
"Mmm... apakah.. seandainya kalau aku sakit, apakah kamu keberatan sayang?" tanya Ryza.
Sintia menatap wajah Ryza, ada keseriusan di sana.
"Mas aku mencintai kamu. Apapun kekurangan dan kelebihan kamu akan aku terima, kalau kamu sakit aku akan menemani kamu berobat. Kita akan hadapi ini bersama - sama" jawab Sintia.
"Terimakasih sayang, aku sangat lega sekali " balas Ryza.
"Tapi Mas, kalau seandainya hal itu terjadi padaku apakah kamu mau menerima kekuranganku?" tanya Sintia ragu.
"Kenapa tidak sayang? Kamu kan istriku. Tapi kenapa kamu bertanya seperti itu, apakah kamu sakit?" pancing Ryza.
"Aku memang tidak merasa ada yang lain pada diriku Mas tapi... Mama dulu setelah tiga tahun menikah baru hamil dan lahirlah aku tapi setelah itu Mama gak pernah hamil lagi. Aku takut aku juga mengalami hal yang sama seperti Mama" ungkap Sintia.
"Sebenarnya nasib orang tidak akan sama sayang. Tapi kalau kamu ragu bagaimana kalau kita sama - sama priksakan diri saja?" tanya Ryza.
Sintia terlihat sedang berfikir dan ragu.
"Sayang.. jangan takut. Mas juga gak takut kan? lagian ini kan di London tidak ada orang yang mengenal kita di sini. Gak ada salahnya kan kita honeymoon sambil memeriksakan diri. Tapi kamu jangan terlalu terbebani. Anggap saja kita cuma medical checkup saja" ujar Ryza untuk meyakinkan.
"Oke deh Mas, kita priksa sama - sama ya biar lega. Aku mau ikut berobat sama kamu" jawab Sintia.
"Alhamdulillah, makasih sayang. Aku jadi lebih semangat buat berobat karena kamu mau bareng sama aku menjalani semua tahapan pemeriksaan. Besok kita ke rumah sakit yang bagus di kota ini ya. Setelah itu baru kita jalan - jalan. Setuju?" ucap Ryza lega.
"Setuju Mas" balas Sintia.
"Tos dulu donk" goda Ryza.
Mereka mengangkat tangan kanan mereka masing-masing untuk melakukan tos kemudian kembali masuk ke kamar.
*********
Di Indonesia.
"Kamu sudah siap yank?" tanya Fajar
"Udah Mas" jawab Ela yang baru selesai memakai jilbabnya.
"Yuk kita berangkat" ajak Fajar.
Mereka segera keluar kamar dan berpamitan dengan keluarganya.
"Pa, Ma kami pergi dulu ke dokter ya" ucap Fajar pamit sambil menggandeng lengan istrinya.
"Hati - hati ya sayang" jawab Jasmine.
"Mudah - mudahan hasilnya bagus ya. Papa sudah gak sabar pengen punya banyak cucu" sambut Omar.
"Doain ya Pa" ujar Ela tersenyum lembut pada kedua mertuanya.
Mereka langsung berangkat menuju dokter kandungan keluarga Barrakh. Disana sudah menunggu Aby, Keysha, Disik dan Ditha.
"Sudah lama?" tanya Ela begitu sampai.
"Belum. Sebentar lagi kita akan dipanggil bergantian. Siap - siap aja" jawab Keysha.
Sesuai ucapan Keysha tak lama kemudian nama Keysha di panggil.
"Ibu Keysha Barrakh" panggil suster.
Keysha dan Aby masuk ke ruang pemeriksaan.
"Apa kabar Ibu Keysha? Ada keluhan?" tanya dokter ramah.
"Alhamdulillah sudah lebih ringan dok, mualnya sudah mulai hilang" jawab Keysha.
"Iya, sudah melewati trimester pertama, biasanya memang sudah lebih ringan bu. Kita periksa dulu dedek bayi di dalam ya" ucap sang dokter.
Keysha berbaring di tempat pemeriksaan. Pakaian di bagian perutnya di buka, suster menaburkan gel diatas perutnya dan kemudian dokter mulai memeriksa keadaan bayi mereka.
"Alhamdulillah bayinya sehat, lincah. Denyut jantungnya juga normal" ucap Dokter.
"Kapan kami bisa melihat jenis kelaminnya dok?" tanya Aby tak sabar.
"Mm.. sabar ya Pak, mudah - mudahan bulan depan sudah bisa ya. Karena kadang - kadang ada bayi yang malu nunjukin identitasnya" jawab dokter ramah.
"Maksunya nyembunyiin gimana dok?" tanya Aby penasaran.
"Ada beberapa bayi yang menutupi kelami*nya Pak sehingga sulit terlihat di layar monitor. Mudah - mudahan bulan depan bisa kita lihat" ungkap dokter.
"Sayang bulan depan tolong kamu mau bekerja sama dengan Ibu dokter ya, Papa dan Mama pengen lihat kamu" ucap Aby kearah perut istrinya.
"Maaaas" ucap Keysha malu.
Setelah selesai pemeriksaan rutin Keysha kini giliran Ditha dan Disil yang masuk ke ruang pemeriksaan.
Pertanyaan yang sama pada Keysha di tanyakan dokter.
"Dok apakah tidak masalah kalau saya pengen nenas? Katanya hamil mudah tidak boleh makan nenas?" tanya Ditha.
Dokter tersenyum ramah pada pasutri itu.
