
Sintia dan Ryza akhirnya berangkat honeymoon ke London. Sebelum berangkat Cinta Mamanya Sintia berpesan.
"Sayang kamu jangan merasa terbebani ya karena teman - teman kamu sudah pada hamil. Nikmati saja honeymoon kalian" nasehat Cinta.
"Iya Ma, biasa aja kok. Aku gak merasa punya beban" bantah Sintia.
"Sayang Mama tau apa yang kamu rasakan karena Mama juga dulu sempat merasakan seperti apa yang kamu rasakan sekarang. Bahkan Mama dan Papa harus menanti kehadiran kamu setelah tiga tahun pernikahan kami. Kalian santai saja ya, kan nikahnya juga baru beberapa bulan" ungkap Cinta.
"Mamaaaa" Sintia memeluk Mamanya. Dia tidak pernah bisa berbohong di hadapan wanita ini.
Sebaik apapun dia menyembunyikan isi hatinya, Mamanya pasti mengetahuinya. Sintia bagaikan cermin bagi Cinta.
Hanya menatap wajah Sintia, Cinta sudah tau apa yang sedang dirasakan putri semata wayangnya.
"Nasib kamu belum tentu sama seperti Mama. Lagian dari dulu juga kamu rajin oleh raga dan makan - makanan yang sehat. Kalau Mama dulu kan sempat jadi anak kos. Mungkin karena sering makan sembarangan mengakibatkan Mama sulit hamil" ungkap Cinta memberi semangat.
"Mudah-mudahan ya Ma. Aku hanya merasa semakin ketakutan setiap mengetahui satu persatu teman - temanku hamil" jawab Sintia sedih.
"Kamu jangan sedih, dibawa happy aja ya. Biar hormon kamu bagus. Kamu lagi gak sedang datang bulan kan?" tanya Cinta.
"Baru selesai Ma seminggu yang lalu" balas Sintia.
"Nah lagi masa subur tuh. Yang penting usaha dan terus berdoa sayang. InsyaAllah, Allah akan dengar dan lihat perjuangan kalian" ucap Cinta memberi semangat.
"Aamiin.. Makasih ya Ma" jawab Sintia.
"Iya sayang, hati - hati di sana ya. Ingat!! Jangan terlalu difikirin. Enjoy aja, nikmati honeymoon kalian dan juga jangan kasih Ryza kerja atau ngurusin kantor walau lewat HP ya. Fokus saja untuk liburan dan quality time berdua" sambung Cinta.
"Beres Ma. Perintah Mama akan kami laksanakan" balas Sintia.
Ryza dan Sintia bergegas menuju Bandara. Sesampainya di sana mereka sudah melihat Mr dan Mrs. Wolter sudah duduk di ruang tunggu Bandara.
Tiga puluh menit kemudian mereka terbang menuju London dan sampai ke esokan harinya.
Mereka menginap di TBF Hotel dengan fasilitas yang hampir sama dengan kamar Ela dan Fajar menginap di Hotel ini saat honeymoon. Hanya saja ukuran kamarnya lbh kecil dan terletak satu lantai di bawah kamar Ela dan Fajar.
"Bagus sekali ya Mas kamarnya" puji Sintia ketika masuk ke dalam kamar hotel.
Ryza tersenyum menatap lembut istrinya.
"Hari ini kita istirahat di hotel saja ya Mas, besok baru kita keliling London" ucap Sintia.
"Aku sangat setuju sekali sayang" jawab Ryza sambil tersenyum nakal.
"Iiiiiih Maaaaaas" balas Sintia sambil memukul tangan suaminya dengan lembut.
"Aku mandi dulu ya Mas" ucap Sintia sambil membuka koper dan mengambil pakaiannya.
Ryza membuka pintu kamar menuju balkon. Dia menerawang memikirkan apa yang dialami istrinya.
Fajar dan Ela sudah menghubunginya kemarin. Ela menceritakan keresahan istrinya karena sampai saat ini dia tak kunjung hamil sementara tiga temannya yang lain sudah hamil.
Ditambah lagi karena pengalaman Mamanya yang sulit hamil menambah keresahan Sintia. Itu sebabnya Ela menyuruh Ryza untuk mengajak Sintia honeymoon sesuai keinginan Sintia.
