
Sampailah rombongan anak kecil itu di loby TBF Hotel dan mereka langsung di bawa Jimmy ke restoran Hotel karena orangtua mereka sudah menunggu di sana untuk makan malam.
"Wah.. wah... gimana perjalannya hari ini?" tanya Elfa.
"Seru Ma" jawab Elfa.
"Iya sankin serunya Elfa sampai menendang seorang anak laki-laki dengan sangat keras" lapor Fela.
"Elfa... apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Fajar terkejut.
Pasti anaknya ini melakukan sesuatu yang membuat Jimmy kesulitan.
"Aku tadi tidak sengaja menabrak seseorang Pa, aku sudah minta maaf tapi dia tetap marah. Sampai Uncle Jimmy datang tapi dia tidak terima. Saat kami antri di kasir dia mengejekku lagi tapi Kak Fael membelaku trus dia tetap mengejek, ya sudah aku hajar sana anak itu" ungkap Elfa
"Kamu apain anak itu Elfa?" tanya Ela.
"Aku tendang" jawab Elfa cuek.
"Apaaaa?" teriak anggota Geng ERASADIS.
"Ya ampun sayang, kamu gak bisa tendang orang sembarangan nak. Apalagi dia seorang perempuan" ucap Ela.
"Siapa bilang dia perempuan" balas Elfa.
"Jadi maksud kamu anak itu laki-laki?" tanya Fajar terkejut.
"Yup" Jawab Elfa.
"Kamu tidak apa - apa?" tanya Ela lagi.
"Aku ya gak apa - apa, yang kena tendangan kan dia, dia donk yang kenapa - kenapa. Sampai jatuh tersungkur hahaha rasakaaaan" ungkap Elfa bangga.
"Bisa kamu jelaskan Jim? Kamu mengerti kan apa yang aku khawatirkan?" tanya Fajar.
Jimmy mengangguk tanda mengerti.
"Benar Bos, Nona Elfa tidak mengalami apapun. Dia sehat - sehat saja, tidak perlu di khawatirkan" ungkap Jimmy.
"Tapi anak itu laki-laki Jim" balas Fajar.
"Iya Bos, Non Ela tidak bereaksi apapun. Dia baik - baik saja. Bahkan mereka tadi sempat berjabat tangan saat meminta maaf" jelas Jimmy.
Fajar dan Elfa saling tatap.
"Tapi setelah itu tidak ada masalah lagi kan Jim?" tanya Fajar.
"Tidak ada Bos, setelah itu anak - anak aku bawa ke Winter Wonderland London, mereka bermain dan berbelanja sepuasnya" ungkap Jimmy.
"Makasih Jimmy" ucap Keysha.
"Maaf kalau anak - anak merepotkan kamu Jim" sambut Ditha.
"Mari kita makan dulu" ajak Sintia.
Mereka duduk di meja panjang yang sangat besa, muat menampung sekitar 20 orang.
Makan malam spesial di sediakan pihak Hotel. Tentu dengan koki pilihan dan menu khusus yang di pesan Jimmy untuk keluarga pemilik Hotel ini.
Setelah selesai makan malam anak - anak pamit untuk kembali ke kamar masing-masing karena mereka sudah sangat kelelahan.
"Daddy aku ke kamari Elfa dulu ya, nanti kalau sudah mau pulang kabari aku" ucap Celine pada Jimmy.
"Oke honey, nanti Daddy akan panggil kamu" jawab Jimmy.
Celine ikut dengan F3STER naik ke lantai atas.
Kini tinggal para personil Geng ERASADIS plus Jimmy yang duduk di depan meja makan sambil ngobrol.
Fajar kembali teringat kejadian siang tadi saat Elfa tabrakan dengan seorang anak laki - laki.
"Jim, Berapa kira - kira usia anak laki-laki itu?" tanya Fajar kepada Jimmy.
"Iya, siapa lagi Jim. Kan aku gak mungkin nanya usia anak tetangga" jawab Fajar kesal
"Aku rasa mereka sebaya, paling tua satu atau dua tahun lah" jawab Jimmy.
"Anak laki-laki itu orang mana, mmm.. maksud aku kewarganegaraan mana?" selidik Ela.
"Sepertinya Inggris Nyonya. Logat dan bahasa Inggrisnya sangat lancar dan tadi sempat Nona Elfa berbahasa Indonesia dia tidak mengerti apa yang Nona Elfa katakan" jawab Jimmy.
