
Sekitar lima menit kemudian...
"Yank... udah belum?" tanya Ryza gak sabar.
Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Sintia yang terlihat sudah menangis.
"Kenapa yank, kok kamu nangis? Apa hasilnya?" tanya Ryza penasaran bercampur khawatir.
Sintia mendekat ke arah suaminya dan menunjukkan hasil test packnya.
"Apa ini maksudnya?" tanya Ryza bingung.
"Berapa garisnya?" tanya Cinta dan Oryza tak sabar.
"Dua Ma" jawab Ryza.
"Alhamdulillah.... "
.
.
BERSAMBUNG