
"Tolooooong... " teriak Ela.
Seketika Ela teringat kejadian saat dia berada di lift dalam keadaan mati lampu dan lift macet. Tubuh Ela mulai bergetar, keringat membasahi tubuhnya.
Fajar mengenggam tangan Ela erat.
"Tenang El... ini tidak akan lama. Kamu yakin padaku, aku ada di samping kamu. Apapun yang akan terjadi aku tidak akan meninggalkan kamu. Kita hadapi bersama" ucap Fajar memberi semangat.
"Tapi aku takut Fa. Tolooooong..." ucap Ela mulai lemah.
"Hey kamu harus kuat. Ini ketiga kalinya kita menghadapinya bersama. Pertama kamu pingsan, yang kedua kamu hanya lemas yang ketiga kamu harus lebih kuat biar kamu sembuh. Mari kita sama - sama saling mengisi dan menjadi penyembuh diantara kita. Kamu penyembuh alergiku dan aku akan membantu kamu menyembuhkan trauman kamu" ucap Fajar.
Ela menutup matanya dan tak henti - hentinya dia mengucapkan semua doa.
"El mati lampunya cuma di Dufan aja kok. Aku yakin hanya sebentar mungkin ada kesalahan teknis. Kamu buka deh mata kamu. Lihat kota Jakarta yang indah di malam hari" perintah Fajar lembut.
"Nggak Fa, aku takut" Ela menggelengkan kepalanya.
Fajar ingin berpindah tempat duduk di samping Ela tapi kursi mereka bergoyang.
"Aaawww... tolooong" teriak Ela kencang.
"Sorry.... sorry... tadi maksudnya aku ingin duduk disamping kamu untuk menenangkan kamu" ucap Fajar.
"Jangan.. jangan.. kamu duduk di situ aja biar seimbang" pinta Ela memelas.
Ela menggenggam tangan Fajar erat karena dia sangat ketakutan.
"Mama.. Papa... toloooong" teriaknya lirih. Dan Ela mulai menangis.
"Hey... Ariella Putri Gunadi. Kamu bukan wanita lemah. Kamu itu kuat, tidak ada yang bisa mengalahkan kamu. Bahkan aku saja sampai kewalahan kemarin mengalahkan kamu di Dojang. Ayolaaah ini hanya sesaat kamu harus bisa menguasai fikiran kamu. Kamu harus tenang itu kuncinya dan kamu harus yakin kita akan selamat" ucap Fajar memberi semangat.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu bahkan kalau memang kita harus mati di sini aku bahagia bisa mati bersama kamu" ucapnya sungguh - sungguh.
"Mamaaaa... Papaa... tolooong" isaknya dengan tubuh yang bergetar.
"Sekarang kamu tarik nafas kamu dalam - dalam. Kamu mau kan melewati ini bersama - sama?" tanya Fajar lembut.
"Percaya padaku. Ayolah Elaaaa" bujuk Fajar.
Ela menganggukkan kepalanya lemah.
"Sekarang pelan - pelan kamu buka mata kamu" perintah Fajar.
Ela mulai mengikutinya, Ela terus menatap mata Fajar dan tidak mau mengalihkan pandangan matanya kemanapun.
"Sekarang tarik nafas kamu dalam - dalam" perintah Fajar.
Ela melakukan apa yang Fajar perintakan.
"Lihat ke kanan kamu" ucap Fajar
Ela melirik ke arah kananya. Lampu - lampu di luar Dufan tetap menyala, Ela bisa melihat terangnya kota Jakarta. Perlahan gertaran dari tubuhnya mereda.
Ela melirik ke kiri. Kini dia mulai leluasa dan rileks menggerakkan tubuhnya walau secara pelan - pelan. Fajar tersenyum melihat Ela sudah mulai tenang.
"Bagaimana sudah tidak takut lagi?" tanya Fajar.
Ela menggelengkan kepalanya kemudian kembali menatap mata indah Fajar.
"Terimakasih Fa.. Kamu sudah membuat aku menjadi tenang. Apakah itu artinya trauma aku sudah sembuh?" tanya Ela.
"Aku tidak bisa memastikannya, nanti kita bisa menanyakannya ke dokter setelah semua sudah selesai. Dan aku berharap kamu memang sudah sembuh" ucap Fajar tulus.
Ela sudah bisa kembali tersenyum dan melihat sekelilingnya. Sungguh sangat romantis berpegangan tangan diatas Bianglala sambil menikmati malam seperti ini.
Apakah memang kamu pelindungku? Batin Ela.
Tak lama lampu kembali hidup dan mesin Bianglala kembali menyala. Pelan - pelang Bianglala kembali berputar dan mereka turun perlahan.
Akhirnya mereka sampai di bawah. Fajar mengulurkan tangannya untuk membantu Ela keluar. Tanpa sadar mereka keluar dari arena tersebut masih dengan saling bergandengan.
"Kamu sudah tidak menggeletar lagi?" tanya Fajar.
"Nggak" jawab Ela lembut.
