Find The KEY

Find The KEY
Ep. 91



Jam 12 siang mereka sudah sampai di ruang tunggu Bandara. Lima menit lagi mereka akan naik ke pesawat pribadi Barrakh Corp.


"Semua sudah lengkap?" tanya Fajar.


Aby memperhatikan para sahabatnya. Hanya Rafa yang akan tinggal.


"Lengkap Fa" jawab aby.


Rafa sengaja ikut mengantar sampai Bandara karena dia enggan berpisah dengan Ela.


"El sering - sering pulang ya, aku sebenarnya masih kangen kamu" ucap Rafa.


"InsyaAllah Raf, ingat pesanku perbaikilah hubungan kamu dengan Lisa. Maafkan dia dan kembalilah. Dia masih menyayangi kamu Raf" balas Ela.


"Sudah aku bilang berulang kali El kami tidak mungkin kembali lagi. Aku sudah memaafkannya sejak lama tapi tidak untuk kembali. Rasaku untuknya sudah hilang, tidak mungkin untuk dilanjutkan" jawab Rafa.


"Haaah... aku mohon Raf fikirkan lagi. Sekarang aku harus kembali ke London. Sampai ketemu lagi Raf" ucap Ela kepada Rafa.


"Yuk kita naik" ajak Ryza.


"Daaah Rafa, kamu baik - baik ya jaga Kantor" ucap Disil sambil melambaikan tangannya. Kemudian berjalan bergandengan tangan dengan Ditha istrinya.


"Kami berangkat Bro. Titip kantor ya" ucap Aby sambil menepuk bahu Rafa.


"Dadaaaa Rafaaa..." ucap Sintia dan Ela.


Rafa menatap kepergian Ela sampai jauh. Sungguh dia belum siap untuk berpisah dengan Ela lagi. Baru saja dia menyadari perasaannya kepada Ela tapi mereka harus terpisah karena jarak.


Kalau tidak ingat akan tugasnya mungkin saat ini Rafa akan berlari dan ikut serta pergi bersama mereka. Tapi Rafa adalah Rafa, lelaki yang bertanggung jawab.


Dia tidak mau urusan hati merusak pekerjaannya, walau dia bekerja bersama para sahabatnya tetapi Rafa tidak mau mengambil kesempatan.


Rafa sadar saat ini Aby dan Disil membutuhkannya untuk mengurus perusahaan selama mereka tidak ada di Indonesia.


"Tunggu aku El, secepatnya aku akan menyusun rencana untuk menemui kamu di sana. Jika hari itu tiba aku akan mengutarakan isi hatiku pada kamu. Dan aku harap saat itu perasaan kamu untukku belum terhapus" ucap Rafa lirih.


Fajar beserta rombongan naik ke dalam pesawat keluarga Barrakh. Keysha duduk di samping suaminya Aby. Disil duduk dengan Ditha, Ryza duduk dengan Sintia. Sementara Fajar tentu saja tidak bersama Ela.


Fajar duduk di kursi yang jaraknya jauh dengan Ela.


Masing - masing tidak ingin duduk berdekatan dan saling menjauh. Fajar duduk tepat di belakang kursi Ela.


Ela sedang membuat sketsa baju , tiba - tiba ngantuk menghampiri matanya. Ela bersandar pada kursinya dan tertidur. Tanpa sadar kertas yang tadi dia pegang jatuh ke lantai tepat di bawah kaki Fajar.


Punya siapa ini? Batin Fajar.


Fajar melihat di bagian sudut bawah kertas tersebut ada lambang mahkota. Lagi - lagi Fajar merasakan dejavu.


Aku seperti tidak asing pada gambar ini. Dimana ya aku pernah melihatnya? Tanya Fajar dalam hati.


Fajar melihat ke arah Ditha dan Sintia yang letak duduknya menghadap ke arahnya. Mereka tidak ada memegang pulpen ataupun pensil untuk melukis. Berarti bukan punya mereka.


Keysha juga tidak mungkin karena Fajar sangat tau kalau Keysha sama sekali tidak pintar melukis.


Apa wanita jadi - jadian itu? cih mana mungkin wanita seperti itu suka menggambar, apalagi ini gambar gaun yang cantik dan anggun. Gak cocok dengan gaya premannya. Batin Fajar.


Lebih baik kertas ini aku simpan. Sekalian aku masih penasaran pada lambang yang ada di sudut kertas ini. Ucap Fajar dalam hati.


Fajar melipat kertas gambar tersebut dan menyimpannya ke dalam agenda yang ada di kursinya.


Ela tersentak dari tidurnya dan sadar bahwa kertas gambarnya sudah tidak ada dalam genggamannya lagi.


Aby yang sedang sibuk membaca sesuatu di dalam telepon genggamnya melirik ke arah adiknya.


