
Seminggu berlalu gaun Sintia sudah selesai dibuat. Sintia sudah melakukan fitting baju.
"Cantik sekali gaunnya El, aku suka" ucap Sintia dengan semangat.
"Syukurlah, tidak sia - sia aku manggil si Keket ke sini" jawab Ela.
Sekarang gaun untuk keluarga ya. Gaun Tante Oryza, Auza dan Tante Cinta.
"Gaun bridesmaid El?" tanya Ditha.
"Nih udah jadi punya kamu, bisa kamu coba dulu" Ela menunjukkan baju Ditha.
"Tinggal beberapa gaun lagi termasuk punya Catherine" jawab Ela.
"Aku ikut juga?" tanya Catherine tidak percaya.
"Iya, kamu gantiin aku ya jadi pasangannya Rafa. Aku sudah janji mau jadi pasangannya Fajar nanti" jawab Ela.
"Fajar, cowok dengan penyakit anehnya itu?" tanya Catherine penasaran.
"Kamu pasangan sama Fajar El?" tanya Sintia dan Ditha tak percaya.
"Iya, dia minta aku menjadi pasangannya karena dia gak mau pasangan sama adiknya sendiri, sementara sama wanita lain dia alergi. Terpaksa aku menemaninya" jawab Ela.
"Terpaksa atau memang sudah mulai suka" goda Ditha.
"Terpaksa Tha... kamu ah" balas Ela malu.
"Suka juga gak apa - apa El, kami dukung kok asalkan kamu suka" balas Ditha.
"Ngaco kamu" elak Ela.
"El aku gak harus pakai penutup kepala seperti kalian kan?" tanya Catherine bingung.
"Ya nggaklah Ket, ngapain juga kamu pakai jilbab" ucap Ela.
"Syukurlah" jawab Catherine lega.
"Btw si Rafa sudah tau gak kalau aku yang gantiin kamu. Nanti dia terkejut lagi tiba - tiba lihat aku jadi pasangannya?" tanya Catherine.
"Oh iya gara - gara sibuk ngurusin gaun aku lupa bilang sama Rafa" jawab Ela.
"Nanti aku akan bilang sama dia" sambung Ela.
Hari sudah sore, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing - masing.
Ela dan Catherine pulang ke rumah Ela dengan meniaiki mobil Ela. Sesampainya di rumah Ela dan Catherine mandi dan berganti baju. Setelah itu baru Ela teringat untuk mengirim pesan ke Rafa.
Ela
Raf udah pulang kerja?
Rafa
Baru mau keluar kantor El. Ada apa?
Ela
Nanti singgah ke rumah ya, ada yang ingin aku sampaikan
Rafa
Oke
Tak lama kemudian Rafa sudah sampai di rumah Ela. Ela masih di kamar atas sedangkan Catherine tidur di kamar tamu lantai bawah.
Saat Rafa masuk Catherine baru saja keluar dari kamarnya.
"Eh ada Rafa, mau cari Ela?" tanya Catherine.
"Iya tapi aku mau numpang shalat maghrib dulu" jawab Rafa.
"Iya Om, sebentar saya ambil wudhu dulu" jawab Rafa.
Tak lama Ela turun sambil memakai mukena, biasa mereka shalat jamaah di ruang shalat rumahnya.
"Lho Rafa udah nyampe rupanya. Mau ikut shalat bareng juga?" tanya Ela.
"Iya, biar dia aja yang jadi imam, Papa lagi batuk" ucap Aditya.
Rafa keluar dari kamar mandi dan masuk ke ruang shalat yang sudah ramai di tunggu Aditya, Alexa dan Ela.
"Kamu yang jadi imam ya Raf, suara Om serak karena batuk" ucap Aditya.
"Iya Oma gak apa - apa" jawab Rafa.
Rafa segera mengambil posisi sebagai imam. Mereka mulai shalat berjamaah. Suara Rafa sangat merdu melantunkan ayat - ayat Alqur'an. Entah mengapa hati Catherine terasa begitu nyaman dan tenang.
