
"By kamu lihat cewek itu. Manis kan?" tanya Rafa.
"Mmmm... lumayan. Kenapa, kamu suka?" tanya Aby.
"Aku sering melihatnya belakangan ini. Anaknya feminim dan lemah lembut" jawab Rafa.
"Kalau suka ya kejarlah" Aby memberi semangat.
"Aku gak tau dia kelas berapa tapi yang jelas dia adik kelas kita" balas Rafa.
"Kamu tanya aja sama Disil. Kalau soal cewek dia mah jagonya. Hari ini juga aku yakin dia pasti bisa tau cewek itu dikelas berapa" ucap Aby yakin.
"Males ah tanya Disil. Kalau dia tau bakal rame By. Bisa-bisa anak-anak pada tau semua. Aku gak mau ribut ah" elak Rafa.
"Kalau gitu ya kamu harus usaha sendirilah" balas Aby.
"Pelan-pelan aku akan cari tau" jawab Rafa.
"Hey... kalian lagi bicarakan apa?" tanya Ela yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Itu si Raf...." ucap Aby
"Eeeh... gak ada El" potong Rafa.
"Aneh... sikap kalian mencurigakan. Aku mencium adanya rahasia besar disini" Ela mengendus kakak dan sahabatnya itu.
"Gak ada rahasia diantara kita. Kamu tenang saja" jawab Rafa mencoba menghilangkan rasa curiga Ela.
Aby melirik kearah adik kembarnya, sebenarnya dia ingin berkata jujur tapi dia sudah janji pada Rafa untuk merahasiakan isi hati Rafa. Walau mungkin hal ini akan membuat adiknya sedih.
"Aku gak percaya, barusan kalian nunjuk si Lisa anak kelas 2 unggulan yang baru lewat tadi kan?" tanya Ela.
"Kamu kenal El?" Rafa balik bertanya.
"Kenal donk, dia kan ikut klub melukis" jawab Ela.
"Waaaah pucuk dicinta By. Aku gak perlu cari-cari info tuh cewek sampai Disil tau. Bisa ribut dia nanti" sambut Rafa semangat.
Aby hanya memperhatikan gerak gerik adik kembarnya tapi sepertinya tidak ada perubahan apapun dari raut wajahnya.
Kamu pintar sekali menyembunyikannya El. Batin Aby.
"Emang kenapa sih? Kamu naksir Raf?" tanya Ela.
"Mmm... aku suka aja lihatnya. Anaknya feminim dan lembut banget sepertinya" jawab Rafa.
Jleb... ada yang nyeri di dada Ela. Gak pernah Rafa seterbuka ini ngungkapin rasa sukanya sama cewek. Pasti dia emang serius, beneran suka sama si Lisa. Batin Ela.
Aby melihat sedikit perubahan di wajah Ela tapi secepat itu Ela bisa menetralkan wajahnya seperti biasa.
"Kalau kamu mau kenalan nanti sore kami ada pertemuan. Kamu bisa datang lihat kami melukis di ruang kesenian" bantu Ela.
"Bener ya El, kamu mau bantu kan?" tanya Rafa.
"Ya maulah, apa sih yang nggak buat kamu" jawab Ela ceria.
"Kamu emang the best" puji Rafa.
"Kamu mau ikut By?" ajak Rafa.
"Mm.. belum tau, lihat nanti ajalah" jawab Aby.
"Oke, sebentar ya aku mau ke toilet dulu" Rafa segera berlari-lari kecil menuju toilet.
"Kamu serius El mau ngenalin mereka? Yakin hati kamu gak sakit melihatnya?" tanya Abi pada adiknya.
"Gak apa-apa kak, kan aku udah bilang biarlah semua mengalir seperti air. Aku akan lihat sampai mana ujungnya apakah maju atau malah mentok" jawab Ela.
"Kamu emang kuat El, kakak akan selalu mendukungmu" Aby merangkul bahu adiknya.
"Cie... tumben kalian mesra" goda Disil sambil merangkul sahabat kembarnya dari belakang.
"Ya elaaah datang lagi ni perusuh" ucap Ela.
"Aku ada kegiatan di klub melukis. Kak Aby noh yang kosong" ucap Ela.
"Bener by? Main yuk? sambil nungguin Ela selesai ekskul, habis itu kita pulang bareng" ajak Disil.
