
"Sudah siang, kamu gak lapar?" tanya Fajar.
"Laper donk, laper banget malah" jawab Ela.
"Kita masuk ke dalam yuk, makan di Restourant hotel aja. Aku udah pesan menu spesial untuk kamu" ucap Fajar.
"Kejutan lagi?" tanya Ela penasaran.
Fajar menjawabnya dengan senyuman penuh arti.
"Aduh Fa jangan kebanyakan yang sweet - sweet hari ini nanti aku diabetes" ucap Ela.
"Nggak, kamu gak akan diabetes. Pokoknya mulai hari ini kamu resmi menjadi My Princess dan semua orang harus tau" jawab Fajar.
"Tau apa? Aku Princess? Eh nggak.. nggak... jangan donk. Kalau yang itu rahasia" tolak Ela.
"Ya enggaklah My Princess, kamu tetap Ela dimata orang - orang. Kamu hanya jadi Princess di hatiku" jawab Fajar tegas.
"Alhamdulillah.. aku kira.. Udah ser - seran aku tadi" balas Ela.
Fajar dan Ela berjalan menuju Restourant hotel yang sudah di sulap menjadi tempat yang romantis. Khusus saat ini Restourant di tutup untuk orang ramai. Hanya mereka berdua yang makan di situ.
Ela dan Fajar duduk di kursi yang telah dipersiapkan pihak hotel. Tak lama makanan datang dan mereka menikmati hidangan makan siang dengan alunan musik dari permainan biola menambah ke romantisan makan siang mereka hari ini.
Fa, kamu begitu memanjakanku. Hatiku meleleh jadinya.. Rasanya memang gak salah hatiku memilih kamu. Kamu memang benar - benar memperlakukanku menjadi wanita spesial. Batin Ela.
"Kamu kok jadi lebih banyak diam? Gak suka dengan semuanya?" tanya Fajar.
"Ha... suka.. suka.. aku suka semuanya. Aku hanya merasa seperti mimpi" jawab Ela.
"Aww..." teriak Ela ketika tangannya di cubit Fajar.
"Sakit?" tanya Fajar.
Ela menganggukkan kepalanya.
"Berarti kamu gak mimpi. Ini nyata My Princess, ini adalah wujud perhatianku karena kamu telah mau menerima lamaranku. Aku akan membuat kamu benar - benar seperti Princess" ungkap Fajar.
"Tapi aku gak terbiasa dapat perlakuan seperti ini Fa. Aku sangat terkejut" jawab Ela.
"Sudah - sudah... dinikmati aja ya" balas Fajar.
Makan siang yang penuh romantis itu berlangsung selama satu jam. Setelah itu Ela kembali ke rumahnya di antar Fajar.
Di rumah Ela sudah ramai. Seluruh teman - temannya sudah kumpul membantu Alexa dan Aditya mempersiapkan acara lamaran Ela malam ini.
"Waaah calon pengantin akhirnya datang juga setelah selesai kangen - kangenan" ucap Ryza menyambut kedatangan Ela dan Fajar.
"Biasa aja kamu Ry, kayak kamu gak pernah ngerasain aja. Kamu aja semenjak mengenal Sintia gak pernah mau lagi di ajak ke London. Alasannya takut rindu, rindu itu berat" balas Fajar.
"Nah sekarang kamu rasain kan Lampu Aladin" sambut Ryza.
"Yoi yul" balas Fajar
"Lampu Ajaib, Yul, maksudnya apa?" tanya Ela bingung.
"Jadi gini El, ini dimulai dari zaman orangtua kami. Nama Mama Fajar kan Jasmine. Nah Putri Jasmine kan suaminya Aladin. Aladin itu Om Omar. Papa aku tugasnya di kantor kan sebagai asisten pribadinya Om Omar. Mengabulkan apapun permintaan Aladin jadi dipanggil Jin sedangkan Papanya si Keysha Om Kevin orangnya jahil dan nakal jadi mereka sebut Abu monyetnya Aladin. Nah berlanjutlah ke kami anak - anaknya. Fajar itu nama lengkapnya kan Fajar Pratama Barrakh yang artinya penerang pertama keluarga Barrakh. Jadi disebut Lampu Aladin, Si Keysha jadi Kunci serep dan Aku anaknya si Jin di panggil Tuyul" ungkap Ryza.
"Hahaha... ada - ada saja keluarga kalian. Unik dan lucu" ucap Ela sambil tertawa.