Begini ternyata kehidupan beragama di Indonesia ya. Biasanya aku cuma melihat Ela shalat tanpa suara, paling aki dengan suaranya saat dia mengaji. Suara Rafa kok merdu sekali ya.. Membuat hatiku adem dan tenang. Rasanya nyaman sekali. Batin Catherine.
Catherine menunggu dan memperhatikan Ela dan yang lainnya selesai shalat maghrib berjamaah di ruang shalat
Setelah selesai shalat maghrib Ela mengajaknya duduk di teras samping bersama Catherine.
"Ada apa El kamu memanggilku datang ke sini?" tanya Rafa.
"Aku mau bilangin sama kamu Rafa, kemarin Fajar minta tolong temani aku sebagai pasangannya sebagai groomsmen dan bridesmaid di acara nikahan Sintia. Kasihan dia gak bisa pasangan sama cewek lain kecuali adik dan keluarganya. Kamu gak keberatan kan Raf? Lagian ada Catherine, dia juga gak punya pasangan. Gak mungkin dia yang jadi pasangan Fajar di sana" ungkap Ela.
"Wah bahaya El bisa muntah dia, aku sudah lihat bagaimana parahnya penyakitnya kalau sudah kambuh" sambung Catherine.
"Mmm... aku tidak masalah. Catherine jadi pasanganku juga boleh kalau dia gak keberatan" jawab Rafa pada Ela.
"Gimana Ket?" tanya Ela.
"Aku sih oke - oke aja. Kan cuma berdiri dan jalan bareng saja kan?" tanya Catherine.
"Iya, nanti ada gladi resiknya kok. Sehari sebelum acara. Kamu bisa belajar di sana" ucap Ela
"Okey..." balas Catherine.
"Berarti clear ya... Rafa sama Catherine, aku sama Fajar. Biar nanti aku kirim pesan sama dia. Soalnya dia ngancam batal ikut kalau gak punya pasangan. Secara itu pesta pernikahan sepupunya gak mungkin dia gak ikut" ujar Ela.
"El ajak Rafa makan bareng kita yuk?" panggil Alexa.
"Kita makan dulu yuk Raf" ajak Ela.
Ela, Rafa dan Catherine beranjak menuju meja makan untuk menikmati makan malam bersama.
"Sudah sampai mana gaun pernikahan Sintia sayang?" tanya Alexa.
"Sudah selesai tadi Ma, sudah di coba juga sama Sintia. Tinggal baju para orangtua dan baju bridesmaid" jawab Ela.
"Cepat juga ya padahal tidak sampai satu bulan kamj buat untuk semua" puji Alexa.
"Kan sudah ada bala bantuan dari London Ma" Ela melirik Catherine.
"Betul itu, percuma donk Catherine di undang secara khusus" goda Aditya.
"Ah Om sudah biasa, di London aku dan Ela sudah bisa kejar tayang ngerjain pakaian kalau mau di selenggarakan pagelaran Om" jawab Catherine.
"Kalau gak ada Catherine aku pasti tidak akan berhasil seperti sekarang ini Ma, Pa. Dia yang selalu setia menemani dan mendukung aku di sana" jawab Ela jujur.
Rafa memperhatikan Ela sambil makan, sebenarnya dia tak rela melepas Ela berpasangan dengan Fajar. Tapi dia kasihan juga melihat Fajar yang memang tidak bisa berpasangan dengan orang lain. Selain itu dia tidak enak hati menolak Catherine sebagai pasangannya secara Catherine tadi ada langsung di hadapannya. Kalau dia tolak Catherine pasti akan berkecil hati.
Bagaimanapun Catherine sudah cukup membantu mempersiapkan gaun pernikahan Sintia dan dia bela - belain datang jauh - jauh dari London untuk ini semua.
Rafa ingin menunjukkan kepada Catherine bahwa orang Indonesia ramah - ramah pada orang asing, walau Catherine adalah manager Ela tapi kan tetap saja dia orang asing di Jakarta ini. Fikir Rafa.
Biarlah kali ini aku mengalah tapi aku harus gerak cepat. Aku harus menyampaikan isi hatiku pada Ela biar gak keburu Fajar. Ela harus tau kalau aku juga menyukainya. Dan semoga perasaannya padaku masih seperti dulu.
Aku sangat berharap akan hal itu. Ucap Rafa dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG