
Dua hari kemudian Fajar dan Ela sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Apalagi hari ini adalah hari senin. Jadwal Fajar sangat padat hari ini.
Siang ini Fajar akan menghadiri rapat dengan PT. XXX di Restoran Hotel XYZ yang letaknya berada di tengah-tengah Barrakh Corp dan PT. XXX.
Fajar berangkat sendiri karena Ryza mempunyai jadwal meeting dengan client yang lain di waktu yang bersamaan. Sedangkan Keysha seperti kesepakatan mereka sebelumnya, Keysha hanya bertugas di dalam kantor saja. Selama dia hamil Keysha tidak boleh mengurus pekerjaan di luar kantor.
Tepat jam dua belas siang Fajar sudah sampai di Restoran Hotel XYZ dan dia disambut oleh Rudi dan Lisa yang sudah tiba terlebih dahulu.
Meeting dimulai sambil mereka menikmati makan siang. Meeting berlangsung selama satu jam dan saat penghujung pelayan Hotel menyediakan dessert untuk hidangan penutup.
Fajar menikmati hidangan tersebut sampai habis. Tiba - tiba matanya sangat berat untuk terbuka. Rasa kantuk menderanya hingga dia tak sadarkan diri.
Dengan bantuan beberapa pegawai Hotel Fajar di papah menuju kamar yang telah Rudi dan Lisa sediakan.
Mereka membuka semua baju Fajar dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Setelah itu Rudi meraih hp Fajar dan membukanya. Kemudian Rudi mengambil beberapa foto Fajar yang sedang tidak sadarkan diri.
Rudi mencari nama Ela di daftar kontak dalam hp Fajar tetapi dia tidak menemukannya. Akhirnya Rudi membuka menu pesan di aplikasi hp Fajar dan dia menemukan sebuah nama yang unikunik, yaitu My Princess.
Ini pasti nomornya.. Batin Rudi. Rudi segera mengirim foto Fajar yang sedang tidak sadarkan diri.
My Imam Wannabe 😍
Jika kamu ingin mengetahui apa yang terjadi dengan dia saat ini silahkan datang ke Hotel XXX kamar 303. Ingat kamu harus datang sendiri. Kalau kamu datang bersama orang lain, kami tidak kami tidak menjamin keselamatan calon suami anda.
Ela meraih hpnya yang bergetar dan membukanya. Alangkah terkejutnya dia melihat dan membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
Ela segera meraih tas dan kunci mobilnya kemudian keluar dari ruang kerjanya dan segera berjalan ke arah lift.
"Kamu mau kemana El, kok buru - buru banget?" Catherine bertanya karena heran melihat Ela yang terlihat panik.
"Aku mau ke Hotel XXX, Fajar dalam bahaya" jawab Ela.
Ela segera masuk ke dalam lift dan berlalu dari hadapan Catherine. Catherine terdiam dan mencoba mencerna apa yang barusan Ela katakan tadi. Dia tersentak dan segera berjalan ke arah ruangan Sintia.
"Sin, coba hubungi suami kamu. Saat ini dia sedang dimana? Barusan Ela keluar sambil buru - buru. Dia bilang Fajar dalam bahaya dan dia sedang menuju Hotel XXX" ungkap Catherine dengan wajah yang panik juga.
Sintia segera meraih hpnya dan menghubungi suaminya.
"Hallo Mas, kamu lagi di mana?" tanya Sintia saat telephone tersambung dengan suaminya.
"Aku lagi meeting dengan client aku" jawab Ryza dari seberang.
"Kamu meetingnya sama Fajar? " tanya Sintia.
"Nggak, aku meeting sendiri. Fajar sedang meeting di tempat lain" jawab Ryza.
"Apakah dia sedang meeting di Hotel XXX? " desak Sintia.
"Iya, kok kamu tau?" tanya Ryza penasaran.
"Barusan Catherine bilang Ela keluar Butik dengan wajah panik dan terburu - buru. Dia bilang Fajar sedang dalam masalah di Hotel XXX" ungkap Sintia.
"Coba aku hubungi Fajar dulu ya" ucap Ryza.
"Iya Mas, kamu hati - hati ya" balas Sintia.
"Oke yank" sambung Ryza.
Telepon terputus. Ryza mencoba menghubungi nomor Fajar tetapi tidak diangkat. Beberapa kali Ryza menghubunginya tetapi tetap tidak diangkat. Ryza merasa ada yang tidak beres dengan Fajar apalagi barusan istrinya melaporkan apa yang terjadi dengan Ela.
Ryza menghubungi Papanya.
"Halo Pa. Papa lagi dimana?" tanya Ryza langsung .
"Papa lagi di Restoran XYZ bareng Omar dan Kevin. Ada apa Ry, kedengarannya kamu lagi panik Ada masalah?" tanya August penasaran.