"Yah begitulah para tetua. Sampai sekarang masih suka usil. Sama seperti kamu" Fajar mengusap lembut kepala Ela yang tertutup jilbab.
"Fa...." Ela mengingatkan.
"Sorry El refleks" goda Fajar.
"Uuuh co cweeeet" ucap Catherine.
"Sosor... sosor... emangnya bebek main sosor. Pepet pepet... emangnya babi pepet" sambut Rafa.
"Babi ngepet bro bukan babi pepet" Disil mengingatkan
"Sengaja biar kamu panjang komentnya" balas Rafa.
"Aku masuk dulu ya Fa, mau ganti baju. Gerah pakai gaun ini terus. Aku gak leluasa geraknya" ucap Ela.
"Oke Princess, senyamannya kamu aja" balas Fajar.
Catherine senyum - senyum menatap pada pasangan yang nanti malam akan meresmikan lamaran mereka.
"Napa kamu Ket?" tanya Ditha penasaran.
"Uuuuuh aku gemes lihat mereka saling bucin. Jadi pengen cepat - cepat nikaaah" jawab Catherine.
"Udah aku bilang dari tadi Keet tuh ada Rafa ikat langsung entar keburu Mak lampir menyamperin" sambut Disil.
"Mak lampir? Siapa tuh mak lampir?" tanya Catherine bingung.
"Mak Lampir itu si Lisa kalau versi bule nya apa ya?" tanya Disil berfikir.
"Nenek sihir" sambut Sintia.
"Ha.. iya Nenek Sihir, bedanya Mak lampir bawa tongkat wasiat kalau Nenek Sihir bawa sapu wasiat. Nah kalau si Fajar dia Lampu Wasiat" ledek Disil.
"Hahaha... kok nyambung gitu ya" Catherine tertawa karena merasa lucu.
"Dasar bule gila" umpat Rafa
"Heleeeeh bule gila lu kate, ntar juga bucin lo" goda Disil.
"Amit - amit" sambut Rafa.
"Husss.. Jangan bilang gitu. Nanti malah terkabul. Mungkin karena amit sama amin tetanggaan kali ya. Kok bisa bilang gitu malah jadi terkabul. Benar kata orang ucapan adalah doa" canda Disil.
"Sialaaan lo" balas Rafa kesal.
"Hahahaha..." Disil dan yang lainnya tertawa.
"Btw Raf boleh kita ngobrol berdua?" tanya Fajar kepada Rafa.
"Boleh kita ke taman kompleks aja yuk di depan sana. Di sini banyak nyamuk - nyamuk nakal" ajak Rafa sambil melirik ke arah Disil.
Disil hanya nyengir.
Fajar dan Rafa berjalan menuju ke arah taman. Sesampainya di taman mereka duduk di bangku yang disediakan di pinggir jalan.
"Ada apa Fa kamu mau ngajak aku ngobrol?" tanya Rafa penasaran.
"Aku mau meminta izin kepada kamu untuk melamar Ela. Maaf aku mengetahui perasaan kamu kepada Ela minggu lalu saat malam pesta Sintia dan Ryza. Aku hanya ingin merasa lebih lega melamar Ela. Aku tidak mau terlihat kejam bahagia di atas penderitaan orang lain" ungkap Fajar.
"Kamu lelaki yang beruntung Fa, aku menyia- nyiakan perasaan Ela padaku selama tujuh tahun dan aku sangat menyesal. Saat aku menyadarinya perasaannya padaku hanya sebatas rasa sayang kepada sahabat. Kesempatanku sudah berakhir. Aku telah banyak menyakitinya selama tujuh tahun ini. Aku ikhlas melepasnya, kebahagiaannya adalah kebahagianku. Tolong jangan pernah kamu sakiti dia. Kalau kamu menyakitinya aku yakinkan setelah Aby akulah orang kedua yang akan menghajar kamu eh tidak - tidak aku orang ketiga setelah Om Adit dan Aby" ancam Rafa.
"Sebelum kalian bertiga datang mungkin aku sudah di hajar Ela duluan Raf" ucap Fajar.
"Iya ya aku lupa" balas Rafa.
Akhirnya mereka tertawa bersama. Ketegangan selama ini karena merasa rival selesai sudah. Kini mereka sudah bersahabat dan saling mendukung.
.
.
BERSAMBUNG