
"Uueeeek... uueeeek.. " Fajar muntah dan mengotori badan Lisa yang tertutup selimut.
"Apa - apaain ini Fajar?" tanya Lisa marah.
"Kamu lihat sendiri kan? Aku tidak bisa dekat dengan wanita. Aku punya alergi pada wanita. Kalau dekat atau bersentuhan dengan wanita akan mengalami hal seperti yang kamu lihat ini" ungkap Fajar.
"Cih alasan seperti apa itu. Buktinya sama Ela saja kamu biasa - biasa saja? " tanya Lisa tak percaya.
"Ela wanita istimewa, dia spesial makanya aku menikah dengannya. Hanya kepadanya alergiku tidak kumat" ungkap Fajar.
"Aku tidak percaya" sanggah Lisa.
"Kalau kamu tidak percaya silahkan sentuh aku lagi, aku akan membuktikan apa yang aku alami bukan rekayasa" sambung Fajar.
Ela mencoba mendekati Fajar dan menyentuh dada Fajar. Fajar pasrah dan tidak menjauh.
Wajah Fajar semakin pucat, keringat mengucur deras dan tak lama kemudian dia merasa mual.
Alangkah sialnya Lisa kali ini bukan selimut yang menutupi tubuhnya yang terkena muntahan Fajar melainkan rambut dan wajahnya.
"Brengsek kamu Fajar" teriak Lisa dan dia segera berlari menuju kamar mandi tetapi belum sampai dia di pintu kamar mandi, pintu kamar hotel sudah terbuka.
Trio ambisi beserta petugas keamanan dan pihak manajemen hotel segera masuk ke dalam kamar Fajar dan melihat apa yang dialami oleh Lisa.
"Rasakan sendiri wanita ular. Kamu tau apa yang telah kamu tanam" ucap Omar geram.
"Hahaha kamu pasti tidak menyangka akan mendapatkan jackpot seperti ini kan?" ejek Kevin.
"Kamu fikir kamu bisa merayu Fajar dengan tubuh kamu? Lihat sendiri, tubuh Fajar menolak apa yang telah kamu suguhkan" sambung Omar.
Lisa segera berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya juga memakai pakaiannya.
Tok... tok.. tok..
"Keluarlah Lisa, sampai berapa lama kamu mau bersembunyi di kamar mandi. Lebih baik kita segera selesaikan masalah ini" desak August.
Lisa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat ketakutan.
"Cih.. masih bisa kamu pakai pakaian kamu, bukannya tadi kamu bilang pakaian kamu sudah aku robek?" sindir Fajar.
Lisa hanya terdiam.
"Sekarang silahkan kamu duduk di sini dan ceritakan apa yang terjadi padaku" perintah Fajar.
Lisa duduk di sofa disaksikan oleh Trio Ambisi, tim keamanan dan pihak manajemen Hotel. Dia mulai menceritakan kronologis kejadian saat mereka meeting dengan Fajar dan sampai Fajar tak sadarkan diri di kamar hotel ini.
"Jadi dimana pria brengsek itu sekarang?" tanya Fajar.
"Aku tidak tau" jawab Lisa.
Sementara di kamar sebelah kamar Fajar dijebak sekitar lima belas menit yang lalu.
Ting.. Tong...
Ela memencet bel kamar 303 sesuai dengan isi pesan yang di kirim menggunakan nomor Fajar.
Tanpa perasaan takut Ela menekan bel kamar tersebut. Pintu kamar terbuka dan Ela masuk ke dalam.
Ela melihat tubuh seorang pria yang tertidur dengan posisi telungkup di tutupi oleh selimut di atas tempat tidur.
"Fa... " panggil Ela. Ela berjalan mendekati tempat tidur.
Dengan jantung yang berdetak kencang Ela pelan - pelan menyentuh tubuh pria yang ada di dalam selimut. Saat Ela hendak melihat wajah pria yang ada di dalam selimut tersebut tiba - tiba sebuah tangan kekar menariknya kuat dan akhirnya Ela terjatuh tepat di atas pria yang saat ini sudah telentang di atas tempat tidur.
Ela menatap dalam wajah pria tersebut dan alangkah terkejutnya dia melihat wajah pria yang tidak asing dan baru beberapa hari lalu dia kenal sebagai Rudi client Barrakh Corp yang bekerjasama dengan Fajar untuk pembangunan hotel di Puncak Bogor.
"Kamu" ucap Ela terkejut.
"Iya ini aku sayang. Aku sudah tidak sabar menunggu kamu dari tadi di sini. Mari kita nikmati surga dunia ini bersama - sama" goda Rudi sambil memeluk erat tubuh Ela.
"Brengsek, kamu menjebakku. Mana Fajar?" tanya Ela sambil berteriak dan meronta untuk melepaskan diri.
"Calon suami kamu juga sedang menikmati surga dunia dengan sekretarisku. Ayo kita balas perlakuan mereka. Kamu sudah diselingkuhi. Aku siap menjadi rekan kamu untuk membalaskan dendam kamu pada Fajar" ucap Rudi.