"Setelah keluar dari sini kita makan yuk, aku lapar" jawab Ela.
"Ayuuuuk.. Aku juga sudah sangat lapar" balas Fajar dengan semangat.
Mereka berjalan menuju pintu keluar masih tetap saling bergandengan. Hingga sampai parkiran mobil barulah Ela tersadar dan melepaskan genggaman tangan Fajar.
"Kenapa di lepas, malu ya?" goda Fajar.
Ela melemparkan pandangannya ke arah lain.
"Ternyata kamu lebih cantik kalau lagi malu - malu?" goda Fajar sambil tersenyum.
"Apaaan sih" Balas Ela.
Fajar membuka pintu mobil, mereka pun masuk kemudian mobil melaju keluar dari arena Dufan.
Betapa bahagianya Fajar hari ini, bisa berdamai, berteman, berdekatan bahkan bergandengan tangan dengan Ela malam ini.
"Kita makan di restourant pinggir laut daerah ancol ini yuk?" ajak Fajar.
"Boleh. Aku suka seafood" jawab Ela.
Tak lama Fajar memarkirkan mobilnya di sebuah reatourant terbesar dan terkenal di daerah ini.
Mereka duduk di tempat yang langsung menghadap ke arah laut. Memandang malam di pinggiran laut dengan lampu yang gemerlap di tambah dengan hembusan angin menambah suasana romantis makan malam mereka.
Ela dan Fajar memesan aneka menu seafood untuk makan malam mereka.
"Kamu mau pesan apa?" Fajar memberi penawaran.
"Aku mau makan kepiting saos padang dan tomyam juga cumi goreng tepung ya" Pinta Ela.
"Yakin habis semuanya?" tanya Fajar.
"Kan berdua makannya sama kamu" jawab Ela.
"Oke.. Pesan semuanya satu porsi Mbak di tambah cah kangkung minumnya jus sirsak ya. Kamu mau minum apa El?" tanya Fajar.
"Aku jus belimbing aja" jawab Ela.
Pelayan restourant langsung mencatat menu yang mereka pesan kemudian segera mempersiapkannya.
"Fa aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu?" tanya Ela.
"Boleh. Kamu boleh tanya apapun" jawab Fajar.
"Kamu kok bisa dapat alamat ADS Butik dari Si Keket? Aku gak habis fikir aja apa yang bisa membuat dia berubah fikiran untuk membocorkan rahasiaku. Sepanjang aku mengenalnya dia sangat setia kawan. Pasti kamu sudah mengancamnya kan?" tanya Ela.
"Kamu salah. Mana bisa aku mengancam Catherine. Di sana London El, bukan negara kita. Di tambah lagi kita pendatang, mana bisa seenaknya ngamcam sesorang apalagi manager kamu itu warga negara sana bisa bahaya aku" jawab Fajar.
"Lantas kenapa kamu bisa mendapatkannya? Keket bukan orang yang gampang di bujuk, apalagi orang asing seperti kamu?" tanya Ela penasaran.
"Aku cerita tentang penyakitku. Awalnya dia memang tidak percaya dan gak mau kasih informasi apapun sampai aku buktikan kepadanya bagaimana dahsyatnya penyakitku. Aku minta dia menyentuhku dan kamu pasti bisa menebaknya. Aku muntah - muntah di apartemen Catherine. Dia sangat terkejut dan mungkin dia kasihan melihatku makanya dia kasih informasi Butik kamu. Hanya alamat butik tidak ada lainnya. Selebihnya dia suruh aku mencari sendiri sampai yaaaah kejadian yang aku alami di Butik kamu" ungkap Fajar.
"Maaf aku bukan sengaja mengerjai kamu, Papa dan Om kamu datang kepadaku memberi ide itu tapi mereka tidak mau menceritakan detail alergi kamu seperti apa. Mereka menyuruhku untuk membuktikan dan melihat sendiri dan begitulah akhirnya" jawab Ela dengan perasaan bersalah.
"Aku tau, Papa sudah menceritakan semuanya padaku. Sudah lama Papa meyakinkanku bahwa kamu lah antimoku tapi aku tidak percaya aku terlalu terobsesi pada Princess sampai mengabaikan kamu yang dekat denganku. Syukurlah ternyata kamu Princess yang selama ini aku cari" ungkap Fajar.
"Apa maksud kamu antimo?" tanya Ela bingung.
"Itu sebutan kamu yang diberi Ryza. Katanya kamu antimo bagiku. Obat anti mabok. Kalau di dekat kamu aku tidak muntah" jawab Fajar.
"Ada - ada saja kalian" balas Ela. Mereka tertawa bersama.
Tak lama pelayan datang menghidangkan semua menu yang mereka pesan. Ela dan Fajar makan malam sambil ngobrol dan bercanda ringan tidak ada lagi perdebatan diantara mereka.
Mulai hari ini mereka sudah berdamai dan berteman. Mudah - mudahan bisa jadi teman tapi mesra dulu setelah itu otw halal. Batin Fajar.
.
.
BERSAMBUNG