Find The KEY

Find The KEY
Ep. 231



"Wah.. wah.. enak ya. Udah pada bahagia semua.... " ucap suara seorang wanita.


Langsung saja tawa mereka terhenti dan semua mata menatap wanita tersebut dengan sangat terkejut.


"Lisa???" mereka kompak.


"Kenapa, terkejut? Gak nyangka aku bisa ada di sini?" tanya Lisa sinis.


"Kamu kok bisa bebas?" tanya Fajar.


"Aku kan tidak berbuat sesuatu yang membahayakan kamu, hanya membawa kamu masuk ke kamar hotel. Yaaah maksudnya pengen ngajak kamu bersenang-senang tapi kamu malah kasi aku hadiah muntahan. Tapi sudahlah semua itu aku anggap salam perkenalan dari kamu" ungkap Lisa.


"Lisa kamu hamil? Kamu sudah menikah?" tanya Ela penasaran.


"Kalau aku bilang anak ini adalah anak suami kamu, kamu percaya?" tantang Lisa.


"Hati - hati kamu bicara wanita jalang. Saat itu sedikitpun aku tidak ada menyentuh kamu" ancam Fajar.


"Cih sial, harusnya anak ini akan menjadi anak kita tapi kamu tidak mau bekerjasama dengan baik saat itu. Tapi tenang saja bayi ini punya ayah kok yang mau bertanggung jawab" tegas Lisa.


"Dasar nenek lampir, seenaknya saja ngomong begitu. Seolah-olah suamiku yang melakukannya dan tak mau bertanggung jawab. Jaga mulut kamu jangan sampai aku cabik - cabik ya" ucap Ela emosi.


"Sabar yank, ingat anak kita di dalam" cegah Fajar.


"Hai.. Rafa. Akhirnya kamu menikah juga ya dengan bule kesasar ini. Cih gak nyangka selera kamu berubah seratus derajat" ejek Lisa.


"Hey nenek lampir pergi saja kamu noh ke laut" ucap Catherine emosi.


"Lisa sebelum terjadi kekerasan di sini lebih baik kamu pergi. Dari dulu sifat kamu memang tak pernah berubah. Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. Kamu gak pernah puas dengan apa yang kamu punya dan selalu iri dengan apa yang dimiliki orang" ungkap Rafa.


"Lihat saja, aku tidak terima kalian perlakukan seperti ini. Kalian tidak bisa dengan semudah itu bahagia. Tunggu saja pembalasan dariku" ancam Lisa.


"Hati - hati kamu bicara ya nenek lampir" teriak Ela.


"Pelayaaaan" panggil Fajar.


Seketika beberapa orang pelayan lari mendekati meja Geng ERASADIS yang dari tadi memang terlihat sedang tegang tapi tidak ada berani menghampiri mereka.


"Ya Pak, maaf ada apa?" tanya seorang pelayan.


"Tolong usir wanita ini dari sini. Kami tidak mau acara makan malam kami terganggu karena kehadiran wanita ini di sini. Kalau dia tidak segera pergi, kami yang akan pergi dari sini" ancam Fajar.


"Ba.. baik Pak" jawab petugas tersebut.


"Maaf Bu, sebaiknya Ibu pergi dari sini dan jangan buat keributan, mengganggu kenyamanan pelanggan kami yang lain" ucap pelayan tersebut pada Lisa.


"Tanpa kalian usir aku juga bisa pergi sendiri. Ingat ya kalian, tunggu pembalasan dariku" ancam Lisa.


"Silahkan, siapa takut" jawab Aby tegas.


Lisa pergi meninggalkan meja mereka dan dikawal ketat oleh para pelayan takut kalau Lisa mungkin balik lagi mengganggu mereka lagi.


"Dasar wanita jalang" umpat Ela.


"Husss.. dek ingat kamu lagi hamil jangan berkata kasar" ucap Aby mengingatkan.


"Mengganggu suasana saja" ujar Keysha.


"Duh Mas aku tadi takut banget, perutku sampai mules" ucap Ditha.


