
Omar, Kevin, August dan Ela menyusun rencana dan bekerjasama untuk menjebak Fajar. Ela yang pada dasarnya emang memiliki sifat usil ditambah lagi dia memang sangat jengkel melihat Fajar secara mudahnya mau diajak kerjasama oleh Trio Ambisi.
"Baik Om, aku setuju dengan ide Om - Om sekalian. Jadi gak sabar aku pengen ngerjain cowok pendendam itu" ucap Ela dengan semangat membara.
"Aku jadi seram melihat tampang anak tengil ini Din? Takutnya si Lampu Aladin gak kuat menahan alerginya" bisik August.
"Biar saja, anak itu kan laki - laki. Laki - laki itu harus kuat kalau tidak tukar aja kelaminnya" jawab Omar dengan berbisik juga kepada August.
"Tapi Om, aku punya syarat untuk kalian" pinta Ela.
"Syarat apa El?" tanya Omar.
"Aku mau cukup Om bertiga saja yang tau kalau aku adalah Princess. Jangan melebar kemana - mana. Selama ini aku sudah merahasiakannya rapat - rapat, tapi kalian mengetahuinya" ungkap Ela.
"Mengapa kamu merahasiakannya padahal kan itu sebuah prestasi yang baik dan membanggakan?" tanya Omar penasaran.
"Aku mau hidup bebas Om sesuai keinginanku tanpa ada yang menghalangi dan memberatkan langkahku. Ku harap Om mengerti" pinta Ela.
"Oke deal" Omar menyodorkan tangannya ke arah Ela.
"Deal" Ela membalas jabatan tangan Omar.
Omar tersenyum menatap Ela. Ela tidak tahu dibalik rencana ini sebenarnya Omar ingin menyatukan Ela dengan putranya. Omar sangat senang mendapatkan menantu sehebat Ela.
Sementara Ela tidak tau apa rencana Trio Ambisi yang sebenarnya. Dia hanya ingin mengerjai Fajar saja. Pasti Ela tidak menyangka kalau dia akan terjebak dengan kerjasamanya sendiri.
"Om rasa besok Fajar akan ke sini mencari Princess, kamu harus mempersiapkan semuanya. Hari ini Om sudah menahannya di kantor. Om yakin dia tidak sempat kemari hari ini. Anak itu kalau sudah urusan pekerjaan tidak akan pernah setengah - setengah. Dia pasti akan menyiapkan pekerjaannya dulu baru dia mengurus masalah pribadinya" ungkap Omar.
"Siap Om, sesuai dengan intruksi dari Om. Ela akan mengerjakannya" ucap Ela.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Ela, sampai ketemu lagi. Om tunggu cerita seru dari kamu" Omar pamit.
"Tunggu Om sepertinya ada yang terlupa. Penyakit alergi seperti apa yang di derita Fajar? Dari tadi Om tidak ada menjelaskannya padaku?" tanya Ela penasaran.
"Nanti kamu akan tau sendiri. Om kan sudah bilang kamu buktikan saja sendiri" jawab Omar.
"Oke Om. Assshiaaap" sambung Ela.
"Senang bertemu dengan gadis ceria seperti kamu" Omar bangkit dari tempat duduknya dan menjabat tangan Ela untuk berpamitan.
"Sama - sama Om, saya juga senang bertemu dengan Om - Om tampan seperti kalian" goda Ela sambil tertawa.
"Dasar anak tengil, berani kamu ya menggoda tiga pria tua seperti kami" ledek Kevin.
"Yaaah kapan lagi Om mumpung ada kesempatan hehehehe..." Ela nyengir kuda.
Omar tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar jawaban Ela.
Semakin aku mengenalmu aku semakin menyukaimu anak tengil. Aku yakin anakku pasti akan jatuh cinta padamu. Hanya saja anak bodoh itu sangat bodoh sekali menyadari kenyataan sebenarnya bahwa kamulah tulang rusuknya. Batin Omar.
Omar, Kevin dan August beranjak dari ruang kerja Ela. Ela mengantar mereka sampai di depan lift.
"Maaf Om aku tidak bisa mengantar kalian sampai ke bawah" ucap Ela.