"Kalau sekedar kepengen boleh saja bu di makan tapi jangan terlalu banyak ya" jawab dokter.
"Terimakasih dok" jawab Ditha.
"Kalau Papanya yang makan gak apa - apa dok?" tanya Disil penasaran.
"Mas apaan sih pertanyaannya?" ucap Ditha.
"Gak masalah Pak, Bapak boleh makan makanan apa saja. Kan gak ada hubungannya Bapak dengan dedek bayi yang ada dalam kandungan Ibu" jawab Dokter.
"Ada donk dok, Papanya kadang - kadang kan suka jengukin dedek bayi dalam perut Mamanya" ucap Disil polos.
"Maaaaas" Ditha mencubit perut suaminya.
"Aaaaw.... sakit yank" ucap Disil.
"Siap dok" jawab Disil puas. Karena apa selama ini yang mengganjal dalam hatinya sudah terjawab dengan sangat baik.
Kini giliran Ela dan Fajar yang masuk ke ruangan pemeriksaan.
"Selamat malam Bapak Ibu" sapa Dokter.
"Malam dok" jawab Ela dan Fajar bersamaan.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang dokter.
"Sabtu kemarin saya sudah lakukan pemeriksaan kehamilan memakai test pack dan hasilnya alhamdulillah positif dok" ucap Ela.
"Alhamdulillah" sambut sang dokter.
"Jadi kami kesini ingin memeriksakan keadaan bayi kami yang ada dalam kandungan istri saya dok" ucap Fajar.
"Baik kalau begitu silahkan Ibu naik ke atas tempat tidur ya" perintah dokter.
Ela naik ke atas tempat pemeriksaan. Suster membuka pakaiannya tepat di bagian perut dan menaruhkan gel ke atas perut Ela.
"Alhamdulillah Ibu memang sedang mengandung dan selamat Bu, Pak anak Ibu dan Bapak kembar" ucap sang dokter.
"Kembar dok?" tanya Fajar.
"Iya Pak. Ibu tidak senang?" tanya dokter pada Ela.
"Sayang senang karena saya juga punya kembaran" jawab Ela tersenyum.
"Oh pantas saja. Wajar kalau Ibu saat ini sedang hamil kembar tiga" jawab Sang dokter.
Ela langsung duduk karena terkejut.
"Apa dok, kembar berapa?" tanya Ela.
"Kembar tiga" jawab dokter polos.
"Mas, anak kita kembar tiga" ucap Ela antara senang dan takut.
"Alhamdulillah sayang" sambut Fajar
"Apakah anak - anak saya sehat dok?" tanya Fajar.
"Saat ini tidak ada masalah, kita lihat perkembangannya bulan depan. Karena usianya baru sekitar 5 minggu jadi janinnya masih terlalu kecil" jawab dokter.
"Ada keluhan Bu?" tanya dokter pada Ela.
"Saya sering merasa pusing dan mual, terlebih saat pagi hari" jawab Ela.
"Oh itu wajar bu apalagi di trimester pertama. Nanti saya kasi obat pereda mual dan vitaminnya ya. Jangan lupa juga minum susu agar bayi- bayi dalam kandungan ibu gizinya terpenuhi" perintah dokter.
"Baik Dok" jawab Ela cepat.
"Maaf dok, boleh saya bertanya?" Fajar terlihat ragu dan malu - malu.
"Boleh, silahkan Pak" jawab sang Dokter.
"Apakah mmm... anu tidak masalah kalau tetap berhubungan?" tanya Fajar
Ela melotot ke arah suaminya. Dokter tersenyum menanggapi pertanyaan Fajar. Karena dia sering sekali di berondong dengan pertanyaan seperti ini.
"Boleh Pak asal jangan terlalu sering dan saya sarankan dilakukan pelan - pelan ya. Kasihan janinnya masih kecil Pak" jawab Dokter ramah.
"Alhamdulillah, siap Dok" jawab Fajar lega.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Dokter kembali.
"Cukup dok itu aja" jawab Ela.
"Makan yang banyak ya bu, karena bayinya ada tiga butuh nutrisi yang banyak. Ini resepnya bisa di tebus di apotek" ucap Dokter.
"Terimakasih Dok" ucap Ela dan Fajar.
Ela segera bangkit dari tempat pemeriksaan kemudian berpamitan dengan Dokter kandungan yang baru saja memeriksanya.
Sesampainya di ruang tunggu sambil senyum - senyum Ela dan Fajar keluar dari ruang pemeriksaan.
"Kok kalian lama sekali di dalam?" tanya Disil penasaran.
"Namanya banyak pertanyaan Dis" jawab Ela.
"Emang kamu tanya apa aja?" tanya Disil lagi ingin tau.
"Ya banyak Dis. Semuanya kita tanya" sambut Fajar.
"Emang kamu diperiksa apa aja El?" tanya Ditha.
"Semuanya Tha, kami semua di periksa" jawab Ela.
"Kami gimana maksud kamu? Kamu dan anak kamu juga Fajar? Berasa banyak banget yang di periksa" potong Ditua
"Ya emang banyak. Aku, anak, anak dan anakku" jawab Ela sambil tersenyum.
"Maksud kamu El?" tanya Keysha.
"Anak kalian kembar?" tanya Aby terkejut.
"Yup. Anak kami kembar. Bukan hanya dua tapi TIGA" jawab Ela bangga.
"APA????"......
.
.
BERSAMBUNG