
Keesokan harinya.
Ting.. Tong..
Bel apartemen di villa Ela dan Fajar berbunyi.
"Mas ada yang datang, coba kamu lihat" ucap Ela.
"Sebentar" jawab Fajar sambil memakai sarung untuk menutupi boxernya. Karena pakaiannya selama seminggu ini hanya ada kaos dalam dan boxer, sadis tapi nikmat.
"Ada apa?" tanya Fajar kepada seorang pria yang kemarin Fajar ingat pria ini yang mengantarkan dia dan istrinya ke Villa ini.
"Ini Mr, saya diperintahkan Mr. Jimmy untuk mengantarkan pesanan Mr" jawab pria itu
Fajar melihat beberapa peralatan melukis dan tas camera. Ini pasti pesanan dia kemarin pada Papanya.
"Oh iya terimakasih, kalau saya butuh sesuatu apakah saya bisa meminta kepada kamu?" tanya Fajar.
"Bisa Mr asal Anda tidak meminta kunci dan pakaian baru" jawab Pria itu cepat.
Fajar tersenyum, ini pasti perintah Papanya yang melarang Jimmy sehingga Jimmy memerintahkan pada pria ini untuk tidak memenuhi dua permintaanku ini.
"Baiklah coba kamu berikan kartu nama kamu, agar saya bisa menghubungi kamu nanti saat saya butuh sesuatu" balas Fajar.
Pria tersebut meraih dompetnya dalam saku jasnya kemudian mengambil kartu namanya dan menyerahkannya pada Fajar.
"Ini Mr, kalau tidak ada yang lain saya akan pamit undur diri" ucap pria itu.
"Okey.. terimakasih atas bantuan kamu" balas Fajar.
Fajar menutup pintu villa kemudian pria tersebut mengunci villa dari luar sesuai perintah atasannya.
Walau dia merasa aneh atas tugasnya kali ini tapi dia tidak mempunyai hak untuk menanyakannya. Yang penting dia harus mengerjakan tugasnya dengan baik.
"Siapa Mas?" tanya Ela yang sedang asik menonton TV.
"Supir yang mengantarkan kita kemarin" jawab Fajar.
"Ngapain dia datang lagi?" tanya Ela.
"Mengantarkan camera dan alat lukis kamu" Fajar menyerahkan peralatan melukis Ela.
"Mas kau bisa menghubungi teman - temanku di London ini untuk meminta pakaian" ungkap Ela.
"Sayang kamu tidak tau kalau Papa sudah memerintahkan sesuatu tidak ada yang bisa membantahnya. Kamu mungkin tidak melihat tapi yakinlah kita sedang diawasi dari luar. Tidak ada orang asing yang boleh datang ataupun kita tidak bisa lari dari sini. Sudahlah ikhlaskan saja honeymoon kita berakhir seperti ini. Bukankah tujuan honeymoon itu seperti ini, kalau jalan - jalankan kita sudah sering jalan ke sini walau dulu kita ke sini sendiri - sendiri. Lain kali kalau kamu memang ingin jalan - jalan lagi ke sini kita tinggal susun jadwal" jelas Fajar.
Ela menarik nafas panjang kemudian meraih perlatan melukisnya dari Fajar. Ela berjalan menuju teras belajang.
"Kamu mau kemana sayang? Jangan keluar rumah. Kamu lupa dengan pakaian kamu? Aku tidak mau orang lain melihat kamu seperti itu" cegah Fajar.
Ela tersentak dan berhenti. Benar saja teras belakang walau di benteng dengan dinding yang tinggi tapi tetap saja terbuka. Bisa saja orang lain melihat Ela dengan busana minim tanpa sengaja.
"Aaa.. ku lupa Mas" jawab Ela.
Ela berhenti di dinding belakang yang terbuat dari kaca dan mengarah ke teras belakang. Dia memasang kanvasnya kemudian mulai menorehkan cat - catnya pada tempatnya dan mulai melukis.
Fajar langsung mengabadikan moment langka seperti ini. Mungkin lain kali akan sangat sulit melihat pemandangan indah seperti ini Ela melukis dengan memakai lingerie. Untung saja saat ini musin panas jadi mereka tidak perlu takut kedinginan.
"Maaaas jangan di foto donk, aku kan malu. Nanti ada orang yang lihat" pinta Ela.
"Ini akan menjadi koleksi pribadiku sayang dan tidak ada yang bisa melihatnya. Aku akan mencetaknya sendiri dan membuat album foto yang baru dengan judul My Princessnya" ungkap Fajar.