"Tenang yank, kamu tenang ya. Gak ada apa - apa. Lagian dia cuma sendiri, perempuan lagi. Mana berani berbuat sesuatu pada kita yang rame gini" jawab Disil menenangkan.


"Bener Tuh, lebih baik kita waspada. Terlebih kalian yang punya hubungan dengan dia. Ela, Fajar, Rafa, Catherine, Aby dan Keysha. Bisa saja dia menyimpan dendam pada kalian dan menyusun suatu rencana" ujar Ryza.


"Ya Allah... " ucap Keysha.


"Tenang yank kamu jangan takut. Aku akan menjaga kamu dan anak kita" balas Aby menenangkan.


"Sudah.. sudah.. urusan dia nanti saja kita fikirkan bagaimana menghadapinya. Yang penting kita makan enak malam ini. Gak usah mikirin nenek lampir itu. Besok kita cari informasi tentang dia. Mengapa dia bebas dan dia menikah dengan siapa" tegas Fajar.


Walau Lisa sudah pergi tapi suasana malam itu masih terasa tegang. Mereka terlihat berfikir dengan fikiran masing-masing.


Tak lama beberapa pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan sebelumnya. Makanan di hidangkan di atas meja dan siap untuk di santap.


"Ayo kita makan" ajak Ryza.


Mereka mulai makan dengan lahap dan cepat tapi tidak ada lagi canda tawa di sela - sela kegiatan mereka. Semua berfikir bagaimana caranya semua hidangan ini habis dan mereka bisa segera meninggalkan restoran ini.


Sekitar tiga puluh menit mereka selesai menyantap semua makanan yang ada di meja. Dan tidak ada yang berniat untuk menambah menu makanan.


Fajar membayar tagihan makan malam mereka dengan kartu debitnya.


"Ada yang ingin kamu pesan lagi sayang?" tanya Fajar lembut.


"Gak ada Mas, aku cuma pengen pulang dan istirahat" jawab Ela.


"Ya sudah kalau begitu kita pulang ya. Yuk teman - teman. Aku rasa kita berpisah di sini saja ya" ucap Fajar.


"Iya, lagian arah rumah kita kan berbeda. Kita bubar di sini saja deh. Makasih ya Fa, yuk teman - teman" jawab Disil.


"Dah semua, hati - hati ya" sambung Aby.


Mereka berpisah di parkiran restoran dan pulang menuju rumah masing-masing.


Fajar dan Ela masuk ke dalam mobil dan mobil melaju menuju rumah keluarga Barrakh.


"Mas, aku masih kefikiran sama si Lisa tadi, kok bisa ya dia bebas?" tanya Ela penasaran.


"Tenang sayang besok akan aku cari tau" jawab Fajar.


"Trus dia kok bisa hamil juga? melihat besar perutnya sepertinya usia kandungan kami tidak jauh beda" sambung Ela.


"Perduli amat yank. Mau dia hamil atau dia mati sekalipun aku gak perduli. Kamu gak usah mikirin dia lagi, fikirkan aja gimana anak kita dan kamu bisa sehat sampai lahiran. Okey" jawab Fajar menenangkan sambil menggenggam tangan istrinya kemudian menciumnya.


"Iya deh" jawab Ela pasrah. Kelihatannya suaminya memang tidak mau membahas tentang Lisa lagi.


Tapi dibenak Ela, dia sudah memantapkan hati, mulai saat ini dia harus lebih waspada dan berhati-hati terhadap perkataan Lisa tadi.


Ela sangat yakin itu bukan hanya sekedar ancaman. Sepertinya Lisa memang benar-benar ingin merencanakan sesuatu kepada mereka.


Entah mengapa Ela merasa ancaman Lisa itu ditujukan pada dia dan suaminya, bukan kepada teman - temannya yang lain. Karena saat mengatakan itu tatapan Lisa tertuju padanya dan suaminya Fajar.


Haaaaah... apapun yang kamu rencanakan Lisa, aku tidak akan mengalah atau menyerah begitu saja. Aku akan berusaha melindungi keluarga kecilku terutama tiga buah hatiku ini. Batin Ela.


Ela mengelus lembut perutnya yang sudah terlihat membesar.


.


.


BERSAMBUNG