
"Sayang ini anak siapa?" tanya Mama Lisa hati - hati sambil mendekat ke arah Elfa anaknya Fajar dan Ela.
"Anakku, masak Mama lupa" jawab Lisa.
"Cantik banget ya anak kamu" puji Mama Lisa
"Cantik donk, kan Mamanya cantik" balas Lisa.
"Boleh Mama menggendongnya?" tanya Mama Lisa hati - hati.
"Boleh. Mama kan Omanya" jawab Lisa.
Tak lama Mama Lisa menggendong Elfa lembut. Elfa terlihat kelaparan seperti mencari suatu untuk minum.
"Sayang dia haus, coba kamu susukan" suruh Mama Lisa.
Sontak Lisa terlihat sedih.
"Ada apa sayang?" tanya Mama Lisa lembut.
"Aku tidak bisa menyusuinya Ma" jawab Lisa.
"Kenapa kamu tidak bisa menyusuinya. Kamu bilang tadi kamu Mamanya?" ucap Mama Lisa.
"Dia anak Fajar Ma" ungkap Lisa pelan.
"Fajar suaminya Ela? Maksud kamu ini anak Ela?" tanya Lisa dengan rasa was - was. Takut Lisa terpancing emosinya.
"Tidaaaak ini anak aku sama Fajar" teriak Lisa.
"Sayaaaang... bukannya suami kamu Rudy?" tanya Farhan dengan hati - hati.
"Rudy itu suami Ela Pa. Suamiku Fajar" jawab Lisa.
Farhan dan istrinya saling tatap. Mereka tidak menyangka depresi anaknya belum sembuh malah semakin parah.
Mama Lisa meletakkan kembali Elfa kepada penjaga yang di bayar Lisa untuk mengasuh Elfa. Kemudian wanita itu membelai lembut rambut anaknya.
"Sayaaaang kamu kan menikah dengan Rudy di penjara. Apa kamu lupa sayaaang?" tanya Mama Lisa penuh kasih sayang.
Lisa terdiam sejenak, tapi tiba-tiba menangis.
"Mama.. Fajar jahat, dia memilih menikah dengan Ela padahal aku hamil anaknya" tangis Lisa pecah.
"Sayang kan kamu sendiri yang bilang sama Mama dan Papa kalau Rudylah ayah dari anak yang kamu kandung" bujuk Farhan.
"Iya.. iya.. aku ingat sekarang" jawab Lisa.
"Kamu ingat sekarang sayang?" tanya Farhan hati - hati.
"Iya Pa, aku ingat sekarang. Aku menikah dengan Rudy di penjara saat aku mengetahui kalau aku sedang mengandung anaknya" balas Lisa.
"Kalau begitu kamu ingat ini anak siapa?" tanya Mama Lisa lembut.
Lisa menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita pulangkan bayi ini kepada orang tuanya ya sayaang" bujuk Mama Lisa.
"Tidak Ma... tidaaaaak. Ini anak aku dan Mas Rudy" Teriak Lisa histeris.
"Sayaaaang anak kamu sudah meninggal sayaaaang" bujuk Mama Lisa menenangkan.
"Tidaaaak Maaaa... ini anak aku" Lisa langsung mengambil Elfa dalam pelukannya dan memeluknya erat.
"Biarkan Farhan, jangan desak dia. Nanti dia akan mencelakai Elfa" ucap Omar dari mini microphone yang dipasang di baju Farhan dan istrinya.
Lisa berusaha membujuk Lisa.
"Iya.. iya sayaaang... itu anak kamu. sekarang kamu tenang ya. Letakkan anak kamu di boxnya" bujuk Farhan.
"Gak mau, nanti Papa dan Mama akan membawa anakku" Lisa terus memeluk Elfa putri Ela dan Fajar.
"Tidak.. Papa dan Mama akan menemani dan membantu kamu merawat anak kamu sayaaang" bujuk Istri Farhan.
"Benar?" tanya Lisa.
"Benar, Mama akan membantu kamu merawat cucu Mama" ucap Mama Lisa dengan senyum kasih sayang dan penuh luka. Dia sangat sedih melihat putrinya jadi seperti ini.
Semua adalah kesalahan dia dan suaminya yang terlalu memanjakan putri tunggalnya dan menuruti semua keinginan anaknya apapun yang dia minta.
Lisa meneteskan air matanya. Dia sangat sedih akhirnya anaknya menjadi seperti ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali, tapi nasi sudah menjadi bubur. atau bisa lagi kembali kewaktu yang lalu.
"Kalau begitu kamu ke kamar saja ya istirahat, biar Mama siapkan makan malam kita" ucap Mama Lisa.
Farhan dan istrinya negosiasi di dapur dengan orang luar. Mereka ngobrol dengan suara pelan agar Lisa tidak curiga.
