
"Oke aku telepon aunty Keket ya" ucap Elfa sambil menekan nomor Catherine.
Triiiing.... triiiiing....
Ponsel Catherine berdering. Saat ini Catherine, Ela, Ditha dan Sintia sedang rapat membicarakan tentang gaun yang akan mereka buat pesanan seorang pejabat untuk pernikahan anak mereka.
"El, Elfa menelponku. Bukannya saat ini mereka masih di sekolah?" tanya Catherine terkejut.
"Lagi-lagi anak itu membawa ponselnya diam - diam. Awas nanti sampai rumah aku hukum" jawab Ela.
"Tapi ngapain Elfa nelepon kamu Ket?" tanya Sintia heran.
"Angkat Ket, siapa tau penting" ucap Ditha.
Catherine segera menerima panggilan telepon dari Elfa.
"Assalamu'alaikum.. Elfa. Ngapain kamu telepon aunty jam segini sayang, bukannya kamu masih di sekolah?" tanya Catherine
"Wa'alaikumsalam aunty toloooong" teriak Elfa.
"Haaaa.... ada apa sayang, kenapa kamu minta tolooong" jawab Catherine terkejut.
Sontak El, Ditha dan Sintia menghentikan pekerjaan mereka dan mendekat ke Catherine. Mereka terkejut mendengar suara Catherine yang terlihat cemas.
"Aunty.. Fathir... " ucap Elfa.
"Fathir... Fathir kenapa Elf?" tanya Catherine panik.
"Fathir pingsan aunty" jawab Elfa.
"Kok bisa?" tanya Catherine.
"Gak tau, kami lagi duduk di taman sekolah sambil nunggu jemputan mang Didit. Tiba - tiba Fathir jatuh dan pingsan" ucap Elfa.
"Sekarang gimana keadaannya?" tanya Catherine.
"Masih di pegang sama Kak Fael dan Shaby. Sitha dan Ryntia lagi memberikan minyak angin agar Fathir sadar. Aunty cepat kemari ya" pinta Elfa.
"Panggil guru kalian sayaang, tolong bawa Fathir ke klinik sekolah. Aunty segera ke sana ya. Tolong jaga Fathir ya Elfa" jawab Catherine.
"Iya aunty cepat ya" balas Elfa.
Panggilan telepon berhenti. Caterine segera menghubungi suaminya karena sangat cemas dengan keadaan putra tunggal mereka.
Melahirkan Fathir penuh dengan perjuangan sehingga Rafa sangat takut jika Catherine hamil lagi. Rafa sendiri yang memang melarang karena dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dia dan anaknya jika harus kehilangan Catherine.
Akhirnya Catherine dan Rafa sepakat tidak menambah anak lagi dan menganggap F3STER adalah anak mereka bersama.
F3STER memang paling sering main ke rumah Rafa - Catherine dan Ela - Fajar karena mereka memang tidak menambah anak lagi. Ela dan Fajar juga hanya memiliki Triplet.
Bukan mereka rencanakan tapi sampai saat ini Ela memang belum hamil lagi. Fajar tidak mempermasalahkan hal itu karena dia sudah memiliki triplet sebagai penyempurna hidupnya.
Sedangkan Ditha dan Disil mempunyai anak laki-laki berumur lima tahun yang bernama Didis.
Begitu juga dengan Sintia dan Ryza sudah mempunyai anak laki-laki berumur empat tahun yang bernama Zayn.
Sementara Keysha dan Aby sampai sekarang juga belum punya anggota tambahan. Mereka juga tidak mempermasalahkan hal itu karena merka menganggap Triplet juga anak mereka.
Dan rumah selalu ramai dengan kedatangan Triplet sebagai teman main Shaby di rumah. Shaby juga tidak kesepian karena ada tiga saudara sepupu plus satu susuan. Mereka sangat kompak bahkan terkadang banyak yang mengira mereka si kembar empat karena wajah Shaby dengan Triplet mirip. Maklum Ela dan Fajar saudara kembar sedangkan Keysha dan Fajar juga masih punya hubungan saudara. Papa Keysha dan Papa Fajar adalah saudara sepupu. Wajar saja jika wajah mereka mirip.
Nada panggil pertama masih diabaikan, kedua.. dan terakhir baru diangkat Rafa.
"Assalamu'alaikum yank?" tanya Rafa.
"Wa'alaikumsalam Mas.. Mas Fathir" jawab Catherine khawatir.
"Ada apa yank? Fathir kenapa?" tanya Rafa cemas.
Sontak Disil dan Aby melirik ke arah Rafa. Mereka juga ikutan khawatir. Apalagi melihat wajah cemas Rafa
"Maaaas Fathir pingsan di sekolah" jawab Catherine sambil menangis.
"Apa Fathir pingsan? Kok bisa?" Tanya Rafa lagi.
"Gak tau gimana ceritanya, barusan Elfa telepon dan aku mau ke sekolah mereka sekarang" jawab Catherine.