"Tidak, kakak tidak ada melihatnya" jawab Aby.


Ela terus mencari ke bawak bangku dan lantai di sekelilingnya tetapi tidak ada.


Ah yah sudahlah, nanti aku bisa membuatnya lagi. Fikir Ela. Ela melanjutkan kembali tidurnya.


Waktu tempuh yang mereka jalani dari Jakarta ke London adalah tiga belas jam tiga puluh menit. Tepat tengah malam mereka tiba di London.


Fajar bersama sahabat dan rombongan Aby and the geng telah sampai di Bandara Internasional Heathrow London.


Sesampainya di sana mereka di sambut dengan empat mobil. Masing - masing di isi oleh Keysha dan Aby, Ditha dan Disil, Ela dan Sintia dan terkahit Fajar dan Ryza.


Mereka langsung menuju TBF Hotel. Fajar sudah menghubungi asistennya untuk mempersiapkan kamar untuk dia dan rombongan dari Indonesia.


Sesampainya di TBF Hotel mereka di sambut dengan penuh hormat oleh seluruh karyawan hotel. Maklum tiga dari delapan tamu yang baru datang itu adalah anak dari pemilik hotel tersebut. Bahkan salah satu dari mereka adalah GM di Hotel tersebut.


Para karyawan memberikan hormat mereka ketika Fajar berjalan melewati mereka. Tentu saja Aby and the geng diberikan pelayanan nomor satu di hotel tersebut.


Apalagi kedatangan mereka ke London adalah untuk berbulan madu dan jalan - jalan. Jauh - jauh hari Kevin sudah menghubungi Fajar untuk mempersiapkan sambutan terbaik mereka saat menantu Kevin nanti datang berkunjung.


"Waaah cantik banget ya pemandangan di sekitar hotel ini di malam hari" puji Sintia.


"Iya, aku suka sekali. Penuh dengan lampu membuat Hotel ini terlihat berkilauan" sambut Ditha.


Mereka menikmati pemandangan di sekeliling TBF Hotel.


"Apa kepanjangan TBF Hotel Key?" tanya Aby pada istrinya.


"The Barrakh Family Hotel" jawab Keysha.


"Ooo... sudah lama hotel ini berdiri?" tanya Aby.


"Belum lama baru sekitar 3 tahunan. Dulu Papaku, Papa Fajar dan Papa Ryza kuliah di sini juga. Mereka mempunyai banyak teman di sini. Dan karena aku, Fajar dan Ryza kuliah di sini juga akhirnya perusahaan Barrakh Corp membangun sebuah hotel di sini. Awalnya belum begitu besar tetapi setelah kami tamat kuliah dan hotel ini di pegang oleh Fajar, Hotel berkembang dengan sangat dan besar seperti sekarang ini" ungkap Keysha.


"Waow hebat ya Fajar masih muda sudah bisa sukses di negeri orang" puji Aby.


"Dia memang sangat pintar dan selalu serius dalam menjalankan dan mencapai sesuatu keinginannya By. Hotel inilah bukti dari kerja kerasnya. Walau dia anak dari salah satu pemilik hotel ini tapi tidak membuatnya santai dan berbuat sesuka hati. Malah dia yang membuat peraturan di Hotel ini sangat ketat sehingga para karyawan berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk para tamu yang menginap di sini" jelas Keysha.


"Mendengar perkataan Kakak Ipar aku kok rasanya gak percaya ya kalau cowok pendendam itu bisa sehebat ini? Tapi kalau tentang peraturan yang ketat aku yakin para karyawan di sini pasti sangat takut dengan Dia. Lihat wajahnya aja sudah sangat menakutkan begitu. Mungkin kalau aku jadi karyawannya aku hanya tahan kerja satu bulan di sini. Pasti dia akan membuat sangsi yang kejam kepada para karyawan yang berbuat salah. hiiii aku jadi merinding membayangkannya" oceh Ela.


"Ehem... ehem... kalau ngomong itu lihat - lihat orangnya ada di mana hei.. preman? Udah ngomongnya kuat, ngomongnya juga langsung di depan orangnya" sindir Fajar dengan tatapan dingin. Fajar baru saja berjalan dan tiba di belakang mereka.


"Yaelaaah di kritik seperti itu saja kamu sudah marah, gimana mau maju. Pernah dengar gak sebuah nasehat, orang yang sukses itu adalah orang yang siap di kritik" ujar Ela.


"Siapa yang bilang?" tanya Fajar penasaran, rasanya baru kali ini dia mendengar kata - kata itu.


"Aku" jawab Ela singkat.


Seketika wajah Fajar berubah masam karena menahan kesal mengetahui kalau dia sedang dikerjain wanita jadi - jadian yang berada tak jauh dari tempatnya.


"Hahahaha.... kamu tertipuuuuuu" ledek Ela.


.


.


BERSAMBUNG