"Tidak apa - apa. Ingat Ela persiapkan rencana kamu sebaik mungkin" Omar kembali mengingatkan Ela.
"Asssshiaaaap Bos" Ela mengangkat tangannya ke kepalanya memberi hormat ala tentara.
Omar tersenyum melihat tingkah calon menantunya itu.
Mereka masuk ke dalam lift dan berlalu dari hadapan Ela.
"Gadis yang energik ya. Aku suka melihat wanita seperti itu" ucap August.
"Tau aja kamu Bu, jadi pengen pulang ketemu kuntiku" sambung August.
"Enak saja, kerjaan kita masih banyak di kantor" potong Omar.
"Becanda Bos, gitu aja dibawa serius. Kuntiku hanya beraksi malam hari" jawab August.
"Namanya juga Kunti" sambut Kevin.
Pintu lift terbuka mereka langsung ke luar dari ADS Butik dan kembali ke Perusahaan Barrakh Corp untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Sore harinya di ADS Butik.
Tok.. Tok.. Tok...
"Masuuuuk" ucap Ela dari dalam.
"Haaaai, kamu sibuk?" tanya tamu yang datang.
"Eeeh Rafa tumben kamu datang, sama siapa ke sini?" tanya Ela.
"Sendiri, kedua Bosku sudah punya Bini, gak asik di ajak main" jawab Rafa.
"Duduk Raf" perintah Ela.
Rafa duduk di sofa Ela yang empuk dan nyaman.
"Maaf aku baru bisa datang sore ini setelah dua hari kamu kembali ke Indonesia. Aku juga belum sempat ketemu kamu di rumah. Kemarin aku pulang malam karena Aby dan Disil belum full ngantornya" ungkap Rafa.
"Gak apa Raf. Aku juga baru ngantor hari ini. Kemarin masih istirahat karena jetlag" jawab Ela.
"Senang banget dengar kamu pulang ke Indonesia selamanya" ucap Rafa sambil menatap Ela yang masih asik menggambar sketsa gaun.
"Iya, Papa, Mama dan Kak Aby memintaku pulang karena Kak Aby sudah nikah minggu ini juga akan pindah ke apartemen mereka. Papa Mama jadi kesepian di rumah. Jadi aku pulang deh, lagian emang sudah waktunya kali pulang. Berbakti kepada orang tua" ungkap Ela.
"Tumben baik budi biasanya paling suka buat onar" goda Rafa.
"Masih sih tapi kali ini aku emang serius ingin berbakti. Kapan lagi aku bisa tinggal bersama mereka lagi. Nanti kalau aku nikah kan pasti aku akan ikut suami" oceh Ela.
Dan kuharap akulah pria yang beruntung itu El. Ucap Rafa dalam hati.
"Kamu sibuk El?" tanya Rafa.
"Emmmm setelah gambar ini selesai semua kerjaan aku sudah siap. Kenapa Raf, kamu mau ngajak aku kemana gitu?" tanya Ela penasaran.
"Ke Dojang yuk, aku kangen tanding sama kamu" ajak Rafa.
"Boleh.. boleh.. sebentar ya aku siapkan dulu gambar ini baru kita berangkat. Kamu santai aja dulu di situ" balas Ela.
Rafa memperhatikan Ela yang sedang serius menggambar. Rafa meraih hpnya dan tanpa sepengetahuan Ela dia mengambil foto Ela diam - diam.
Kemudian mengganti foto profil Ela pada nomor kontaknya di Hp Rafa.
Semakin lama aku memandang wajah kamu, kamu semakin cantik El. Mengapa baru sekarang aku menyadarinya. Padahal wajah itu yang dulu selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Wajah itu yang telah aku lukai tanpa sadar selama tujuh tahun ini. Maafkan aku El, tolong beri aku kesempatan untuk mengobati luka hati kamu yang pernah aku torehkan di hati kamu. Biarkan aku menghidupkan kembali cinta di hati kamu, menjadikan kamu wanita yang paling bahagia di dunia ini. Kamulah kini pemilik hatiku El. Batin Rafa.
.
.
BERSAMBUNG