"Kami mohon Omar, Aditya jangan pakai kekerasan. Kami akan menjamin Elfa baik - baik saja dan kami akan berusaha mengambil Elfa dari tangan Lisa dengan cara baik - baik. Tolooooong jangan hukum anak kami. Kalian lihat dan dengar sendiri kan Lisa saat ini sedang terganggu jiwanya" Farhan memelas lewat mini microphone.
"Bagaimana Fa, Ela?" tanya Omar pada anak dan menantunya.
Farhan dan Ela saling pandang.
"Yank gimana menurut kamu?" Fajar tidak ingin mengambil keputusan sendiri karena dia tau Ela lah yang paling shock saat ini.
"Baiklah Mas kita beri waktu dua jam lagi. Kalau dalam waktu dua jam Elfa belum kembali ke tangan kita, kita akan mengambil tindakan lain" jawab Ela.
"Kalian dengar kan Han, jawaban menantuku" ucap Omar.
"Iya, kami dengar. Terimakasih kalian mau memberi waktu kepada kami" balas Farhan.
Pembicaraan terputus. Farhan dan istrinya melakukan gerakan cepat karena mereka masih ingin menyelamatkan dan menyembuhkan putri kesayangan mereka.
"Ayo kita siapkan semua" ajak Farhan.
Mama Lisa memasak makanan kesukaan Lisa dengan penuh kasih sayang. Sesekali Istri Farhan itu terlihat menyeka air matanya yang jatuh ke pipi.
Kembali dia teringat masa kecil Lisa sampai Lisa besar. Putri kesayangannya itu selama ini selalu membuat mereka bangga. Dengan prestasi yang dia buat sejak kecil sungguh membuat mereka bahagia.
Kasih sayang yang sangat besar mereka limpahkan untuk putri tunggal mereka tetapi ternyata semua itu adalah sebuah kesalahan. Harusnya mereka tidak boleh lengah, sehingga berakibat seperti ini.
"Sudah selesai semuanya?" tanya Farhan.
"Sudah Maas" jawab Istrinya.
"Kalau begitu aku tunggu di sini, kamu panggil Lisa ya" perintah Farhan.
Mama Lisa segera naik ke lantai dua dan mengintip sedikit ke pintu kamar Lisa ternyata Lisa sedang bermain dengan Elfa di atas tempat tidur.
Wanita itu melihat betapa anaknya sangat mencintai bayi mungil itu. Dia pasti benar-benar merasa bayi kecil itu adalah putrinya yang telah meninggal. Tanpa terasa airmata Mama Lisa kembali menetes.
Tok.. Tok.. Tok...
"Sayang boleh Mama masuk?" tanya Mama Lisa.
"Ya Ma, masuk aja. Gak di kunci" jawab Lisa.
"Makan malam sudah Mama siapkan, kita makan dulu yuk biar kamu kuat mengurus bayi kamu. Kalau kamu tidak makan gimana kamu punya tenaga untuk menjaga bayi cantik ini" ucap Lisa sambil membelai kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ayok Ma, aku juga lapar" Jawab Lisa sambil mencoba untuk menggendong Elfa.
"Sini Mama yang gendong. Mama kangen pengen gendong cucu Mama. Kamu makan saja dengan santai" balas Mama Lisa.
"Ya sudah kalau begitu. Nih Mama gendong. Hati - hati ya Ma, nanti dia nangis" ucap Lisa
Mama Lisa tersenyum lembut pada anaknya.
Mereka turun ke lantai satu dan langsung menuju dapur. Di sana Farhan sudah menunggu mereka.
"Makan yuk, Papa sudah lapar" ucap Farhan.
Mereka duduk di meja makan dan mulai makan malam bersama. Lisa terlihat sangat menikmati makan malam buatan Mamanya karena semuanya adalah makanan favorit Lisa.
Lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan. Lisa melahap semua masakan Mamanya dengan lahap.
"Aku kok ngantuk banget ya Ma, Pa?" tanya Lisa heran.
Farhan dan istrinya saling pandang.
"Kamu pasti kurang tidur kan karena harus begadang menjaga anak kamu?" ucap Mama Lisa.
"Iya Ma, kalau malam bayiku suka rewel" jawab Lisa.
"Kamu kembali saja ke kamar kamu, biarkan bayi kamu sama Mama. Kamu butuh istirahat sayaang" perintah Papa Lisa.
"Baiklah kalau begitu aku naik dulu ya Pa" ucap Lisa.
Sebelum Lisa sampai di anak tangga pertama Lisa langsung tak sadarkan diri dan langsung di tangkap oleh Papanya.
"Lisaaaaa" teriak Farhan.
.
.
BERSAMBUNG