
Ternyata Ditha juga sudah bukaan empat dan akan segera masuk ke ruang bersalin. Sepertinya Ditha dan Keysha sama lahirannya.
Ditha segera di pindahkan ke ruang bersalin tepat saat Papa, Mama dan mertuanya datang.
"Sayang kamu yang kuat ya, jangan menyerah" ucap Mitha.
"Iya Ma, doain aku ya" jawab Ditha.
Tak lama Ditha kontraksi lagi dan kembali Ditha meremas lengan suaminya.
"Allahu Akbaaaaaaar.. " teriak Disil.
"Si Disil udah kayak mau pergi ke medan perang ya buat berjihad. Kenceng banget takbirnya" sindir Rafa.
"Iya udah kayak orang yang paling bener, padahal aslinya sableng banget" sambut Ryza.
"Heran banget deh lihat si Bambang, buatnya aja diam-diam lah pas mau lahir teriak - teriak. Bikin malu aja" umpat Ela.
"Ya kalau buatnya teriak - teriak lebih malu juga yank, gak kebayang ah. Kamu ada - ada aja mikirnya" sambut suaminya.
"Kamu juga yang kuat ya Dis" ucap Dimas memberi semangat pada anaknya.
"Bimbing istri kamu untuk terus baca doa" sambung Sandy.
"Iya Pa, ni dari tadi aku udah takbir Pa" jawab Disil.
"Maaaaaaaas..... " Ditha kembali meringis.
Disil menyambutnya dengan teriakan menyayat hati.
"Ya Allaaaah ampuni dosakuuuuuu.. " ucapnya.
"Tragis banget nasib si Disil" ujar Fajar yang merasa kasihan melihat penderitaan Disil.
"Itu belum seberapa Mas, lebih sakit yang Ditha rasakan" jawab Ela.
"Eh iya yank" balas Fajar tak mampu berkomentar apapun.
"Semangat Ditha.. kami menunggu kalian dan dedek bayi di luar ya" ucap Catherine memberi semangat.
"Selamat berjuang perbanyak istighfar" ujar Sintia.
Perawat dan Disil mendorong Ditha masuk ke ruang bersalin.
Kini empat keluarga yang sedang menunggu di ruang tunggu. Keluarga Aditya, Kevin, Dimas dan Sandy plus anggota Geng ERASADIS.
****
Di kamar bersalin Keysha
"Maaaas.... " ucap Keysha lirih menahan sakit di perutnya.
"Iya sayaaang.. sabar ya ini memang harus kamu jalani. Kamu harus kuat.. Baca doa terus ya sayang.... " Aby dengan lembut membelai kepala istrinya.
"Ya Allaaaah..... " Keysha menarik nafas dan mengembuskannya sambil mengucap doa.
"Sebentar lagi ya Bu... Ibu pasti bisa, pembukaannya cepat bertambah bu, sekarang sudah bukaan delapan" seorang bidan memberi semangat.
"Ayo sayang sedikit lagi, kamu harus kuaaat" ucap Aby tersenyum penuh kasih sayang.
"Huft... huff... " Keysha menarik nafas lagi merasakan kontraksi yang sudah semakin sering dan lama.
"Bayangkan sebentar lagi kita akan melihat anak kita sayaaang" Aby terus memberi semangat.
"Huff... huuffff...... Ya Allaaaaah" Keysha meringis kesakitan.
"Doook saya kok pengen pup yaaaa" ucap Keysha pelan.
"Sebentar ya bu saya periksa lagi" jawab dokter.
Dokter memeriksa pembukaan Keysha.
"Ayo bu, pembukaannya sudah sempurna. Kita coba ya... Tarik nafas panjang setelah itu ibu ngeden. Kepala dan pantatnya jangan di angkat ya bu. Sudah siap?" tanya Dokter lembut.
Keysha mengangguk semangat.
"Kalau mules lagi ibu bilang ya" perintah dokter dengan sabar.
Aby terus menggenggam tangan istrinya dengan lembut dan mengusap kepala Keysha penuh kasih sayang.
"Dok muleeees" ucap Keysha lebih semangat karena itu artinya anaknya akan segera lahir.
"Ayo bu kita mulai, saya hitung ya.. Satu.... Dua.... tarik nafas panjang bu.. iya hembuskaaan... iya bu terus kepalanya sudah kelihatan..." teriak dokter menyambut bayi Keysha dan Aby yang akan lahir.
Dengan semangat empat lima Keysha ngeden dengan satu hembusan nafas yang panjang. Tak lama kemudian...
Oeeek.. Oeeeeek....
"Alhamdulillah.. " dokter dengan sigap menyambut kedatangan anak pertama Keysha dan Aby.
"Selamat Pak, Bu. Bayinya laki - laki" ucap Dokter.
"Alhamdulillah... " jawab Keysha dan Aby barengan.
"Sehat Dok?" tanya Aby tak sabar.