Ryza mencintai Sintia dengan tulus, keturunan memang penting tapi bukan yang paling utama baginya. Yang penting mereka terus berusaha dan dan berdoa, soal rezeki biarlah mereka serahkan pada Allah.
"Bagaimana dia bisa berfikir seperti itu El. Aku tidak pernah mengungkit-ungkit atau menanyakan padanya apakah sudah ada tanda - tanda dia hamil? Lagian kan kami baru beberapa bulan nikahnya" ucap Ryza.
"Namanya wanita Ry, kekhawatiran itu pasti ada. Dia takut dia yang akan disalahkan dalam hal ini" sambung Ela.
"Aku mencintainya tulus El aku tidak akan menyalahkan dia atau siapapun dalam hal ini" balas Ryza.
"Tapi Gak ada salahnya kan dicoba? Dulu waktu kita ke London rame - rame sebelum pulang Sintia pernah berkata dia pengen ke London lagi untuk honeymoon kalian. Makanya aku pura- pura ngidam ingin honeymoon ke London dan meminta kalian untuk mewakilkan kami pergi ke sana. Siapa tau itu keinginan yang memang dia simpan di dalam lubuk hatinya dan menjadi penghalang dia untuk hamil. Mudah - mudahan setelah keinginan hatinya terpenuhi kalian bisa mendapat keturunan. " ungkap Ela.
"Kamu hibur Sintia di sana Ry, bila perlu kamu ajak dia priksa di sana. Biar kalian lebih plong. Mudah - mudahan kalian berdua sehat tapi kalau memang ada diantara kalian yang tidak sehat, gak afa salahnya kan kalian tau lebih cepat. Jadi bisa segera di obati dan disembuhkan" nasehat Fajar.
"Tapi bagaimana aku mengajaknya ke dokter kandungan?" tanya Ryza.
"Itu tugas kamu sebagai seorang suami. Masak harus kami lagi yang memikirkannya" oceh Ela.
"Baiklah, akan kufikirkan bagaimana caranya nanti. Terimakasih ya El kamu sudah sangat perhatian pada istriku. Aku saja suaminya tidak mengetahui keresahannya" ucap Ryza.
"Aku kan sahabatnya Ry lagian kami sama - sama wanita ya tentu taulah urusan wanita" jawab Ela.
Itulah pembicaraan mereka sebelum berangkat ke London kemarin. Masih jelas di ingatan Ryza kata - kata Ela. Dia harus memikirkan bagimana caranya agar istrinya mau memeriksakan diri ke dokter kandungan.
Tak lama Sintia keluar dari kamar mandi. Dia melihat suaminya sedang melamun sambil melihat pemandangan laut dari balkon kamar.
"Ada Mas, sepertinya ada yang sedang Mas fikirkan?" tanya Sintia penasaran.
"Yank.. karena kamu adalah istriku ada sesuatu yang ingin aku ucapkan pada kamu. Suatu rahasia yang telah lama aku simpan dan hanya kamu yang boleh tau" ucap Ryza serius.
Sintia mendekati suaminya dan menatap mata Ryza.
"Apa itu Mas?" tanya Sintia.
"Tapi kamu janji harus merahasiakannya" pinta Ryza.
"Aku janji Mas" jawab Sintia.
"Kita bicaranya sambil duduk aja ya, yuuuk" ajak Ryza.
Mereka berjalan menuju kursi yang ada di balkon.
"Dulu waktu aku SMU aku punya pengalaman yang tidak mengenakkan. Waktu itu aku sedang di kamar mandi untuk buang air kecil. Karena terburu - buru Juniorku tercepit resleting celana dan luka. Sebenarnya sudah sering aku memikirkannya dan ingin memeriksakannya tapi aku takut. Kini ada kamu di sampingku. Apakah kamu mau menemaniku berobat ke dokter kandungan di London ini? Kalau di Indonesia mungkin aku akan malu kalau ada yang mengetahuinya" pinta Ryza.
"Maaas aku istri kamu. Kenapa kamu harus malu?" jawab Sintia.
Yes... Sintia sudah mulai terpancing. Batin Ryza.
"Mmm... apakah.. seandainya kalau aku sakit, apakah kamu keberatan sayang?" tanya Ryza.
.
.
BERSAMBUNG