"Pas banget Pa, posisi Papa dekat dengan Hotel XXX. Barusan aku dapat kabar dari Sintia. Dia bilang Fajar dalam masalah dan saat ini Ela sedang menuju Hotel XXX" lapor Ryza.
"Lampu Aladin?" tanya August.
"Iya Pa" balas Ryza segera.
"Baik, Papa, Omar dan Kevin akan segera ke sana" balas August.
"Ada apa Jin dengan Lampu Aladin. Wajah kamu kok panik?" tanya Kevin penasaran.
"Barusan Ryza telepon katanya Ela sedang ke Hotel XXX Lampu Aladin sedang dalam masalah" jawab August.
"Fajar?" tanya Omar.
"Iya, anak kamu. Coba hubungi dia dulu" perintah August.
Omar meraih hpnya dan segera menghubungi anaknya Fajar. Teleponnya tidak diangkat.
"Gak diangkat?" tanya Kevin.
Omar menganggukkan kepalanya.
"Yuk kita segera ke Hotel XXX dan cari Fajar langsung. Hotel itu kan gak jauh dari sini" ajak August.
Trio Ambisi segera meninggalkan Restoran dan segera menuju Hotel XXX. Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di Hotel yang mereka tuju.
Trio Ambisi segera menemui pihak manajemen Hotel XXX dan karena Trio Ambisi tidak asing di dunia perhotelan pihak manajemen langsung mengenali mereka dan mau untuk memberikan bantuannya.
Mereka segera menuju ruangan CCTV dan memeriksa rekaman CCTV hari itu dan akhirnya apa yang mereka cari ditemukan.
"Sialan.. mereka dari PT. XXX dan wanita itu adalah mantan pacarnya Rafa sahabat Abyasa yang kemarin menjebaknya. Aku rasa motifnya sama. Wanita ular itu juga ingin menjebak Lampu Aladin. Tapi mengapa CEO nya juga ikut bekerjasama ya?" tanya Kevin penasaran.
"Lebih baik kita selesaikan langsung masalah ini" ucap Omar geram.
"Sebenarnya kalau wanita ular itu murni menjebak Lampu Aladin kita gak perlu khawatir paling dia akan mengalami peristiwa yang sama seperti Mak Lampir Albino dulu sama kamu Din. Tapi CEO nya sudah ikut campur. Aku takut mereka merencanakan hal yang lebih besar lagi" sambung Kevin.
"Ayo kita segera ke kamar tempat mereka membawa Lampu Aladin" ajak August.
Trio Ambisi beserta petugas kemanan dan pihak manajemen menuju kamar tempat Fajar di sembunyikan.
Di dalam kamar.
Fajar terbangun dan mulai membuka mata. Perlahan-lahan dia mendengar suara wanita sedang menangis.
Fajar melirik ke sekeliling, dia baru menyadari kalau saat ini dia sedang berada di sebuah kamar hotel. Saat dia melirik ke sampingnya alangkah terkejutnya dia mendapati Lisa sedang menangis di balik selimut.
Wanita itu hanya memakai pakaian dalam saja. Seketika Fajar mulai berkeringat, wajahnya memucat dan gejolak mual mulai mendera perutnya.
Fajar duduk dan kemudian keluar dari dalam selimut dan segera mengutip dan memakai pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya Fajar.
"Kamu dan Pak Rudi mabuk berat tadi dan tak sadarkan diri, aku mencoba membantu kamu tapi inilah balasan dari kamu hiks.. hiks.. " ucapnya sambil menangis.
"Kamu berbohong. Aku tidak mungkin melakukan hal sekotor itu. Bagaimana mungkin aku mabuk, aku tidak minum minuman beralkohol? Lagian kamu salah besar Nona, aku tidak akan pernah melakukan hal kotor seperti yang kamu katakan" tegas Fajar.
"Tapi inilah buktinya, lihat semua pakaianku telah kami robek paksa dan kamu telah.. telah merebut kesucianku" tuduh Lisa.
"Kamu bercanda, aku tidak akan bisa melakukan itu dan aku tidak percaya dengan semua cerita bohong kamu" tolak Fajar.
Lisa bangkit dari tempat tidur dan melilitkan selimut pada tubuhnya kemudian mengutip pakaiannya di lantai. Setelah itu dia berjalan mendekati Fajar.
"Jangan mendekat" teriak Fajar.
"Jangan pura - pura kamu Fajar, tadi saja kamu yang mulai menerkamku duluan. Sekarang kamu sok suci cih" tuduh Lisa.
"Sudah aku katakan aku tidak akan pernah melakukan hal bejat seperti yang kamu katakan dan jangan mendekatiku" teriak Fajar.
"Lihat.. lihat pakaian aku sudah kamu robek semua. Kamu harus bertanggung jawab" desak Lisa dan berjalan kearah Fajar untuk mencoba menyerangnya.
Tiba - tiba Fajar merasakan gejolak yang tak tertahankan lagi.
"Ueeeeek... Uueeeeeeek.... "
.
.
BERSAMBUNG