"Tidak mungkin Fajar melakukan hal yang menjijikkan seperti yang kamu katakan barusan. Lepaskan aku" Ela memukul tangan dan dada Rudi.
"Kurang ajar. Kamu fikir aku wanita murahan yang akan melakukan hal jorok seperti itu. Hey pria brengsek sampai mati pun aku akan menjaga kesucianku dan hanya akan aku serahkan pada orang yang berhak mendapatkannya dan aku pastikan itu bukanlah kamu" tolak Ela.
Ela memegang kedua tangan Rudi dan berusaha untuk melepaskan diri tetapi tenaga Rudi cukup kuat dan saat ini tubuh Ela terkunci dalam pelukan Rudi.
"Lepaskan brengseeek" teriak Ela.
"Hahahaha coba kalau kamu bisa" Rudi mencoba menggoda Ela.
"Kamu salah melakukan ini padaku Tuan. Kamu belum tau siapa aku" ancam Ela.
Ela membenturkan kepalanya dengan keras ke arah hidung Rudi. Rudi kesakitan dan seketika tangannya yang sedang memeluk erat Ela terlepas.
Ela tidak menyia - nyiakan kesempatan itu dia langsung bangkit dan menjauh dari tempat tidur.
"Hey Nona jangan kasar. Lebih baik kita main halus agar kita sama - sama merasakan nikmatnya surga dunia" ucap Rudi.
"In your dream" balas Ela.
Rudi bangun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Ela. Ela langsung sigap mengambil kuda - kuda.
"Coba sedikit saja kamu menyentuhku, kamu akan rasakan balasannya" ancam Ela.
"uuuuh... kamu mengancamku, kamu kira aku takut Nona"ucap Rudi dengan senyum bengisnya.
Tanpa rasa takut sedikitpun dia mendekati Ela dan hendak menyentuh pakaian yang dikenakan Ela.
Ela langsung menangkap tangan Rudi dan memelintirnya ke arah belakang tubuh Rudi. Rudi mengeram kesakitan dan dia memijak kaki Ela.
Sontak Ela melepaskan tangan Rudi yang dia kunci tadi.
"Waaah bisa melawan juga kamu ya Sepertinya kamu tidak suka dengan kelembutan. Baik.. mungkin cara kasar bisa memberikan sensasi yang lebih hot. Aku suka itu" ucap Rudi sambil menggoda dan mencoba kembali mendekati Ela.
Ela segera mengambil kuda - kuda dan menendang Rudi tepat di perutnya. Rudi langsung jatuh tersungkur di lantai.
Buuuuk....
Rudi meringis kesakitan.
"Bagaimana tendanganku Tuan, masih kurang keras? Kamu salah memilih target untuk pemuas nafsu kamu. Lebih baik kamu ajak sekretaris muna kamu itu untuk menemani kamu tidur" ucap Ela geram.
"Kamu membuat aku marah ya. Baiklah aku akan serius menanggapi perlawanan kamu. Kamu mau secara kekerasan?" Rudi mengambil dan melepas tali pinggang dari celananya dan melibaskannya ke udara.
Ela kembali mengambil kuda - kuda.
"Waaah sepertinya kamu mau jadi sansakku hari ini ya. Ketepatan aku sudah lama gak bertanding jadi bisa sekalian aku lampiaskan pada kamu. Gak percuma dua puluh tiga tahun lebih latihan taekwondo ternyata sangat berguna untuk saat - saat seperti ini" ungkap Ela.
Rudi terlihat terkejut mendengar ucapan Ela tapi nasi sudah menjadi bubur tidak mungkin dia lari. Egonya melarangnya untuk mundur di tambah godaan setan yang terus membisikkan untuk segera menyicipi tubuh Ela. Rudi tak gentar menyerang Ela dengan senjata cambukan dari tali pinggangnya.
Ela mengelak dari cambukan yang dilibaskan Rudi ke arah tubuhnya dan mencari kelemahan Rudi, begitu dia mendapat celah Ela langsung menendang Mr. X nya Rudi sehingga dia mengeram menahan kesakitan dan memegang selangkangannya.
Ela langsung mengambil kesempatan mencari kunci kamar hotel dan berusaha membuka pintu.
Dengan langkah tertatih - tatih Rudi berjalan perlahan ke arah Ela dan mencoba menahan Ela dari belakang.
Pintu terbuka bersamaan dengan Rudi berhasil menarik tangan Ela. Dengan cekatan Ela memutar balik tubuhnya dan mendorong tubuh Rudi menjauh kemudian dia mengambil kuda - kuda menendang Rudi dengan seluruh kekuatannya.
Rudi terdorong jauh dan menyenggol lampu dan meja di kamar tersebut sehingga terdengar suara pecahan kaca yang nyaring sampai keluar.
Praaaaaang.....
Para penjaga keamanan dan pihak manajemen Hotel yang ketepatan sedang berada di kamar sebelah tempat Fajar di jebak langsung keluar mencari dari mana asal keributan itu juga.
Trio Ambisi dan Fajar juga ikut keluar karena kuatnya suara keributan itu dan mereka penasaran dengan apa yang terjadi di luar.
"Elaaaaaaaa"
.
.
BERSAMBUNG