
"Halo... Fajar ini Om Kevin" ucap Kevin.
"Ya Om. Tumben Om telepon aku. Ada suatu hal yang bisa aku bantu?" tanya Fajar.
"Iya... Om butuh bantuan kamu. Ini mengenai Keysha" sambung Kevin.
"Ada apa dengan Keysha Om?" tanya Fajar penasaran.
"Ada pria yang mau melamar Keysha" jawab Kevin.
"Wah bagus donk Om. Selamat buat Keysha akhirnya dia yang duluan nikah diantara kami" potong Fajar.
"Masalahnya Om belum bisa memberikan restu kepada pria itu" balas Kevin.
"Lho kenapa Om? Bukannya pria itu pria yang baik. Aku dengar dari Ryza pria itu adalah seorang CEO yang sukses, pintar dan dari keluarga yang baik-baik" sambut Fajar.
"Kamu sudah mengetahuinya?" tanya Kevin terkejut.
"Sudah Om. Siapa nama pria itu? aku lupa" tanya Fajar.
"Abyasa Putra Gunadi" jawab Kevin singkat.
"Ha... Iya Abyasa. Kata Ryza dia sudah kenal dengan pria itu berikut dengan para sahabatnya. Menurut Ryza dia pria baik dan bertanggung jawab Om. Harusnya Om bangga mendapatkan menantu seperti dia" ucap Fajar.
"Om masih belum bisa mempercayakan Keysha seutuhnya pada pria itu. Om harus mengujinya. Dan saat ini Om membutuhkan bantuan kamu dan Ryza" ungkap Kevin.
"Bantuan apa Om?" tanya Fajar penasaran.
"Om mau dua minggu lagi kamu dan Ryza tanding taekwondo dengan pria itu. Om sudah membuat kesepakatan dengannya. Jadi satu tim terdiri dari dua orang. Nah kalian bertanding, siapa yang kuat itulah pemenangnya" jawab Kevin.
"Tapi Om kami sudah lama tidak berlatih" elak Fajar.
"Masih ada waktu dua minggu lagi Fa. Kamu dan Ryza masih bisa berlatih dan mempersiapkan diri kalian. Om harap kalian mau membantu Om kali ini" pinta Kevin tegas.
Fajar menarik nafas berat. Dia tau dari dulu Kevin jarang sekali mengganggu hidupnya terlebih lagi ini mengenai hidup sahabat plus saudaranya Keysha. Dia sudah menyayangi Keysha seperti saudaranya sendiri. Dia juga tidak rela kalau melepas Keysha menikah dengan sembarang pria.
Dia harus memastikan pria tersebut memang layak untuk menjadi pendamping dan pelindung Keysha. Akhirnya Fajar mengambil sebuah keputusan.
"Baiklah Om. Aku akan bicarakan permintaan Om ini dengan Ryza. InsyaAllah dua minggu lagi aku dan Ryza akan pulang" jawab Fajar.
"Terimakasih Fa. Om sangat senang mendengarnya" jawab Kevin.
Setelah itu pembicaraan mereka terputus. Dengan perasaan senang Kevin berjalan menuju ruangan Omar dan ingin segera menyampaikan kabar gembira ini kepada Papanya Fajar. Bahwa dia sudah berhasil membujuk Fajar pulang.
"Mengapa wajah kamu ceria sekali Bu? Senyummu itu sangat mencurigakan?" ledek August.
"Weisss... senang donk. Dua ponakan kesayangan aku dua minggu lagi akan segera pulang" jawab Kevin percaya diri.
"Maksud kamu Fajar dan Ryza?" tanya August tak percaya.
Omar segera menghentikan pekerjaannya dan melirik ke arah Kevin.
"Yah siapa lagi kalau bukan mereka" jawab Kevin bangga.
"Bagaimana cara kamu menyuruh mereka pulang?" tanya Omar penasaran.
"Jadi gini bro ceritanya. Tadi Si Cicak datang membawa bukti dan saksi kejadian saat pesta ultahku. Tapi aku tidak mau menyerah dengan mudahnya. Aku memberikan satu syarat lagi pada mereka" ungkap Kevin.
"Syarat apa?" potong August karena sangat penasaran.
"Dua minggu lagi mereka akan aku uji tanding beladiri ketepatan mereka juga menguasai taekwondo. Fajar dan Ryza kan ahli di bidang itu. Jadi aku minta bantuan mereka untuk mengalahkan si Cicak dan satu temannya untuk bertanding. Mantapkan ideku?" ucapnya bangga.