"Fix menantu kalian bule hehehe" goda Disil.
Ela melotot ke arah Disil.
"Anakku masih kecil" elak Ela.
"Kalian juga dulu ketemu pertama kali waktu kecil. Kalian lupa saat kalian terjebak di lift saat kita liburan ke Bandung?" ucap Aby mengingatkan.
Fajar kembali menatap wajah istrinya.
"Apa dia Mas?" bisik Ela.
Fajar mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan kalau dia juga tidak tau.
"Sudah.. sudah.. ngapain terlalu di fikirin. Kalau memang dia itu antimonya Elfa pasti nanti bertemu lagi. Seperti kalian, waktu kecil pernah bertemu, remaja juga bertemu dan akhirnya saat dewasa baru berjodoh" ujar Ryza
"Iya yank ngapain kita permasalahkan. Yang penting putri kira gak apa - apa" jawab Fajar.
"Tapi bisa jadi memang dia antimonya Elfa, karena kalau ingat - ingat cita - cita Elfa kan dia ingin jadi penerus kamu dan menggantikan Jimmy mengelola Hotel ini" ujar Ryza.
"Iya benar juga ya" sambut Catherine.
"Tapi Bos... " ucap Jimmy ragu.
"Ada apa Jim, mengapa kamu ragu - ragu seperti itu. Katakan saja apa yang mengganggu fikiran kamu" sambut Fajar.
"Mm.. begini Bos, dari sifat anak itu sepertinya dia anak yang sombong dan dingin. Dia juga sepertinya bukan anak sembarangan. Dia di kawal dua pengawalnya" ungkap Jimmy.
"Waaah calon mantu yang hebat" goda Disil.
"Ssssttt... " ucap Ela memberi peringatan kepada Disil kalau saat ini mereka sedang serius bukan sedang bercanda.
"Dia sepertinya tidak punya teman makanya angkuh dan sulit memaafkan. Padahal aku lihat sendiri Nona Elfa dengan tulus sudah meminta maaf bahkan saat Nona Elfa mengangkat tangannya untuk berjabat tangan, dia lama sekali menerima ukuran tangan Nona Elfa" sambung Jimmy.
"Menarik El, mirip seperti kisah kamu dan Fajar cuma bedanya Fajar yang mabok kamunya kagak" celetuk Catherine.
"Aku tidak tau harus berkata apa saat ini. Elfa sifatnya memang persis seperti aku tapi dia punya sisi feminim dari kecil dia sudah suka bereksperimen di dapur untuk memasak" ungkap Ela.
"Beda dengan kamu yang suka buat keributan di dapur" ledek Aby.
"Yaah begitulah Kak" sambung Ela.
"Anak itu kan bukan cetakan plekkk... seratus persen kamu banget El, anak itu penggabungan Ibu dan Bapaknya atau darah yang mengalir itu berasal dari dua - duanya. Sifat tomboy Elfa memang kamu banget tapi naluri memasaknya mengalir dari Tante Jasmine, Mamanya Fajar" ucap Keysha.
"Setidaknya kan itulah sisi kewanitaannya. Kalau kamu dulu kan sukanya melukis dan mendesain pakaian. Lama kelamaan naluri wanita kamu muncul. Nah Elfa lain lagi. Tiap-tiap anak punya kelebihan masing-masing" jelas Ditha.
"Iya, sementara Fela dia ikut bakat melukis dan desain seperti aku tapi dia sangat feminim. Beda banget sama Elfa. Sedangkan Fael sifatnya mirip seperti Mas Fajar tapi bakatnya mengalir darah Papa dan Kak Aby, suka belajar teknik" ungkap Ela.
"Itulah pernikahan sayang, bukan kloning. Lihat anak kembar kita, walau wajah mereka mirip tapi sifat mereka sangat berbeda. Tapi mereka adalah pelengkap rumah tangga kita" ucap Fajar..
"Iya Mas, kalau tidak ada mereka pasti sepi. Aku tidak bisa membayangkan seandainya salah satu dari mereka jauh dari kita" ucap Ela.
"Itu pasti kita alami El, kamu kita Mama dulu gak sedih waktu kamu pergi sekolah ke London sendirian? Tapi semua dia tahan demi cita - cita kamu" ungkap Aby.
"Ternyata seperti itulah pengorbanan orang tua pada kita. Sesudah kita jadi orang tua baru kita sadar. Aaah jadi kangen Papa dan Mama" balas Ela.
.
.
BERSAMBUNG