"Boleh siapa takut" jawab Aby.
"Beneran ya, pulang sekolah ngumpul di lapangan basket bareng anak-anak kelas kita" ucap Disil.
"Oke..." jawab Aby singkat.
"Mau kemana kalian?" tanya Rafa yang baru datang dari toilet.
"Entar sore aku dan Aby mau main basket bareng, Si Ela gak bisa ikut mau melukis aku katanya" goda Disil.
"Nggak banget, kayak gak ada kerja aja ngelukis kamu" elak Ela.
"Kamu ikut Raf?" tanya Disil.
"Nggak, nanti sore aku ada janji sama Ela bantuin dia di ruang kesenian" jawab Rafa.
"Tumben kamu main lukis-lukisan sama si Ela" ucap Disil penasaran.
"Siapa juga yang main Dis. Aku tuh serius kaleee melukis. Bukan seperti kamu yang suka main-main melakukan sesuatu" sindir Ela.
"Eh gak semuanya El, kalau sama kamu aku serius" goda Disil dengan wajah merayunya.
"Gak suka gelaaay" ejek Ela.
"Hahaha" Aby dan Rafa tertawa melihat tingkah mereka berdua yang gak pernah akur.
Siang hari setelah bel pelajaran berakhir mereka shalat dzuhur dulu di mushalla sekolah. Setelah itu baru mereka bubar. Aby dan Disil main basket, Ela dan Rafa ke ruang kesenian sedangkan Ditha dan Sintia ke toko busana mereka untuk ngecek barang masuk.
Aby dan Disil sudah ngumpul di lapangan sekolah bersama teman-teman sekelasnya yang hendak bermain basket sedangkan Rafa dan Ela berjalan menuju ruang kesenian.
Para siswa yang ikut klub melukis mulai berkumpul. Ketepatan Ela adalah ketua klubnya. Ela mengenalkan Rafa kepada anggota klubnya. Rafa akan membantu mereka di klub hari ini.
Rafa mulai cari -cari cara untuk mendekati targetnya si adik kelas. Kelihatannya gadis yang bernama lisa sedang mencari sesuatu.
"Kamu sedang mencari apa?" tanya Rafa memulai percakapan.
"Aku cari kuasku kak, barusan aku keluarkan tapi kok gak ada ya" jawab Lisa sambil membongkar isi tasnya.
Rafa melihat kuas Lisa yang jatuh di lantai.
"Nih kuas kamu jatuh dibawah" ucap Rafa sambil menyerahkan kuas Lisa.
"Terimakasih kak" jawab Lisa.
Lisa mulai melukis sesuai dengan keinginannya hari ini. Rafa memperhatikan wajah Lisa yang sedang melukis.
Kamu memang cantik, gak salah hatiku memilih kamu. Ucap Rafa dalam hati sambil tersenyum.
Ela memperhatikan setiap gerak gerik Rafa. Dadanya terasa sangat sesak tapi apalah daya dia tidak bisa mengungkapkannya kepada Rafa.
Inilah sakitnya jatuh hati pada sahabat sendiri, apalagi perasaan itu tak berbalas dan hanya bisa dipendam sendiri. Seandainya suka pada orang lain dan tak berbalas mungkin tak sesakit ini dan akan secepatnya menghindar dan melupakannya.
Tapi kalau suka pada sahabat harus pintar-pintar menjaga perasaan kalau tidak nanti akan jadi canggung dan bisa berakibat buruk. Retaknya hubungan persahabatan yang sudah terjalim sejak kecil.
Tanpa sadar Ela melukis pemandangan malam yang gelap dan kelam persis seperti perasaannya hari ini.
Ela memukul dadanya yang terasa sesak, mencoba melonggarkan nafasnya.
Aku tak tau ternyata sesakit ini rasanya cinta tak berbalas. Kemana harus kubawa rasa ini. Salahkah aku melabuhkan perasaanku pada pria yang tak pernah menganggapku sebagai seorang wanita? Mungkin selama ini dia memang tak pernah menganggapku sebagai wanita. Aku hanya teman bertarung dan bermainnya. Rintihan hati Ela.
.
.
BERSAMBUNG
Ayo jangan ada yang baper ya... karena pernah merasakan hal yang sama.