Find The KEY

Find The KEY
Ep. 36



Tring.. triing... Lonceng dipintu berbunyi tanda ada tamu yang datang. Ditha melihat Disil datang.


Disil yang melihat Ditha sedang bersama Ryza langsung kesal dan marah.


"Lho Dis, Kok gak kasi kabar mau datang?" tanya Ditha terkejut.


"Aku tadi ada pelu dekat sini, sekalian mampir" jawabnya dingin.


Ditha menangkap sinyal kemarahan dari wajah Disil.


Mengapa Disil datang dengan wajah kesal? Apa karena dia melihat aku sedang bersama Ryza? Tanya Ditha dalam hati.


Disil melirik kearah Ryza tapi sayangnya Ryza lagi asik melihat lihat majalah.


"Aku mau naik ke atas" ucap Disil.


Disil berjalan ke arah lift. Ditha jadi kebingungan melihat tingkah Disil.


"Ry aku tinggal sebentar ya" ucap Ditha kepada Ryza.


"Eh iya Ditha gak masalah" jawab Ryza terkejut karena sedang fokus membaca.


Ditha segera menyusul Disil dari belakang. Sesampainya mereka di lantai empat, Disil segera masuk keruangan Ditha.


"Kamu kenapa Dis? Kamu lagi marah? Marah sama siapa?" tanya Ditha. Walau dia tau Disil tadi terlihat kesal melihat Ryza tapi tidak sepantasnya dia marah-marah begini.


"Iya aku lagi marah. Aku gak suka melihat pria itu" jawab Disil.


"Lho apa salahnya. Dia sedang menemani saudaranya fitting baju sama Sintia" jawab Ditha.


"Halaaah itu cuma alasan. Bilang saja dia mau ketemu sama kamu, ngobrol sama kamu" ucap Disil.


"Yah kalau memang itu benar tidak ada salahnya kan? kenapa kamu yang marah?" tanya Ditha pura-pura kesal.


Kamu cemburu kan Dis? hayo.. ngaku sajalah.


"Aku gak suka aja lihatnya" jawab Disil.


"Aneh kamu" ucap Ditha sambil menyuguhkan segelas air kepada Disil.


"Kamu gak pakai jam tangan yang aku belikan kemarin, kamu gak suka?" tanya Disil yang terkejut melihat di tangan Ditha tidak ada jam tangan couple mereka. Sementara dia sejak membeli jam tangan itu selalu memakainya setiap hari.


"Lho kamu bilangkan pakai jam tangan itu saat sedang pergi bersama kamu. Hari ini kan kita tidak mau pergi" balas Ditha.


"Akh... " Disil memgacak rambutnya kesal.


"Kamu semakin aneh Dis. Datang-datang malah marah-marah" sambungnya.


"Aku gak suka melihat dia ngobrol dengan ramahnya sama kamu" Ucap Disil.


"Emangnya kenapa coba kalau kami ngobrol. Kamu sedang tidak ceritain orang. Hanya ngobrol santai. Lagian apa hak kamu marah sama dia" balas Ditha.


Deg... Disil terdiam.


Benar apa hakku marah-marah sama Dia. Ada apa denganku? Batin Disil.


"Ya dia itu bisa saja punya niat yang tidak baik sama kamu" ucapnya asal.


"Dari mana kamu bisa menarik kesimpulan seperti itu? Dia bicara sopan tidak pernah menyentuhku dan kami hanya mengobrol biasa saja" ujar Ditha.


"Iya tapi aku gak suka Dithaaaa" jawab Disil kesal.


"Ya kalau kamu gak suka itu urusan kamu. Tapi kamu tidak berhak melarang kami untuk saling ngobrol. aaku dan dia bebas melakukannya" pancing Ditha.


"Tentu saja itu urusanku" ucap Disil.


"Kenapa itu menjadi urusan kamu. Kamu kan cuma sahabat aku" Ditha mulai menyerang titik lemah keberadaan Disil.


"Justru karena aku sahabat kamu makanya aku gak mau kamu tersakiti" balas Disil.


"Dia tidak menyakitiku Dis. Kamu jangan cari-cari alasan donk untuk jelekin orang" tuduh Ditha.


"Dia itu punya sesuatu niat pada kamu" ucap Disil.


"Ya gak masalah dia punya sesuatu niat padaku. Justru bagus itu yang aku mau. Biar aku bisa mengakhiri status jombloku" ungkap Ditha.