"Ya udah, Mas juga ke sana sekarang. Kita ketemu di sekolah Fathir ya. Kamu hati - hati ke sananya" balas Rafa.
"Iya Mas" sambut Catherine.
Rafa dan Catherine segera memutus telepon mereka.
"Ada apa Ket, Fathir pingsan?" tanya Ela ingin tau.
"Syukur juga hari ini Elfa bawa ponsel kalau gak gimana coba" sambung Sintia.
"Iya juga ya. Jangan dihukum deh Elfa kali ini El. Dia kan udah bantuin Fathir" pinta Ditha.
"Urusan hukuman nanti aja difikirin. Sekarang kita harus segera ke sekolah mereka. Lihat Fathir, takut dia kenapa-kenapa" ucap Ela.
"Yuk El, aku khawatir banget Fathir kenapa - kenapa. Dia kan jarang sakit selama ini. Kok bisa ya dia pingsan?" balas Catherine.
Mereka langsung meraih tas, HP dan kunci mobil dan berjalan keluar dari Butik.
"Desi... tolong jaga butik ya. Kami mau ke sekolah F3STER" ucap Ela kepada asistennya.
"Baik Mbak" jawab asisten Butik. Dia sudah mengerti perkataan Ela. Karena sejak ke tujuh bayi itu lahir Desi sudah mengenal mereka dengan sebutan F3STER.
Catherine, Ela, Sintia dan Ditha bergegas menaiki mobil Ela dan meluncur ke sekolah anak - anak mereka.
Di dalam perjalanan menuju sekolah.
"Tadi pagi Fathir sarapan gak Ket?" tanya Sintia yang duduk di belakang.
"Sarapan Sin, malah tadi juga aku bawain bekal seperti biasanya" jawab Catherine.
"Tadi pagi dia sehat - sehat aja kan. Gak demam atau sakit lainnya?" selidik Sintia.
"Sehat, dia malah segar banget dan semangat pergi ke sekolah. Gak ada keluhan apapun" balas Catherine.
"Kenapa ya Fathir, kok bisa pingsan?" Sintia menerka - nerka.
"Udah gak usah berfikiran yang macem-macem, yang penting kita lihat aja dulu keadaan anaknya. Jangan panik duluan. Bisa aja kan Fathir pingsan karena kecapekan main di sekolah" ucap Ela.
"Iya deh, kita jangan buat Kekey semakin khawatir Sin" sambung Ditha.
Mereka akhirnya diam dengan fikiran masing-masing.
Akhirnya mereka sampai di parkiran sekolah tepat berbarengan dengan mobil Rafa tiba juga di sekolah.
"Maaaas" Catherine berlari mendekati suaminya.
"Tenang yank. Kita lihat dulu keadaan Fathir. Jangan panik ya" hibur Rafa berusaha menenangkan padahal dia sendiri juga sangat khawatir dengan putranya tapi dia berusaha tidak menunjukkannya. Takut Catherine semakin khawatir dan berakibat buruk dengan kesehatan Catherine
Maklum sejak Catherine melahirkan dokter memang menyarankan Catherine tidak boleh stres, takut tekanan darahnya kumat dan tinggi lagi. Bisa berakibat fatal untuk Catherine.
Sesampainya di sekolah mereka langsung menuju klinik sekolah anak - anak mereka.
Rafa menggandeng tangan istrinya dan mencoba menenangkan Catherine. Ela, Ditha dan Sintia mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di klinik sekolah mereka melihat Fathir terbaring di atas tempat tidur dengan wajah lesu.
"Fathir... " Catherine langsung memeluk putra tunggalnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rafa.
"Kepalaku pusing sekali Daddy.. " jawab Fathir.
"Pusing kenapa? Kamu lapar?" tanya Rafa lembut.
"Nggak, aku tadi habisin bekal yang dibuat Mommy" jawab Fathir.
Tak lama dokter klinik datang.
"Bagaimana keadaan putra saya Dok?" tanya Rafa.
"Hasil pemeriksaan semuanya baik Pak. Denyut nadi dan jantungnya normal. Fathir mengeluh pusing, tadi dibawa oleh teman - temannya ke klinik. Kata mereka Fathir pingsan di Taman" jawab Dokter.
"Apa ya penyebabnya?" tanya Catherine khawatir.
"Mungkin karena kelelahan Pak, Bu. Di tambah dengan harinya memang cerah dan panas banget. Membuat Fathir dehidrasi dan akhirnya pingsan. Ini saya kasih resep dan Fathir istirahat dulu di rumah ya. Jangan telat makan dan tidur. Sementara jangan main - main dulu dengan teman - temannya" nasehat Dokter.
"Iya Dok" jawab Fathir lemah.
Akhirnya semua dapat bernafas lega. Fathir bisa dibawa pulang dan beristirahat.
Diluar Elfa dan anggota F3STER lainnya saling bertos ria. Rencana awal mereka berhasil. Baik dokter dan orangtua mereka percaya dengan sandiwara mereka.
.
.
BERSAMBUNG