"Terserah kamu deh Mas, aku larang kamu juga tetap akan melakukannya" jawab Ela.
Fajar tersenyum melihat wajah istrinya yang sudah mulai serius melukis. Pemandangan seperti ini yang paling dia suka, istrinya terlihat sangat bahagia kalau sedang melukis ditambah lagi penampilan istrinya yang wuaaah.. dengan lingerie terawang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang aduhai.. sungguh sangat langka.
*****
Di Indonesia..
"Ket, Mommy dan Daddy kamu gak dibawa jalan - jalan keliling Jakarta?" tanya Alexa.
"Iya Ma tapi aku bingung mau dibawa ke mana. Aku kan masih belum terbiasa di sini Ma" jawab Catherine.
Alexa meraih telepon selulernya dan mencari nama Rafa di daftar kontaknya.
"Hallo Raf, kamu lagi sibuk gak?" tanya Alexa.
"Nggak Tante, ada apa Tante? Tante butuh sesuatu?" tanya Rafa.
"Tante mau minta tolong sama kamu. Bisa gak kamu bawa Mommy dan Daddynya Keket jalan- jalan keliling Jakarta. Mungkin kamu bisa bawa makan dimana gitu biar mereka tidak bosan terus menerus di Hotel saja" perintah Alexa.
"Baik Tante, aku akan segera ke rumah Tante jemput si Keket" jawab Rafa.
"Rafa sebentar lagi akan kemari Ket, kamu siap - siap gih biar langsung pergi jemput Mommy dan Daddy kamu ke hotel terus ajak mereka jalan" ucap Alexa.
"Baik Ma" jawab Catherine.
Catherine masuk ke dalam kamarnya kemudian berganti baju, setelah memakai make up tipis di wajahnya dan dia merasa tampilannya sudah cantik Catherine keluar kamar ingin menunggu kedatangan Rafa.
Ternyata Rafa sudah datang ke rumah Ela dan sedang berbincang dengan Aby dan Papanya.
"Kamu sudah siap Ket?" tanya Rafa ketika melihat Catherine mendekat.
"Sudah, kita langsung jalan?" tanya Catherine.
"Boleh. Om, Aby kami pergi dulu ya" ucap Rafa.
"Hati - hati Raf" balas Aditya
"Iya Om" jawab Rafa.
"Sukses ya Raf deketin calmer" goda Aby sambil berbisik.
"Apaan sih kamu" balas Rafa.
Rafa dan Catherine keluar dari rumah Ela tetapi saat mereka hendak masuk ke dalam mobil tiba - tiba ada mobil yang masuk ke dalam halaman rumah Ela.
"Hei kalian mau kemana?" tanya seseorang yang ada di dalam mobil dan ternyata dia adalah Jimmy.
"Kami mau ke hotel menjemput Mommy dan Daddy" jawab Catherine.
"Waaah ketepatan sekali. Aku baru saja mengundang Mr dan Mrs. Wolter untuk makan malam makanya aku ke sini mau jemput kamu" ungkap Jimmy.
"Tapi aku sudah janji mau pergi sama Rafa" tolak Catherine.
"Gak apa - apa Ket, gak enak kan kalau Jimmy harus membatalkan janjinya sama Mommy dan Daddy kamu. Lagian kita juga belum bilang sama mereka akan datang menjemput mereka di Hotel" ucap Rafa.
"Tapi Raf kamu... " Catherine merasa sangat sungkan membatalkan janjinya dengan Rafa.
"Gak apa - apa santai aja. Aku bisa balik ke dalam ngobrol sama Aby. Kamu jalan aja sama Jimmy" potong Rafa.
"Maaf ya Raf" ucap Catherine.
"Santai aja" balas Rafa.
Jimmy menjabat tangan Rafa dan berbisik.
"Thanks bro kamu menepati janji kamu. Sudah aku katakan kan setelah pesta Mr. Fajar selesai aku akan mendekati Catherine. Aku akan segera menjadikannya pasanganku" tegas Jimmy.
"Silahkan" jawab Rafa tapi entah mengapa kata itu sangat berat dia ucapkan.
Apakah sebentar lagi dia juga akan pergi meninggalkanku? Rafa melirik ke arah Catherine yang sedang berjalan menuju mobil Jimmy.
Mengapa hatiku merasa sakit dan sepi? Apakah aku akan kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya dan terlambat menyadari perasaanku sehingga dia kan pergi seperti Ela juga yang meninggalkanku karena menemukan tambatan hatinya.
Rafa memandangi mobil Jimmy yang semakin jauh meninggalkan halaman rumah Ela.
.
.
BERSAMBUNG