Wah gawat ini kalau pria itu nembak Ditha. Aku bisa ditinggalkannya. Batin Disil.


"Tapi aku gak suka" jawab Disil.


"Muter-muter terus. Kenapa coba kamu gak suka?" desak Ditha.


"Ya karena aku suka kamu Tha, aku gak mau kamu ninggalin aku" jawab Disil serius.


"Kamu cuma takut ditinggalkan Dis? Tenang saja aku tidak akan meninggalkan kamu. Kamu tetap menjadi sahabat aku" jawab Ditha pura-pura kesal.


Ayo Dis mengakulah pada perasaanmu. Batin Ditha.


"Aku gak mau hanya jadi sahabat kamu Tha. Aku.. aku menyayangi kamu, serius bukan hanya sebagai sahabat tapi lebih. Aku mencintai kamu sebagai seorang laki-laki, bukan sebagai sahabat" akhirnya Disil mengaku.


Deg... seketika jantung Ditha berhenti berdetak.


Ayo Tha bernafaslah... jangan sampai kamu lupa bernafas. Batin ditha.


"Ka.. kamu.. apa yang barusan kamu katakan Dis? Kamu jangan bercanda gitu ah. Gak lucu" ucap Ditha.


"Aku gak bercanda Tha, aku serius sama kamu. Udah pernah aku bilang kan sama kamu. Kalau sama sahabat aku gak akan main-main. Aku serius suka sama kamu" Ungkap Disil.


Ditha terdiam sejenak, walau kata-kata ini sudah dia tunggu-tunggu selama bertahun-tahun tapi tetap saja dia terkejut dan tidak siap mendengarnya.


"Ditha Aulia aku serius suka sama kamu. Apakah kamu menerima perasaanku ini?" tanya Disil.


"Aa.. aaku. Aku juga suka sama kamu Dis" ungkap Ditha.


"Haaaah.. leganya aku Tha kamu jawab begitu. Hampir saja aku kehilangan kamu. Takut banget tau lihat pria itu senyum mesra kepada kamu. Berarti malam ini status kamu gak jomblo lagi kan?" Goda Disil.


"Apaan sih. Kamu buat aku malu saja" jawab Ditha.


"Sama aku kog malu-malu Tha, kita kan sudah kenal dari orok" balas Disil.


"Ya tapi kan sekarang statusnya sudah beda" ucap Ditha.


"Iya ya, harus kita publikasikan nih sama anak-anak. Biar mereka pada tau status baru kita" Sambut Disil.


"Eh sssst.. bisa gak kita sembunyikan dulu. Aku belum siap Dis" ucap Ditha.


"Belum siap apa?" tanya Disil.


"Belum siap di bully si Ela. Kamu tau kan kalau dia udah ledekin orang puanjang kali lebar lapangan bola lewat" jawab Ditha.


"Hahaha... biar aku lawan dia. Kamu cukup diam aja dibelakang babang. Bantu doa" gombal Disil.


"Yah mulai lagi deh gombal recehnya" ejek Ditha.


"Hahahaha sorry udah profesi babang" balas Disil.


"Iya deh bambang" timpa Ditha.


"Babang Disil Tha, bukan bambang" ucap Disil lembut.


"Tapi beneran aku belum siap. Kita seperti biasa aja ya di depan teman-teman. Apa lagi di depan Papa dan Mama" jawab Ditha.


"Aku sudah siap lho Tha, sebenarnya mau cepat-cepat halalin kamu tapi sepertinya si Ela belum bisa pulang dalam waktu dekat ini. Kita tunggu dia pulang aja ya. Kamu setuju kan?" tanya Disil.


"Setuju sih tapi aku gak mau pacaran Dis" jawab Ditha malu-malu.


"Lah jadi gimana donk?" tanya Disil bingung.


"Seperti yang aku bilang tadi kita seperti biasa aja dulu" balas Ditha


"Baiklah kalau begitu gini aja Tha, pelan-pelan kita desak Ela pulang dan pelan-pelan juga aku akan ngomong sama Om Sandy kalau aku serius sama kamu" ungkap Disil.


"Oke aku setuju" balas Ditha.


"Nah gitu donk, jadi tambah sayang sama kamu" Disil keceplosan mau peluk Ditha.


"Eits... jangan coba-coba" Ditha menjauh dari Disil.


"Hehehe sorry Tha kebawa arus... suasananya mendukung" goda Disil.


.


.


BERSAMBUNG


Dasar si Bambang eh babang 🤣🤣