"Alhamdulillah sehat Pak dan sempurna" jawab Dokter semangat.
Tangis haru mereka pecah seiring dengan tangisan bayi yang baru lahir itu
"Ayo bu bayinya di peluk, sambil kami membersihkan dan merapikan bagian bawah Ibu" ujar perawat.
Keysha mendekat anaknya di atas dadanya. Bayi mungil itu secara naluriah menjilat dada Keysha mencari makannya.
"Tuh bayinya sehat sekali Bu, daya emutnya kuat" ucap dokter memberi semangat.
Aby dan Keysha tersenyum melihat bayi mereka. Hilang semua rasa sakit yang tadi Keysha rasakan setelah melihat dan memeluk putranya dalam dekapannya.
**
Sementara di ruang bersalin Ditha.
"Oooh ya Allaaaah" Ditha kembali meringis.
"Allaaahu Akbaaaaar" teriak Disil.
Dia tidak tau mau berkata apa lagi pada istrinya karena sakit yang dia rasakan tak sebanding dengan yang istrinya rasakan.
Ditha mencengkram tangan Disil dengan kuat sehingga meninggalkan bekas kemerahan serta luka kecil yang di hadiahi kuku tangan Ditha
Duuuh sayaaang... kenapa kamu lupa memotong kukumu. Tangis Disil dalam hati.
"Sabar ya Bu.. sebentar lagi. Pembukaannya sudah semakin banyak" ujar Dokter memberi semangat.
"Sudah bukaan berapa Dok?" tanya Disil.
Rasanya dia sudah hampir menyerah dengan cobaan ini.
"Sudah tujuh Pak, tapi sepertinya prosesnya cepat dari awal sampai saat ini alhamdulillah semua lancar" jawab Dokter memberi semangat.
"Berapa pembukaan lagi Dok sampai menuju sempurna?" tanya Disil dengan perasaan ingin tau.
"Tiga lagi Pak" jawab sang Dokter ramah.
"Dengar sayang... tinggal sebentar lagi. Kamu hebat, sampai sekarang sudah maju pesat. Terus berdoa ya" Ujar Disil memberi semangat pada istrinya.
"Iya Maaaas" jawab Ditha lemah.
Huuuf... huuuf...
"Maaaaas" Ditha mengalami kontraksi kembali.
"Doa sayang, sama - sama yuk. Allaaaaaah" Disil kembali merasa sakit pada tangannya yang terus di genggam Ditha.
Sayaaang kok demen bangat cengkraman tanganku. Apa gak bisa pegang seprai atau tempat tidur gitu. Bantal juga ada yank kok malah tangan aku yang kamu te maaaaas. Teriak batin Disil.
"Tarik nafas panjang bu.... hembuskan" arahan Dokter.
Ditha mengikutinya dengan menarik nafasnya dalam - dalam setelah itu menghembuskannya.
"Dooook perut saya mules sekali. Ya Allaaaaaaah.... " suara Ditha terdengar kencang.
"Dok sepertinya sudah sempurna" ucap seorang suster.
Dokter segera memeriksa bagian bawah Ditha.
"Ayo bu sudah sempurna sekarang, waaah cepat kan? Ayo semangat bu.. Kalau kontraksi lagi ibu tarik nafas panjang trus hembuskan sambil di tekan ya" perintah Dokter.
Ditha menganggukkan kepalanya. Disil memasang kuda - kuda untuk bersiaga. Dia juga tanpa sadar melakukan apa yang dokter perintahkan untuk istrinya.
Wajah Ditha kembali meringis, dokter langsung bersiap - siap.
"Oke Bu, tarik nafas panjaaaaaaang.. hembuskan" perintah dokter.
"Huuuuf... huuuuuuuf...... eeeeennnngh...." Ditha meringis
"Ya Allaaaaaaaaaaah.... " teriak Disil lebih kuat, mungkin kalau teman - temannya melihat Disil saat itu pasti mereka tertawa. Karena wajah Disil yang berubah - ubah warnanya seperti bunglon. Menahan perih di tangannya akibat kuku istrinya menancap sempurna di tangannya.
"Kurang panjang Bu tarikan nafasnya. Kita coba sekali lagi ya... Saya hitung... satu.... dua.... ti.... " perintah Dokter.
"Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuffff.... " Ditha menarik nafas panjang dan menghempaskannya. Tangannya mencengkram tangan Disil sekuat tenaga.
"Allahuuuu Akbaaaaaaaaaaaaar" teriak Disil. Disil melihat anaknya keluar dari bagian intim istrinya
Bersamaan dengan itu.
Ooeeeek.... oeeeeeeek....
"Maaaaaaaas.... "
"Paaaaaak"
.
.
BERSAMBUNG
Hai Readeeeer.. selamat hari Jum'at. Yang semangat ya menjelang weekend.
Semoga hari ini kalian bahagia.
Semangat