"Sempruul. Kamu jadikan anakku tumbal?" umpat Omar.
"Iya tapi itu dulu. Sekarang aku jamin dia pasti jarang bahkan tidak pernah latihan lagi" ucap Omar kesal.
"Masih ada waktu dua minggu untuk mereka latihan" jawab Kevin tanpa rasa bersalah.
"Gue plitis juga tuh kepala lu ya. Gara-gara anak lu yang mau nikah. Anak kami lu korbanin. Lu cuma tinggal duduk manis nonton pertandingan mereka" umpat August kesal.
"Tenang mereka tidak akan cidera ataupun terluka. Harusnya kalian khususnya Omar berterimakasih padaku. Aku sudah berhasil membujuk anak kamu pulang. Sudah lama kan dia tidak pulang ke Indonesia?" oceh Kevin yang sebenarnya omongannya ada benarnya juga.
Omar terdiam mencoba memikirkan apa yang harus dia katakan.
"Baiklah. Aku mengucapkan terimakasih pada kamu. Berkat ide kamu akhirnya Fajar mau pulang juga. Pasti istri dan Mamaku juga putriku senang mendengar berita kepulangannya" ucap Omar.
"Aku semakin tidak sabar menunggu waktu dua minggu lagi. Aku ingin melihat ke kalahan Si Cicak itu. Jangan anggap remeh sama Kevin. Tidak segampang itu bisa menikahi putri kesayanganku" ocehnya.
"Makan tuh harga diri.. Sebenarnya pengen banget aku doain tim kamu kalah tapi isi tim kamu itu anak-anak kami. Akh.. kesal jadinya lihat kamu Bu. Pengen banget rasanya ngurung kamu di kandang selama dua minggu gak dikasi pisang sama sekali" umpat August.
"Sudahlah.. pilihan kalian hanya bisa mendukungku saja. Dengan mendukungku aku pastikan harga diri kalian sebagai orangtua akan terselamatkan. Harga diri kita bertiga ada di tangan kedua putra kalian bro" ucap Kevin.
"Awas kamu ya Bu.." umpat August kesal.
Kevin segera melangkah menjauhi kedua sahabatnya dan kembali ke ruang kerjanya.
Omar mencoba menghubungi putranya.
"Halo Pa" sapa suara dari seberang.
"Fa, Papa dengar dari Om Kevin kamu mau pulang dua minggu lagi?" tanya Omar kesal.
"Iya Pa" jawab Fajar cuek.
"Dia yang minta kamu pulang kamu mau ya. Papa sama Mama bahkan Oma kamu sudah capek nyuruh kamu pulang ada saja alasan kamu" teriak Omar kesal.
"Hehehe.. Maaf Pa, sepertinya permintaan Om Kevin emang harus dipenuhi Pa. Nama baik Barrakh Corp dipertaruhkan di sini. Kalau aku dan Ryza tidak pulang berarti Barrakh Corp kalah donk dengan ADS Corp" jawab Fajar tanpa merasa bersalah pada Papanya.
"Ini bukan mengenai perselisihan dua Perusahaan Fajar. Tapi ini perselisihan hati Om gemblung kamu itu. Mau dapat mantu aja banyak sekali syaratnya. Kamu juga mau aja diajak kerjasama sama dia. Kayak gak ada kerjaan lagi harus bertanding beladiri. Kayak sayembara aja. Om kamu itu sok jadi raja" Umpat Omar kesal.
"Sudahlah Pa biarin aja dia dengan ide gilanya. Yang penting aku pulang, bukannya itu yang kalian mau?" tanya Fajar.
"Awas nanti kalau kamu pulang ya, habis kamu Papa hajar" ancam Omar.
"Hahaha aku gak takut Pa, aku kan sudah besar. Oh ya bilang sama Mama dan Oma ya, aku mau dimasakin semua makanan kesukaan aku. Aku kangen sama masakan mereka" goda Fajar.
"Bilang saja sendiri. Papa bukan pesuruh kamu" teriak Omar.
Telepon terputus.
.
.
BERSAMBUNG
Aku kasih bonus sebelum tidur ya...
Ayo yang mau memberi jangan lupa kasi aku kembang donk biar boboknya lebih nyenyak.
Selamat membaca... semoga kalian suka.
Sabar ya yang nungguin Fajar pulang... 😍😍